Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Wanita Aneh


__ADS_3

"Kami akan bertanggung jawab padamu, jadi ikutlah bersama kami.." ucap Axel terus membujuk wanita itu.


Perselisihan masih saja terjadi meskipun sudah hampir dua jam lebih Axel berusaha menanganinya di sana.


Wanita gila itu pun terus saja menolak untuk di bawa ke rumah sakit dengan alasan dia takut nanti akan di tipu lagi oleh pihak Grup H.A.


"Tidak!" tolak wanita itu dengan keras, "kau pasti ingin membuat aku mundur dari protesku, ya kan? aku tidak akan mau di perdaya oleh kalian! aku akan menuntut kalian secara hukum!" jawab wanita itu.


"Hei, kau ingin bermasalah dengan hukum juga dengan kami? apa kau sudah berpikir bagaimana kau terkena penyakit seperti itu? bukankah kau sering membeli produk kami dan kau tidak mengalami masalah yang sama seperti ini sebelumnya? kenapa sekarang mendadak mempermasalahkan produk kami? kenapa kalau produk kami yang bermasalah, tidak sejak dulu saja kulit kamu mengalami masalah semacam ini?" tanya Axel bertubi-tubi pada wanita itu, membuat semua orang di sana juga ikut menelisik pada wanita aneh itu.


Wanita itu terlihat kebingungan harus menjawab apa lagi. Karena sejujurnya dia memang bukan seorang wanita yang mengalami penyakit karena produk dari Perusahaan H.A.


Semua orang pun terlihat bertanya-tanya dengan lirih, mencoba mendukung Axel yang dengan keras mempertahankan kebenaran dalam pikirannya.


"Jangan asal menuduh kamu! aku juga pernah mengalami masalah seperti ini sebelumnya, hanya saja aku pikir ini karena penggunaan permulaan, dan kulitku masih membutuhkan sedikit adaptasi dengan produk kalian, jadi aku tidak khawatir, tapi sekarang aku sudah bisa membuktikannya, kalau bukan kulitku yang salah tapi memang produk kalian!" ucap wanita itu dengan tegas.


"Baiklah, jika kau tidak ingin bermasalah dengan kami, ikut saja ke rumah sakit, karena kami ingin memberi tanggung jawab atas kejadian ini.."


"Tidak! kau pasti akan mengiming-imingi aku dengan uang supaya aku bisa membungkam mulutku sendiri untuk tidak bicara tentang hal ini pada siapapun, iya kan?" tanya wanita itu lagi-lagi entah mengapa seakan sengaja membuat nama Grup H.A. hancur di mata publik.


Axel lama-lama jadi merasa kesal dengan wanita itu. Dia bahkan hampir hilang kesabarannya dan ingin memukul wanita itu, mungkin saja dia bisa melakukannya kalau ini tidak di hadapan umum, aish! geram sekali pada wanita aneh ini.


"Baiklah, aku yang akan panggil dokter ke sini dan memerintah dia untuk memeriksa kamu di depan umum, kau puas?" tanya Axel sambil berlalu ke arah dalam toko dan mencoba menghubungi Nyonya Hana di seberang.


Sementara itu wajah si wanita jelek dan buruk rupa itu terlihat begitu ketakutan. Bukan karena apa, tapi sikap Axel yang begitu nekad ingin memeriksa dia di depan umum sungguh membuat dia tak bisa lagi berkutik.


Apa? bagaimana bisa? kenapa dia jadi nekad ingin memeriksa aku di sini? bagaimana ini?


Hatinya di penuhi oleh kecemasan, seluruh tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan, dan keringat dingin perlahan mulai menetes membasahi jidatnya.


Karena kesal menghadapi wanita gila itu tanpa menemukan jalan tepat yang bisa menjadi penyelesaian masalah, akhirnya Axel memilih untuk menghubungi nyonya besarnya dan meminta bantuan serta persetujuan.


Ia terlihat mulai berjalan menuju ke dalam toko dan menghubungi nyonya besarnya, berharap akan ada saran terbaik yang bisa dia ambil.


"Hallo, Nyonya.." sapa Axel pada Hana.


"Ya, kenapa lagi? apa masih soal wanita itu?"


Tanya Hana di seberang nampak jenuh dengan permasalahan yang merusak mood nya selama seharian penuh itu.


"Apa masih soal wanita itu lagi? Axel, aku tidak mau tahu, aku minta wanita itu harus di periksa oleh dokter, aku juga harus memastikan kalau dia bukan suruhan pesaing kita.."


"Nyonya, maaf sekali, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan wanita itu, dia menolak keras setiap kali aku ajak ke rumah sakit, dengan berdalih kita akan menyuapnya dan membungkam mulutnya dengan uang, bukankah seharusnya konsumen biasa yang bermasalah tidak akan berpikir sampai sejauh itu? aku rasa memang ada yang perlu kita selidiki," ucap Axel membuat Hana yang berada di seberang langsung saja berdiri dari kursi goyangnya.


"Jadi begitu, ya? baiklah, lalu apa kau punya rencana?"


Tanya Hana lagi pada Axel.


"Karena dia terus menerus menolak ajakan kami ke rumah sakit, bisa jadi semua lukanya palsu, lagi pula dia baru saja belanja produk kemarin sore setelah beberapa Minggu tidak berkunjung, bukankah seharusnya efek samping dari kosmetik hanya akan terjadi selang satu atau dua Minggu kemudian? kenapa bisa secepat ini?"


Di seberang sana Hana terlihat di sibukkan dengan pikirannya yang ruwet. Benar juga kata Axel, bukankah efek samping tidak akan terjadi begitu cepat? kenapa wanita itu cepat sekali tekena efeknya?


Lagi pula bukan sekali ini wanita itu datang berkunjung dan membeli kosmetiknya, tapi kenapa baru sekarang ada laporan dan juga keluhan dari wanita itu mengenai produknya? kenapa tidak sejak dulu saja wanita itu terkena efeknya?


Seharusnya ini memang menjadi pertanyaan yang harus di jawab.

__ADS_1


Setelah lama bertempur dengan otaknya yang cerdas, Hana akhirnya memiliki ide yang cemerlang dengan kejadian ini..


"Begini saja, minta dia untuk duduk tenang di depan toko, aku akan kirim Dokter Alta segera kesana untuk melakukan pemeriksaan!" ucap Hana dengan yakin.


Aish! bukankah ide itu lebih dulu di dapatkan oleh Axel beberapa menit yang lalu sebelum menghubungi Hana? hahh! baiklah, tidak masalah, ide siapa saja asalkan semuanya berjalan lancar.


"Baiklah, Nyonya, mohon bantuannya untuk segera menghubungi Dokter Alta yang anda maksud itu.."


"Jangan cemas, aku akan segera menghubungi dia!"


Ucap Hana dari seberang lalu setelah itu terdengar suara sambungan di matikan oleh Hana meninggalkan bekas panggilan di akhiri di ponsel Axel.


"Yah! aku ingin bilang itu ideku, tapi demi Nyonya, aku akan mengalah dan pura-pura tidak tahu apapun.." ucap Axel.


Laki-laki itu kemudian meminta pada wanita itu untuk menunggu dengan sabar kabar selanjutnya dari sang Nyonya besar.


"Kau tunggulah di sini, kalau kau mau buang air kecil, para bodyguard akan mengantar kamu ke kamar kecil, jadi tidak perlu cemas.." ucap Axel pada wanita itu.


Wanita itu tak menatap sedikit saja menuju ke arah Axel. Ia terlihat sangat kesal namun mencoba untuk tidak meluapkan emosinya di depan umum, sekarang yang dia butuhkan hanyalah sebatas bantuan dari orang yang telah membayarnya dengan harga dua milyar untuk melakukan tugas ini.


Keringatnya bercucuran dengan deras membasahi keningnya, bercampur dengan merah-merah di seluruh wajahnya dan beberapa bentol di seluruh permukaan wajahnya.


Ia begitu cemas saat mendapati pria itu tengah menyebut akan ada seorang dokter yang datang sendiri kemari untuk memeriksa lukanya.


Tidak bisa di pungkiri, wanita itu sangat takut si dokter itu akan membongkar aib atas luka palsu di wajahnya di depan semua orang nanti.


Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?


Benaknya bertanya-tanya, mencoba mencari jalan keluar untuk kabur dari masalah yang menjeratnya itu.


Entah dari sisi mana dia akan berhasil melarikan diri dari sini, karena di berbagai sudut terlihat ada beberapa bodyguard yang sangat menghalangi jalannya untuk kabur.


Ia jadi ketar-ketir sendiri, bingung apa yang harus dia lakukan. Sampai akhirnya satu jam telah berlalu, dan dia masih saja terduduk di atas kursinya di depan semua orang dengan ekspresi wajah penuh kebingungan.


Entah mengapa semua orang di sana juga seolah tak penat menunggu si dokter yang di gadang-gadang akan tiba di toko setelah beberapa saat mendapat panggilan dari Nyonya besar.


Tak bisa di selesaikan dengan cara lain lagi, mungkin Dokter Alta memang harus didatangkan secara khusus oleh Hana demi untuk memperjelas kekeruhan dalam masalah ini.


Hingga pada beberapa saat setelah itu, datanglah seorang dokter muda tampan berambut pirang dengan kulit putih khas di padu padankan dengan jas anggota kedokteran beserta celana jeans berwarna biru dari arah mobil berwarna silver.


Semua orang di buat terpana dengan kehadiran sosok tersebut yang mendatangi mereka dan kemudian berjalan mendekat ke arah Axel di pintu masuk.


"Hallo, apa ini Dokter Alta?" tanya Axel pada dokter muda dan tampan itu.


"Ya, Nyonya Hana yang memberitahu aku untuk mengurus masalah di sini!" jawab Dokter Alta dengan senyum khasnya.


Keduanya terlihat saling berjabat tangan, sambutan pertama yang sangat hangat untuk pertemuan pertama mereka.


Kedua pria itu pun saling tersenyum dan menjadi akrab meski baru beberapa menit yang lalu bertemu.


"Baiklah, mari kita urus masalahnya.." ucap Axel sambil melirik wajah wanita aneh itu yang terlihat ketakutan hebat.


Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?


Lagi dan lagi benak wanita itu tak habis bertanya tentang nasib yang akan dia alami setelah kejadian ini. Ia begitu cemas semuanya akan terbongkar di hadapan umum, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini sekalipun ingin kabur dari tempat itu.

__ADS_1


"Di mana wanita yang terluka?" tanya Dokter Alta sambil menyiapkan beberapa alatnya.


"Di sana Dokter, dia tak ingin kami bawa ke rumah sakit karena khawatir kami akan bertindak yang tidak sesuai dengan prosedur, jadi kami dan Nyonya memilih untuk memanggil anda kemari, untuk melakukan pemeriksaan terhadap kulit wanita itu di depan semua orang, jadi kami bisa tahu apa benar dia terkena efek dari kosmetik yang kami jual atau bukan.." jelas Axel panjang dan sangat lebar.


"Baiklah, kita akan segera mulai.." memakai sarung tangan, dan meminta kursi untuk berada di posisi paling dekat dengan wanita itu.


Wanita itu terlihat memalingkan muka, dan tidak ingin menatap mata laki-laki dokter di depan matanya. Ia cemas semua rencananya akan terbongkar, jadi lebih memilih untuk mengabaikan dokter itu saja.


Merasa heran dengan sikap dari wanita itu, Alta pun menyuruh wanita itu untuk menatap ke arahnya, dan memperlihatkan wajahnya untuk di tindak lanjuti.


"Hei, kau! apa aku akan memeriksa rambut kamu juga? menghadaplah kemari, aku harus melihat dengan jelas bagaimana keadaan wajah kamu.." ucap Dokter Alta sambil terus mencoba menatap wanita di depannya.


Namun wanita itu tak bergeming. Dia tetap saja berada dalam posisi yang sama, tidak menatap ke arah Dokter Alta dan memperlihatkan wajahnya.


Tubuhnya terus saja bergetar gugup di hadapkan oleh dokter canggih seperti Alta yang bisa saja akan menghancurkan rencananya dengan sangat mudah.


Haduh!! dia bahkan meminta aku untuk berbalik, bukankah saat aku berbalik, tanpa dia periksa dia pasti sudah tahu apa yang terjadi? bagaimana aku akan mengatasi semua ini?


"Hei! apa kau tuli? jangan-jangan telinga kamu juga rusak, ya? menghadap kemari, aku harus lihat luka di wajahmu, jangan buat aku semakin membuang waktu, aku harus segera kembali ke rumah sakit dan kembali bekerja," ucap Alta pada wanita itu.


"Dok-dok, biarkan mereka pergi dulu, aku akan memperlihatkan wajahku nanti..." ucap wanita itu dengan lirih.


"Apa kau malu?" tanya Alta pada wanita itu, "bukankah kau ingin semua orang melihat apa yang kami lakukan padamu?"


Sejenak dokter tampan itu berpikir, sampai akhirnya dia mengiyakan permintaan wanita aneh tersebut, "baiklah, aku akan minta mereka untuk mengusir semua orang.."


Alta tidak mengingkari janjinya. Ia memberi kode ke arah Axel dan meminta pria itu untuk membubarkan barisan penonton yang tengah asik menyaksikan pertunjukan ini.


Axel yang mengetahui kode dari Alta langsung menganggukkan kepalanya, dan berbisik pada salah satu anggota bodyguard nya untuk mengusir mereka semua yang ada di sana.


"Sisakan satu kamera beserta penyadap suara tanpa ada yang tahu.." bisik Axel dengan lirih.


"Baik, Tuan.."


Sesuai perintah dari atasannya, pria itu langsung mengerahkan anggotanya untuk mengamankan lokasi dan mengusir semua pengunjung yang ada di sana, hanya menyisakan satu kamera tersembunyi dan penyadap suara saja yang sengaja di pasang untuk menangkap barang bukti.


Ya, sejak awal Axel dan Hana sudah menduga ada hal yang tidak beres dari wanita ini. Dan sekarang dugaannya kembali di perkuat dengan keinginan wanita itu yang tidak ingin memperlihatkan wajahnya di depan Dokter Alta jika masih banyak kerumunan orang yang mengambil videonya untuk di sebar luaskan.


"Baiklah, semua orang sudah pergi, kini tinggal kau, aku dan Axel, jadi jangan cemas.." ucap Dokter Alta.


Posisi mereka yang masih berada di luar toko agaknya membuat wanita itu masih tidak mau memperlihatkan wajahnya pada siapapun.


"Apa kau yakin sudah tidak apa-apa?" tanya wanita itu masih dengan menyembunyikan wajahnya.


"Meskipun ini di luar ruangan, tapi aku jamin tidak ada orang lain yang bisa melihat wajah kamu dan juga mendengar ucapan kamu," ucap Dokter Alta sebenarnya tidak tahu sudah di pasang alat tersembunyi di sana.


Wanita itu kemudian melirik sekilas posisinya, sampai akhirnya menjumpai semuanya aman.


"Sekarang perlihatkan wajah kamu di depanku.." ucap Dokter Alta.


Dia pun akhirnya memperlihatkan wajahnya dengan ragu di hadapan Dokter Alta, membuat Dokter Alta di buat terkejut olehnya.


"A? kau?"


Deg!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2