
Dia mandi di bawah guyuran air panas di pagi harinya. Rasanya memang sangat nikmat, seolah semua kepenatan di tubuhnya perlahan-lahan mulai terobati.
Kini aktivitas mandinya telah usai, ia mengenakan pakaian yang rapi dan kemudian menata rambutnya.
Ia ingin segera bangkit dan mencoba mengambil sebuah keputusan yang memang seharusnya dia ambil.
Bertahan dan mencoba merebut kembali hati suaminya yang telah di buat lupa diri dengan wanita itu. Saat susah dulu bukankah dia yang menemani suaminya? lalu kenapa sekarang saat suaminya yang berjaya, dia malah tak mendapat apapun darinya?
Ia tak memoleskan apapun di wajahnya, menata semuanya secara normal saja, dan berharap sang suami mampu memandang dirinya penuh keanggunan seperti dulu.
Ya! bagaimanapun seorang pria yang mencintai wanita lebih dari dirinya, seharusnya akan merasa tersentuh akan kehadirannya meskipun tanpa olesan make up sekalipun.
Dia terlihat percaya diri menata beberapa barang miliknya ke dalam tas. Tak ingin pula merepotkan Naira dan Ardian dalam urusan rumah tangganya yang sedang berpenyakit.
Ia berharap jalan yang dia ambil akan mengantarkan dirinya pada sebuah kemenangan.
Tak tak tak tak!
Suara derap langkah kaki Naira terdengar mulai mendekat ke arah pintu. Ia tahu ia harus bergegas menyembunyikan tas miliknya, kalau Naira sampai tahu akan keputusannya ini, mungkin wanita itu akan langsung memarahi dirinya.
Cklek!
Dan benar saja, suara pintu terbuka dari arah luar, dan dari luar sana terlihat Naira yang kemudian bergerak masuk ke dalam kamar yang di tempati Hana tadi malam.
"Hai, Hana,," sapa wanita itu dengan senyum manisnya.
"Hai, kenapa kau pagi sekali ke kamarku?"
"Tidak apa-apa, hanya ingin mengatakan padamu, aku punya urusan penting pagi ini, apa kau tidak apa-apa aku tinggal sendirian?"
"Tidak apa-apa, lagi pula kau kan juga punya urusan yang jauh lebih penting dariku.."
"Tapi Ardian harus mengatakan sesuatu padamu, apa kau bisa turun dulu sebentar?"
"Baiklah..."
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Cittttt
Rem mobil di pijak, dan berhentilah mobil itu di sebuah rumah yang terlihat begitu usang. Mobil yang di biarkan terparkir di depan rumah tersebut, dan telah di tutup oleh sarang laba-laba, membuat sebuah pemandangan yang mengesalkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Mobilmu yang usang masih ada di sini, ayah.." Ucap wanita itu sambil memandangi kondisi rumahnya yang sudah terlihat tak terurus.
Di belakang sana terlihat pula satu rombongan mobil yang membawa beberapa pelayan yang sengaja di kirim Naira untuk membersikan rumah lapuk ini.
Hana tersenyum, mau bagaimana pun dia menyembunyikan semuanya dari Naira, tetap saja wanita itu yang akan menang.
"Aku memang tidak mampu membohongi kamu, Nai, terima kasih telah memberi aku segalanya.." ucap wanita itu, yang pada beberapa saat kemudian akhirnya memilih untuk turun dari mobilnya.
"Terima kasih, Zarren, kau juga sangat membantuku.." ucap Hana pada laki-laki muda yang duduk di belakang kemudi.
"Sudah menjadi tugasku, Nyonya.."
Hana tersenyum pada laki-laki itu. Di tutuplah pintu mobil milik Ardian dan terlihat pula wanita itu yang mulai berjalan menuju ke dalam rumah.
Rumah yang usang dan di penuhi oleh debu itu sudah lama dia tinggalkan. Sejak ia menikah dan kedua orang tuanya pergi ke luar negeri dan entah mengapa tak pernah kembali, rumah ini di biarkan usang begitu saja olehnya, membuat keadaan yang sangat buruk di rumah itu.
Namun kini tidak lagi, ia akan kembali menempatinya, menggunakan semua fasilitas yang ada di dalam rumah ini kembali.
Meski kini ia harus tinggal seorang diri di rumah ini, setidaknya rumah ini adalah peninggalan keluarganya, dan ia akan jauh lebih nyaman menempatinya dari pada rumah Allianz itu.
Dengan bergegas semua pelayan mulai membersihkan rumah Hana, mulai dari menyapu lantai, mengepel, membersihkan kaca, membasuh beberapa kain gorden, dan juga memotong rumput di halaman, menata taman belakang, dan membersihkan kolam.
Semua itu mereka lakukan untuk mengembalikan keadaan rumah ini seperti semula. Sampai pada sore harinya, kesibukan mereka akhirnya hampir selesai juga.
Hana memeriksa bagian kamarnya yang telah lama menjadi dingin. Semuanya sudah di ganti, spreinya kembali baru, dan semua perlengkapan di sana juga sudah tak lagi bau kesepian.
Ia terduduk dan melihat lagi mejanya yang sudah tertata rapi di sisi ranjang. Tak di sangka masih ada beberapa buku peninggalan miliknya di sana, meski sudah sangat usang, tapi buku-buku itu masih menyisakan beberapa lembar catatan miliknya di masa lalu.
__ADS_1
Di buka satu buku yang menjadi pusat perhatiannya sejak awal, dan di bacalah beberapa isi di dalamnya, membuat dia memutar balik kehidupannya di masa lalu.
Beberapa cerita yang ia tinggalkan di sana, cerita tentang perjalanan hidupnya di masa lalu, lalu kemudian cerita tentang pertemuannya dengan sosok Allianz.
Tak mau terlalu larut dalam kesedihan, ia akhirnya menutup buku itu lebih dulu sebelum ia membaca sebagian cerita hidupnya dengan Allianz.
Cerita yang pada mulanya sangat indah, di hiasi bunga-bunga dan keindahan, namun sejak saat itu, sejak kepergian mendiang Almira, ibu dari Allianz, semuanya seolah berubah.
Sejak saat itu, saat rahimnya pun harus di angkat, ia menjadi wanita yang tersisihkan, tak mendapat kasih sayang dari suaminya, dan parahnya lagi, ia harus mendapat tuduhan pembunuhan yang tak pernah ia lakukan...
Ia kemudian terduduk dan melihat ponselnya, terdapat sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya, menunjukkan Ardian yang mengatakan sesuatu di dalam sana.
Semuanya sudah beres!
Hana sekilas tersenyum, namun ia kembali ingat kebahagiaannya bukanlah soal harta, melainkan keluarga yang utuh. Hanya saja, mungkin dia bukan salah satu wanita beruntung di dunia ini.
Nyatanya dia tak mendapat nasib baik seperti mereka yang bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya, dan bahagia bersama saudara-saudaranya.
Perlahan-lahan semua yang ia miliki di renggut. Semua yang ada pada dirinya di ambil secara paksa, dan kini hanya menyisakan kesepian yang mendalam dalam dirinya.
Teringat lagi ucapan Ardian pagi tadi, saat mengatakan sebuah hal mengejutkan yang ia dapat dari pria itu.
"Aku masih mengelola perusahaan kamu dengan baik, karena aku tahu suatu hari nanti kau pasti akan membutuhkannya.."
Ia tak pernah menduga kalau pria itu lah yang membeli semua saham yang ia jual beberapa tahun yang lalu, sebelum ia meninggalkan kota ini.
"Kalau saja aku tahu kau menjual saham kamu padaku karena kau akan kabur dari kota ini, aku mungkin tidak akan pernah membiarkan kamu lari, hanya saja, aku terlambat menyadarinya.."
Setelah di pikir-pikir, Ardian dan Naira memang sahabatnya yang paling baik, pun paling mengerti.
Sekarang benar kata Ardian, ia kembali membutuhkannya. Ia akan kembali berkibar di dunianya sendiri, dan perlahan-lahan, ia pasti akan segera bangkit.
Tidak ada yang bisa menjatuhkan seorang wanita, bahkan pria yang paling dia cintai sekalipun. Tak akan pernah ada yang menyangka kalau wanita selemah Hana, yang hidupnya selalu berakhir dalam posisi menyakitkan pun, pasti akan segera bangkit dari keterpurukan.
Semoga dia berhasil menjadikan hidupnya lebih sempurna, tanpa kehadiran Allianz, dan tanpa adanya lagi pengkhianatan.
Sebuah pesan masuk di ponselnya. Tak bisa dia tolak lagi, wanita di seberang menginginkan sebuah pertemuan, apa dia akan menolak tawaran baik itu?
Baiklah, mari kita lihat siapa yang jauh lebih kuat!!
Ia mengenakan kembali sweater kusam yang ia miliki, lalu pergi meninggalkan rumahnya, menggunakan mobil Ardian yang kemudian ia lajukan saja ke arah tempat yang menjadi tujuannya.
Ia mengirim sebuah pesan pada Ardian kalau dia membawa mobilnya pergi sebentar, jadi harap di maklumi kalau sampai ada lecet-lecet di sana, karena dia memang telah lama tidak pernah membawa kendaraan.
Sent!
Pesan darinya terkirim, dan kini dia mematikan ponselnya, mencoba berkendara dengan lebih cepat supaya sampai di tempat tujuan sesuai dengan waktu yang di tentukan.
Dan benar saja, saat dia berhenti, terlihat mobil wanita itu yang terparkir di depan cafe.
Ia tak berpikir panjang, segera saja memarkirkan mobil Ardian dan kemudian keluar dari sana, masuk ke cafe untuk menemui Visha.
Tak tak tak !
Langkah kaki dari wanita kusam sudah tiba. Saat berhadapan dengan Visha, banyak orang yang mengira kalau mereka adalah pembantu dan majikan.
Terlihat begitu jelas perbedaan yang ada pada diri mereka, dari segi manapun.
"Kau sudah datang.." Ucap Visha sambil tersenyum ke arah Hana, "duduklah, aku akan pesan kopi untukmu.."
"Tidak perlu repot, aku sedang terburu-buru.." ucap Hana pada Visha, kemudian duduklah dia di kursi, berhadapan dengan Visha.
Mendengar kata-kata yang barusan Hana keluarkan dari mulutnya, membuat Visha terkekeh. Terburu-buru? apa Visha begitu bodoh sampai ia tak berpikir kenapa Hana harus terburu-buru? bukankah Hana bukan termasuk orang yang penting?
"Cih! macam orang sibuk saja," ucap Visha sambil memalingkan muka, "aku hanya ingin bicara sebentar, bukankah ini pertama kalinya kita berbicara tatap muka setelah dua setengah tahun? apa kau tidak ingin menikmatinya?"
"Ya, perbincangan pertama setelah kau resmi jadi maduku!" jawab Hana dengan datar.
"Kau salah! ini adalah perbincangan kedua kita setelah aku jadi madu kamu.." kata Visha dengan congkak, "kau ingat saat aku menemui kamu di penjara? bukankah seharusnya kau berpikir mengapa aku datang ke kota ini, dan entah bagaimana aku bisa datang bergilir dengan suami kamu?"
__ADS_1
"Aku tidak lagi peduli, kau ingin katakan apa, silahkan bicara, jangan membuang waktuku yang berharga!"
"Ck! sombong sekali kau ini! seakan-akan kau adalah wanita yang paling bahagia dengan kabar pengkhianatan ini.."
"Jelas, aku memang sangat bahagia dengan kabar baik ini, kau tahu? akhirnya aku bisa mengetahui sampah yang selama ini bersembunyi!"
"Jangan marah-marah terus, bukankah kau ingin awet muda seperti aku, supaya bisa menggaet pria mana saja yang kau mau, termasuk suami orang?"
"Aku tidak busuk seperti kamu!"
"Munafik!"
"Kau ingin berjumpa denganku hanya untuk membahas hal seperti ini? sungguh tidak penting sama sekali!" ucap Hana dengan kesalnya, "atau mungkin kau memang ketakutan, aku akan mengambil kembali pria brengsek itu darimu?" sindir Hana dengan halus.
Mendengar ucapan Hana, Visha semakin geram saja. Niatnya mengajak Hana berjumpa malam ini untuk memberi wanita itu pelajaran, tapi lihatlah! wanita itu bahkan entah kapan menjadi semakin berani.
"Dengar, Hana! aku peringatkan padamu! kalau kau sampai bersikap tidak adil denganku, maka akan aku pastikan kau tidak akan mendapat kesempatan berada di sisi Allianz!!"
"Vish, apa kamu yakin aku yang tidak adil? bukankah kau yang merebutnya secara diam-diam dariku? apa aku tidak bersikap adil dengan mengalah bahkan setelah aku tahu kau adalah wanita yang menjadi maduku?"
"Aku tak peduli apa yang sedang kau katakan! yang pasti, aku harap, jika kau ingin berada di sisi Allianz, aku minta kau jangan curang dalam permainan ini."
"Aku tak pernah curang! lagi pula, apa kau sedang memberi aku tawaran? sayang sekali, Vish, aku tak tertarik dengan tawaran kamu itu! jika kau mau ambil dan menguasai dia, maka ambil saja! aku tidak butuh sampah yang mengotori hidupku seperti dia!!"
Tanpa memperpanjang waktu lagi, Hana terlihat beranjak dari kursinya, dan kemudian bergegas pergi meninggalkan wanita itu di dalam cafe sendirian.
Heng! lagi pula memang jawaban itu yang ingin aku dengar dari mulutmu!
Gluk! meneguk sedikit kopi di tangan.
Tak!
Kemudian meletakkan kembali cangkirnya.
Sementara itu, terlihat Hana yang sudah mulai menuju ke mobilnya, dan kemudian masuk saja ke dalam sana.
Di dalam mobil, wanita itu terdiam. Di sandarkan kepalanya di jok bagian kemudi, lalu memikirkan sebuah keputusan yang mau tidak mau tetap saja harus dia ambil.
Keputusan yang sangat tepat baginya, ya, begitu tepat. Ya, dia memang harus melakukannya. Untuk apa dia memikirkannya lagi? bukankah jalan menuju masa depannya sudah membentang sangat luas? apa lagi yang dia pusingkan!?
Ia mengambil ponsel di atas jok mobilnya, dan kemudian menghubungi seseorang di seberang.
Tak lama dia menunggu, akhirnya panggilan darinya di angkat juga, laki-laki muda itu terdengar cemas di sana.
'Hallo, Nyonya, apa anda baik-baik saja? apa perlu aku jemput?'
"Tidak perlu! hanya saja..."
"Nyonya, dia ada di sini!!"
Deg!
Dia berhenti bicara, menyadari ada satu hal yang masih ia perlu bereskan. Ia mematikan sambungan, dan kemudian mulai bergerak pergi meninggalkan cafe dan wanita sialan itu di sana.
Dengan bergegas dia melajukan mobilnya untuk sampai ke rumah, hingga akhirnya, setelah setengah jam berlalu dia berada di jalanan, sampailah dia di rumahnya.
Ia mendapati sosok pria yang berdiri mematung di depan pintu gerbang rumahnya, terus menunggu kedatangannya, entah sejak kapan.
Hana tak lagi merasa risau, di bukalah pintu mobilnya, dan bersiap menghadapi Allianz dengan segala kekuatan dan ketegaran yang ada pada dirinya.
Blam!
Pintu mobil di tutup, dan ia terlihat berjalan mendekat ke arah pria brengsek yang sudah berulang kali menghancurkan hidupnya.
"Kau datang? kenapa tidak masuk dan minum kopi!?" tanya Hana mencoba datar saja, tak ingin menyalakan api di malam ini.
"Jangan banyak bicara! aku ingin kau menandatangani surat ini!!"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1