Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Gunting Mengkilat


__ADS_3

Ia berdiri di tepi jembatan, menatapi derasnya aliran sungai di bawah sana, namun tatapan matanya kosong tak berisi.


Kedua matanya menatap aliran sungai, tapi otaknya tak tertuju pada hal tersebut. Otaknya malah menari memikirkan apa yang baru saja dia lihat.


Ia mendapati suaminya yang tengah bermesraan dengan mantan istrinya di ruangan itu. Ya, dia salah paham, tapi apa mau di kata, semuanya tetap saja membuat dia terluka. Baginya tak pantas sekali saat melihat Allianz bermesraan di kantor seperti itu dengan Hana, bukankah sudah sepantasnya Allianz menjaga diri dari mantan istrinya itu?


Semilir angin meniup telinganya dengan lembut, menerbangkan rambutnya yang hitam mempesona, menaburkan kesenduan seperti yang dia rasakan di dalam hatinya.


Di atas sana, langit terlihat mendung, seakan ikut menangisi dan mengejek nasibnya yang memilukan. Sesekali tetesan air jatuh mengenai bumi, menitihkan kesedihan mendalam untuknya.


Entah mengapa alam pun bahkan seolah menertawakan dirinya. Seakan-akan semuanya berbangga diri dengan ejekan atas nasib dirinya yang sangatlah menyedihkan.


Ia yang dulunya bangga bisa merebut posisi Hana di samping Allianz, mengapa sekarang mendadak merasa menjadi manusia yang paling terkalahkan, dengan status wanita tersakiti akibat menjadi duri dalam rumah tangga Hana di masa lalu?


Ya, dia akui segalanya. Ia memang bersalah, ia memang jahat telah mengkhianati Hana dan malah merebut suaminya dengan kecurangannya.


Namun hatinya masih saja tertutup. Ia merasa bersalah, namun sebisa mungkin dia coba menutupi semua yang dia rasakan. Dia pendam dan tutup rapat-rapat perasaan bersalah itu, dan malah berbalik menyalahkan Hana.


*Ya, semua itu memang karena dia! andai saja dia tak pernah hidup! andai dia tak pernah hadir dalam hidup Allianz*!


*Padahal aku sudah memberinya seorang anak, aku juga sudah memberi dia kebahagiaan, menggantikan posisi Hana selama empat tahun terakhir, tapi wanita jal\*ng itu malah kembali memunculkan wajahnya, bahkan berubah penampilan menjadi sangat menarik, seolah ingin bersaing denganku, seolah ingin menghancurkan pernikahan aku dan Allianz*...


*Atau mungkin memang benar, dia memang sengaja hadir untuk merebut posisiku kembali, ingin menjadi orang yang kembali Allianz kagumi, karena itulah dia merubah penampilan dia, menjadi wanita modern dengan barang-barang branded yang membuat dia terlihat lebih cantik*..


*Sedangkan aku, lihatlah aku sekarang! aku yang telah melahirkan seorang putra untukmu, jika di bandingkan dengan dia yang tidak pernah melahirkan anak untukmu, tentu saja jauh berbeda*..


*Jika kau mengatakan padaku kau masih mencintainya meski sudah menikah denganku selama bertahun-tahun, lalu apa artinya pernikahan dan perhatian yang kamu berikan untukku selama ini*?


*Mengapa sekarang aku melihat warna abu-abu dalam pernikahan kita? mengapa seolah semua cinta yang aku rasakan darimu mendadak terasa han**yalah tabu semata*?


*Apa yang harus aku lakukan supaya kau kembali ke dalam pelukanku, Mas? apa yang harus aku lakukan supaya kau bisa melupakan dia dan hanya menempatkan aku di posisi menjadi istrimu*?


*Apa dengan aku menumpahkan seluruh cintaku, melahirkan buah hati untuk kamu, dan pengabdianku bagimu masih saja belum cukup untuk menggantikan posisi Hana di hatimu*?


*Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? apa kau masih belum puas melihat wajah cantik dan sudah jelas jauh lebih muda di banding Hana ini? apa dengan aku berubah menjadi cantik seperti dulu, kau akan melupakan wajah Hana, dan kembali lagi dalam pelukanku*?


*Atau... bagaimana kalau wajah Hana dan reputasinya yang rusak? apa dengan begitu, kau akan menjadi benci padanya? apa dengan begitu, kau akan merasa jijik, dan kemudian berusaha melupakan dia*?


...----------------...


"Ya, dia datang ke kantorku, melihat apa yang tengah di lakukan Allianz padaku," ucap wanita itu sambil menggoyangkan setengah gelas berisi bir, "tapi dia salah paham, aku sungguh tidak melakukan apapun dengan dia, mana mungkin aku akan melakukannya? cih!" sambung Hana.


"Apa dia sungguh sangat menjijikan sekarang? aku mendengar satu hal yang sangat membuat aku ingin muntah, bagaimana bisa dia mengatakannya, sedangkan dia sudah memilih Visha di masa lalu, apa dia bilang dia sangat menyesali perbuatannya?" tanya Naira dengan sangat geram.


"Dia tidak berkata menyesal, dia hanya meminta maaf, hanya itu saja, selebihnya tidak.." jawab Hana dengan wajah datar.


Gluk!


Lalu meneguk sedikit minumannya.


"Aku ingin menemui dia, entahlah, dia sungguh sangat memuakkan! meskipun dia kakakku, tapi perbuatannya padamu sudah sangat memuakkan! aku sangat heran dengan pemikirannya.." ucap Naira, agaknya ia sudah tidak tahan lagi untuk memberi pelajaran pada kakak kandungnya itu.


"Aish, apa yang ingin kau katakan jika berjumpa dengannya? apa kau ingin memarahi dia karena melakukan hal yang menjijikkan dari masa lalu sampai saat ini? ck! lucu sekali.." ledek Hana pada sahabatnya.


"Tentu saja aku akan mencacinya! lihatlah dirimu! kau bahkan sangat tertekan semenjak menikah dengan dia, aku heran, kenapa kau tidak mau mengurus dua orang seperti itu! kalau aku yang jadi kamu, sudah aku habisi wanita itu, sudah aku cincang dagingnya, aku jadikan sup dan aku makan dengan lahap!!" ucap Naira dengan sangat geram.


"Hahaha.. aku baru tahu kalau kau ternyata pemakan sesama.. aku baru sadar kalau kau adalah kanibal.. hahaha.." tawa Hana terdengar sangat puas dan lepas.


Agaknya wanita itu kini jauh merasa lebih bahagia dengan hadirnya sahabatnya dengan watak yang memang di bawanya, watak konyol dan sangat jauh dari kata waras.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau tertawakan? baiklah! aku tidak akan berkomentar lagi," meletakkan gelas kosong miliknya di atas meja kaca, lalu berdiri sambil membenarkan tas mewahnya, "aku akan pergi menemui kakakku!"


"Kau yakin?" tanya Hana masih meragukan perkataan Naira.


"Tentu saja, kenapa tidak? aku harus memberi dia pelajaran setelah berbuat hal seperti ini dalam hidupmu! dia harus mendapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya!"


"Aku tidak habis pikir, kau mau menemui kakak kamu setelah sekian lama kalian bertengkar, aku jadi ingin melihat bagaimana terjadinya pertemuan itu.."


"Tidak! aku tidak mau kau ikut! kalau kau ikut, kau hanya akan bilang padaku, sudah, Nai! sudah, tidak penting mengurus orang seperti mereka! ck! aku tidak suka saat kau mengatakan hal itu padaku!"


Mendengar ucapan demi ucapan yang di lontarkan oleh Naira, Hana hanya bisa menganggukkan kepalanya saja, mengiyakan setiap perkataan dari Naira yang baginya memang sangatlah lucu.


"Baiklah, pergi saja kau, tolong beritahu aku saat kau sudah mendapat kepuasan!"


"Oke, malam ini jangan tidur sebelum aku memberi kabar untukmu! aku akan langsung menghubungi kamu setelah berjumpa dan memarahi pria itu!"


Langkah kaki Naira kemudian terlihat menuju ke arah pintu keluar, dengan ketidak sabaran di hatinya, ingin segera menemui kakak kandungnya, dan memukulnya dengan sangat memuaskan.


*Hmph! lihat saja, kau! akan aku hukum kau seperti ibu menghukum kamu*!!


Dia mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu dengan geram memencet sebuah nomor, lalu mengirimkan sebuah pesan singkat.


Sent!


Sementara di dalam rumah, Hana hanya terlihat menyimpulkan senyuman di bibirnya. Matanya menatap dengan kosong gelas miliknya di atas meja, lalu memainkan kuku-kuku di tangannya dengan mahir.


Namun dalam aktivitasnya itu, dia bahkan hanya terus menerus memikirkan apa yang terjadi padanya dan juga dua orang itu. Mengapa dia di takdirkan berada dalam situasi menyedihkan seperti ini, mengapa dia harus melalui semuanya dengan kondisi hati yang tak kunjung sembuh dari lukanya.


Ia yang baru saja mencoba melupakan semua yang terjadi antara dirinya dan juga Allianz di masa lalu, namun belum juga lukanya mengering, kini dia kembali di hadapkan oleh masalah dengan orang yang sama pula.


Entah apa maunya takdir, entah ingin dia mati dengan luka yang bernanah, atau hanya ingin menjatuhkan tubuhnya saja dengan mengirim bertubi-tubi cobaan yang tiada hentinya.


Ia makin asik memainkan gelas berisi bir di tangannya, sampai pada beberapa detik kemudian, matilah semua lampu di langit-langit rumahnya, menyisakan kegelapan di dalam sana, hanya mengandalkan sinar rembulan yang menyorot, masuk dari kaca jendelanya.


Ia mendongak, sejenak juga berpikir mengapa semuanya menjadi sangat gelap, "Bi, kenapa lampunya mati?" tanya Hana berteriak.


Namun tak ada jawaban dari siapapun, dari arah manapun. Ia jadi mengabaikannya, dan berpikir mungkin karena ini sudah malam, jadi lampunya mereka matikan.


Begitulah pikirnya.


Dia menghabiskan satu gelas minuman miliknya lagi, lalu kembali menuangkannya. Namun kali ini dia mendiamkan minuman miliknya. Dia tengadahkan kepalanya menatap ke atas, menatap langit-langit rumahnya yang kini sudah sepenuhnya gelap.


Malam memang semakin larut saja. Mungkin kini hanya tinggal kesepian yang menyapa, kesepian yang juga berselimut dingin dan hening.


Di rumah ini memang sangatlah sapi, tapi ia tak begitu terkejut merasakannya. Dahulu kala sebelum dia menikah dengan Allianz pun, dia hanya menempati rumah ini seorang diri. Ada kalanya kedua orang tuanya kembali, tapi hanya beberapa hari, lalu setelah itu, dia lalui semuanya seperti biasa, sendiri, tanpa teman apalagi saudara.


Brak!


Namun sebuah suara mengagetkan dirinya, membuat dia menegakkan kepalanya yang berat, mencoba mendengar situasi di sekitarnya.


"Siapa itu?" teriaknya saat sudah mendengar suara keributan dari arah ruang tamu.


Ia mengacuhkannya, berpikir itu pasti hanyalah suara orang-orang yang berkerja di rumahnya, atau mungkin suara kucing yang tidak sengaja menjatuhkan pot bunga di depan rumahnya.


Ia akhirnya memilih untuk kembali terpejam, menutup matanya, dan berusaha larut dalam khayalan yang indah. Ia tak ingin segera tertidur, mengingat ingin mendengar penjelasan dari Naira untuk pertemuannya dengan Allianz nanti.


Jadi dia tak mau buru-buru menenggelamkan diri ke dalam mimpi. Ia ingin tertawa saat mendengar Naira yang bercerita sambil melakukan tingkah konyol di ponselnya nanti, dengan gaya bicara yang sangat humoris, dan juga banyak ekspresi. Iya, jujur saja, ia sangat menyukai hal semacam itu. Lagi pula, bukankah hanya Naira yang selalu berhasil membuat dirinya tersenyum?


Dia tersenyum dalam pejaman matanya, membayangkan lucunya Naira nanti saat mengatakan semua yang terjadi dalam pertemuannya dengan Allianz.

__ADS_1


Ah, anak itu memang selalu sukses membuat dia senang.


Terus tenggelam dalam kondisi matanya yang terpejam, ia bahkan tak sadar sebuah bayangan terlihat mendekat ke arahnya, bayangan yang hitam menyeramkan, dengan posisi tepat di depan tubuhnya.


Ia masih asik terbuai dalam wajah lucu Naira dalam angan-angannya, sampai tak sadar, bayangan itu perlahan mulai mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dengan sebuah gunting yang di genggam erat oleh kedua tangannya, gunting yang sangat tajam pun terlihat mengkilat, membuat silau mata, apa lagi saat terkena cahaya rembulan.


Di angkatlah dengan tinggi gunting dalam genggaman tangannya itu, lalu kemudian, dengan kedua tangannya yang gemetar, ia coba untuk di terjunkan dengan penuh keyakinan, ke arah wajah Hana yang masih tak mau membuka matanya.


"Matilah kau, Hana!!!" ucap wanita itu sesaat sebelum bertindak.


"Ah?" namun Hana akhirnya menjadi sangat terkejut. Dia membuka matanya lebar-lebar, dan menangkap sebuah wajah cantik namun di selimuti amarah yang bergejolak di depan matanya.


Wajah itu bahkan terlihat sangatlah bengis dan juga kejam, seolah ingin sekali membunuhnya tanpa ampun, mungkin dia lebih ahli di bidang pembunuhan.


Dengan sangat terkejut, dan waktu yang sangat singkat, seolah tidak memberi kesempatan bagi dirinya untuk menjauh, akhirnya dia pun tak sempat melarikan diri. Dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya dalam lindungan kedua tangannya, lalu bersiap menerima amukan wanita itu.


Hap!


Namun sebuah tangan berhasil merengkuh wanita itu. Tangan itu mencegah guntingnya untuk melukai Hana dan berhasil menjatuhkan benda tajam itu dari tangannya.


"Mau apa kau, hahh??" tanya Zarren dengan gagah berani.


"Lepaskan aku!!" erang wanita itu terus meronta.


Hana dengan perlahan membuka perlindungannya, membuka kedua tangannya, dan juga kedua matanya.


Kini dia mendapati wajah wanita itu dengan sangat jelas, meskipun hanya terkena sinar rembulan malam saja.


Ia segera bangkit dari duduknya, dan menendang gunting milik Visha hingga masuk lah gunting itu ke kolong sofa ruang tengahnya.


"Visha! kamu?!" ucap Hana dengan penuh keterkejutan, sekaligus rasa cemas di hatinya.


"Kenapa kau tidak mati? kenapa kau selalu terlindungi!? seharusnya kau mati saja! seharusnya kau diam saja! tidak memberontak, apa lagi sampai berhasil melarikan diri dariku! padahal aku hanya ingin melukai wajah kamu saja! aku hanya ingin memberi bekas luka di wajah cantik kamu, supaya Allianz tidak lagi mencintaimu!" ocehan Visha bak orang gila.


Hana hanya bisa menggeleng tak percaya, melihat keadaan Visha sekarang yang sangat miris.


Sahabatnya itu bahkan seperti orang gila yang ketakutan suaminya akan dia ambil di kemudian hari, padahal dahulu, bukankah Visha sendiri yang mengajarkan padanya tentang sebuah pengkhianatan?


"Mati saja kau Hana! matilah kau!!" ucap Visha sambil terus mencoba memberontak dari kekangan tangan Zarren.


"Dasar wanita gila!!" ketus Zarren sambil terus menahan Visha untuk bisa lepas darinya.


"Lepaskan aku!!"


"Mimpilah kau!!" jawab Zarren mencoba melarak wanita itu keluar dari rumah Hana.


Namun Hana mencegatnya, dia memberi kode pada Zarren untuk berhenti melakukannya.


"Zarren, berhentilah.."


"Nyonya!?"


"Lepaskan dia.."


"Nyonya?"


"Aku bilang lepaskan!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2