Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Nekad


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?" tanya Ardian pada Dokter Andrew usai mereka selesai melakukan semua tugasnya.


"Wow! kondisi yang cukup baik, aku tidak menyangka kalau penyembuhannya akan secepat ini, kalau begini terus, Naira akan segera mengingat dalam dua kali penyuntikan lagi!" ucap Dokter Andrew pada Ardian membuat mereka semua terasa lega.


"Baguslah, aku sangat senang mendengarnya!"


"Oh iya, sekali lagi, cobalah untuk memeriksa diri di dokter kandungan, aku rasa ada kehidupan lain dalam perut Naira." Ucap Dokter Andrew semakin membuat dua orang itu terkejut saja.


"Oh? benarkah? apa aku harus memeriksa diri?" tanya Naira dengan sangat antusias.


"Ya, aku rasa kau perlu memeriksanya!"


Ardian gemetar sekali saat mendengar kata-kata itu terucap dari Dokter Andrew. Dia bahkan tidak percaya kalau dia akan punya dua anak.


"Baiklah, akan segera ku periksa! ayo, sayang, cepatlah, kita harus memeriksa kandungan kamu!" ucap Ardian sambil memapah wanitanya keluar ruangan.


"Aish! ini masih belum benar, nanti kita lihat saja hasilnya!"


"Aku tahu, lagi pula apa salahnya merasa senang dulu," ucap Ardian sambil mengantar istrinya menuju dokter kandungan.


Lama mereka melakukan tes, hingga akhirnya dua manusia itu terlihat selesai dan duduklah Naira di samping suaminya.


"Bagaimana, dokter?" tanya Naira pada dokter wanita yang cantik di depannya.


"Selamat, Bu, anda memang sudah mengandung, tapi kandungan ibu masih sangat muda, baru sekitar enam mingguan, jadi jangan banyak pikiran, dan jangan terlalu lelah juga, ya, Bu!"


Naira dan Ardian tersenyum, saling menggenggam tangan, dan saling menguatkan. Rasa gemetar karena gugup ini memang lebih besar di banding saat berhadapan dengan pistol.


Hahaha!


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Berbeda dengan Naira yang sedang merasa bahagia karena kandungannya, Hana justru makin terlihat murung di dalam kamarnya, merenungi nasib malang yang terus saja menimpanya.


Ya!


Tubuhnya tak lagi suci, karena tangan nakal Morgan yang membuat noda berlumur dosa di sana. Dia juga merasa sakit, sakit dan merasa dosa pada sosok Allianz, yang tidak pernah bisa dia percaya.


Huhh!


Tidak pernah di sangka, kalau hidupnya akan jauh lebih kacau di banding satu tahun yang lalu. Atau mungkin memang dia di takdirkan menjadi wanita yang di penuhi masalah dan tantangan.


Dia tak pernah menjumpai kebahagiaan, bahkan setelah kembali pada sang suami, yang telah dia harapkan selama bertahun-tahun lamanya pun, dia tak lagi merasa bahagia.


"Aku tak pernah menduga akan jadi sehina ini, ya, Allianz, aku memang hina, benar katamu, aku wanita menjijikkan, tapi pantaskah kau mengatakan hal demikian pada istrimu sendiri?" ungkapnya penuh kekesalan.

__ADS_1


Dia menatapi layar ponselnya lagi, berharap akan ada kabar dari pria itu, entah sekedar berkata aku membencimu, atau apalah. Tapi nyatanya tidak, tidak sama sekali. Suaminya bak lupa padanya, atau memang Allianz benar-benar tidak ingin dirinya lagi.


Hiks hiks hiks...


Tangisannya menggema di seluruh pojok kamar utama, di temani dengan kegelapan, tiada cahaya matahari yang masuk, apa lagi sekarang cuaca sedang mendung, dan rasanya amat dingin, dingin sekali.


Hiks hiks hiks..


Begitu terdengar menyayat tangisnya, bak di belah menggunakan pisau di atas kulitnya, dan di olesi garam pada lukanya, oh, bahkan mungkin jauh lebih sakit dari pada hal itu.


Ya!


Allianz kembali mengulang kesalahan yang sama seperti satu tahun lalu, saat Hana dia tuduh sebagai pembunuh ibunya, dan sekarang, dia kembali menuduh istrinya berkhianat.


Entah apa yang ada dalam otak laki-laki itu, dia bahkan tidak mampu melihat kesalahan yang dia lakukan bersama Visha, dan anehnya lagi, dia malah menuduh istrinya menjijikkan.


Huhh!


Memikirkannya saja sungguh sangat memuakkan!


Hana bangkit dari duduknya, dan berpikir tentang suatu hal. Ya! dia memang bersalah, pantas saja Allianz marah padanya, karena sebagian kesalahan memang ada pada dirinya.


Entah kenapa dia tiba-tiba berpikir seperti itu. Karena dia tak pernah tahu kalau suaminya pun telah tidur dengan wanita lain, jadi dia menimpakan inti masalah ini pada dirinya sendiri.


"Aku memang salah!"


Morgan!


Memang dia yang bersalah, jika dia tidak datang tadi malam, seharusnya masalah ini tidak akan pernah terjadi. Ya! gara-gara pria itu.


Mendadak sorot matanya berubah tajam. Dia yang pada mulanya terlihat menyesal dan menyalahkan dirinya, kini berbanding terbalik.


Ia terlihat marah, dan juga terlihat begitu berapi-api. Ia ingat satu nama yang berhasil menghancurkan hidupnya, dan kesuciannya tadi malam.


Tanpa berpikir panjang, dia bergegas keluar dari kamarnya, lalu menyambar sebuah benda yang ada di dalam laci yang letaknya di bagian ruang tamu.


Ya, dia pernah melihat benda itu ada di sana, mungkin suaminya yang menyimpannya, ia sendiri pun tidak tahu.


Dia tak peduli akan hal lain, hanya berpikir untuk keluar dari rumah, lalu menuju mobil yang terparkir di bagasi rumah suaminya.


Zarren dan Leon yang tengah di buat asik menonton video Tuan Allianz dan Visha di ponsel Leon pun terpaksa harus menghentikan aksi mereka, karena kedatangan Hana yang mengejutkan mereka.


Gubrak!


Gubrak!

__ADS_1


"Nyonya!!?"


Keduanya malah terlihat bingung usai melihat sang Nyonya yang hanya mengabaikan mereka berdua, dan pergi saja menuju mobil di bagasi.


"Nyonya mau kemana?" tanya Zarren dengan cemas.


"Bukan urusan kalian!"


Klik!


Masuk ke dalam mobil!


Blam!!


Vroooooommmmmm


Mobil yang di kendarai Hana terlihat mulai bergerak menuju jalanan, dan setelah itu melaju cukup kencang di jalan raya.


Dalam perjalanan, dia terlihat memainkan ponselnya, dia mengirim pesan pada seseorang.


Morgan! kita perlu bertemu!


Sent!


Tak lama setelah itu, terlihat balasan secepat kilat dari seberang sana. Mungkin pria itu begitu senang saat melihat pesan dari Hana untuknya.


Baiklah, kita ketemu di taman!


Melihat pesan dia di balas dan di respon cukup baik membuat Hana semakin senang dan bersemangat.


Di lajukan lebih cepat lagi mobil yang ia kendarai. Sementara, jauh di belakang sana, terlihat Zarren dan Leon yang membuntuti Hana dengan menggunakan sepeda motor.


Merasa terkekang dengan dua bodyguard itu, Hana akhirnya memilih untuk mengecoh mereka semua, berjalan di tempat sepi, dan kemudian bersembunyi dalam deretan mobil yang terparkir di sisi jalan pada malam itu.


Jalanan yang gelap, di tambah lagi banyaknya mobil yang terparkir di sana, memang sukses membuat Zarren dan Leon terkecoh.


"Nyonya menghilang!"


Sekarang Zarren dan Leon memilih untuk melanjutkan di jalan yang lurus. Dalam kesempatan itu, Hana memilih untuk cepat bergegas, dan memutar arah, kembali pada jalur semula.


Vroooooommmmmm


Dan dengan mudahnya, wanita itu pergi setelah menipu dua bodyguardnya.


Morgan! aku datang!

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2