
Kini perpisahan pun harus terjadi. Hanya tangis dan rasa sakit yang menyiksa dirinya, berdiam di dalam sel, membayangkan betapa tangisan putranya yang sangat menyayat hati, saat mereka pergi dari tempat penahanannya.
Dia menangis di pojok sel, menumpahkan rasa sesak di dadanya yang tak kunjung sembuh. Ingin sekali dia berteriak, melampiaskan semuanya pada keheningan suasana di lapas tahanannya, namun, sekali lagi, dia tak punya wewenang untuk itu.
Dia tak punya wewenang untuk berkuasa di sini, pun tak punya hak untuk berkuasa di sel tahanannya.
Kini hanya tangisan lirih nan menyakitkan yang terdengar di dalam ruangan berukuran dua kali dua meter tempat dia di tahan, tak ada suara apapun dari sana, karena memang tempat itu sungguh hening.
Perpisahan yang menyakitkan, kapanpun itu, pastilah akan terjadi, hanya saja, seakan takdir hidupnya benar-benar kejam. Ia bahkan di biarkan untuk kehilangan segalanya, kehilangan orang tua, kehilangan suami, dan sekarang, bahkan anak yang menjadi alasan ia bertahan satu-satunya pun di renggut pula oleh takdir.
Haruskah dia melawan semua yang terjadi pada dirinya? apa dia menang harus bangkit, memusuhi takdir, dan kemudian berjalan seorang diri menciptakan dunia yang ia impikan, dunia yang bahagia, tak ada kehilangan, tak ada air mata, dan tak ada perpisahan?
Sayang sekali tidak bisa, bagaimana pun hancurnya Hana, wanita itu tetap harus bertahan, mengikuti garis dan alur yang telah di persiapkan oleh takdir untuknya.
Seberapa keras pun dia mencoba lari, tetap saja, segalanya yang ada dalam dirinya, telah di kendalikan oleh takdir. Tak ada cara lain selain mengikuti apa maunya kehidupan, bersabar, dan juga mengalah.
Do'anya hanya satu, kembalikan semua kebahagiaan yang seharusnya akan menjadi miliknya, hanya itu saja, tidak lebih!
Hari demi hari semakin berlalu, waktu yang berjalan terasa lebih lambat baginya, namun bagi pasangan Visha dan Allianz, waktu ini begitu cepat berlalu.
Di hari ini, adalah genap sembilan bulan kehamilan Visha, hamil anak yang entah mengapa menjadi dambaan bagi Allianz, padahal pada awalnya pria itu bahkan ketar-ketir saat mendengar wanita yang menjadi istri keduanya itu hamil anak dirinya.
Hari ini, Visha akan melahirkan. Tak ada jalan lain selain harus di operasi, karena bayi yang memiliki bobot cukup besar, katanya..
Kenapa tidak langsung bilang, kalau dia ingin menjaga penampilannya saja, bukankah mengakui hal itu tidak terlalu sulit?
Aish!
Sudah sekitar satu jam Visha si bawa ke ruang operasi. Di depan ruangan itu, Allianz nampak mondar-mandir, menunggu kabar selanjutnya yang akan dia dapat, sambil terus mencoba menghubungi adiknya.
Namun sang adik sama sekali tidak merespon panggilan darinya. Sekian lama mereka tidak lagi saling berhubungan, mungkin masih ada sedikit kekesalan di hati Naira untuk kakak kandungnya itu.
Wajah Allianz yang cemas tak mampu di sembunyikan, wanita yang entah telah dia cintai atau masih stay di kata belum bisa mencintai itu, masih saja di dalam ruangan operasi, mungkin itulah yang menjadi alasan Allianz untuk merasa cemas.
"Nai, kok kamu tidak angkat si? lagi apa si kamu?" gumam Allianz dengan lirih.
Bukannya dia tidak sanggup menunggu kelahiran buah hatinya seorang diri, hanya saja, dia juga ingin kembali memperbaiki hubungannya dengan sang adik.
Ia pikir, adiknya pasti akan cemas kalau mendengar Visha akan segera melahirkan, meskipun kehadiran Visha membuat adiknya kecewa setengah mati, tapi Allianz yakin Naira tidak akan setega itu membiarkan Visha dalam kesulitan seorang diri, iya, itu mungkin.
"Apa dia masih saja marah padaku? yang benar saja! ini sudah hampir dua tahun kejadian itu terjadi, cih! kau mungkin sudah lupa siapa aku ini.." Sekarang wajah Allianz nampak kesal di buatnya.
Dia mengabaikan ponsel dalam genggaman tangannya, dan akhirnya memilih untuk duduk di kursi tunggu.
Namun belum juga dia menghabiskan satu menit di kursi tunggu, mendadak ponselnya bergetar, ada yang menghubungi dia di sana.
__ADS_1
Dengan cepat dia kembali bangun dari duduknya, dan segera mengangkat panggilan dari adiknya itu.
"Hallo, Nai.."
"Tumben? ada apa?"
Tanya Naira terdengar dingin. Wanita itu pasti masih saja marah pada Allianz. Ah! masa bodoh! yang penting sekarang harus mengabari soal kelahiran anaknya.
"Nai, kakak ipar kamu akan melahirkan, apa kamu tidak mau datang ke rumah sakit? dia pasti akan sangat senang!"
"Cih! mimpi saja kau! kakak iparku ya cuma Hana!"
Jawab di seberang terdengar judes sekali, membuat Allianz membuang nafasnya dengan kasar.
"Nai, dia juga kakak ipar kamu, dia butuh keluarga untuk menemani dia, dan harusnya kamu juga ada di sini, kasih dia dukungan, kasihan Visha.." Pinta Allianz dengan sangat memohon.
"Jika aku datang untuk memberi dukungan padanya, lalu siapa yang akan mendukung Hana? bukankah selama ini kita adil? kau mendukung Visha, dan aku mendukung Hana, masihkah kau buta?"
Naira semakin keras meluapkan amarahnya pada Allianz, wanita itu bahkan terdengar sangat antusias saat mengatakan semua yang selama ini terjadi di antara mereka.
"Kak, kau sudah salah paham padanya! berulang kali kau salah paham padanya, kau tidak mengerti apa yang terjadi pada Hana selama ini, bukankah kau sama sekali tidak tahu apapun tentang Hana? suami macam apa kau? saat kau susah, Hana yang kau cari, lalu setelah kau berjaya, siapa wanita yang kau ratukan? Visha? cih! kau sungguh menjijikan!"
"Nai, sudahlah, tidak penting membicarakan masalah itu sekarang, aku hanya minta kamu untuk datang dan menganggap Visha sebagai kakak ipar kamu juga, kasihan dia, dia butuh seseorang yang mendukungnya untuk saat ini." Bujuk Allianz dengan lembut.
"Aku hanya minta kamu untuk datang, kenapa kamu sampai sekeras ini?" mendadak Allianz merasa kesal pada adiknya.
"Zhoulin? kamu lebih cemas padanya, anak dari orang lain yang seharusnya tidak kamu cemaskan, sementara, kakak ipar kamu, dia sedang berjuang melahirkan anakku, kakak kandung kamu sendiri, kamu waras, Nai?"
"Waras katamu? seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kamu masih waras atau sudah kehilangan seluruh akalmu! lihatlah! kau bahkan hanya satu bulan sekali mengabari aku, itu pun tidak tentu, dan sekarang, kau mencariku! mengatakan Visha membutuhkan aku? cih! rendahan sekali kalian berdua!"
Bip!
Tanpa berpikir panjang, langsung di tutup saja panggilan dari Allianz oleh wanita itu.
Entah mengapa kehancuran yang di alami oleh Naira sampai saat ini masih juga terasa, seolah selalu membekas di hatinya, dan tidak bisa di hapus dengan mudah.
Wanita itu mengusap dahinya, merasa kesal dengan takdir yang memaksa dia harus menjadi adik dari seorang pria yang amat menjijikan.
Kini dia tengah bersama Miranda, di gubuk sederhana yang di tempati Miranda juga Zhoulin untuk tinggal.
Seperti janjinya pada Hana dan juga Miranda, ia akan menjenguk Zhoulin setiap dua Minggu sekali, dan Miranda pun tak pernah keberatan untuk itu.
Kini mereka berdua malah menjadi keluarga yang sangat dekat, dan menjadi sahabat baik.
"Kenapa, Nai?" tanya Miranda sambil menjaga anak Naira yang kedua, Anya.
__ADS_1
"Kak Allianz menghubungiku.."
"Kenapa lagi memangnya?" tanya Miranda, setelah beberapa bulan saling mengenal, keduanya memang jadi semakin akrab.
"Katanya Visha mau melahirkan, aku di minta tunggu dia di rumah sakit, ya kali aku setuju, masa iya aku harus nunggu Visha lahiran," ucap Naira dengan nada ketus.
"Kasihan juga mbak Hana, dia harus mengalami kejadian seperti ini tanpa dia tahu, huhh! andai saja mbak Hana tidak di penjara, pasti perselingkuhan mereka sudah ketahuan sekarang." Ucap Miranda pada Naira.
"Iya, Mir, tapi aku masih belum tega ngomong semuanya sama Hana, dia juga masih harus tenangin diri meski sudah dua tahun mendekam di penjara, masa aku tiba-tiba ngomong soal pernikahan Kak Allianz dan sahabat baiknya, rasanya gimana, ya," ucap Naira dengan wajah bimbang.
"Aku tahu perasaan kamu, kamu juga pasti masih bingung bagaimana cara ngomongnya, karena itulah kamu pikir lebih baik menunggu Mbak Hana keluar dari penjara, dan melihat semuanya sendiri, iya, kan?"
"Iya, kau benar, aku memang berencana seperti itu, dari pada aku buat dia terkejut, lebih baik dia sendiri yang lihat apa yang terjadi!"
"Iya, memang baiknya seperti itu.."
"Oh ya, Mir, aku mau ajak kalian jalan-jalan, kamu kan juga suntuk pastinya terus-menerus di toko baju kamu, jadi hari libur ini, mau, ya, jalan-jalan ke kebun binatang?"
"Maaf, Nai, aku tidak bisa jalan-jalan hari ini, kalau kau mau, ajak saja Zhoulin bersamamu, aku harus mengurus beberapa pesanan yang belum sampai, jadi hari libur juga masih sibuk."
"Oh gitu, ya, ya sudah, nanti aku ajak Zhoulin juga, ya, kalau dia nginap di rumah, boleh tidak?" tanya Naira meminta izin pada Miranda.
"Boleh, memangnya kenapa harus minta izin? kau juga punya hak untuk merawatnya!"
"Baiklah, Mir, terima kasih, ya, kalau kamu mau selesaikan pekerjaan juga tidak apa-apa, lagipula anakku pasti akan sangat senang ada Zhoulin di rumah," ucap Naira pada Miranda.
"Baiklah, terserah kau saja.."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kebahagiaan pun datang, lahirlah buah hati pertama mereka ke dunia, berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki wajah tampan rupawan persis seperti wajah ayahnya.
Dengan senyuman yang sangat lebar karena bahagia, Allianz terus menggendong buah hatinya, mengajak bayinya berbicara dalam dekapan tangannya.
Sementara Visha masih saja berbaring di atas tempat tidur, masih belum di perbolehkan untuk bangun dari sana.
Mendadak dia merasa sedih, tak ada siapapun yang datang di hari penting nan membahagiakan untuknya ini.
Benarkah ia tak lagi punya sanak saudara, meskipun dari pihak Allianz sekalipun?
"Apa Naira tidak mau datang juga?" tanya Visha dengan wajah datar.
"Dia sibuk katanya, harus menjenguk Zhoulin di rumah ibu kandungnya, jadi tidak bisa hadir."
Namun mendengar penjelasan itu dari sang suami, mendadak ada rasa kesal bercampur benci pada sosok Naira. Ia tak habis pikir, bahkan saat dia sudah melahirkan buah hati untuk Allianz, keluarganya masih saja tidak bisa mengakui keberadaannya.
__ADS_1
Apakah menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan memang harus mendapatkan rasa sakit sampai seperti ini?