
Allianz meraih ponsel yang dia letakkan di atas nakas yang letaknya berada di samping tempat tidur Visha. Sementara wanita itu masih terlihat keletihan usai bermain sampai ujung kemampuannya.
Allianz yang masih tidak mengenakan apapun di sana, terlihat menatapi layar ponselnya. Sekitar dua puluh lima pesan dan tiga puluh panggilan tak terjawab dari Hana dan juga dari Naira.
Dia semakin di buat kesal tatkala Leon pun menambahkan pesan di sana, sebuah video berdurasi satu menit dua puluh lima detik, yang menampilkan sosok dirinya yang tengah asik bergumul dengan Visha di lantai dua.
"Sial!" umpat pria itu dengan lirih, tak ingin terdengar oleh Visha.
Dengan cepat dia mengirim pesan pada Leon, dan meminta anak itu tidak melaporkan apapun pada istrinya.
Jangan kau buat nyawa istriku melayang nantinya! aku tidak mau di tuduh bersalah lagi!
Sent!
Tak ada balasan apapun dari Leon, dia tahu mungkin anak itu sedang mencoba kembali ke rumah, setelah dia berhasil mendapatkan beberapa gambar menarik hasil jepretan kamera ponselnya, yang tentu saja dia dan Visha yang menjadi objek utama dalam pemotretan itu.
Dia menilik jam di ponsel, dan menunjukkan masih pukul delapan pagi, artinya dia masih bisa pulang dan bersiap-siap untuk kembali bekerja.
Allianz meletakkan lagi ponselnya di atas nakas, dan menatapi Visha yang masih memejamkan matanya.
Dia pasti sangat lelah melayani aku!
Benaknya berbicara, seolah merasa begitu kasihan pada wanita ini, karena telah membuat dirinya puas sebanyak dua kali dalam jangka waktu yang tidak terlalu jauh, namun dengan durasi yang sangat lama.
Dia memang pria yang tangguh, untuk soal bermain senjata, dia lah jagonya, apa lagi setelah di rangsang menggunakan obat perangsang tadi malam, beuh! rasanya tidak ada lagi yang bisa memuaskan dirinya selain di gua nikmat milik Visha.
Sekilas Allianz tersenyum, dan mendekatlah lagi pada wanita di atas ranjang itu. Meski dia masih belum bisa mencintai wanita ini, tapi dia dengan tulus memberikan kecupan singkat di kening Visha, hingga membuat wanita yang tengah terkapar itu memilih untuk membuka matanya, dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut.
"Ah? kau!" ucap Visha sambil menyambar selimut, dan menutupi tubuhnya yang polos.
"Ini sudah siang, kau mau berangkat kerja atau bagaimana? aku harus pulang, aku tidak punya baju yang ku bawa kemarin," ucap Allianz pada Visha, membuat wanita itu mengangguk saja.
Ya, setidaknya dia sudah dua kali di puaskan pria idamannya ini.
"Mandi bareng, yuk! aku mau di mandiin sama kamu!" ucap Visha dengan nada manjanya.
"Kalau nanti mandi bareng, kamu bisa aku makan lagi tahu! ini sudah siang, satu jam lagi kita harus sampai di kantor!"
"Ya jangan di tahan kalau masih mau, lagi pula, aku siap terlambat kalau cuma untuk bermain di bak mandi!" ucap Visha dengan genitnya pada Allianz.
Pria yang usianya sembilan tahun jauh lebih tua dari Visha itu pun hanya mencelos. Baginya wanita semacam ini sungguh menarik. Dia bahkan berniat menghabisi wanita ini nanti di kamar mandi.
Namun sebelum itu, ada baiknya dia bicara dulu dengan Ardian.
Bip!
__ADS_1
"Hallo!?"
Ardian masih belum tahu apa yang terjadi pada Allianz dan Hana semalam, jadi dia masih bersikap biasa-biasa saja.
"Ada apa menghubungi aku?"
Tanya Ardian pada Allianz membuat Allianz tahu anak ini masih belum tahu apapun tentang masalah semalam.
Syukur deh!
"Aku izin tidak masuk hari ini, ada kepentingan yang harus aku urus!" ucap Allianz tanpa basa-basi lagi.
"Kepentingan? apa kamu sepenting itu? hahaha.."
Di seberang terdengar gaduh suara Ardian yang tertawa dengan puasnya.
"Aku serius, Ar!"
"Haha, oke, oke, mau ambil cuti berapa hari? cuma sehari, kan!?"
"Mungkin satu Minggu, aku tidak tahu, catat saja selama satu Minggu!" ucap Allianz dengan yakin.
"Mau apa si kamu? kok ambil cuti lama banget?"
Bip!
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Allianz langsung mematikan ponselnya, dan kembali beralih pada Visha yang sedang asik menggerayangi dada berbulunya lagi.
"Kok ambil cuti?" tanya Visha dengan wajah manjanya.
"Kamu lupa?" dia masih saja merasa canggung dengan wanita ini.
"Lupa? lupa apa?" tanya Visha polos.
"Kau sudah melamarku semalam, masih tidak ingat?"
"Ah?! kau! kau akan menikahi aku?" raut wajahnya menunjukkan ketidak percayaan.
Allianz mengangguk saja, meski begitu, ia masih belum bisa menunjukkan wajah bahagianya, apa lagi senyum manis yang biasa dia berikan pada Hana.
"Kau serius?!" tanya Visha sekali lagi.
"Kita akan menikah hari ini, dan akan langsung bulan madu di luar kota! bagaimana menurut kamu?"
Tentu saja Visha mengangguk. Laki-laki ini bahkan bukan hanya menyiapkan kejutan khusus tentang pernikahan, tapi juga langsung memberi hadiah bulan madu di luar kota yang dia idamkan.
__ADS_1
Dia sungguh memberi aku segalanya! aku tidak akan kesulitan saat harus menjatuhkan Hana kelak, lihat saja! dia bahkan antusias untuk bulan madu denganku!
Visha tak canggung memeluk kembali tubuh kekar itu, dan membenamkan kebahagiaannya di sana.
Tapi tidak seperti Visha yang amat bahagia dengan kabar mengejutkan ini, Allianz malah terlihat memasang wajah datar, dan penuh amarah. Ya, amarah yang selalu dia pendam, hanya bisa dia kemukakan di sorot matanya.
Entah aku benar-benar tidak lagi mencintai kamu, atau aku hanya sekedar kesal dengan semua perlakuan kamu, yang jelas, pernikahan ini sudah aku pikirkan secara baik-baik!
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pemuda itu terlihat telah kembali, dan kedatangannya telah di hadang langsung oleh Zarren di depan pintu rumah.
Takut saja kalau-kalau Leon akan nekad memberi video itu pada Hana, karena kondisi Hana saat ini benar-benar tidak bisa di ganggu sama sekali.
"Kemari! berikan video itu padaku! kita harus menghapusnya!" ucap Zarren pada Leon.
"Untuk apa di hapus? lagi pula Nyonya Hana tidak pernah memeriksa ponselku, jadi video ini akan aman bersamaku!"
"Dasar konyol! nanti kalau sampai dia liat semuanya bagaimana?"
"Zarren, percaya saja padaku, dia tidak akan mungkin tahu semuanya, lagi pula ponselku menggunakan sandi, jadi dia tak bisa membukanya!"
"Ah! terserah kau saja! aku sudah malas bicara denganmu!" ucap Zarren lalu beralih pergi menuju ke dalam rumah.
🌺🌺🌺🌺🌺
Hiks hiks...
Drrrttt Drrrttt!
Sementara itu, di tengah-tengah tangis kecil Hana yang terisak, Naira mendapati ponselnya yang bergetar dengan hebat di dalam tasnya.
Dia membuka ponselnya, dan mendapati Ardian tengah mencoba menghubunginya.
Bip!
"Hallo, sayang!"
"Hallo, sayang! kau ada di mana?"
"Aku ada di rumah Hana, mereka sedang mendapat masalah!"
"A? masalah katamu!?"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1