Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Kejutan


__ADS_3

Dua Minggu telah berlalu, semenjak Hana tidak lagi memberi dia kabar, bahkan menengok televisi atau ponsel pun, entah kenapa sekarang tidak di perbolehkan.


Ia mulai merasa ada yang ganjil di sini, suaminya bertingkah aneh, seolah ada yang di sembunyikan darinya.


Ia merasa kesal, pun cemas, depresi yang malah membuat dia tidak nafsu makan, padahal dalam perutnya ada jabang bayi yang harus dia beri makan.


Di ruang belakang, terdengar sang pelayan yang kewalahan tengah menghubungi Ardian, mengatakan kalau sang Nyonya tidak mau makan apapun dalam sehari ini, dia tak lagi bisa membujuk nyonya besarnya, hanya bisa mengadu pada sang tuan, untuk segera kembali, dan mencoba membujuk nyonya agar lekas makan.


"Nyonya belum makan apapun selama sehari ini, Tuan, saya tidak bisa lagi membujuk nyonya untuk makan, dia bahkan terus berdiam di dalam kamar, tidak ada yang berani masuk ke dalam sana!"


"Dia tidak mau makan? baiklah, tunggu aku kembali, lihat apa yang akan aku lakukan untuk menghukumnya!"


Bip!


Sambungan di matikan. Di seberang sana, Ardian yang tengah rapat penting di perusahaannya pun akhirnya memilih untuk bergeming, dan melepaskan tugasnya pada sang adik ipar, Antonio.


Antonio yang memang telah menjadi wakil CEO di dalam perusahaannya memang bisa di andalkan jika Ardian punya kesulitan semacam ini.


Di tinggal begitu saja ruangan rapat yang di hadiri oleh beberapa dewan, dan melencing lah Ardian keluar dari perusahaannya dengan perasaan kesal dan penuh dengan kecemasan.


"Kenapa dia tidak mau makan?" tanya dia dalam langkah kakinya menuju arah lift.


"Tuan, mungkin nyonya perlu penjelasan mengenai tidak ada kabar dari Nyonya Hana dua pekan ini," ucap Luis memberi pendapat.


"Kau benar juga, dia malah jadi depresi akibat tidak tahu apapun dari Hana, apa mungkin lebih baik aku memberitahu semuanya?"


"Tunggulah setelah tiba di rumah, terserah padamu akan memberitahu nyonya atau tidak," ucap Luis di dalam lift.


Tring!


Lift berhenti, dan keluarlah Ardian bersama Luis menuju ke mobilnya, lalu masuklah mereka berdua.


Kini mobil Ardian mencoba bergerak keluar dari perusahaan, dan langsung saja bergerak menuju arah pulang..


Tidak ingin menunggu waktu yang lebih lama lagi, karena sang Istri yang begitu sulit dia tangani semenjak hamil, jadi agak risau saja kalau membiarkan Naira di rumah seorang diri dalam keadaan mengurung diri tak mau makan apapun.


Sepanjang perjalanan pun, dia terlihat begitu cemas, takut saja kalau-kalau anak itu akan berbuat nekad saat berada sendirian di dalam kamar..


"Bisakah lebih cepat lagi? aku sudah tidak sabar ingin memarahi dia..." Ucap Ardian pada sang sopir.


Cih! mari kita lihat, apa kau benar akan memarahi dia selepas pulang, atau kau akan kalah oleh ocehan-ocehan ganas dari istrimu itu?


Benak Luis meledek tuannya, tapi masih terlihat mencoba untuk fokus dalam mengendarai mobilnya.


Dengan cekatan Luis mencoba mengendari laju kendaraan untuk lebih cepat lagi. Dia tambah kecepatan mobil tuannya, sehingga bisa mempersingkat waktu perjalanan, dan semoga, ucapan tuannya yang akan memarahi Nyonya saat tiba di rumah memang benar adanya.


Atau mungkin Ardian hanya akan jadi patung penuh dosa saat dia tiba di rumah nantinya..


Ahahahaha....


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Nyonya, makanlah dulu, nanti keburu dingin sup nya," ucap sang pelayan dari balik pintu, mencoba membujuk Naira untuk segera keluar dari kamar dan memakan sup yang telah dia buat sejak pagi.


"Sudah ku bilang tidak mau, ya, tidak mau!! jangan paksa aku!! pergi saja sana! ganggu orang saja!!"


Namun terdengar amat keras di telinga mereka amarah dari Nyonya besarnya dari dalam kamar, sambil terdengar membuang entah apalah di sana.


Ya ampun...

__ADS_1


Ternyata si cantik Naira kalau sudah marah, singa pun akan minder di depan dia, takut juga nanti kalau Ardian pulang, bisa di telan mentah-mentah sama Naira.


"Tapi, Nyonya, Tuan akan segera pulang, nanti kalau saya kena marah gimana?" tanya pelayan satunya lagi, seorang wanita tua yang kira-kira usianya hampir lima puluh tahunan.


"Bi, kalau sudah selesai bicara, bibi boleh pergi! saya sedang tidak ingin di ganggu!!"


Brakk!


Terdengar sebuah suara benda yang di lempar tepat mengenai pintu, hingga membuat dua wanita di depan pintu terkejut, dan pada akhirnya memilih untuk mundur dari sana.


"Tidak di sangka, Nyonya Naira yang sebenarnya punya sikap lemah lembut, di hamil anak kedua ini, dia berubah segarang itu!" ucap pelayan yang masih muda.


"Shut! jangan banyak bicara kamu! itu mungkin memang bawaan bayi, jadi dia pemarah begitu, biasanya kalau ibu yang lagi hamil muda memang aneh-aneh sikapnya, kalau marah-marah seperti itu, capek, nangis tidak jelas, ya sudah biasa, jadi di maklumi saja," jawab wanita yang lebih tua.


"Kasihan juga pak Ardian, dia kok punya istri pemarah seperti itu, padahal dia kan tampan, kenapa dia tidak cari istri yang lebih baik saja!"


"Hushh! kamu ini semakin sini bicaranya semakin ngawur! Nyonya Naira itu orangnya baik, dulu sewaktu dia masih baru di rumah ini, dia itu gadis yang baik, ceria, dan suka menghibur orang, ya, dia berubah memang sejak hamil ini, kau kan juga tahu sendiri dia biasanya ramah."


Mereka berdua terus mengobrol sampai di dapur, dan akhirnya mereka kembali pada pekerjaan semua, melanjutkan acara masak memasak di sana.


Tak berselang setelah itu, datanglah Ardian dengan rasa cemas di wajahnya yang sudah menempati level tertinggi.


Pria itupun bergegas menuju arah kamarnya yang letaknya berada di lantai dua. Dia mengetuk pintu kamar istrinya dengan perasaan cemas, namun dia juga tetap berusaha untuk tetap tenang.


Tok tok tok!


"Sayang..."


"Oh?? kamu sudah pulang?" entah kenapa dari dalam tidak terdengar suara marah atau sejenisnya, justru yang terdengar di telinga Ardian, suara istrinya sangat lembut, sepertinya wanita itu memang sedang merindukan dirinya, hingga akhirnya membuat ulah tidak makan apapun selama satu hari ini, hanya untuk bisa mendapat kabar dari suaminya.


"Iya, aku sudah pulang, apa aku boleh masuk?"


Cklek!


Namun suara pintu terdengar terbuka, dan menyembul lah wanita cantiknya dari dalam sana, yang tanpa berpikir panjang langsung saja menarik tangan Ardian untuk segera pergi.


"Ayo! jangan tunggu waktu lagi!" ucap Naira sambil menarik tangan suaminya untuk lekas pergi.


Wanita itu bahkan sudah bersiap dengan baju hangatnya, dan tas berisi ponsel serta dompet di dalamnya.


"Eits! kau mau kemana?"


Yang di gandeng hanya memasang wajah penuh kebingungan, maklum saja, baru datang langsung main tarik, hati siapa juga yang tidak bingung dan bimbang?


"Mau kemana katamu? Hana sudah dua Minggu tidak memberi aku kabar, aku bahkan baru bisa memegang ponselku barusan, setalah aku menemukannya di brankas milikmu! sebenarnya kau punya maksud apa melakukan semua ini padaku?" tanya Naira langsung pada poinnya saja.


"Ak-aku..." mencoba menjelaskan.


"Ah, sudahlah, jangan terlalu lama, mumpung masih agak siang, jadi kita bisa berlama-lama di rumah Hana."


Tanpa izin lebih dulu, Naira segera menarik tangan sang suami, dan lekas membawa pria itu ke mobil mereka yang terparkir di garasi depan.


Ardian hanya bisa menurut, tidak tahu bagaimana akan menjelaskan nantinya, intinya sekarang, dia ajak dulu ke rumah Hana, meskipun nanti di sana dia hanya akan menemui Zhoulin dengan perawatnya saja.


Mobil di lajukan dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin membawa istrinya pergi dengan buru-buru, mengingat dia juga harus mencari momen yang tepat untuk memberitahu semua yang telah terjadi pada Hana dan Allianz.


"Kenapa kau menjalankan mobil kamu sangat lambat? apa kau tidak mau berjumpa dengan Hana? dia pasti sedang sangat sedih karena aku tidak menjenguk dia selama dua Minggu, aku harus segera menemui dia!"


"Baiklah, akan aku lakukan lebih cepat lagi!"

__ADS_1


Namun apalah daya, pria itu tidak lagi bisa menggunakan kesempatan ini untuk berpikir, bagaimana dia akan bicara nantinya.


Sang istri meminta laju kendaraan lebih di percepat, dan itu artinya, dia juga harus berhenti rumit di pikirannya.


Mereka melalui jalanan sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah Allianz.


Ardian agak terkejut tatkala kedua matanya mendapati satu unit mobil milik Allianz yang terparkir di depan rumah pria itu.


Bingung bagaimana akan menjelaskan nantinya, atau mungkin, apakah pria itu nanti akan bisa dia ajak bekerja sama, dia tak tahu, semoga saja bisa.


"Hey!"


Bentak istrinya mengejutkan lamunannya.


"Ah, ya? ada apa?" tanya Ardian gelagapan.


"Kamu ini kenapa si? melamun terus, apa memang kamu menyembunyikan sesuatu dari aku, ya?" tanya sang istri membuat Ardian terdiam.


"Kau mau turun tidak?" tanya Ardian pada istrinya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah, kau buka pintunya!"


Ardian hanya menurut saja, membukakan pintu mobil untuk istrinya, dan menutupnya kembali saat Naira sudah keluar sepenuhnya dari dalam mobil.


Dengan langkah yang amat ragu, Ardian membuntuti istrinya yang sudah lebih dulu bergegas, dan kemudian terlihat mengetuk pintu.


Tok tok tok!


"Kak Hana!!!!"


Panggil Naira di depan rumah kakaknya, dan seketika dia di buat terkejut saat baru menyadari mobil kakaknya yang sudah terparkir dengan rapi di depan rumah.


"Loh? ini mobil dinas Kaka Allianz, kan? kenapa bisa ada di sini? jangan-jangan dia sudah pulang??"


Tok tok tok!


"Kak!? kak Allianz!?" panggil wanita itu lagi.


Ardian hanya bisa diam, tak ingin memperkeruh situasi di sana..


Hingga tak berapa lama setelah itu, terdengarlah suara seseorang membuka pintu dari dalam, dan kemudian menyembul lah wajah Allianz dari dalam sana.


"Kak Allianz?"


"Naira?!"


Wajah Allianz terlihat begitu tegang, apa lagi saat dia mendapati wajah gugup Ardian yang juga tidak bisa di sembunyikan.


"Naira... kamu...."


"Sayang, siapa yang datang?" terdengar suara dari seorang wanita di dalam.


Pada mulanya Naira mengira itu adalah sosok Hana, wanita yang dia rindukan saat itu, namun raut wajahnya seketika berubah, saat yang keluar dan menampakkan diri malah wanita lain...


"Ah? Kak? dia siapa??"


..........


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2