
Lenguhan dan des*han terus keluar dari mulut Hana, menjadi semakin ganas setelah Allianz semakin mempercepat aksinya dengan sisa-sisa peluh dan tenaga yang dia bisa.
Bahkan suara derit ranjang yang begitu keras, seolah tak lagi sanggup menopang dua manusia yang tengah di buat mabuk, menimbulkan suara khas penuh candu.
Ugh....
Sssshhhhh....
Umhh....
Sesekali tangan Hana mencengkeram dengan keras punggung Allianz yang gagah dan besar, lalu mengecup bibir suaminya penuh nafsu.
Semakin dia menyentuh dan meraba milik suaminya, maka semakin deras juga cairan kenikmatan yang keluar dari area sensitifnya.
Bahkan kini dua gundukan di dadanya yang polos, memperlihatkan ujung berwarna pink dengan bentuk yang mungil nan menggemaskan itu, ternyata semakin keras dan kenyal, seolah menantang suaminya untuk terus menyentuh dan mer*mas nya sampai puas.
"Kau sungguh sangat manis.. ugh..." bisik Allianz perlahan di telinga Hana, dengan sedikit memberi gigitan di telinga istrinya.
Permainan semakin gahar, tatkala rasa memuncak itu semakin tidak bisa di kendalikan.
Kenikmatan bercampur peluh dan rasa panas membuat Allianz tidak mampu menahan hasratnya, gejolak yang besar dan penuh birahi itu menuntunnya melakukan pelepasan ternikmat yang pernah ada..
"Hana, Arkh!"
"Ugh.. All... kamu..."
Hingga akhirnya, cairan kental nan panas itu keluar dengan derasnya, membasahi bagian dalam tubuh Hana, membuat yang ada di sana nampak semakin panas dan basah.
Rupanya aku masih bisa mendapat kenikmatan meskipun rahimku telah di angkat, apakah masih ada keajaiban yang bisa membuat aku menjadi seorang ibu dari anak kandung kita Allianz? jika ada, sejauh ribuan kilometer pun, aku sanggup menggapainya...
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Pagi menjelang, sepasang suami istri itu terlihat masih berpelukan di balik selimut tebal berwarna putih bersih di kamarnya.
Yang ada di bawah rasanya masih basah saja, menandakan permainan semalam sungguh sangat memuaskan mereka berdua.
Kini hanya tinggal sisa-sisa kenikmatan bersama rasa lelah yang tidak mampu tertahankan oleh mereka berdua.
Keduanya belum juga bangun, masih tertidur dengan nyenyak di sana, tanpa satu helai pakaian pun yang menempel di seluruh tubuh keduanya.
Hingga akhirnya, mata Hana mulai terbuka sedikit demi sedikit, dan terbukalah dengan sempurna pad akhirnya.
"Ah? ini sudah pagi? aku bahkan masih asik di dalam selimut ini, oh, kenapa aku?"
Wanita itu mengambil kembali pakaian yang berserakan di lantai kamarnya, lalu mengenakannya kembali.
Sementara sang suami masih juga terlihat tidur nyenyak di tempatnya. Mendadak senyumnya terbersit di bibir Hana, dengan tatapan yang masih terpaku pada Allianz.
Pria tampan yang telah berhasil membuat dirinya bertekuk lutut lagi, dan membuat ia tak mampu berpikir untuk meninggalkannya.
Tapi dia masih tidur, tidak tega juga kalau harus membangunkannya seperti ini, pasti dia sangat kelelahan, ya, akibat permainan mereka semalam.
Dia akhirnya memilih untuk bergegas pergi menuju kamar mandi, lalu membersihkan dirinya di sana.
__ADS_1
Ssssssshhhhhhh
Hana mengguyur badannya dengan air yang keluar dari shower, lalu dengan perlahan-lahan mulai menikmati betapa indahnya pagi hari bersama suaminya.
Tak berapa lama, sebelum akhirnya dia memilih untuk menyudahi mandinya, dan kemudian terlihat pula mengganti pakaiannya. Dia menghabiskan waktu cukup singkat untuk melakukan hal tersebut.
Bergegaslah dia menuju dapurnya, dan memasak sarapan pagi untuknya dan sang suami.
Sebelumnya, dia menyempatkan diri untuk menengok sang putra terlebih dulu. Dia mendapati putranya masih asik dengan tidur pulasnya, apa lagi cuaca pagi ini begitu dingin, sudah pasti anak itu akan bangun sampai siang nantinya.
Cessssss!!
Suara telur yang di goreng dadar saja oleh Hana terdengar hingga ke sudut ruangan lain, dan membuat suasana pagi penuh kegembiraan.
"Aha! aku harus menyiapkan nasi goreng juga, tapi aku sungguh tidak melihat apapun di dapur.." gumamnya seorang diri.
Seorang pelayan nampak tengah membereskan kantong sampah di dapur, seorang pelayan wanita.
"Bibi, aku tidak menemukan nasi atau semacamnya di sini, apa di sini memang tidak ada yang namanya nasi?" tanya Hana pada pelayannya.
"Ada, nyonya, aku membuatnya kemarin, mungkin masih ada di dalam penanak!?"
Hana dengan cepat membuka penanak di atas meja, dan benar saja, dia mendapati nasi yang masih hangat di sana.
"Ohh, iya, ini salahku yang tidak membukanya lebih dulu, terima kasih.."
"Sama-sama Nyonya.." pelayan itu kemudian terlihat pergi darinya, setelah dia melihat gadis itu menunduk ke arahnya.
Wanita itu bergerak kembali ke kamarnya, dan dengan ketidak tegaannya dia mencoba membangunkan sang suami.
"All!!"
Puk! puk!
Dia terlihat menepuk punggung suaminya dengan lembut hingga dua kali.
"Um?" mulai terganggu, dan akhirnya mencoba membuka mata..
"Kau kan mau mulai kerja, ayo bangun!" dia kembali lembut bicara pada suaminya..
"Oh!? ya, ya, aku ingat," nyawa masih belum juga kumpul.
"Baiklah, ayo bangun!"
"Lima menit lagi.."
"Tapi ini sudah siang..."
"Kalau begitu, kemarilah!" menarik tangan Hana, dan memeluknya, "buat aku bangun!"
"Apa!? aku sudah membangunkan kamu!"
Cup!?
__ADS_1
"Umh....."
"Mmmm..... All....."
Permainan ganas seperti tadi malam terulang lagi, membuat Hana semakin di buat gusar oleh pria ini.
Hujaman senjata dan sentuhan mesra berbalut nafsu itu semakin liar, hingga membuat keduanya melenguh penuh kenikmatan...
"Ssshhh... Arkh.... ugh..."
Kini mulut Allianz sudah terlihat berada di ujung bola kembar milik istrinya yang berwarna merah muda, sambil sesekali memainkannya dengan lidah.
Sungguh permainan yang sangat sempurna. Pagi hari dengan cuaca yang sedingin es, lalu di suguhkan oleh lekuk tubuh memuaskan dari istrinya. Pagi ini Allianz benar-benar sangat beruntung..
"Ayolah, Allianz.. kau harus berangkat.. uhm..." ucapnya sambil terus memejamkan matanya.
Sementara di atasnya, pria ini malah makin gagah saja dalam menjatuhkannya, menghujam spot favoritnya lagi, dengan angkuh dan semakin tidak terkendali.
"Arkh!! kau mau aku cepat pergi? sayangnya aku lebih suka di ranjang bersama denganmu.." ucapnya, "uhm..."
Hana membuka matanya, dan menatap betapa hebatnya sang suami meskipun telah lama tidak lagi melakukannya.
Sekilas dia tersenyum, sebelum akhirnya..
"Jadi kau mau yang lebih?" tawar Hana padanya..
"A?" menatap bingung..
"Baiklah, akan aku wujudkan.."
Gubrak!
Secepat kilat Hana merubah posisinya menjadi sang pemimpin dalam aksi kali ini.
"Ugh! kau mau menjatuhkan aku?" tanya suaminya saat mendapati dirinya sekarang berada dalam tumpuan istrinya..
"Kau benar! aku tidak mau terus menerus ditindas olehmu! sekarang, mari kita lihat seberapa hebat aku di sini!"
Cup!?
"Umh...."
"Arkh!!"
"Kau... ssshhh..."
Semakin Hana mencoba menjatuhkan si omang yang terus saja berdiri tegak itu, semakin pula rasa nikmat di rasakan oleh Allianz.
Makin sini, permainan mereka semakin terlihat meresahkan. Kini keduanya banjir keringat, dengan kenikmatan yang masih saja belum mau di sudahi..
"Ugh....."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1