
Laki-laki itu terlihat mulai melangkahkan kakinya, untuk masuk ke dalam ruangan yang luasnya memang agak lumayan.
Ini karena Luzia sengaja mencari kamar VVIP untuk kelahiran sang buah hatinya. Antonio mulai sedikit demi sedikit melihat ke arah istrinya, dan mendapati wajah istrinya yang agak marah.
Pak!!
Tanpa berpikir panjang, Luzia terlihat memukul lengan Antonio dengan keras dan sekuat tenaga yang dia miliki.
"Dasar kau! dari mana saja kau ini! istrimu mau melahirkan, tapi kamu malah keluyuran tidak jelas!!" dia terus saja mengomel, padahal rasa sakit di seluruh tubuhnya hampir saja membuat nyawanya melayang.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa melihat mereka berdua dengan tatapan aneh saja. Tidak menyangka juga si, kalau ibu yang akan melahirkan, masih punya kekuatan mengomel seperti itu.
Hahaha...
"Aku, ak-aku, aku sungguh tidak, berani mendengar jeritan kamu.." Nada yang benar-benar memperlihatkan ketakutannya sendiri.
"Bicara apa kau!!" mengejan, "ini semua karena ulahmu! duduk! temani aku lahiran! bagaimanapun kau yang sudah membuat aku hamil!!!" dia malah tambah emosi.
Dan kini semua yang ada di sana malah terlihat terkekeh, merasa sangat terhibur dengan sepasang suami istri yang lucu ini.
"Baiklah, Bu, kalau sudah siap, mari lanjutkan lagi, anda harus memastikan bayi anda segera keluar, pakai emosi anda, turuti kemarahan anda pada suami anda! jambak dan habisi suami anda!!" ucap salah seorang dokter pada Luzia.
"Wow! aku sungguh tidak sabar lagi!!" gumam Ardian sendirian.
"Baiklah, siap!!"
Ingin mengejan!!
Menurut pada emosi!!
"Aaaaaaa!!!!"
"Tarik nafas lagi, iya, bagus, kita coba lagi.."
Ardian terlihat kelimpungan di sana, sambil terus mengusap dahinya yang sejujurnya tidak terasa gatal juga, tapi entahlah, rasa yang tidak karuan membuat dirinya melakukan hal bodoh itu.
Dia pasti sangat ketakutan! apa dia juga merasakan hal yang sama saat aku melahirkan Shi Yuan?
Melahirkan Shi Yuan?
Kenapa aku tidak pernah bisa mengingat saat-saat itu? bukankah Dokter Andrew sendiri yang bilang, perlahan aku harus mengingat hal-hal yang agak berkesan dalam hidupku, seharusnya melahirkan Shi Yuan adalah hal yang paling berkesan untukku, kan?
__ADS_1
Mungkin saja karena dia dulunya di Cs, jadi mungkin dia tidak ingat saat kejadian itu. Mungkin...
Tapi seharusnya memang ingat, atau mungkin memang belum waktunya bagi Naira untuk mengingat akan hal itu?
Mungkin dia butuh ketenangan, akan lebih baik kalau aku mengajak dirinya untuk keluar dulu sebentar..
Pikir Naira.
Wanita itu kemudian terlihat berjalan menuju suaminya, dan langsung saja menggandeng tangan Ardian dengan erat.
Sang suami menoleh, dan memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan rasa takut dan cemas.
"Kau mau keluar dulu sebentar?" tanya Naira agak lirih.
"Aaaaaaaaa!!" sementara di ranjang, Luzia masih saja terdengar mengejan hebat. Mungkin bayinya akan segera keluar.
"Tapi adikku?" tanya Ardian dengan singkat.
"Dia kan sudah bersama suaminya, jadi tidak perlu cemas," ucap Naira agak membujuk, takut saja kalau-kalau Ardian bisa pingsan saat terus berada di ruangan ini.
"Baiklah, ayo kita keluar!!"
"Uaaaaaaaaaa!! Uaaaaaa!!"
Naira dan Ardian menoleh, melihat ke arah bayi yang merah padam, dengan tangisan yang sangat keras.
"Kau sudah lahir??" Naira mendekat, dan melihat keponakan dari suaminya itu lahir ke dunia.
Sungguh suatu berita yang membahagiakan.
Bayi itu langsung di satukan dengan ibunya, memberi waktu pada mereka berdua untuk bersentuhan.
Hal ini membuat Naira hanya bisa tersenyum lega di samping ranjang Luzia yang sudah di penuhi darah.
"Wah, kau cantik sekali, persis seperti ibumu.." puji Naira untuk pertama kalinya pada sang keponakan cantiknya.
"Untunglah dia tidak mirip dengan ayahnya, karena kalau dia mirip, mungkin.." ucap Ardian.
Gubrak!!!
"Ah?"
__ADS_1
Semua orang terkejut, tatkala mendengar suara seseorang terjatuh, dan itu Antonio.
Pria itu pingsan, jatuh ke lantai, dan tidak sadarkan diri setelah berhasil melalui masa-masa sulit atas kelahiran putri pertama mereka.
"Antonio!!" seru Luzia.
"Sudah lah, dia hanya pingsan, nanti juga akan bangun sendiri! Ardian, bantu dia bangun!" ucap Naira dengan santai.
"Apa dia tidak apa-apa?" nampaknya Luzia pun cemas pada sang suami.
"Dia kan pria lemah, sudah pasti akan pingsan saat istrinya sedang melahirkan! itu pun masih beruntung, di banding pingsan sebelum anaknya lahir, hanya akan menyusahkan saja.." dia berbicara dengan santai dan tak terbebani sedikitpun.
"Dasar konyol!" umpat Ardian sambil mengangkat tubuh Antonio yang masih lemah tak berdaya.
"Bangun kau, pengecut! bangun!" seru Ardian sambil menepuk pipi adik iparnya.
"Dia memang pengecut sejak dulu! saat menyatakan cinta padaku, pun, dia tidak berani, jadi aku duluan yang nembak dia!" ucap Luzia.
"Hahh! pria seperti itu ada baiknya kau Ikat di pohon, dan kau berikan ulat bulu yang banyak di sekujur tubuhnya, penakut seperti dia memang harus di kasih pelajaran! hahaha..." ucap Naira dengan senangnya.
"Sini, biar bayinya saya urus.." ucap salah seorang dokter cantik yang sejak tadi bertugas.
Bayi dalam pelukan Luzia di angkat saja oleh dokter cantik tersebut, lalu di uruslah putri pertama Luzia itu olehnya.
"Kau istirahat saja dulu! aku akan panggil ibu di luar, dia pasti sangat cemas!" ucap Naira pada adik iparnya.
"Baiklah, terima kasih sudah mau menungguku melahirkan!" jawab Luzia dengan penuh senyuman.
"Jangan berlebihan, aku pergi dulu, kau istirahat saja dulu.." Naira terlihat mulai keluar dari ruang inap tersebut, lalu segera memberitahu ibu mertuanya kalau cucu kedua mereka sudah lahir beberapa saat yang lalu.
"Ibu mertua.." panggil Naira dengan lirih.
Seketika Tiansha dan Zumi terlihat berlari ke arahnya, dan mencoba memasang kuping mereka dengan baik-baik, ingin sekali mendengar kabar terbaru soal kelahiran cucu keduanya.
"Ya, Nak! apa adikmu sudah melahirkan?" tanya Tiansha pada Naira.
"Ibu jangan khawatir, dia melahirkan putrinya dengan baik, dan sekarang, cucu kedua ibu sedang di urus oleh dokter, ibu jangan cemas, ya.." jawab Naira dengan penuh senyuman.
"Benarkah? oh, syukurlah, syukurlah kalau dia baik-baik saja, terima kasih kau sudah menemani Luzia sampai ke titik ini, Naira, kau sungguh wanita yang baik, dan juga kakak yang baik untuk Luzia, terima kasih atas semua yang kau lakukan pada keluarga kami.." Ucap Tiansha sambil terus memegang erat tangan menantu perempuannya.
"Ibu, jangan terlalu banyak berterima kasih, cepatlah masuk dan melihat kondisi putrimu, dia sedang sangat bahagia sekarang.."
__ADS_1
"Baiklah, ibu akan masuk," ucap Tiansha sambil melepas tangan menantu perempuannya..
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸