Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Minta Maaf


__ADS_3

Pada sore harinya, Hana memilih untuk datang dan berkunjung ke rumah Naira, untuk memastikan apa wanita itu benar-benar marah padanya atau tidak.


Dia memang sedikit cemas, mengingat Naira yang kala itu memilih diam dan tidak berkata sepatah katapun setelah dia berhasil menyinggungnya. Dia pun merasakan hal itu, namun sayang sekali, baginya kalau Naira jengkel hanya karena masalah sepele seperti itu, sungguh sangat kekanak-kanakan.


Wanita itu telah tiba di pelataran rumah Naira dan Ardian. Dengan mengenakan sweater berwarna biru tua, dia bahkan memang jauh terlihat lebih tua dari usianya yang baru menginjak angka tiga puluh lima tahun.


Rambutnya yang di potong pendek, hanya menyisakan sampai di bawah telinga, lalu kulitnya yang kusam, agak sedikit berkeriput, tentunya membuat dia terlihat jauh lebih tua.


Namun dia tidak minder, dia bahkan terlihat baik-baik saja, selalu tampil percaya diri dengan apa adanya.


Huhh!


Baiklah, sekarang atur nafas dulu yang baik, mari kita sambangi rumah Naira dan Ardian, dan meminta maaf pada Naira untuk kesalahannya.


Ding... Dong....


Hana terlihat memencet bel di depan rumah Naira, dan menunggu seseorang merespon tanda kedatangannya.


Klik!


Pintu rumah mewah itu terlihat mulai terbuka sedikit demi sedikit, lalu akhirnya menyembul lah seorang wanita yang cantik nan berkelas.


"Hana!?" Naira menyapa Hana, tentunya masih dengan wajah yang sedikit canggung.


Iya, mau di buat baik, nyatanya dia sendiri sedang kesal dengan orang ini. Tapi kalau di buat ramah, paling si Hana juga acuh tak acuh.


"Nai!" dia terlihat menatap Naira dengan penuh sesal.


"Kenapa kau datang?"


"Kau tidak datang ke acara pembukaan toko kue ku, aku jadi cemas padamu.." Dia terlihat tulus dalam bicaranya.


"Seharian aku duduk di rumah, Ardian memang mengingatkan aku untuk datang, tapi aku sedang malas keluar rumah.." Jawab Naira sedikit cuek, "ayo! masuk!"


"Nai, aku mau bicara di sini aja, aku datang hanya untuk minta maaf kok sama kamu, maaf, ya, hari itu aku terlalu kasar sama kamu, aku sudah terbiasa hidup hemat dan tidak menghamburkan uang untuk suatu hal yang tidak berguna, tapi seharusnya aku juga tahu, kalau bicara denganmu soal itu, tentu saja tidak masuk akal, dan aku pun terlalu keras dalam mengatakannya, maaf, ya.." Dia terlihat meraih tangan Naira, dan meminta maaf dengan tulus.

__ADS_1


"Hana, aku sudah memaafkan kamu, kok, lagi pula, memang benar, tidak baik menghambur-hamburkan uang untuk kemauan yang tidak jelas, hanya saja, itu prinsip suami aku, dia tidak pernah melarang aku untuk belanja seberapa pun banyaknya, karena bagi Ardian, kebahagiaan seorang istri jauh lebih penting di banding uang.." Jawab Naira, "ah! sudahlah! kita masuk saja ke dalam tidak baik tahu bicara di luar begini, apa kamu tidak ingin menengok Shi Yuan?! kenapa kau tidak membawa Zhoulin juga ke sini!?" wanita ini mulai lagi cerewetnya.


"Dia ikut, ada di mobil, nanti dia akan menyusul," Hana tersenyum ramah.


"Ya sudah, ayo kita masuk! sekalian icip-icip masakan aku, aku sudah masak banyak hari ini, ayo!"


Naira terlihat mengajak Hana untuk masuk ke dalam rumahnya, dan langsung saja mengarahkan Hana menuju ruang makan.


Di sana, terlihat Ardian dan Shi Yuan yang sedang asik menyantap makanan mereka, sambil sesekali tertawa riang dan bersenda gurau.


"Duduk!" ucap Naira pada Hana menawarkan.


Hana ikut duduk di kursi ruang makan, menerima tawaran Naira.


"Hana, katanya hari ini kau mulai membuka toko kue ya!?" tanya Ardian mencoba ramah pada Hana.


"Iya, aku mendapat ide untuk jualan kue di sini, karena memang dulunya aku juga penjual kue, jadi tidak ada salahnya melanjutkan bisnis itu di sini," dia menjelaskan sambil sesekali tersenyum.


"Kalau begitu bagus, lah, kau bisa memiliki bisnis sendiri, seperti Naira, yang punya bisnis produk kecantikan, aku bangga padanya!"


"Kau terlalu memuji aku."


"Kau memang sangat pandai dalam berbisnis, aku tahu kau bisa saja mengalahkan aku nantinya." Ucap Ardian semakin pandai memuji istrinya.


"Bagaimana kabar Allianz di perusahaan? apa dia mulai memahami cara kerjanya!?" tanya Hana sambil meraih gelas berisi jus yang di berikan oleh Naira.


"Sejauh ini masih baik-baik saja, untung dia tidak hanya fokus pada dunia kedokteran saja, jadi tidak terlalu sulit saat mengajari dia caranya menjadi karyawan dalam perusahaan.." Jawab Ardian.


"Baguslah, aku takut dia merepotkan kamu.."


"Haha, justru sangat bagus saat aku harus mendidiknya, setidaknya dia tidak lagi liar seperti satu tahun terakhir.." Jawab Ardian.


"Oh!? benarkah? apa dia sangat tidak bisa di kendalikan!?"


"Iya, kau benar, dia sangat merepotkan selama satu tahun ini, dan sekarang aku merasa dia jauh lebih baik dari sebelumnya, mungkin karena kepulangan kamu, yang menjadi penyebabnya.."

__ADS_1


"Maaf, ya Ardian, Naira, aku sudah merepotkan kalian berdua, aku sudah membuat kalian harus mengeluarkan uang banyak untuk aku dan Allianz," ucap Hana penuh rasa bersalah.


"Ah, tidak, tidak, kita ini saudara ipar, Naira membantu aku mengurus adikku yang baru saja melahirkan, jadi aku juga harus membantu kalian saat dalam masa kesulitan.."


"Kalian berdua memang sangat baik, aku akan berusaha lebih keras lagi, supaya aku bisa melunasi seluruh hutangku dan Allianz pada kalian berdua.."


"Jangan terlalu di pikirkan! aku tidak menyudutkan kalian untuk segera membayar hutang, kapan saja kalian ada uang besar, kalian boleh mengembalikannya, tapi kalau tidak ada, ya, jangan terburu-buru.."


"Terima kasih Ardian, kau sungguh sangat baik!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sudah tiga hari berlalu, semenjak kejadian di mana Visha meminta pertanggungjawaban dari Allianz.


Pria itu diam, dan tidak menggubris semua ucapan Visha. Dia bahkan jauh lebih tenang sekarang di banding beberapa hari yang lalu, saat wanita itu menangis dan meminta pertanggung jawaban darinya.


Kini dia terlihat gagah, dengan setelan kemeja abu-abu yang di padu padankan dengan celana hitam dan kacamata yang membuat dirinya terlihat lebih dewasa dan lebih rapi.


Dia terlihat berjalan dengan gagah menuju ke dalam perusahaan, namun langkah kakinya mendadak di cegat, sebelum dia sampai di depan pintu.


"All!"


Wanita itu memanggilnya, dan memaksa dia untuk berhenti.


"Kamu!? ada apa lagi!?" tanya Allianz dengan ketus.


Visha menunjukkan di layar ponselnya, sebuah panggilan masuk dari Hana, yang tengah menunggu respon dari dirinya.


Allianz terkejut melihat nama yang tertera di sana, dan langsung saja mencoba merebut ponsel Visha.


"Sini!!"


"Eits!" namun Visha lebih gesit dari Allianz, hingga ponselnya pun tetap bertahan di genggaman tangannya.


"Jangan macam-macam kamu, Vish!"

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2