Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Luzia Melahirkan


__ADS_3

"Wah, ini cukup luas juga untuk harga 1,6 milyar, tapi, nanti uang di sakuku tinggal 2 milyar, bagaimana aku akan membayarnya?" gumamnya dalam hati, setelah dia berhasil mendatangi sebuah rumah di kawasan yang tidak termasuk elit, dan mencoba untuk tawar menawar di sana.


"Ini sudah cukup murah, mbak, lagi pula zaman sekarang mau cari rumah dengan harga segitu rendahnya ya cukup sulit, ini saja seharusnya aku kasih harga 2 milyar," ucap seorang pria yang bertugas menjual rumah tersebut.


Visha kembali berpikir keras. Jika barusan dia sudah menghabiskan uang 1,5 milyar hanya untuk sebuah mobil berkelas, maka kali ini dia juga harus berpikir untuk 1,6 milyar yang akan dia layangkan selanjutnya.


Sebenarnya rumah ini cukup bagus dan luas! setidaknya tidak lebih buruk dari rumah Allianz itu! kalau aku bisa menyaingi Hana, aku mungkin akan jauh lebih mudah mendapatkan Allianz!


"Baiklah, 1,6 milyar!" ucap Visha begitu yakin.


"Deal?" tanya pria itu, sama seperti yang ada di dealer tadi.


"Oke, kita deal!" dia pun membalas uluran tangan pria itu.


Surat mobil sudah siap, dan surat rumah juga sudah siap. Sekarang tinggal aksi selanjutnya, bagaimanapun, tidak akan mudah mendapatkan Allianz kalau dia tidak terlalu dekat dengan pria itu.


Jadi, rencana selanjutnya, harus lebih ekstrim dari dua barang mahal ini.


"Aku harus masuk ke dalam perusahaan itu, bagaimanapun caranya! tapi masalahnya adalah, perusahaan Ardian sangatlah ketat, ijazah palsu sudah pasti akan ketahuan dengan mudah, bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam sana?"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Hana, bagaimana kau bisa menjauh dan meninggalkan aku? kau bahkan tidak menjawab pertanyaan dariku sama sekali.." ucap Morgan sambil terus berjalan, bergerak mengikuti langkah kaki Hana yang semakin menjauh dari taman itu.


"Morgan! aku sudah menjawab semua pertanyaan darimu! aku tidak pernah menulis surat yang kau maksud, apa lagi sampai menyuruh kamu untuk datang kemari dan menjemputku! itu sungguh hal yang gila dan tidak masuk akal sama sekali," jawab Hana sambil terus berjalan menjauh.


"Tapi setidaknya kau bisa beri aku penjelasan, mengapa surat itu bisa bukan kau yang menulisnya? kenapa letaknya ada di sela pintu kontrakan kamu?" tanya Morgan lagi. Pria itu rupanya sedikit cerewet.


"Mana aku tahu, aku juga baru tahu soal surat itu, saranku, kamu kembali saja dan jangan ganggu aku lagi!"


Hana terlihat menghentikan taksi, dan kemudian berjalan ke arahnya, lalu masuk ke dalam taksi itu.


"Hana, kau tidak bisa meninggalkan aku seperti ini, Hana!!!"


Blam!


"Jalan, pak!" ucap Hana pada sang sopir.


Vrooooooommmmmmm..

__ADS_1


"Hana!! kenapa kau pergi!? Hana!!!"


Laki-laki itu masih saja berteriak memanggil Hana berulang kali, meskipun wanita itu sudah tidak lagi menggubrisnya.


"Arkh! aku bukan pria lemah! jika kamu mau aku pergi, maka aku malah semakin tertantang untuk bertahan di sini!!"


Sementara di dalam taksi, Hana terlihat terus berusaha untuk menghubungi nomor Visha yang masih dia simpan, meskipun anak itu juga tidak pernah menghubungi dirinya.


Dia menelepon Visha berulang kali, tapi anak itu masih tetap tidak menjawabnya.


"Vish, kemana sebenarnya kamu pergi?" tanyanya pada diri sendiri dengan cemas.


"Huhh!"


......


Drrrttt Drrrttt


Ponsel wanita itu berbunyi dengan nyaring, bergetar hingga membuat meja kaca tempat berdiamnya ponsel itu terasa hampir saja pecah.


Dia melirik sebentar, lalu setelah melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya, dia meletakkan ponselnya kembali, dan memasang wajah kesal yang luar biasa.


"Kau mau menyambung persahabatan kita lagi Hani? Heng! aku bahkan tidak pernah menyukai kamu! aku hanya, menyukai suami kamu..."


Sentuhan dan belaian itu, lalu hawa panas itu, suara des*han dan lenguhan yang begitu menggelora itu..


Arkh!


Ingatan-ingatan tentang malam itu semakin hari semakin membuat dirinya gila. Ingin sekali mendapat belaian yang sama seperti malam itu, dan di lakukan oleh orang yang sama pula..


"Bagaimana pun caranya, aku harus mendapatkan semua yang kamu miliki! termasuk juga suami kamu! aku harus memilikinya! dia harus menjadi milikku selamanya!! tidak ada kamu, atau Zhoulin sekalipun, hanya ada aku dan dia, dalam satu kehidupan yang sama, sudah cukup bagimu untuk bahagia! cukup bagimu untuk merasakan bagaimana di cintai oleh Allianz! aku akan datang! aku akan mendatangi rumah tangga kalian, dan menjadi duri yang tajam di antara kalian! aku akan menghancurkan hidupmu Hana, dan akan membuat suami kamu bahagia bersama denganku!!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Aaaaaaaaa!!!!!!!" dia terus menarik tangan kakak kandungnya dengan sekuat tenaga, lalu mencoba mengeluarkan si jabang bayi dari dalam perutnya.


"Tarik nafas yang dalam, lalu keluarkan!!" ucap sang dokter mencoba memberi arahan pada Luzia.


"Tenang, tenang, sudah mulai terlihat kepalanya, cobalah lebih kuat lagi, sedikit lagi akan keluar!!" ucap salah satu di antara tiga dokter yang lainnya.

__ADS_1


"Tidak bisa dok, kenapa tidak di CS saja dok? ini lebih sulit dari yang aku kira... Huhuhu..... kakak, bagaimana ini?" tanya Luzia pada Ardian.


Pria itu hanya terdiam saja sambil terus mencoba bertahan dalam posisi yang sangat menyulitkan ini.


Rambut yang urak-urakan, dengan lengan bajunya yang sudah terlihat robek akibat cengkeraman dari tangan Luzia yang begitu kuat.


Sementara di sisi yang lain, Naira juga terlihat memberi dia minum, "minumlah!"


Luzia menurut saja, minum lah dia dari sedotan air mineral yang masih ada di botol plastik yang di pegang Naira.


"Kakak, aku sudah tidak kuat lagi, operasi saja ya, aku mohon!!" ucap Luzia dengan sangat memohon..


"Luzia, kamu masih punya kesempatan untuk bertahan dalam perjuangan ini, jangan putus di tengah jalan, kau hampir berhasil mengeluarkan anakmu!!!"


"Tapi sudah sangat lama.."


"Mbak, tolong kalau melahirkan, tidak perlu heboh, semua wanita juga seperti itu, dan kamu bukan satu-satunya yang pernah melahirkan di sini, jadi jangan manja!!" ucap sang kakak sambil terus menahan kekesalannya, "lagi pula di mana suami kamu? kenapa dia tidak mau masuk?" tanya Ardian di tengah-tengah ketegangannya..


.......


Rrrrrrrrttt


Tubuh bergetar hebat!


Keringat dingin bercucuran dengan deras!


Dan dia sedang berdiri di pojokan, tidak mampu mendengar jeritan istrinya yang sedang melahirkan.


Pak!!


Mendadak lengan kirinya di pukul dengan keras oleh Tiansha.


"Aw!!" pekik Antonio kesakitan, "ibu mertua, ada apa? kenapa kau memukul lenganku?"


"Istrimu sedang berjuang melahirkan anakmu, dan kamu malah meringkuk ketakutan di sini?!" nada marah, "kalau takut, kenapa kau membuatnya dengan anakku!! dasar kau!!"


"Ah, tapi, ibu mertua, aku sungguh tidak punya nyali!!" wajah masih sangat ketakutan.


"Nyali ciut!!" umpat ibu mertuanya, "masuk atau kau akan aku potong burungmu sampai habis!!"

__ADS_1


"Ah?!"


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2