
Mata Visha membelalak dengan sangat sempurna, saat suaminya mengatakan hal itu di depan wajahnya, seolah tengah menghancurkan dan meluluh lantakan perasaannya pada saat itu juga.
Ia yang mendengar langsung suaminya berusaha membela Hana di banding dirinya, menyalahkan dirinya dengan segala hal yang pernah terjadi semasa pernikahan mereka berdua.
Dia tertegun. Tangan yang sejak tadi di kekang oleh sang suami, yang berusaha untuk membawa dia ke dalam jeruji besi, memenjarakan dirinya dengan berteman dingin dan juga kegelapan, akhirnya tangan itu mulai berakhir lemah tak berdaya.
Ia terjatuh dari kekangan tangan Allianz, jatuh bersamaan dengan rasa kecewa dan sakit hati yang terlukis dengan jelas di dalam hatinya.
"Tak akan kau biarkan aku hidup tenang, apa yang kau inginkan dariku, Mas? kau ingin aku bertanggung jawab atas semua kesalahan yang terjadi di masa lalu? kau ingin aku membayar semua kesalahanku, hanya demi wanita bernama Hana yang jadi mantan istri kamu itu?" tanya Visha pada suaminya dengan bertubi-tubi.
"Apa kamu pernah berpikir, mungkin saja setelah kamu memenjarakan aku, dan kau ingin kembali dengan Hana, belum tentu juga dia menerima kamu! dia itu membencimu! ia tidak lagi mencintai kamu seperti dulu! kekecewaan yang dia tanam untuk kamu begitu besar, mana mungkin dia masih berpikir untuk kembali padamu? hahh?!"
"Apa yang sedang kau bicarakan!"
"Dia tidak lagi mencintai kamu! dia malah membencimu dan menginginkan kamu untuk pergi jauh dari hidupnya! kau pikir dia masih mau menerima kamu setelah suatu hari aku kau penjarakan?" tanya Visha membuat Allianz tercengang.
"Apa kau mabuk? kenapa kau mendadak mengatakan hal konyol seperti itu?"
"Aku tidak mabuk, aku bahkan sangat sadar, kau hanya mempermainkan kami berdua, kau hanya membuat kami melakukan apa saja yang kau mau, dan juga kau inginkan, aku bahkan sadar kau memaksa kami dan menekan kami untuk menjadi wanita yang kau idamkan, memiliki wajah cantik, berparas menarik, penampilan yang elegan, kau melakukan semua yang kau inginkan untuk kami, tanpa pernah kau berpikir, bagaimana perasaan kami dengan semua itu!"
"Dasar wanita gila! kau sudah tidak waras rupanya! bicara sembarangan dan tidak jelas! aku akan membawa kamu ke kantor polisi sekarang juga!!"
"Bagaimana kau akan melakukan itu? sementara, aku juga bisa menjebloskan kamu ke dalam penjara.." ucap Visha membuat suaminya berhenti untuk yang kedua kalinya.
"Apa maksud ucapan kamu?" tanya Allianz, sesaat setelah menyadari sang istri memiliki rahasia besar yang selama ini di sembunyikan darinya.
Melihat suaminya yang sudah ketar-ketir, mungkin merasa ketakutan karena dia memiliki banyak rahasia yang tak pernah di ketahui oleh suaminya, termasuk pengetahuannya soal kecurangan yang di lakukan oleh suaminya di masa lalu.
Visha mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya, mengambil ponsel dan kemudian memutar sebuah rekaman di ponselnya. Sebuah rekaman cctv yang memperlihatkan kecurangan yang di lakukan oleh suaminya pada perusahaan Hana.
Wanita itu memutar video singkatnya, memperlihatkan pada Allianz senjata apa yang ampuh bisa membuat Allianz berhenti dan gentar dari niat memenjarakan dirinya.
Melihat video itu berada di ponsel sang istri, Allianz hanya bisa berdebar menontonnya, melihat beberapa aksi menariknya tatkala menyuap wanita asing itu, dan kemudian pergi dengan bergegas meninggalkan area toko tersebut.
Semua itu dia saksikan dengan seksama dan berhasil membuat dadanya bergemuruh kesal, marah, pun khawatir, risau Visha bisa melakukan apa saja yang dia pikirkan.
Dengan langkah cepat, bergerak saja kakinya maju, dan kemudian mencoba untuk meraih ponsel di tangan sang istri, bermaksud untuk menghilangkan bukti kecurangannya.
"UPS!" namun sang istri malah lebih cerdas.
Visha bahkan telah tahu kalau suaminya pasti akan melakukan hal itu untuk menghapus jejak kejahatannya.
"Kau ingin menghapus buktinya? apa kau pikir sungguh bisa melakukannya? jika kau berani membawa aku ke penjara, aku bisa mengirim bukti ini pada Hana, dengan secepat kilat, dia akan menemukan apa yang ingin dia ketahui selama ini." Ucap Visha kali ini jauh lebih tegar.
Wanita itu mungkin telah tersadar, melindungi pria gila ini sama sekali tidak menguntungkan untuknya. Ia bahkan tak segan mengancam suaminya dengan menggunakan video di ponselnya, membuat Allianz tak bisa bergeming dari tempatnya, memaku di tempat, dan tak bisa melawan, atau membawa Visha ke kantor polisi.
"Mas, aku tahu kau sangat gila, tapi aku berusaha semaksimal mungkin menutupi semua kejahatan yang kamu lakukan dari orang lain, aku berusaha menyembunyikan semua itu serapat mungkin, karena aku tak pernah berpikir kau akan mengkhianati aku dengan sekejam ini, hidup dalam bayang-bayang masa lalu kamu, dan semua itu, sungguh membuat aku membencimu!" ucap wanita itu sampai tak terasa dia menitihkan air matanya.
"Aku datang ke rumah Hana, aku ingin membunuhnya, aku sudah bersiap membawa gunting tajam untuk merobek wajahnya, karena aku pikir, dengan aku merusak wajahnya, kau akan melupakan dia dan kembali padaku!!"
Allianz tertegun. Mendengar ucapan pengakuan yang di lontarkan oleh Visha membuat dirinya bertambah kesal dan bertambah geram. Ingin sekali dia mulai memberontak, menghabisi Visha dengan kedua tangannya, saat dia mengatakan hal itu padanya.
"Namun kau tahu? dia menyadarkan aku, aku yang terlalu bodoh karena tidak bisa berkaca dari dia!" ucap Visha sambil memicingkan kedua matanya menatap Allianz.
"Dia pergi darimu karena kau menuduh dia membunuh ibumu, kau merenggut rahimnya tanpa dia ketahui, dan kau membuat dia mendekam di penjara karena membunuh Lu Zamorgan, demi bisa mendapat kepercayaan dari dirimu, dan kau? dengan bodohnya kau malah pergi denganku, menikahi aku, dan berpikir ingin membalaskan dendam kamu padanya melalui pernikahan kita!"
"Kau mengatakan padaku betapa bodohnya aku tanpa berpikir kau juga bodoh mau menikah dengan aku! ck, orang bodoh berkata bodoh, kau pikir itu waras?!"
"Aku hanya sedang bicara mengenai dirimu, aku memang bodoh, dengan mudahnya menerima pria dan bahkan mengejar pria seperti kamu, aku akui, aku menyesal menikah denganmu!"
__ADS_1
Mendengar pengakuan dari istrinya barusan, Allianz kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum songar di depan wanita itu.
"Kau bilang kau menyesal menikah denganku? kau bilang aku bodoh? kau pernah berpikir seperti apa saat kau berkata bodoh di depan wajahku? dasar wanita hina!!"
"Cukup, Mas!" cegat Visha mengentikan ucapan Allianz barusan.
"Lagi-lagi kau berkata hina padaku, di saat sebelumnya kau mengatakan hina pada Hana, kau pikir sesuci apa dirimu ini? apa kau seperti malaikat, yang tidak pernah memiliki dosa? apa kau tak ada bedanya dengan iblis yang selalu mengikuti kemauan dan kata hatinya, tanpa memikirkan perasaan orang lain? hahh?!"
"Kenapa mendadak kau jadi begini? kau membela Hana mati-matian, sedangkan selama ini, yang aku tahu, kau sangat membencinya!"
"Ya, sebelum aku tahu dia dan aku hanya korban keegoisan kamu, dan sekarang, aku akan terang-terangan membela diriku dan dirinya di depanmu, aku akan menghalangi kamu untuk mendapatkan dirinya lagi, dan aku juga akan mengusir kamu keluar dari rumah ini!!"
"Jangan harap kau bisa mengusirku dari rumah ini, Vish! aku juga punya peran dalam rumah ini."
"Peran? kau sedang mengatakan peran di rumah ini? peran kamu di rumah ini hanyalah sebagai beban!" ucap Visha tanpa sadar melontarkan kata-kata yang menyakiti hati suaminya, dan akan membuat dia berada dalam malapetaka besar.
"Keterlaluan!"
Plak!
Tangan Allianz dengan cepat memukul pipi istrinya, melampiaskan kemarahannya pada istri yang telah dia nikahi selama lebih dari empat tahun itu.
"Arkh!!"
Bruk!
Visha tersungkur, jatuh di atas lantai, bersamaan dengan ponsel di tangannya yang juga jatuh, tak jauh dari tempat dia tersungkur.
Allianz mengalihkan pandangan matanya dari Visha, menuju ke arah ponsel milik istri nya yang menyimpan rahasia besar miliknya.
Dengan cepat dia mencoba meraih ponsel istrinya, dan berniat menghapus semua jejak kejahatannya, namun Visha lebih dulu mendapatkannya.
"Sial! berikan padaku!" paksa Allianz sambil mencoba menekan tubuh Visha dalam tumpuannya.
"Berikan padaku!!" ucap Allianz lagi, kali ini sangat memaksa istrinya.
Namun kejadian itu membuat Visha semakin gencar berusaha untuk bangkit dan berlari dari kekangan Allianz.
Di tendang kaki Allianz dengan sekuat tenaga yang dia miliki, lalu di sela-sela kelemahan Allianz menghadapinya, ia berusaha melepaskan diri dari tumpuan Allianz, berlari dengan cepat menuju ke arah kamar putranya, dan kemudian menutup pintu kamar.
"Arkh! Visha! jangan pergi kamu!!" teriak Allianz sambil berusaha untuk menggapai Visha yang sudah terlanjur masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintunya dengan sangat rapat.
Di dalam kamar putranya, seorang suster terlihat terkejut melihat Visha yang datang dengan nafas terpenggal-penggal. Wanita muda yang tengah berusaha menidurkan Alvis di atas ranjang itu akhirnya terbangun dan menatapi nyonya besarnya dengan cemas dan ketakutan.
Dor! dor! dor!
"Visha! buka pintunya!!"
Sementara di luar sana, Allianz terdengar tengah menggedor pintu kamar Alvis dan mencoba menerobos masuk hanya untuk menggapai tubuh Visha dan melampiaskan amarahnya.
"Nyonya?!"
"Sus, bawa Alvis keluar dari rumah ini, jangan lepaskan dia dan minta pak sopir untuk mengantar dia ke tempat yang aman!"
"Apa yang terjadi nyonya?!" tanya sang suster masih merasa ketakutan.
Dor! dor! dor!
"Visha! keluar kamu!!" namun di luar sana Allianz masih saja terus berteriak, dan mencoba menerobos masuk.
__ADS_1
Di tangan pria itu, sebuah senjata tajam telah berhasil dia genggam, berniat untuk membuat sang istri merasa jera menentangnya.
Namun pintu masih saja sulit dia buka, sampai akhirnya, dia ingat jalan lain menuju kamar anak semata wayangnya dengan Visha itu.
"Ayolah, suster! cepat bawa dia pergi dari sini!"
Suster itu langsung bergegas mengangkat Alvis dari atas ranjangnya, dan memeluknya membawa balita berusia tiga tahun itu segera pergi dari sana.
"Nyonya, bukankah Anda juga harus segera pergi?" tanya sang suster pada Visha.
"Urus saja anakku, beritahu Hana untuk merawatnya, dan sampaikan permintaan maafku untuknya," ucap Visha dengan berlinang air mata, antara perasaan sedih, namun juga takut akan suatu hal yang seolah telah sampai di depan matanya.
"Nyonya.." ucap sang suster sembari menatapnya dengan air mata.
"Pergilah dengan cepat!!" ucap Visha meminta sang suster segera pergi meninggalkan dirinya.
Suster itu hanya bisa menurut saja. Di bawa pergilah Alvis menuju ke luar jendela yang sangat besar, karena kamar Alvis memang berada di lantai bawah, dengan jendela yang besar mengarah ke pelataran rumah yang luas di kelilingi pepohonan di lingkungan rumah Visha.
Suster itu dengan cepat berlari meninggalkan rumah itu dan bergerak menuju ke mobilnya, mengajak sang sopir untuk mengantarkan Alvis pada seseorang.
Sementara itu, di dalam kamar putranya, Visha tengah berusaha untuk mengutak-atik ponselnya, mencoba mengirimkan bukti cctv di ponselnya pada Hana, sampai akhirnya terkirim lah pesan itu pada Hana.
Dia kemudian bergerak dengan perlahan menuju ke arah keluar jendela, tanpa berpikir sebelumnya kalau sang suami mungkin saja tengah menunggunya di balik jendela untuk membunuh dan melenyapkan dirinya.
Ya, memang benar. Allianz sudah menunggunya di balik jendela, bersembunyi di balik tirai, menunggu Visha segera keluar dari area pintu.
Hap!
Dan akhirnya pria itu berhasil menangkapnya. Tangan pria itu dengan erat mengekang tubuhnya lagi, sementara tangan yang lainnya terlihat menodongkan senjata ke arah kepala Visha.
"Arkh! Allianz lepaskan aku!!" ucap Visha merasa tertekan.
"Melepas kamu? kau pikir aku akan melakukannya? ingat, Vish, benar katamu, aku selalu melakukan apa saja yang aku mau, termasuk melenyapkan kamu dan bukti itu!"
"Kau mengancam ku!? bagaimana kalau aku jauh lebih cerdas darimu? kau bisa apa dengan kebodohan kamu itu? membunuhku? silahkan saja! kau hanya akan kehilangan aku dan juga seluruh hidupmu!?"
Mendengar ucapan balasan dari Visha, Allianz semakin marah saja. Dia semakin geram, dan semakin mengeratkan kedua tangannya hendak menghabisi Visha dengan kedua tangannya sendiri.
"Kenapa kau diam? kenapa kau tidak membunuhku sekarang? cepat bunuh aku!! tidak ada lagi gunanya aku hidup! jika kau sudah yakin ingin menembak kepalaku, lakukan saja sekarang!! aku tidak keberatan!!"
Ucapan Visha barusan berhasil menciutkan nyali Allianz pada saat itu. Dia ingat dia bukanlah seorang pembunuh. Dia menurunkan tangannya dan juga menjatuhkan senjata di dalam genggaman tangannya, lalu beralih mengejar ponsel Visha yang terlempar di atas lantai.
Dengan bergegas Allianz mendapatkan ponsel tersebut, namun naasnya, pesan telah terkirim, dan Hana pun sudah melihat semua buktinya.
"Sial?!" umpat pria itu lagi.
Dia membanting Ponsel istrinya, lalu menoleh ke arah tempat di mana Visha berdiri. Namun di sana nampak kosong, tidak ada Visha yang semula berdiri di tempat itu.
Allianz berlari keluar dari kamar putranya, dan melihat sang istri yang telah berlari di pelataran rumah, mencoba untuk melarikan diri dari kejaran Allianz.
Namun Allianz punya cara yang lebih tepat untuk mengatasi wanita itu.
Dia menatapi benda miliknya yang semula gagal dia gunakan. Ia ambil kembali benda itu dari atas lantai, lalu dia arahkan menuju tepat pada istrinya.
"Kau pikir bisa lari dariku? jika aku harus berakhir di penjara, maka kau juga harus berakhir dengan kematian!!"
Dia menarik pelatuknya, dan sebuah peluru melesat keluar dari pistolnya..
Dor!!
__ADS_1
Melesat ke arah Visha, dan kemudian, tragedi itu pun terjadi..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...