Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Pertemuan Dengan Miranda


__ADS_3

Dokter Andrew masih saja di sibukkan dengan acara membuka amplopnya, sampai rasanya seluruh tubuh Naira dan wanita itu bergetar gugup.


Amplop pun terbuka dengan lebar. Di ambillah satu lembar kertas dari dalam sana, lalu di bukalah lembaran kertas yang di lipat dengan rapi.


Semua orang semakin terlihat gugup, saat Dokter Andrew membaca hasilnya di dalam hati, dan memunculkan ekspresi yang menegangkan di bagian wajahnya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Naira sekali lagi.


Wanita itu bahkan tidak akan peduli jika seseorang mengatakan dia cerewet, atau pun semacamnya, karena dia sudah tidak sabar untuk melihat hasil akhirnya.


Andrew tak mau banyak bicara. Di berikan saja kertas itu pada Naira, dan membiarkan dua wanita itu membacanya bersama.


Dengan cepat Naira merebutnya dari tangan Andrew, sebelum wanita asing itu yang mengambil kertas itu lebih dulu.


Tak mau menunggu waktu lebih lama lagi, segera Naira membaca hasilnya dengan amat rinci, sampai akhirnya dia mendapat jawaban yang sungguh sangat mengejutkan.


"Apa?"


Wanita asing bernama Miranda itu tak sabar, dia juga ingin melihat hasil tes DNA antara dirinya dengan Zhoulin.


Di ambil saja kertas hasil tes tersebut dari tangan Naira, dan setelah itu, dia baca sampai akhir..


Senyum bahagia terpancar jelas di wajahnya, merasa senang dan puas karena hasil yang di dapat benar-benar sesuai dengan apa yang dia inginkan.


"Dia benar anakku.."


Ucap wanita itu bergetar, seolah benar-benar tak percaya dengan apa yang barusan dia baca di atas kertas putih bertuliskan beberpaa larik tulisan di sana.


Kini senyuman bercampur tangis haru terlihat dengan jelas di wajahnya, menjadi lukisan terindah yang tidak bisa di bandingkan dengan kebahagiaan manapun.


Berbeda dengan wanita itu yang sudah menemukan kebahagiaannya, Naira nampak kesal, kecewa, marah, dan juga sedih yang bercampur menjadi satu.


Hatinya yang pada mulanya keras, sekeras batu karang di lautan, kini mulai hancur, bak terkikis oleh gelombang yang dengan keras menerpanya.


Sang suami berusaha mendekat, dan dengan sentuhan lembutnya, Ardian mencoba untuk menenangkannya sebisa mungkin.


"Sudahlah, Nai! dia memang harus bersatu dengan ibunya.." Ucap Ardian sedikit memberi saran pada istrinya untuk lebih tenang.


"Ardian! tapi dia sejak lahir sudah bersama dengan Hana, bagaimana nanti kalau Hana tahu semua ini? dia bisa jatuh sakit dan stres di dalam penjara!" ucap Naira berusaha menegaskan hal tersebut pada sang suami.


"Nyonya, maaf, bukan maksud saya untuk menentang Nyonya, hanya saja, saya juga punya hak sebagai orang tua kandung dari putra saya," ucap wanita itu menyela pembicaraan Naira dengan Ardian.


"Hahh!"


Naira terdengar membuang nafasnya dengan kasar, lalu mulai menata hatinya yang sudah terasa kacau akibat wanita ini, dan hasil tes DNA yang keluar dan tidak membuat dirinya merasa puas.

__ADS_1


"Baiklah, aku tahu hal ini akan terjadi, tapi aku minta padamu, tolong beri aku waktu satu Minggu untuk mempersiapkan segalanya, aku akan beritahu Hana dulu untuk masalah ini, mana mungkin aku membiarkan kamu membawa Zhoulin secara diam-diam darinya, kau juga harus bertemu dengan Hana sebelum membawa Zhoulin pergi darinya.." Ucap Naira dengan terus mencoba menahan kesedihan dan kekecewaan dalam hatinya.


"Baiklah, aku akan menemui Hana yang kau maksud, dan meminta izin darinya untuk membawa Zhoulin pergi, setelah itu, aku tidak akan melarang kalian jika ingin menengok putraku, karena bagaimanapun juga, kalian semua adalah orang tuanya, anakku bisa tumbuh dengan baik, semua itu berkat kalian semua, jadi tidak ada alasan bagiku untuk menjauhkan putraku dari kalian, justru aku sangat berterima kasih karena kalian sudah merawat putraku dengan kasih sayang dan serba berkecukupan.."


Ucap wanita itu dengan sangat panjang, ingin sekali berterima kasih yang sebesar-besarnya pada mereka semua yang telah merawat anaknya menjadi anak yang serba ada.


"Ya! ke depannya, aku minta, tolong jangan halangi hubungan antara kami dan Zhoulin, dia harus terus mengabari kami semua, kau mengerti?" tanya Naira sekali lagi pada wanita itu.


"Baik, Nyonya, saya mengerti.."


Wanita itu menjawab sambil menundukkan kepalanya, memberi hormat dan ucapan terima kasih pada Naira dan juga Ardian atas semua yang telah diberikan mereka pada putranya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hingga hari demi hari pun berlalu, sudah empat hari semenjak pengambilan hasil tes DNA itu dari rumah sakit.


Kini, sesuai janji, Miranda dan Zhoulin datang berkunjung ke tahanan, dan mencoba menemui Hana, meminta waktu privat untuk pertemuan mereka pada anggota jaga.


Syukurlah para anggota jaga mengabulkan permintaan mereka. Di berikan waktu setengah jam tanpa pengawasan dan di bolehkan Hana menemui putra angkatnya dan juga wanita bernama Miranda secara bebas.


Namun hal itu tidak menyenangkan hati Hana sama sekali, dia justru terlihat begitu sedih dengan pertemuan ini, karena dia tahu, pertemuan ini hanya akan berakhir pada perpisahan.


Begitu mereka semua datang, Zhoulin kecil langsung mengenali ibu angkatnya.


Panggilan kecil penuh dengan air mata itu keluar dari mulut Zhoulin, mengarah pada Hana yang juga bersedih atas kedatangan putra angkatnya.


Di rengkuh saja putra tercintanya itu, dan peluk saja Zhoulin kecilnya dengan begitu erat.


Anak laki-laki yang penurut itu tidak mau lepas dari ibu angkatnya, seperti orang dewasa yang juga merasakan rindu pada sosok seorang ibu, agaknya Zhoulin pun seperti itu.


Dia tak mau lepas dari ibunya, bahkan terus saja merengek saat Naira mengajaknya untuk keluar sebentar, dan membiarkan Hana berbicara secara pribadi dengan Miranda.


"Sayangku, kau rindu pada ibu? peluk ibu, Nak! ibu juga merindukan kamu.."


"Mama..."


Si kecil terus saja menangis, meluapkan rindu yang sangat menyiksa dirinya, hingga harus terpisah selama lebih dari satu tahun.


Dengan penuh kasih sayang, dan cinta yang luar biasa dalam, Hana memeluk tubuh Zhoulin kecilnya, dan membiarkan putranya menikmati kerinduan ini dalam dekapannya.


"Kemarilah, Sayang, ibu harus bicara dengan ibu Miranda, kenalkan, mereka berdua adalah ibumu, kau ikut Bibi Naira keluar dulu, ya.."


Namun penolakan semakin jelas dari anak itu, semakin erat dia mendekapnya, dan akhirnya, Hana pun mengisyaratkan Naira untuk tidak memisahkan mereka.


"Sudahlah, Nai, dia juga rindu ibunya, biarkan dia memeluk aku sebentar saja, sebelum dia pergi dariku.."

__ADS_1


Ucap Hana sambil terus menitihkan air matanya dengan deras membanjiri pipinya yang semakin kering dan kusam.


Kini mereka akhirnya berbicara dengan Zhoulin yang terus saja mendekap dalam pelukan sang ibunda.


"Jadi kau wanita bernama Miranda itu?" tanya Hana pada wanita asing di depannya.


"Iya, mbak! saya Miranda, saya ibu kandungnya Zhoulin.


"Aku tahu, asal kau tahu saja, meskipun kau ibunya tapi yang telah merawat Zhoulin sejak kecil, jadi tolong jangan sakiti dia, jangan buat dia sedih, dia sudah harus menanggung beban berat karena di tinggal ibu angkatnya di penjara, jadi jangan buat dia semakin sedih karena harus kehilangan aku sepenuhnya.."


"Mbak, meskipun dia harus tinggal sama aku, tapi aku tidak akan membatasi pertemuan kalian, aku akan membiarkan Zhoulin bertemu dengan kalian, sebagai bentuk terima kasih saya pada kalian semua, aku akan mengizinkan Zhoulin bermain dan menginap di rumah kalian se mau dia, jadi Mbak Hana tak perlu khawatir.."


"Ya, baguslah, yang perlu kau ketahui, aku merawat anakmu dengan penuh kasih sayang, jadi aku juga ingin kau melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan padamu.."


"Ya! aku mengerti.." ucap wanita itu terlihat menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku sudah lega, bawa dia pergi.." Ucap Hana sambil menyerahkan Zhoulin kecilnya kepada wanita itu.


Meski putra kecilnya tak mau, tapi di paksa saja olehnya, tak peduli tangis anak itu yang meronta meminta untuk ikut bersama ibu angkatnya, tapi Hana juga harus tega membiarkan Zhoulin pergi.


"Hana, lihatlah, dia tak mau berpisah darimu," ucap Naira sambil terus menahan rasa sedihnya.


"Aku tahu, anak-anak memang seperti itu, tapi ada baiknya juga kalau ibunya yang merawatnya, aku tidak bisa apa-apa selain mendekam di sini dan tidak menemaninya, sementara ibunya, dia lebih baik dariku, jadi aku lega jika harus melepasnya bersama ibunya.. lihatlah di sana, Nak! dia ibumu..." ucap Hana dengan manisnya pada sang putra .


Putra kecilnya terus menolak, karena setahu dia wanita di depannya bukanlah sosok ibu yang selalu ada untuknya, wanita itu baru saja tiba, dan ia masih belum mengenalinya, jadi ia masih sedikit merasa takut.


"Baiklah, jika kau tidak mau, pulanglah dengan Bibi Naira dulu, tapi janji, ya, setelah itu ikut pulang ibumu, dia sangat baik, ya?"


Seolah mengerti dengan ucapan Hana, si kecil Zhoulin dengan tangisnya terlihat menggapai tubuh Naira, dan memeluk wanita itu dengan erat.


"Kemarilah sayang..." Ucap Naira sambil merengkuh tubuh Zhoulin.


Di ayun lah anak itu sambil mendengar percakapan serius dari Hana dan Miranda, sampai akhirnya tak terasa Zhoulin tertidur dengan pulas di bahu Naira.


"Miranda, aku katakan padamu sekali lagi, meskipun peran aku di sini hanya sebatas ibu angkat, tapi kau tak bisa membandingkan kasih sayangku padanya dengan orang lain, jadi tolong kau jangan menyakiti dia satu kalipun, jangan pernah juga memarahi dia dengan kasar jika dia bersalah, karena selain anakmu, dia juga anakku, aku tidak akan pernah melepaskan kamu satu jengkal pun dariku, kalau sampai aku melihat kamu menyakiti dia!"


"Mbak, aku ini ibunya, mana mungkin aku akan menyakitinya seperti kata mbak barusan.."


"Aku tahu kau ibunya, tapi kadang seorang ibu, dalam masa depresinya akan melampiaskan semuanya pada anaknya, aku bicara padamu, karena aku pernah hampir mengalaminya, jadi sebisa mungkin, jaga anakku dengan kasih sayang, aku akan biarkan kau membawanya, tapi sekali saja aku melihat atau mendengar Zhoulin yang sedang kau sakiti, aku tidak akan segan menuntut keadilan untuk anakku!!"


Wanita di depannya hanya bisa mengangguk saja, tak mampu menjawab perkataan dari wanita yang tengah menyidang dirinya di penjara.


Semoga saja dia wanita yang baik..


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2