Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Membawa Zhoulin


__ADS_3

Betapa asik dan nikmatnya permainan yang mereka lakukan, hingga tanpa di sadari dua jam telah berlalu, mereka menghabiskan permainan keringat mereka di atas sofa..


Visha melenguh, saat lahar panas mulai terasa membuat **** * miliknya basah secara sempurna, membuat gerakan di ujung permainan semakin terasa syahdu..


Nikmat sekali...


Ugh...


💜💜💜💜💜💜


"Kenapa kau tidak memecat mereka berdua? bukankah mereka bekerja di kantor kamu?" tanya Naira saat mereka telah terduduk di kursi restoran dan menyantap beberapa hidangan di sana.


"Tidak profesional sekali kalau aku memecat mereka hanya karena masalah pribadi, pada awalnya aku memang berniat untuk memecat mereka berdua, tapi Luis menyadarkan aku, jika kita memecat mereka hanya karena urusan pribadi, nama baik perusahaan akan di pandang buruk, dan akan di anggap tidak profesional, jadi kami memutuskan untuk tidak melakukan apapun pada mereka selain memberi skors selama dua Minggu.."


Mendengar jawaban dari suaminya, agaknya Naira masih belum puas juga. Wanita itu ingin sekali menghabisi dan menghancurkan kehidupan dua pengkhianat itu dari muka bumi ini, hanya saja, yang sangat di sayangkan adalah, Allianz ini kakak kandungnya, mana bisa dia menghancurkan hidup kakak kandungnya sendiri.


"Huhh! aku ingin sekali menusuk mata wanita itu! apa lagi kakak, kenapa dia bisa sebodoh itu untuk tidur dengan wanita lain? ini semua memang karena keteledoran kita yang membiarkan kak Allianz di kota itu tanpa pengawasan ketat.."


"Padahal seharusnya ya ketat, kan ada Zarren sama Leon, tapi memang Allianz yang pandai bersembunyi, dan pandai melarikan diri, jadi amat sulit bagi dua anak itu untuk mengawasi Allianz di sana.." Sambung Ardian.


"Lagi pula memangnya kenapa kalau di tiduri orang lain? yang penting kan tidak hamil, iya, kan?" tanya Naira pada sang suami yang sedang asik menyumpit mie di depan matanya.


"Mungkin aku harus beri mereka pelajaran!" ucap Naira dengan sangat yakin.


"Jangan macam-macam, sudah biarkan saja, lagi pula mereka juga bukan urusan kita, iya, kan?" ucap Ardian mencoba menahan sang istri.


"Tapi Ardian, mereka itu sudah kelewat batas, aku tidak terima kalau Kak Hana di khianati seperti itu, bagaimanapun dia juga sahabat dan sskaligus kakak ipar aku.."


"Allianz, malah kakak kandung kamu, kan? ya sudah, diam saja, sekarang bukan waktunya untuk mengurus hidup mereka, lebih baik jaga saja kandungan kamu, jangan sampai kelelahan, apa lagi sampai terlalu banyak pikiran, kasihan calon anak keduaku.."


"Iya, aku tahu! tapi ada satu hal yang aku mau dari kamu," ucap Naira pada suaminya.


"Memangnya kamu mau apa?" tanya sang suami dengan lembut.


"Aku mau Zhoulin kita ajak ke rumah, aku tidak bisa membiarkan anak itu di asuh oleh nenek lampir yang bikin enek itu!"


"Soal itu, aku juga bingung, dia tinggal dengan ayah dan ibu asuhnya, jadi kita tidak punya wenang untuk mengambil anak itu dari mereka, tapi, ya, demi kamu, mungkin lebih baik aku coba dulu.."


"Baguslah, untung kamu baik, hehehe.."


Mereka terus melanjutkan makanan mereka sampai habis, hingga tak terasa waktu sudah hampir larut, sekitar pukul sembilan malam mereka masih berada di restoran, dan masih setia menghadap beberapa hidangan di atas meja.


"Apa kau bisa menghubungi Shi Yuan? mungkin dia ingin makan sesuatu," kata Naira pada suaminya.


"Dia mungkin sudah tidur, lagi pula ini kan sudah malam, dia tidak biasanya tidur di atas jam sembilan, bukan?" jawab suaminya.


"Iya juga si, ya sudah aku saja yang pesan buat di rumah, tolong pesankan semuanya, ya, sayangku.."

__ADS_1


Naira mengecup kening suaminya yang masih terduduk di kursi, lalu dengan senyuman manisnya wanita itu keluar menuju arah pintu keluar.


Yang di cium hanya bisa terduduk dan memaku di tempat, tak mampu bergerak, hanya bisa memunculkan rona merah di wajahnya karena gugup.


Naira, kau sudah menembak hatinya lebih dari yang kau tahu!


"Istriku memang manis.."


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Tok tok tok!


Pintu di ketuk tiga kali oleh seseorang yang entah siapa di sana. Dengan jalan perlahan, Visha yang kini telah menjadi nyonya di rumah Allianz terlihat menuju ke arah pintu utama, dan kemudian membukanya.


"Ya, cari siapa, ya?" tanya Visha sebelum dia menyadari kalau yang datang adalah adik Allianz.


Tatapan Naira yang dua tahun lebih tua darinya agak tajam. Sepertinya wanita yang sekarang menjadi adik iparnya itu punya sebuah tujuan untuk datang ke tempatnya kali ini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Visha dengan gugup.


"Aku tidak punya urusan dengan anda, aku datang hanya ingin menjemput Zhoulin!" dia kemudian menunjukkan sebuah kertas tepat di hadapan mata Visha, "Hana sudah memberiku izin!" sambung Naira dengan gagah beraninya.


Mata Visha terbelalak penuh kejutan, melihat beberpaa larik tulisan tangan Hana yang mengatakan kalau hak asuh sementara dia lemparkan ke Naira, karena dia masih harus mendekam di dalam penjara untuk lima tahun ke depan.


"Apa?"


Visha terlihat merebut kertas yang ada dalam genggaman tangan Naira, dan kembali mencobanya untuk lebih jelas lagi, mengingat hal ini tidak pernah dia khawatirkan selama ini, atau bahkan dia pikirkan sekalipun.


"Ba-bagaimana bisa? tidak!" dia menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan bukti yang ada di tangannya, "tidak mungkin, seharusnya Allianz tahu semua ini, kau pasti sudah menipu Hana dan mengatakan hal yang tidak-tidak padanya, kan, supaya dia menyerahkan hak asuh sementara Zhoulin kepadamu! iya, kan?" wanita itu masih saja menuduh Naira dengan mulutnya.


"Cih! untuk apa aku harus menipu kakak iparku sendiri hanya demi putranya? kau tahu? dia lebih percaya padaku, di banding dengan suaminya sendiri! awas minggir! aku harus menjemput Zhoulin!"


Naira melangkah dengan amat gusar melewati Visha yang masih berada di depan pintu, namun Visha tak mau tinggal diam.


Jika dia ingin mendapatkan hati Allianz maka Zhoulin adalah jalan satu-satunya untuk membuat Allianz jatuh cinta padanya.


Dan kali ini Naira akan merebut anak angkat itu darinya, mana bisa dia membiarkan semua itu terjadi?


Grep!


Dengan cepat Visha menarik tangan Naira, dan mencegat adik iparnya itu untuk pergi dari hadapannya.


"Tidak, Nai! kau tidak bisa membawa dia pergi dari rumah ini!" ucap Visha sambil terus menahan Naira untuk naik ke lantai dua.


"Lepaskan aku! aku yang lebih berhak atas Zhoulin di banding kamu, wanita buaya!!" ucap Naira membalas perkataan Visha yang menjijikan.


"Tidak! kau tidak boleh membawa anak itu dari sini! satu jengkal saja kakimu melangkah ke atas, aku tidak akan membiarkan hidup kamu tenang, Naira!"

__ADS_1


"Terserah apa katamu! kau bisa menghancurkan hidup aku, maka aku juga bisa menjatuhkan kamu ke dalam jurang!" jawab Naira sambil mencoba melepaskan diri dari Cegatan Visha.


Wanita itu seolah tidak ingin sekali melihat Naira sampai bisa masuk ke dalam lantai dua, sampai pada akhirnya terlihat lah Zhoulin yang keluar dari lantai dua bersama dengan seorang suster dengan semua barang-barang yang sudah terkemas rapi.


Visha melepas pegangan tangannya, saat dia mendapati putra angkat Hana dan Allianz yang terlihat senang melihat kedatangan bibi Nairanya.


Putra kecil itu bahkan seolah tidak sabar untuk ikut dengan bibinya. Dia mengulurkan tangannya, memberi tanda akan kerinduannya dengan sang bibi.


"Kemarilah, Nak, sayangku, kau akan ikut dengan bibi kamu ini, ya, Nak!" ucap Naira sambil membopong Zhoulin dan mendekapnya menuju keluar rumah.


Namun lagi dan lagi, Visha mencoba mencegatnya, tidak ingin membiarkan Zhoulin di bawa pergi saja oleh Naira dari rumah suaminya.


"Tidak bisa, Nai! kau tidak bisa membawa anak ini pergi dari rumah ibunya!"


"Rumah ibunya?" Naira agak terkejut mendengar perkataan Visha barusan, "cih! kalau aku jadi kau, aku akan malu mengatakan kata-kata itu!"


Naira menepis tangan Visha dari lengannya, dan secepat mungkin pergi dari tempat tersebut.


"Naira! tidak! jangan bawa Zhoulin pergi!"


Suara keras itu terdengar bersahutan dengan suara langkah kaki mereka yang terdengar menggaung di seluruh ruangan.


Naira berhenti di depan teras, dan berbalik kembali menatap Visha yang tengah menangis bingung dan ketakutan di depan pintu.


"Ingat, Vish! katamu ini rumah Hana, jadi kau harus sadar diri siapa kamu di sini! aku dan suami aku, bisa saja membuat kamu terusir dari tempat ini, dan juga dari perusahaan! jadi apa pun yang aku lakukan, kau tidak bisa menentangku!" ucap Naira dengan sedikit ancaman.


Di sisi lain, nampak pula Zarren dan Leon yang juga bergerak ke arah mobil milik mereka, yang di berikan oleh Ardian untuk fasilitas melayani Allianz.


Seolah semua ini sudah di rencanakan dengan matang, semua pelayan dan pegawai di rumah itu seluruhnya ikut pulang ke rumah Ardian, mengemas semua barang-barang mereka, dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Kalian semua mau kemana?" tanya Visha pada seluruh pelayannya yang pergi satu demi satu.


"Maaf, kami bekerja di tempat ini juga masih di bayar oleh Nyonya Naira, jadi sudah kewajiban kami untuk memilih tinggal di rumah Nyonya Naira kembali.." Jawab salah satu pelayan wanita yang berada di akhir barisan.


Visha tercengang, kekayaan suaminya, dan segala kehidupan sang suami, rupanya tidak lain hanyalah karena bantuan dari adik iparnya.


"Brengsek kalian semua!!!" teriak Visha sambil memandangi kepergian mereka semua dari hadapannya.


Naira tidak menggubrisnya, ia hanya bisa memasukkan Zhoulin dan juga tubuhnya ke dalam mobil, lalu dengan cepat membawa Zhoulin dan para pelayannya untuk segera pergi dari sana.


Vroooooommmmmm!!


Visha ambruk di depan pintu, dan tak sanggup memikirkan bagaimana dia akan bicara tentang semua yang terjadi pada suaminya.


Hingga akhirnya malam semakin gelap, sang suami pun pulang dari kantor, dan mendapati rumah yang begitu sepi, dan tidak terdengar riuh gelak tawa Zhoulin di seluruh ruangan..


"Aku pulang..."

__ADS_1


💜💜💜💜💜💜💜


__ADS_2