
Kini Hana yang pada mulanya tidak peduli, menjadi garda terdepan untuk mengetahui semua yang terjadi pada malam pesta ulang tahun tersebut.
Memakan uang perusahaan? pengeluaran gelap? dan catatan palsu dokumen keuangan?
Apa semua itu benar di lakukan oleh Allianz selama ini? mengapa dia menjadi sangat terkejut? bukankah dahulu kala yang dia lihat adalah Allianz tak pernah mau bermain curang, apalagi mengkhianati perusahaan sendiri? mengapa sekarang laki-laki itu seolah berbalik 360° Celcius?
Hana berdiri dan mendengarkan lebih jelas lagi apa yang sedang di jelaskan sosok Erik di atas panggung sana. Ia mendengar dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Erik, namun Allianz masih tetap saja tidak bisa menjawabnya.
"Katakan pada kami semua, jelaskan apa yang sebenarnya kalian lakukan di belakang kami! kalian menggelapkan uang perusahaan? buktinya sudah aku dapatkan melalui transfer di rekening Allianz! jadi kalian tak perlu mengelak lagi!" ucap Erik benar-benar menjatuhkan Allianz dan pak Direktur Utama perusahaannya.
"Semua itu hanya tuduhan! kau menuduh aku hanya dengan barang bukti yang tidak jelas keberadaannya, ini hanya sebuah cuplikan, mana dokumen asli yang kau potret itu? atau kau memang tidak pernah memilikinya?" geram Allianz.
Di tengah-tengah konflik tersebut, muncullah seseorang dari balik kerumunan dan menimbrung perdebatan mereka bertiga.
"Apa kalian sungguh berpikir kami sebodoh itu? maaf! kami punya bukti yang sangat akurat di sini!" ucap Lu Zafier menunjukkan beberapa surat yang telah sampai lebih dulu ke tangannya sebelum di adakan pesta ini.
Flashback on!
Hari itu Lu Zafier dan istrinya telah tiba di kota X. Mereka dengan sangat gembira karena satu keluarga besar mereka juga ikut pula menghadiri acara besar perusahaannya.
Terlebih lagi dengan Nyonya Mollie si bule berambut pirang dan memiliki wajah asli Eropa, dan juga suaminya beserta cucunya, Lu Lau'er dan juga Lu Aruaya, yang tak lain adalah putri mendiang Lu Zamorgan, kakak sepupunya yang telah tewas di hujani peluru oleh Hana, sahabat Lu Zafier dan Falisa.
Kedatangan Lu Lau'er dan juga istrinya, Nyonya Mollie kali ini juga membawa berita baik, mereka pasti sudah memaafkan segala hal yang menimpa putra semata wayang Lu Zamorgan.
Mereka pasti sudah mencoba merelakan putranya itu dan perlahan-lahan mulai memaafkan Hana yang memang sejatinya melakukan semua itu karena termasuk jenis pembelaan.
Dan kini satu keluarganya sudah tiba di sebuah hotel terkenal milik Ardian Group yang akan menjadi tempat bermalam mereka pada malam ini.
Di saat yang bersamaan, Erik juga menemukan data rahasia yang di sembunyikan oleh sahabat baiknya di dalam laci kerja milik Allianz.
Laki-laki itu menemukan beberapa lembar dokumen keuangan asli yang seharusnya tidak berhenti di tempatnya, tapi entah mengapa, dia menemukan dokumen itu di laci milik Allianz, ia jadi penasaran di buatnya.
Ia membuka dokumen itu satu per satu, yang ternyata isinya adalah laporan asli yang sangat berbeda dengan laporan keuangan yang selama ini di ketahui oleh banyak orang, termasuk juga Lu Zafier.
Ia jadi semakin curiga di buatnya.
Melihat berbagai macam barang bukti yang seharusnya tidak berada di tangan Allianz, siapa pula yang tidak merasa curiga?
Ia akhirnya mengambil semua bukti di dalam laci, dan kemudian membawanya pergi keluar untuk di beritahukan kepada semua orang saat pesta ulang tahun nanti.
Melihat semua itu, Erik tak tinggal diam. Dia yang mengetahui kedatangan Lu Zafier beserta rombongan keluarga besarnya hari ini lekas saja menghubungi dan memberitahu semua yang dia temukan.
"Tuan Lu Zafier, anda harus melihat ini!"
Flashback off!
...----------------...
Sekarang Allianz hanya bisa terdiam seribu bahasa. Bukti kecurangan yang dia lakukan selama ini telah terkuak oleh sahabat karibnya sendiri.
Ia tak dapat berkutik, semua orang telah menyaksikan betapa besar kecurangan yang ia lakukan sejak beberapa bulan terakhir bersama dengan Pak Direktur Utama yang selalu menjadikan dia kaki tangan untuk menyelesaikan permasalahan.
Di tengah-tengah ketegangan yang terjadi di dalam pesta tersebut, Hana mendadak mendapat sebuah kabar yang sangat mengejutkan di ponselnya.
Sebuah notifikasi masuk, memperlihatkan dengan jelas pesan masuk dari Axel kepadanya, mengirim bukti cctv di sekitar apartemen wanita yang mengaku di suruh oleh seorang pria, dan satunya lagi bukti rekaman cctv di area tokonya di malam sebelum kejadian tuduhan di tokonya.
Ia memutar satu rekaman, namun ia pada awalnya sama sekali tidak berekspresi, ia hanya terus memperhatikan langkah kaki seorang pria yang memang berjalan mendekat ke apartemen, lalu pada rekaman selanjutnya, matanya sangat terbelalak dengan hebat.
"Ah?" dia sangat terkejut, matanya membola seketika tatkala menatap sebuah wajah yang nampak tidak asing baginya.
Wajah pengkhianat yang tengah mengulurkan cek pada wanita itu.
__ADS_1
*Allianz*?
Sontak saja Hana beralih menatap pria yang kini tengah berada dalam kerumunan para manusia, tengah di buat bahan perbincangan asik dan di sudutkan bak kambing guling yang siap di lahap mereka semua.
Ia bergetar di sekujur tubuhnya, tak pernah menduga kalau semua yang terjadi selama ini, rupanya atas kendali dari sosok Allianz.
Namun dia tak lagi bisa berbicara. Ia hanya terus menatap laki-laki di depannya tanpa mengucapkan satu kata pun dari mulutnya. Mendadak dia menjadi bisu.
...----------------...
Tak!
Visha terdiam di sisi jendela kamar tanpa berkata-kata. Meskipun sang suami telah pulang, tapi ia tetap tidak ingin menyambutnya.
Tadi malam ia memilih untuk pulang lebih dulu, sementara suaminya dia biarkan menghadapi semua masalah ini seorang diri.
Dan kini suaminya telah kembali. Ia masih saja tak bergeming meski telah mendengar suaminya meletakkan jam tangannya di atas meja kaca.
"Hahh!!" suaminya terduduk di atas sofa, "mereka mengampuniku, karena aku hanya di jadikan kaki tangan saja oleh si tua itu!"
Ucap Allianz mendadak membicarakan soal perkembangan kasus semalam.
Namun agaknya sang istri masih belum puas dengan jawaban yang dia berikan. Wanita itu mungkin masih ingin mendengar hal yang lain yang bisa membuatnya terkejut.
"Tapi aku harus menjual semua asetku untuk mengganti rugi semuanya, dan mengembalikan uang perusahaan.." sambung Allianz seakan mengerti apa yang ingin di dengar oleh istri cantiknya, "dengan begitu, aku bisa bebas dari hukuman.."
Istrinya berbalik dengan perlahan, lalu memandang wajahnya yang terkena semburat matahari terbit di pagi hari, seolah menyinari kekusaman di wajah Allianz.
Namun senyum wanita itu mendadak mengembang dengan sempurna, membuat hati Allianz yang pada mulanya terasa berdegup kencang tak menentu akibat perasaan gugup, kini menjadi jauh lebih tegar.
Visha berjalan mendekat ke arah suaminya, lalu duduklah wanita itu di sampingnya, membelai pundaknya, dan kemudian menatap mata Allianz dengan sangat lekat.
"Tak apa, kita bisa melalui semuanya, bukankah kita sama-sama pernah berjuang dari nol?" wanita itu semakin melebarkan senyuman di bibirnya, seolah ia benar-benar tidak keberatan jika harus kehilangan semua aset dari suaminya dan lebih parahnya lagi, suaminya juga akan menjadi calon pengangguran untuk beberapa saat.
Visha mengangguk, memberi jawaban paten pada suaminya dengan penuh kegembiraan, support yang sangat besar dari senyuman di bibirnya ia salurkan pada suami untuk bisa menjadi pendorong kuat bagi suaminya supaya tetap tegar dan tidak mudah patah semangat.
Sejauh ini dia memang lebih baik, lebih baik dari Hana di masa lalu, juga lebih cantik dari Hana pada waktu itu. Tapi bukankah dunia akan semakin cepat berputar, ia yang mulanya berada di atas, dua tahun menikmati kehidupan glamour dengan jabatan suaminya sebagai Direktur Marketing dalam perusahaan Lu Zafier, kini akhirnya harus mulai menerima keadaan bahwa mereka akan segera mengalami kekurangan dalam hidup mereka.
"Terima kasih," ucap Allianz dengan senyuman tulusnya, merasa seakan hanya ada Visha yang mempedulikannya di dunia ini, bahkan adiknya sendiri, tidak pernah merangkulnya dan menguatkan hatinya saat terkena masalah, sepertinya dia mulai bersyukur menikahi Visha di masa lalu.
Keduanya saling memeluk, pun saling mengecup. Matahari yang hangat semakin tajam menyorot ke arah keduanya, membuat mereka terlalu terbuai dengan hangatnya pagi penuh dengan cinta.
Layaknya suami istri pada umumnya, keduanya pun tak bisa menahan diri untuk tidak saling memuaskan pagi hari mereka yang sudah terasa penat.
Penat akibat masalah, penat akibat memikirkan berbagai macam tragedi yang menimpa rumah tangga mereka akhir-akhir ini, ya, sejujurnya, semuanya kini telah berlalu, yang Visha inginkan hanyalah, bersatu dalam balutan cinta dan kasih sayang bersama Allianz.
Seperti janjinya dulu, hidup miskin pun tak apa, asalkan dengan Allianz, dan Allianz selalu ada untuknya, hidupnya pasti akan jauh lebih bahagia..
"Sayang, kau sangat mempesona.."
Cup!
...****************...
"Aku bahkan tidak menduga kalau Allianz berani macam-macam dengan perusahaan kamu juga!" ucap Ardian dengan kesal di dalam ruang kerja Hana.
Hari ini Ardian secara khusus mendatangi perusahaan Hana, berniat menilik dan mencoba melihat perkembangan perusahaan yang kini di kelola oleh sahabat baiknya itu.
Namun ia sama sekali tidak pernah menduga kalau ia akan mendapatkan berita mengejutkan semacam ini dari Hana dan juga Zarren.
Ia tak pernah mengira kalau Allianz sampai berbuat senekad itu untuk menghancurkan perusahaan Hana, supaya perusahaan Lu Zafier tidak pernah kalah dalam persaingan pasar. Licik sekali.
__ADS_1
"Aku rasa dia belum tahu siapa yang telah dia rugikan.." ucap Hana dengan datar.
"Apa yang akan kau lakukan menanggapi hal ini, Hana? tentu saja jika kau membiarkan dia, dia tidak akan pernah sadar.."
"Aku dengar dia di pecat oleh Lu Zafier, dan aku yakin, setelah ini, setidaknya kita akan aman," jawab Hana.
"Kau dengar dari mana?" tanya Ardian lagi.
"Sayangnya dia hanya di beri denda saja, mengembalikan semua aset perusahaan yang di berikan padanya, dan mengganti rugi keuangan perusahaan yang sudah dia gelapkan," jelas Hana.
Mendengar penjelasan dari Hana tersebut, membuat Ardian akhirnya berhenti bertanya, pun berhenti berbicara.
"Hari ini aku ada meeting dengan klien luar negeri, apa kau bisa menemani aku, Ar? aku sedikit gugup karena ini pertama kalinya aku menghadapi klien asing, kau mau?" ajak Hana berinisiatif.
"Baiklah, aku akan menemani kamu," jawab Ardian tanpa berpikir lebih dulu.
......
Dua jam telah berlalu, kini Hana dan Ardian sudah di buat lelah menunggu kedatangan klien asing yang di maksud oleh Hana.
Mereka bahkan sudah berhasil menghabiskan masing-masing dua cangkir kopi di kafe tersebut, tapi orang asing itu masih belum menampakkan batang hidungnya pada mereka berdua, membuat Ardian dan Hana agak resah.
"Dia lama sekali, apa dia suka mempermainkan waktu?" gumam Hana dengan kesal sambil memainkan ponsel di tangannya, menunggu pesan masuk dari si klien itu.
Tring!
Dan detik berikutnya, ponselnya berdering, sebuah pesan masuk di sana menampilkan nama dari klien asingnya itu.
'*Anda di mana? bisa kirim lokasinya padaku*?'
Hana dengan segera membalas pesan dari manusia di seberang, lalu tanpa menunggu lama lagi, seseorang pun telah datang pada mereka berdua.
"Hallo? apa ini Miss Hana?" tanya seorang pria berambut cokelat dengan kulit khas Eropa, mata biru bak air laut yang terkena kilatan matahari, dan jenggot yang berwarna senada dengan rambutnya, membuat pria itu terlihat lebih tampan.
Hana dan Ardian berdiri menyambutnya, juga Axel yang selalu saja mengikuti kemana Bos besarnya pergi, entah bertemu klien, atau sekedar meeting biasa, ia selalu jadi orang pertama yang duduk di samping Hana.
"Hallo, benar saya Hana, apa anda Tuan William?" tanya Hana berbalik pada pria brewok di depannya.
"Ya, kau benar, kau masih sangat cantik, aku dengar usia anda sudah lebih dari tiga puluh lima tahun, tapi yang aku lihat, kau masih mempesona seperti gadis berusia dua puluh lima tahun.." laki-laki itu menyanjung, entah benar-benar tulus dari hati, atau hanya sikap melebih-lebihkan saja, Hana tidak tahu secara pasti.
"Anda terlalu berlebihan, Pak!" ucap Hana dengan halus, "perkenalkan, ini sahabat saya, Tuan Ardian.."
Pria itu mengalihkan pandangannya menuju ke arah Ardian, lalu memasang wajah yang penuh dengan keterkejutan, "wow! suatu kebanggaan untuk saya bisa berjumpa dengan pemilik Ardian Group secara langsung.." ucap laki-laki itu terlihat amat terkesan pada sosok Ardian.
Laki-laki itu kemudian menjabat tangan Ardian, dan mengucapkan salam perkenalan, "saya sangat senang bisa berjumpa dengan anda.."
"Anda sangat berlebihan," jawab Ardian dengan singkat.
Keduanya terlihat melepas jabatan tangan mereka, dan akhirnya semuanya terduduk di atas kursi kafe.
Laki-laki itu tak pernah mengalihkan pandangan matanya ke arah Hana, terus menatap Hana tanpa sungkan. Ia bahkan selalu memuji Hana di dalam hatinya, memuji keindahan paras sosok Hana yang baginya tidak ada siapapun yang mampu menandinginya.
*Wanita yang sangat cantik*...
Gumam di hatinya, mewakili sebuah perasaan kagum luar biasa untuk sosok Hana, wanita yang baru saja dia temui beberapa detik yang lalu, namun entah mengapa membuat jantungnya berdebar tak menentu.
*Agaknya aku jatuh cinta padanya*..
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...