
"Ah?" Hana melongo, saat mendapati sebuah foto yang mengejutkan.
Di layar ponselnya terlihat dengan jelas penampakan Visha yang memamerkan bercak merah di lehernya, yang jumlahnya begitu banyak, tak bisa terhitung dengan pasti.
"Anak ini! tidur dengan siapa dia?" tanyanya dengan lirih.
Dia membaca caption yang tertulis di bawahnya, lalu ia membelalakkan matanya, tak percaya dengan tulisan yang di gunakan sebagai bumbu oleh Visha di sana.
Will you marry me?
Yes! M.A. ♥️♥️
"Anak ini? dia akan menikah? dia bahkan tidak memberi aku kabar soal pernikahannya, begitu tega kau, Vish, kau mungkin sudah melupakan aku!" ucap Hana dengan sedih, "A? siapa dia? awas saja kalau kau sudah tidak marah padaku lagi, aku harus jadi yang paling cerewet saat menanyakan kabar pernikahan kamu nanti!" geramnya pada Visha, karena dia memang tidak pernah membenci anak itu.
Dia hanya bisa pasrah saat tahu Visha marah padanya, karena jujur saja, mau di paksa untuk berbalik marah pada anak itu pun, dia tak mampu.
Ia bukan sosok pendendam seperti yang di katakan oleh Visha pada suaminya. Tapi entah mengapa mereka mengira seperti itu, bahkan sosok Naira sekalipun.
Huhh!
"A? siapa si dia?"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Aku bingung!"
"Bingung kenapa?" tanya Naira pada suaminya di dalam mobil.
"Aku menasehati kakak iparku, tapi sejujurnya, aku tidak pernah tahu apa yang jadi masalah antara mereka!" ucap Ardian begitu polos dan berkeluh kesah.
"Jadi kau sebenarnya tidak tahu apapun di sini?" tanya Naira agak kesal.
"Sayang, aku ini bukan pencari gosip, atau sejenisnya, aku ini manusia biasa yang kalau tidak ada bisikan di telingaku, ya, aku tidak akan pernah tahu!"
"Dasar kau!" umpat Naira dengan kesal.
"Sayang, jelaskan padaku apa yang terjadi pada Hana dan Allianz!"
"Jadi saat tadi kau mengatakan Hana belum tentu bersalah di sini, kau pun tidak tahu secara pasti?"
__ADS_1
Ardian menggeleng pelan.
"Huhh!" istrinya makin kesal, "saat dia menceritakan kejadian semalam, apa kau sama sekali tidak jelas mendengarnya?"
Untuk kedua kalinya, Ardian kembali menggeleng.
"Hahh! Tuhan, kenapa kau kirimkan aku suami mengesalkan semacam ini?" Naira berkeluh kesah lagi.
"Hihi, aku sedang ingin tahu, cobalah berikan jawaban atas pertanyaan dariku ini.."
"Semalam, Hana bilang ada seorang pria yang bernama Morgan datang bertamu ke rumahnya!" ucap Naira memulai penjelasan, "dia datang saat jam sembilan malam, karena Hana penasaran jadi dia membuka pintunya, dan kemudian terkejut melihat siapa yang datang saat itu!"
"Lalu?"
"Pria itu memaksa dan menekan Hana untuk memuaskan nafsunya, sama seperti yang kau lakukan padamu setiap malam!"
"Ugh, sindiran yang sangat keras menusuk hatiku!" berpura-pura tersakiti.
"Dasar lebay! mau dengar kelanjutan ceritanya tidak?" tanya Naira lagi.
"Baiklah, aku akan mendengarnya!"
"Morgan?" mendadak ingat akan seseorang, "kenapa nama itu sangat familiar di telingaku?" tanya Ardian sedikit bergumam.
"Aku juga menyangka seseorang yang bukan-bukan, kau tahu siapa yang aku maksud di sini, sayang?" tanya Naira dengan cemas.
"Apa mungkin yang di maksud Hana adalah Lu Zamorgan? Tuan Muda semata wayang Lu Lau'er? sepupu jauhku?" tanya Ardian pada sang istri.
"Aku juga berpikir demikian, kau ingat saat pertama kali kita curiga dengan putrinya yang memanggil Hana dengan sebutan bibi?"
"Ya, aku ingat!"
"Rasanya tidak akan mungkin kebetulan memanggil bibi kalau mereka tidak benar-benar dekat, kau tahu kan maksud aku?" tanya Naira pada sang suami.
"Ya," Ardian terlihat menganggukkan kepalanya, "aku juga berpikir begitu, seharusnya ada hubungan di antara mereka yang membuat Lu Aruaya memanggil Hana dengan sebutan bibi! tapi aku tidak mau mengira kalau Hana punya hubungan seperti suami istri dengan Morgan!"
"Tapi aku juga tidak bisa menyangkal kalau Morgan pasti jatuh cinta dengan Hana," sambung Naira.
"Huhh! kau tahu? aku jadi bingung dengan permasalahan rumah tangga orang lain, padahal istriku sendiri masih mengalami amnesia, cobalah untuk jangan banyak pikiran!" ucap Ardian mengakhiri teka-teki di hatinya.
__ADS_1
"Tapi aku sudah mengingat sedikit demi sedikit tentang masa lalu kita berdua, kau harus tahu itu!" ucap Naira sambil membersitkan senyuman manisnya.
"Benarkah? apa kau ingat saat kita pertama kali melakukannya di kota M?"
Hadeh!
Pria ini!
"Kau ini! kenapa harus hal itu yang kau bicarakan?" dia menggerutu.
"Itu artinya kau ingat sesuatu mengenai malam itu, di kota M!" ledek Ardian pada sang istri.
"Aish! memangnya kenapa kalau aku memang ingatnya hal itu? aku bahkan tidak terlalu ingat bagaimana aku melahirkan Shi Yuan, dan aku malah mengingat kejadian di malam itu bersama kamu! haihh!"
"Hahahaha, sudah bisa aku duga kau memang akan mengingat hal itu lebih dulu, hahahaha!!"
Plak!
Menampar pipi dengan. sangat keras.
"Aduh!!" meringkuk dan menutup pipinya dengan telapak tangan.
"Fuhh! puas sekali aku!"
"Kau pasti akan kembali seperti dulu, saat harus bertingkah konyol bak anak bayi!" ucap Ardian sambil terus mengusap pipinya yang memerah.
"Kau bilang aku seperti apa? anak bayi katamu?"
Plak!!
Tamparan kedua berhasil mendarat di pipi sebelah kiri.
"Fuhhh! aku menjadi sangat puas!!!"
"Ya Tuhan, kenapa engkau mengirim istri seperti ini untukku!!" merasa sesak dan tak mampu bernafas.
"Kau akan mati kalau terus menyesalinya, aku tahu aku terlalu baik untukmu, hihihi.."
"Entahlah, aku tidak bisa menjamin itu!"
__ADS_1