
Zarren pun hanya bisa menurut saja apa yang di katakan oleh Hana. Di lepas jeratan tangannya dari wanita gila itu, lalu di biarkan saja wanita itu menggila di sana, pikirnya.
Namun rupanya tidak. Wanita itu malah terdiam dengan tatapan dingin, ya, hanya sebatas tatapan dingin dan menusuk, menatap Hana seolah bisa membunuh Hana dengan tatapannya itu.
Ia semakin di buat gusar, mana kala melihat Hana yang mulai mendekat ke arah Visha, dan malah menatap dengan tatapan iba.
"Kau sungguh ingin membunuhku? sebelum kau melakukannya, aku ingin kau mengetahui suatu hal, biarkan aku memberitahu kamu tentang sesuatu yang mengganjal hatiku.." ucap Hana dengan wajah ibanya pada Visha.
Visha hanya menurut saja. Ia tak mengatakan apapun sampai pada satu saat, Hana terlihat mulai berjalan menjauh darinya, berjalan menuju ke arah kamar atas, lalu kemudian menoleh ke arahnya, dan memintanya untuk ikut.
"Tunggu apa lagi? kau mau lihat kejutan besar itu, bukan?" tanya Hana pada sahabat baiknya.
Karena hatinya terus menerus merasa penasaran, akhirnya Visha pun memilih untuk mengikuti langkah kepergian Hana, menuju ke tempat manapun Hana akan membawanya.
Ia langkahkan saja kakinya mendekati tangga, lalu melongok saja dia ke atas, seolah masih meragukan kata-kata Hana, ia bahkan sempat berpikir Hana mungkin saja akan mengeksekusi dirinya di atas sana.
Namun saat dia lihat, di atas sana nampak normal-normal saja, tidak ada yang aneh sedikitpun dari ruangan di atas sana, ia jadi lebih berani melangkah maju dan naik ke atas menyusul Hana.
Sementara itu, Hana telah terlihat berada di atas. Wanita itu tengah berjalan perlahan, mungkin dia sedang menunggu jalannya Visha yang ragu, atau mungkin ini karena efek minuman, ia tak tahu.
Jalan saja dia menuju ke arah Hana, dengan kondisi hatinya yang terasa tidak meyakinkan, namun akhirnya langkah kakinya berhasil menyusul Hana.
Saat itu, Hana kembali berlanjut melangkahkan kakinya. Ia berjalan lebih dulu memimpin Visha, menuju ke sebuah tempat yang selama ini dia tata dengan rapi.
Masuklah dia ke dalam ruangan itu, ruangan yang hanya berisikan pakaian-pakaian milik Hana, dengan sepatu, tas mahal, aksesoris, semuanya tersimpan dengan sangat rapi di dalam almari rak.
Melihat hal itu, sontak saja Visha jadi berpikir macam-macam. Ia jadi kesal di buatnya, melihat apa yang malah di tunjukkan Hana padanya. Wanita ini memang sedang menggodanya, itu pasti.
"Apa maksud kamu? kau ingin menyombongkan barang-barang mewah milikmu? kau ingin menghinaku dengan menunjukkan semua yang kau miliki di sini? di ruangan ini? aku bahkan tidak habis pikir betapa memalukannya dirimu ini!!" ucap Visha sangatlah kesal.
Melihat respon dari sahabatnya, tentu saja Hana hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal. Ia bahkan belum menjelaskan apa yang terjadi di sana, namun sudah secepat itu Visha mengambil kesimpulan tentang dirinya.
"Asal kau tahu saja, Vish, aku bukan wanita sombong seperti itu!"
"Lalu apa maksud kamu menunjukkan semua benda-benda mahal di depanku?" tanya wanita itu sambil menatapi tas-tas mahal milik Hana di almari kaca sebelah kanan, hingga akhirnya, dia berhenti pada satu titik, "kau ingin memamerkan tas yang aku juga punya? Heng! aku sudah punya yang ini," menunjuk satu tas, "dan aku juga sudah punya yang itu, semua yang kau punya, aku sudah memilikinya beberapa, lalu apa yang ingin kau tunjukkan padaku!?? hahh? selain kau hanya ingin sombong, berpikir aku miskin dan jatuh tersungkur sedalam itu, padahal sejujurnya aku masih bisa bangkit dengan uangku sendiri!!"
Merasa kesal dengan ocehan maut yang di lontarkan oleh Visha sampai berbusa, Hana akhirnya berinisiatif untuk melarak lengan wanita itu, dan menyuruhnya untuk berhenti bicara, lalu mencoba untuk berpikir.
"Apa kau tidak bisa diam?" tanya Hana sambil melarak lengan kanan Visha dengan sekuat tenaganya.
"Arkh! sakit sekali! apa yang kau lakukan?" pekik Visha sambil terus mencoba melepaskan diri dari jeratan tangan Hana, "lepaskan aku dasar wanita gila!!"
"Sebenarnya kau yang gila!! tidak bisakah kau diam lebih dulu, barulah kau berpikir? jangan seenaknya berbicara banyak kata di rumah ini atau akan aku sobek mulut kamu menggunakan gunting itu!!"
Visha terdiam, jujur saja, mendengar ancaman dari Hana barusan membuat dia hanya bisa mengalah pasrah, dan mulai sedikit menurut pada ucapan Hana.
Merasa Visha sudah jauh lebih tenang, Hana akhirnya melepas jeratan tangannya dari lengan Visha, dan mulai mencoba berjalan mengarah ke almari tas miliknya.
__ADS_1
Ia membuka lemari kaca tersebut, dan mengambil satu tas yang katanya mirip dengan miliknya, lalu mengambil beberapa lagi di sana untuk di tunjukkan pada Visha.
"Lihat saja semua ini!" ucapnya sambil menunjukkan beberapa tas miliknya dan meletakkannya di atas meja kaca, "kau lihat sendiri apa yang ada di depanmu!"
"Aku melihat semua tas yang aku juga punya di rumah, kenapa kau mau menunjukkannya padaku?" tanya Visha masih saja tidak bisa berpikir.
"Apa kau sangat bodoh?" kesal Hana pada Visha melihat wanita itu masih belum juga memahami apa yang dia maksud.
Melihat tidak ada reaksi apapun dari sahabatnya, Hana akhirnya mencoba memilih bergerak ke lain tempat. Dia ambil sebuah koper besar yang dia letakkan di dalam almari.
Dia tarik dan ambil saja koper berisi barang-barang lama miliknya yang berisi penuh, lalu dia buka saja kopernya di atas meja yang sama, tempat di mana dia meletakkan tas-tas miliknya di atas meja.
"Lihat semuanya!!" ucap Hana terus mencoba meyakinkan Visha.
Visha bergerak mendekat dengan sangat perlahan, seolah tubuhnya sangat gemetar melihat semua yang berada di dalam koper tersebut.
Ia tak melakukan apapun selain menatapi dengan aneh isi dalam koper tersebut, hingga akhirnya, dia menggelengkan kepalanya, tak ingin terlalu percaya dengan semua yang di tunjukkan Hana padanya.
"Tidak mungkin..."
Hana membuka semuanya. Dia mengobrak-abrik seisi koper dan membuat Visha tercengang di buatnya.
"Kau lihat? kau sudah lihat semuanya?!" tanya Hana.
"Aku tidak percaya dengan omongan kamu ini! lagipula apa yang salah dari semua baju-baju ini?"
"Kau ini pura-pura bodoh atau bagaimana? apa kau sungguh tidak menyadari bahwa kau sangat bodoh?!" tanya Hana lagi, dengan sangat kesal.
"Aku tahu ini pasti sangat menyakitkan, tapi aku tahu kau tak mungkin memilih baju-baju kamu sendiri, pasti dia yang memilihnya, tas mahal milik kamu itu, aku tahu dia yang membelikannya, mungkin saat liburan, atau saat kalian merayakan hari ulang tahun pernikahan kalian, aku hanya bisa menebaknya.."
"Tapi itu tidak mungkin, mana mungkin dia melakukannya padaku? ini hanya kesamaan beberapa barang saja, bukan? mengapa harus di sangkut pautkan dengan laki-laki itu?" tanya Visha masih berpura-pura polos, dia memang berharap tidak ada alasan apapun mengapa ia memiliki kesamaan barang dengan Hana.
"Ya, jika mengapa harus di sangkut pautkan, lalu kenapa kau berpikir merujuk pada pria itu? apa yang kau pikirkan saat aku menunjukkan semua barang-barang ini? kau sebenarnya sudah tahu apa jawabannya, hanya saja, kau sangat naif, lihatlah dirimu dan aku, kita berdua hanya seorang wanita yang berhasil dia bodohi dengan mengatasnamakan cinta, kebahagiaan, dan kesetiaan, namun bisakah kau melihat apa yang kita dapatkan di akhir cerita ini? aku menjalani pernikahan dengannya sampai delapan tahun, dan kau menjalaninya hanya sampai empat tahun, setengah dari delapan tahunku kami alami secara terpisah, dan itu pun, dia sudah tidak tahan merasa kesepian, berlari ke arahmu, dan menerima pelukan hangat darimu, kau pikir, apa yang akan dia lakukan selanjutnya?" tanya Hana pada Visha seolah menyadarkan semua yang memang telah terjadi, "apa dia akan mencari wanita lain? atau dia akan mengejarku lagi karena sudah merasa bosan padamu? bukannya aku percaya diri, tapi aku lebih tahu pemikiran dia, aku tahu dia adalah sosok pria yang akan berlari dari masalahnya, dan akan kembali setelah semuanya dia rasa membaik, apakah dia juga melakukannya padamu? apa dia juga lari saat mendapat masalah denganmu, lalu dia akan kembali saat semuanya seolah sudah baik-baik saja baginya, tapi tidak bagimu?"
Visha makin terdiam membisu, karena dia memang merasakan apa yang Hana katakan barusan.
"Itulah dia, itulah watak aslinya, jadi yang seharusnya kau salahkan bukan aku, tapi dia, sama seperti aku, aku tak pernah menyalahkan kamu, aku tahu kau hanya butuh pelukan dari orang yang kau cintai, jadi aku tak pernah menyalahkan dirimu saat berada dalam kemenangan, sementara aku masih tersingkirkan tak punya sandaran apapun pada saat itu." Ucap Hana semakin menyadarkan Visha akan suatu hal.
"Jadi sekarang, apa untungnya bagimu menyingkirkan aku, sementara biang permasalahannya malah kau biarkan hidup, berada di sampingmu pula, berpikirlah yang jernih, temukan siapa yang salah dan siapa yang benar di sini, tidak mungkin kau akan melalui hal yang sama seperti aku, kecuali memang dia yang patut kau curigai, kita di sini hanya korban, dan pria itu, pria itu pasti akan lari kemana saja di tempat yang membuatnya merasa nyaman, itulah dia, itulah suami kamu, dan mantan suami aku.."
*Benarkah yang Hana katakan barusan? apa takdir memang harus sekejam ini pada kami?! mengenal seorang pria yang pada akhirnya hanya menghancurkan kehidupan kami berdua*?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, wanita itu tengah lama menunggu. Malam yang sangat larut membuat dia tak bisa menemui Kakak kandungnya di tempat umum. Dia hanya bisa meminta Kakak kandungnya untuk datang ke rumah lama milik ibunya, dan menanti Allianz di sana. Selain itu, dia memang punya maksud lain mengajak Allianz berjumpa di sini.
Sudah hampir satu jam berlalu, namun dia masih belum juga mendapati Kakak kandungnya datang, memunculkan batang hidungnya, dan memperlihatkan seperti apa ekspresinya saat berjumpa dengannya setelah hampir satu tahun mereka tidak pernah berjumpa.
__ADS_1
"Nyonya, ini sudah sangat larut, apa tidak sebaiknya kita pulang saja?" tanya Leon dengan ramah, melihat suasana sudah mulai gelap, namun masih belum ada tanda-tanda kakaknya akan segera datang.
"Aku ingin bertanya banyak hal padanya, termasuk mengapa dia melarikan diri di hotel, bukan ke rumah ini? bukankah seharusnya bisa menghemat budget? atau dia takut akan ketahuan olehku dan juga oleh Ardian, aku ingin menanyakan semua itu padanya.." jawab Naira membuat Leon akhirnya harus berhenti menanyakan pertanyaan yang sama.
Ya, mungkin itu pertanyaan yang ketiga atau ke empat kalinya pada sang Nyonya, jadi sekarang ia harus diam mengalah saja pada nyonya besarnya itu.
"Di mana kau meletakkan camilan yang baru saja kita beli?"
"Di mobil, Nyonya? memangnya kenapa?" tanya Leon dengan ramah.
"Aku ingin makan, tolong ambilkan untukku," ucap Naira pada laki-laki muda itu.
"Baik, nyonya," jawab Leon sedikit terpaksa.
*Bukankah saat kau membelinya kau mengatakan padaku tidak akan memakannya di malam hari? apa dia sudah lupa dengan ucapannya sendiri*?
Gumam hati Leon sambil berlalu meninggalkan Naira di sofa ruang tamu seorang diri.
Hingga pada saat dia berada di pintu masuk, terlihatlah sosok Allianz berdiri di depan pintu mirip hantu, zombie yang berdiri limbung mencoba menggapai pintu.
"Aaaaaaaa!!!"
Leon yang terkejut pun berteriak dengan keras, membuat Naira harus bergeming dari duduknya yang nyaman.
"Leon? kenapa?" tanya Naira sambil mendekat ke arah Leon.
Leon berhenti berteriak, saat ia dan Naira mendapati seorang pria di depan pintu, yang ternyata adalah Allianz, kakak kandung Naira.
"Ah? kau berteriak ketakutan karena melihat kakakku?" ledek Naira pada sopirnya.
"Maafkan aku, Tuan, maafkan aku," menunduk beberpaa kali pada Allianz, lalu beranjak pergi keluar dari rumah.
Dan sekarang, di tempat itu tinggallah Allianz dengan adik kandungnya. Di tempat itu, rumah lama yang dulu mereka tempati bersama dengan mendiang ibu mereka, menjadi saksi perjalanan hidup mereka yang di penuhi keceriaan.
Allianz yang sukses menjadi dokter, dan Naira yang ahli di bidang aktris di layar televisi.
Semua kenangan itu mendadak tenggelam, bersamaan dengan kehidupan keduanya yang harus terpisah dan menikah dengan pilihan masing-masing, Naira yang memilih Ardian, dan Allianz yang memilih Hana.
"Kau sudah datang?!" tanya adiknya, dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
"Kau lebih gemuk dari bayanganku," ucap Allianz sambil menatap adiknya setelah sekian lama.
"Apa yang kau katakan itu memang benar, aku terlihat lebih gemuk dan bahagia sekarang," ucap Naira sambil berlalu meninggalkan Allianz di pintu.
Wanita itu mengambil satu botol berisi minuman, dan membawanya ke atas meja, bersamaan dengan dua gelas yang telah dia siapkan.
"Apa kau tidak mau masuk, dan mengingat beberapa momen terbaik kita selama tinggal di sini?" tanya Naira sambil menatap ke arah Allianz.
__ADS_1
"Masuklah, kakak, mari kita ingatkan kembali masa-masa indah pada waktu itu, saat kau berhasil menjadi kakak kebanggaanku.."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...