
Tak tak tak!
Seorang wanita nampak melangkahkan kakinya dengan anggun memasuki acara meriah dan megah tersebut, di hadapan ratusan pasang mata yang terus memandanginya.
Namun dia amat percaya diri, dia sungguh tidak minder meski dia hanya datang seorang diri, tanpa pasangan atau pun keluarga. Langkah kaki semacam ini adalah langkah yang paling membuat semua mata terpana, tidak hanya laki-laki, bahkan kaum wanita pun ikut merasa terpana juga.
Sama seperti ratusan orang yang menatap ke arah Hana, Allianz dan juga Visha pun di buat penasaran. Mereka asik mencoba memperhatikan siapa pula yang di bicarakan oleh semua orang itu. Apa masih ada wanita lain yang menandingi kecantikan Visha, begitulah pikir keduanya.
Mereka mengambil barisan terdepan untuk melihat wajah dan tubuh siapa yang berhasil memikat hati semua orang.
Namun mata mereka mulai membelalak, tatkala menatap seorang wanita dengan cukuran di bawah telinga, bibir yang di poles merah merona, dan beragam barang-barang branded yang menempel di tubuh wanita itu.
"Apa itu Hana?" tanya Visha dengan keterkejutannya.
Suaminya hanya diam seribu bahasa, di buat mematung dan tak berdaya saat benar dia mendapati sosok wanita itu di depan matanya, seolah bak mimpi terindah yang pernah dia alami.
Kehadiran Hana setelah dua bulan lamanya mereka resmi bercerai, dengan penampilan yang sangat berbeda 180° itu membuat dia bak gunung es yang meleleh dengan sempurna.
Matanya tak mau berkedip, hanya terus saja memandangi mantan istrinya yang kini telah bermetamorfosa menjadi kupu-kupu cantik nan menawan. Seolah semuanya sangat mengagumkan, perubahan Hana sungguh sangat menakjubkan baginya.
Jangankan Allianz, Visha pun tak pernah menyangka akan mendapati Hana dengan wajah dan penampilan yang sangat berbeda pada malam ini. Entah dari mana Hana mendapatkan uang untuk membiayai hidupnya, tapi dalam pemikiran Visha, wanita itu pasti telah menggoda laki-laki beristri untuk membiayai hidupnya.
Langkah kaki Hana semakin dekat saja, hingga tibalah saat baginya untuk menghadapi Allianz dan juga Visha di tengah keramaian orang-orang yang berlalu lalang menikmati acara pesta besar-besaran itu.
Tak tak!
Benar saja, langkah kaki Hana akhirnya terhenti di hadapan Visha dan juga Allianz. Pria busuk itu bahkan terlihat gemetar di sekujur tubuhnya saat harus berhadapan dengan mantan istrinya yang amat cantik itu.
"Kau pun datang? aku pikir wanita sepertimu tidak lagi di butuhkan di dunia ini.." ledek Visha pada mantan sahabat karibnya itu.
Mendengar perkataan Visha, tentu saja Hana terkekeh mendengarnya. Bukankah ia hanya kumal, mengapa sampai Visha berpikir orang kumal tidak akan bisa di butuhkan di dunia ini?
"Apa orang yang tidak punya muka masih bisa di hargai orang lain?" balas Hana dengan datar.
Kini mata semua orang masih tertuju pada pandangan mengasikkan dari pertarungan sengit antara dua mantan sahabat lama beserta laki-laki yang menjadi cikal bakal tumbuhnya perdebatan antara mereka.
"Hahh! kau yang tidak punya muka! siapa kau sampai hadir di sini dan membuat onar? kalau suamiku sudah jelas dia adalah salah satu orang terpenting dalam perusahaan Tuan Lu Zafier, kalau kau? kau hanya mantan pembunuh saja! kaulah yang membunuh sepupu Tuan Lu Zafier," ucap Visha dengan lantang.
"Ah?" dan kini semua orang di buat terkejut mendengar pernyataan dari Visha barusan, "apa benar dia wanita pembunuh?" semua orang pun jadi bertanya-tanya satu sama lain.
Hana membuang nafasnya panjang-panjang, menghadapi wanita gila seperti Visha memang di butuhkan usus sepanjang bangunan dua puluh tingkat, harus benar-benar sabar menghadapinya.
"Kau sudah lihat, bukan, siapa yang tidak punya muka di sini? harusnya kau yang sadar! kau tidak pantas menginjakkan kakimu di pesta ini!" ucap Visha lagi dengan sombongnya.
"Ya, bodohnya aku yang telah mempercayai sahabat baikku sendiri, berpikir kalau kau tidak akan berulah, asal kau tahu saja, membunuh Lu Zamorgan bagiku adalah hal yang paling tepat setelah dia melakukan hal gila padaku, tapi mempercayai kamu, dan juga suami sampahmu ini, adalah hal paling bodoh melebihi ekspektasi ku.." jawab Hana dengan datar.
"Hallah! alasan! mana ada pembunuh yang agung? itu hanya alasan kamu saja, menempatkan diri di posisi yang paling nelangsa, supaya semua orang percaya kau berada dalam tekanan saat membunuh laki-laki itu." Ucap Visha kali ini dia benar-benar bisa menang dengan peluang pembunuhan yang dia tuduhkan untuk Hana.
Mau mengelak bagaimana lagi? kalau sudah membicarakan soal pembunuhan, bukankah artinya Hana hanya harus gigit jari saja tak perlu berpikir untuk menang?
Mengapa Hana sampai tidak tahu kalau mantan suaminya dan juga mantan sahabatnya itu hadir juga dalam acara ini? aish! sekarang jadi harus repot sendiri menghadapi mereka, bukan?
"Aku tidak pernah melupakan hal itu, tapi aku sudah memaafkan dia untuk masalah ini.." ucap seseorang dari kejauhan menggandeng istrinya mendekat ke arah perdebatan.
Semua orang pun menoleh ke arah sepasang suami istri harmonis itu, dengan di dampingi oleh cucu perempuan satu-satunya yang berada di sisi mereka.
"Tuan Lu Lau'er? Nyonya Mollie?" ucap Hana agak terkejut.
__ADS_1
Nyonya Mollie terlihat mendekat ke arah Hana, dan memeluk wanita itu dengan kehangatan, lalu melepaskannya kembali.
"Nyonya Mollie, aku tahu anda tidak memiliki sifat pendendam," ucap Hana dengan wajah sedih.
"Pada awalnya aku membencimu, aku benci dan bahkan tidak mau menjenguk kamu di rumah tahanan," ucap Nyonya Mollie menatap Hana dengan lekat, "tapi setelah aku tahu putraku yang bersalah, menodai kesetiaan kamu pada suamimu, sekarang aku tak lagi merasa benci, aku malah bersyukur dan berterima kasih padamu telah memberikan ganjaran setimpal untuknya.." ucap wanita itu, entah dalam kondisi sadar atau tidak, tidak ada yang tahu.
"Nyonya?" ucap Hana sekali lagi, seolah benar-benar tak mempercayai ucapan wanita itu.
"Iya, Hana, sejak awal aku tak pernah menduga, kalau putra kami akan kau bunuh dengan kejamnya hanya karena tuduhan yang menurut kami tidak benar, tapi Ardian menjelaskan semuanya, jadi kami telah memaafkan kamu, kau memang berhak memberi dia pelajaran demi rasa aman pada dirimu sendiri.." sambung Lu Lau'er.
Mendengar perkataan dari dua orang di depannya, Hana jadi merasa lega, dia bahkan melepaskan senyuman penatnya setelah selama ini rasanya tertekan dengan sangat menyesalkan.
"Terima kasih kalian telah memaafkan aku, andai kalian tahu alasan mengapa aku sampai menghujani Lu Zamorgan dengan peluru, betapa bodohnya aku, aku pikir setelah aku menyelesaikan persoalan dengan dia, dan membuktikan bahwa aku akan mempertahankan rumah tanggaku, aku pikir semuanya akan berakhir bahagia, tapi, hehh! rupanya aku terlalu bodoh di masa lalu.." ucap Hana tanpa melirik sedikit saja ke arah wajah Allianz.
Di posisi terburuk yang pernah ada dalam hidup Allianz, pria itu tak mengalihkan pandangannya dari lantai gedung yang dia tapaki, seolah semua ucapan Hana benar-benar menyentuh relung hatinya, menciptakan rasa bersalah yang luar biasa di hatinya, menumbuhkan luka sehancur-hancurnya tanpa bisa dia ungkapkan.
"Hahh! sudahlah, bukankah kita datang untuk bersenang-senang? sayang, kau jangan buat suasana menjadi semakin sedih, ayo Hana, kita menikmati pesta ini dengan meriah," ucap Nyonya Mollie pada Hana dengan hangat.
"Baik, Nyonya.. terima kasih atas semuanya.."
"Jangan lagi bersedih, ayo kita minum dan menghabiskan malam ini untuk berkumpul bersama.."
Mereka berempat terlihat menjauh dari tempat itu menuju tempat di mana keluarga besar mereka berkumpul menjadi satu, meninggalkan Allianz dan Visha yang kini malah di buat malu di muka umum.
Padahal seharusnya Hana yang akan merasa malu, tapi mengapa suasana mendadak berbalik dan memakan mereka berdua?
"Aku bahkan tak pernah tahu kau sebegitu tidak di hargainya di dalam perusahaan ini.." gumam Visha pada suaminya.
Allianz mendengar gumaman istrinya meskipun terdengar samar-samar, membuat dia merasa marah pada wanita yang menjadi pasangan hidupnya itu.
"Hahh!"
...----------------...
"Hana, kau sudah datang?" sapa Naira dan juga Falisa sambil menyodorkan minuman pada wanita itu.
"Terima kasih," ucap Hana sambil tersenyum mengarah pada Falisa dan Naira.
"Bagaimana? apa kamu sudah bertemu dengan mereka berdua?" tanya Naira usai dia terduduk di sisi Hana, tak lupa untuk Falisa juga.
"Ya," jawab Hana singkat saja.
Gluk!
Lalu terdengar meneguk minuman di dalam gelas di tangannya.
"Ah, sayang sekali aku tidak melihat wajah mereka yang terkejut, pasti asik sekali.." ucap Naira agak sedih.
"Bagus kau tidak melihatnya," jawab Hana singkat saja.
"Kenapa memangnya?"
"Dia menjatuhkan aku dengan kasus pembunuhan tiga tahun yang lalu," jawab Hana.
"Apa?" kaget Naira, "lalu apa yang terjadi setelah itu?"
"Apa lagi? aku hanya bisa mengatakan iya di hadapan semua orang, untung saja Nyonya Mollie dan Tuan Lu Lau'er datang dan membelaku.."
__ADS_1
"Baguslah, paman dan bibi sudah mengambil keputusan yang tepat untuk memaafkan kamu.." ucap Falisa.
"Ya, aku sungguh beruntung.."
"*Semua tamu undangan, harap merapat kemari, kami ingin melakukan pemotongan kue yang di lakukan langsung oleh Tuan Lu Zafier dan sepupunya, Tuan Ardian dari Ardian Group*!"
Wohooooooo
Prok Prok Prok!
Semua orang terlihat mendekat dengan riuh benar-benar menyemarakkan ulang tahun perusahaan kali ini dengan sangat gembira.
Berbeda dengan semua orang yang memilih mendekat ke arah panggung menyaksikan pemotongan kue ulang tahun, tiga wanita itu hanya memilih untuk duduk saja di tempat mereka sama seperti beberapa detik yang lalu.
Acara pun di buka oleh seorang pembawa acara yang tak lain adalah Erik, dan juga salah satu rekan kerjanya juga. Pada acara pertama, Erik menampilkan wajah sang direktur utama perusahaan untuk berpidato, kemudian di lanjutkan lagi oleh Tuan Lu Zafier yang akan memberi sambutan pada semua orang yang telah berusaha mengelola perusahaan miliknya.
Dan kemudian, acara yang ketiga, sebelum pemotongan kue di lakukan, Erik memberi kejutan besar yang telah ia rencanakan sebelumnya sebelum pesta terlaksana.
"Baiklah, saya punya sedikit cuplikan yang mungkin, akan sangat sayang jika harus saya saksikan seorang diri, cuplikan ini adalah kejutan untuk kalian semua, jadi bersiaplah menerima kejutan dari saya.."
Laki-laki itu memberi kode pada semua orang untuk melihat hasil kerjanya yang sangat mengejutkan itu.
Di sebuah layar besar yang telah ia siapkan matang-matang dan jauh hari sebelum acara di laksanakan, di putarkan beberapa foto hasil jepretan kamera ponselnya.
"Ah?"
Semua orang membelalak dengan sangat terkejut, tatkala mendapati sebuah cuplikan yang di putar sengaja oleh Erik, termasuk juga Allianz dan Visha.
"Apa?" Visha pun tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, "ap-apa?"
Bahkan wanita itu sampai tak mampu berkata-kata lagi mendapati cuplikan yang di ambil oleh sahabat baik suaminya di depan semua orang.
Apa lagi Hana dan juga Naira, yang saat itu terduduk di posisi paling belakang pun, nyatanya harus di buat terkejut dengan berita menghebohkan ini.
"Maafkan aku, Allianz, aku menemukan semua bukti ini di meja kerjamu, ketimbang harus membela kamu yang salah, bukankah aku harus membersihkan perusahaan dari koruptor?" sindir Erik langsung mengenai hati Allianz.
Allianz terkejut hebat. Bagaimana Erik bisa menemukan bukti itu? padahal dia selalu menyimpannya dengan sangat aman. Bukankah ia tak pernah membiarkan dokumen-dokumen keuangan asli perusahaan itu di lihat oleh semua orang?
"Aku menemukan masalah dalam keuangan perusahaan kami, jadi aku minta anak buahku untuk menyelidiki semua orang, aku juga mendapatkan dokumen laporan keuangan palsu yang entah siapa yang mengirimkannya padaku, setahu aku selama beberapa tahun terakhir aku bekerja di sini, aku tidak pernah menemukan kecurangan seperti ini, tapi beberapa malam yang lalu, aku benar menemukan bukti mengejutkan ini di dalam laci yang selalu di kunci rapat oleh Allianz." Ucap Erik dengan sangat mantap.
Allianz gemetar hebat di sekujur tubuhnya, tak lagi mampu menggerakkan kakinya meski hanya untuk melangkah keluar dari tempat pesta itu dan lari dari kenyataan.
Ia tertegun saat sang sahabat mengatakan semua yang telah dia rahasiakan selama ini dari semua orang, tak terkecuali istrinya sendiri, Visha.
"Dan akhirnya aku menyelidiki lagi pengeluaran gelap dari keuangan perusahaan, yang secara tidak aku sangka, rupanya masuk ke dalam rekening Allianz setiap bulan, dengan nominal yang sangat tinggi." Jelas Erik lagi, "aku tahu dia sedang berbuat curang di sini, jadi sebelum dia merugikan perusahaan lebih lanjut lagi, lebih baik bagiku ini untuk membuka semua aibnya.."
Semua orang kembali berbisik-bisik, saling bertanya-tanya dan juga beranggapan negatif pada sosok Allianz di sana.
Kini posisi Allianz benar-benar terpojok, seolah tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain diam dan menghadapi semua tombak yang menusuk ke dalam tubuhnya.
"Dan pak direktur utama," kali ini Erik juga melirik ke arah si tua pemimpin perusahaan.
"Ah?" laki-laki itu pun kini di buat terkejut setengah mati.
"Jangan pernah sembunyi dari kesalahan kamu, atau aku sendiri yang akan membongkar semua perbuatan kamu dan Allianz di depan umum!" ancam Erik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1