
Tangannya bergetar hebat, sekujur tubuhnya dingin sekali akibat hujan badai yang entah mengapa mendadak menerpa kota dengan begitu derasnya.
Cittttt!!
Mendadak suara mobil berhenti di depan tubuhnya yang telah ambruk di aspal jalanan, bukannya tidak mau bangkit, hanya saja dia tak punya kekuatan meski untuk sekedar menopang tubuhnya.
Bam!
Pintu mobil di tutup usai keluar seorang wanita yang kemudian mendatangi Hana dengan payung di tangannya. Wanita itu memang sedikit terlambat menjemput Hana, atau mungkin Hana yang terlalu cepat berlalu dari rumah suaminya.
Ya, suaminya sudah berkata kalau rumahnya akan buruk jika sampai kaki kotor Hana menyentuh lantai rumahnya, lalu Hana bisa apa selain harus pergi dan mengalah mundur?
"Hana.."
Hiks hiks hiks..
"Naira..."
Wanita itu merengkuh tubuh Hana yang basah kuyup dan juga dingin sekali, sedingin es kutub Utara.
"Ayo bangunlah, kau bisa sakit kalau terus hujan-hujanan," ucap Naira sambil mencoba membangunkan Hana dan menuntun wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Tak!
Naira meletakkan satu cangkir teh di atas meja dan kemudian mengeringkan rambut Hana yang basah.
Hana sudah mengganti bajunya dengan baju Naira yang ada di almari, dan kini hanya tinggal mencoba menghangatkan tubuh wanita itu saja, jangan sampai dia kedinginan, karena dia bisa sakit akibat hujan-hujanan sore tadi.
"Minumlah," ucap Naira sambil mengambil pengering rambut dan kemudian menyalakannya.
Ngung.....
__ADS_1
Hana mengambil teh di atas meja, tubuhnya di tutup rapat menggunakan selimut yang ada di kamar tersebut, dan di balutkan saja supaya dia bisa merasa hangat.
Gluk!
Satu tegukan dia menyeruput teh nya, lalu kembali meletakkan cangkir itu di atas meja.
"Aku tidak habis pikir, sungguh kejamnya dia melakukan semua ini padaku," ucap Hana selepas dia menyeruput teh miliknya, "dia bahkan menikahi sahabat baikku sendiri.."
"Hana, ingat, dia bukan sahabat baik kamu, kalau dia sahabat baikmu, seharusnya dia tak akan melakukannya padamu, dia hanya wanita buaya yang berkedok mulia di depan semua orang," jelas Naira dengan penuh kebencian, "maafkan aku karena aku menyembunyikan semuanya darimu, aku cemas kau akan depresi di dalam penjara, makanya aku memilih untuk bungkam dan membiarkan kamu mengetahuinya sendiri," sambung wanita itu.
"Aku tidak menyalahkan kamu, Nai, kau memang sahabat yang baik, kau tidak ingin aku menanggung beban terlalu berat di dalam jeruji besi, jadi kau memilih untuk merahasiakan semuanya dariku, tapi aku sungguh tidak habis pikir, bisa-bisanya Allianz, melakukannya padaku, mengkhianati aku dengan alasan aku pun pernah mengecewakannya, apa dalam pernikahan kamu dengan Ardian kalian tidak pernah saling mengecewakan? bukankah pada malam itu aku juga bukan sengaja melakukannya dengan Morgan? aku tidak rela hati melakukannya dengan Morgan, asal kau tahu saja, dia memaksa aku, masihkah aku harus dia sebut sebagai wanita hina?" wanita itu meluapkan segala emosi di dalam hatinya.
Dunianya yang memang sangat menyedihkan, selalu melukis dan membebaskan cerita sakit yang teramat luar biasa. Takdir memang lagi-lagi berbuat tidak adil, apa ini adalah pembayaran lunas atas kebebasannya dari dalam penjara yang terbilang cukup cepat dalam melakukan penahanan?
Apa ini bagi takdir adalah balasan yang setimpal? jika akhirnya harus seperti ini, Hana ingin sekali memilih untuk tidak harus di keluarkan dari penjara dalam waktu singkat, ia tak mampu jika harus hidup di luar sel, tapi tetap harus mendapat masalah seperti ini dalam hidupnya.
"Hana, bagaimanapun yang terjadi sekarang, aku minta kau tegar menghadapi semuanya, karena Kak Allianz, dia, aku yakin, dia sungguh mencintai kamu, dia hanya dekat dengan wanita itu karena kebencian padamu, tidak menutup kemungkinan jika suatu hari nanti, dia akan kembali padamu setelah dia tak lagi membencimu.."
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ia menenggak sedikit minuman ke dalam mulutnya, namun matanya masih saja menatap dengan tatapan kosong. Memikirkan bagaimana bisa wanita itu keluar dari jeruji besi lebih cepat, bahkan sangat cepat dari yang seharusnya.
Bukannya ia takut akan kehilangan posisi baiknya sebagai nyonya besar di rumah ini, karena rumah ini sebagian juga hartanya, tapi ia lebih takut, kalau suatu hari nanti Allianz akan lebih memandang wanita itu di bandingkan dengan dirinya.
Arkh!
Itu tidak akan mungkin, bukankah baru pagi tadi Allianz mengatakan perasaan cinta padanya? lagi pula bisa di lihat sendiri, bagaimana Allianz membela dirinya saat Si Hana itu berusaha menjelekkan namanya.
Ya!
Kali ini dia memang harus berpikir lebih positif, tidak boleh terlalu cepat terbawa suasana, atau pun terlalu terbawa perasaan juga.
Wanita itu kali ini berkedip, menarik nafasnya dengan panjang, dan kemudian mengeluarkannya perlahan. Ia ingin jauh lebih tenang, bukan tak mau mengambil pusing semua yang terjadi, hanya saja, tidak penting baginya memikirkan apa yang harus dia lakukan pada wanita itu.
__ADS_1
Saat wanita itu mulai berulah, ia boleh saja diam membisu, tapi lihat saja nanti, kalau suaminya yang bertingkah mencemaskan, dia pasti akan ikut melangkah maju sebagai baris garda terdepan untuk mencegat suaminya terjatuh dalam pelukan Hana kembali.
Gluk!
Sekali lagi dia menenggak bir di dalam gelas yang berada dalam genggaman tangannya, kemudian terlihat dengan jelas sisa-sisa bir yang hanya tinggal sedikit di sana.
Visha berbalik dan berjalan ke arah sofa, lalu meletakkan gelas berisi minumannya di atas meja.
Tak!
"Aish!"
Laki-laki yang ia cintai datang, dan langsung saja memeluk tubuhnya dengan amat mesra.
"Apa kau baik-baik saja? sampai minum segala, aku pikir kau sedang mencemaskan soal kehadiran wanita itu tadi!"
"Wanita mana yang tidak cemas saat melihat saingan cintanya telah terbang bebas seperti burung?" jawab Visha dengan datar, mencoba acuh tak acuh.
"Sayang," mencoba membalikkan tubuh Visha, dan kini mereka terlihat saling berhadapan, "aku sudah janji akan menyayangi kamu sampai akhir hayatku, jadi dia, sekarang bagiku dia tak lagi penting, kau telah memberi aku beribu-ribu kebahagiaan, terlebih lagi hadiah terbesar yang kau berikan padaku, Alvis, di banding dia, kau lebih unggul untuk segalanya, jadi apa kau masih harus mencemaskan perasaan ini? sedangkan kau sendiri tak bisa di bandingkan dengan dia, kau terlalu baik melebihi dia, jadi jangan mengira aku akan memikirkan wanita itu.."
"Mas..." panggil Visha dengan lirih.
"Ya?"
"Apa, jika aku bilang, kamu ceraikan dia, kamu akan setuju?"
Deg!
Kenapa bisa sampai sejauh itu Visha berbicara? bukankah dia ingin perlahan-lahan menyingkirkan Hana? tapi kenapa sekarang dia malah bertanya hal yang sangat menyulitkan bagi Allianz?
"Menceraikan Hana?"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1