
"Apa saat dia tahu kau menikah denganku, dia tidak mempersulit kamu di perusahaan?" tanya Visha pad sang suami.
"Pada awalnya dia memang ingin memecat aku, tapi dia akhirnya urung melakukannya, tentu saja karena pekerjaan yang aku lakukan selalu berakhir memuaskan, jadi dia tidak punya alasan untuk memecat aku, lagi pula, tidak mungkin dia akan memecat aku karena masalah pribadi, kan?"
"Apa jabatan aku di kantor juga akan aman?" tanya Visha lagi, sedikit cemas.
"Tenang saja, kau juga sudah di jamin aman, anak itu tidak akan sembarangan memecat kamu, kok!" ucap Allianz menenangkan istri keduanya.
Ya, hubungan yang pada mulanya hanya karena keterpaksaan, kini makin lama makin berubah menjadi hubungan layaknya suami dan istri.
Mereka semakin dekat, dan bahkan semakin mesra, tak ada lagi pemikiran, atau kecemasan yang di rasakan oleh Allianz untuk istri pertamanya, Hana, meski wanita itu tengah berada di balik jeruji besi, dan akan menghabiskan waktu yang sangat lama di sana.
Dia malah semakin senang, menikmati indahnya hidup dalam suasana pengantin baru, menikmati betapa nikmatnya kemesraan yang harusnya memang terjadi antara pasangan suami dan istri yang baru.
"Kamu mau makan apa, mas?" tanya Visha pada Allianz, membuat pria itu agak terkejut mendengarnya.
Keduanya bertatapan, saling memandang dengan raut muka bingung dan penuh kecanggungan.
"Memangnya ada apa? apa aku bicara terlalu aneh?" tanya Visha sambil terus menatap sang suami.
"Kau panggil aku apa barusan?" tanya Allianz seperti kurang jelas saja, atau mungkin dia memang sudah tuli.
"Mas? memangnya kenapa? kamu tidak menyukainya?" tanya Visha lagi.
Allianz tersenyum, dan kemudian membelai rambut indah Visha yang tergerai ikal, berwarna pirang, yang di padu padankan dengan warna hitam, lalu menatap mata istri keduanya itu.
Entah mengapa ada rasa senang tersendiri saat harus menghadapi wanita ini, bukan seperti Hana yang dulunya dekat karena Hana yang lebih dulu menyatakan cintanya.
Kedekatan dengan Visha ini, baginya lebih indah, lebih terasa menyemarakkan hatinya. Pertemuan yang pada mulanya selalu di awali pertengkaran, lalu berakhir tidur bersama dalam satu ranjang, dan kemudian dari situ gejolak asmara mulai tumbuh, dan berkembanglah menjadi perasaan cinta yang mendalam, ya, mungkin Allianz sekarang memang tengah di mabuk cinta.
"Aku suka saat mendengar panggilan itu dari kamu..."
"Benarkah? kau menyukainya?" tanya Visha dengan senyum senangnya.
__ADS_1
"Ya, aku sangat menyukainya.." Ucap Allianz sambil terus memandangi wajah istrinya yang sangat manis.
"Apa istri kamu itu tidak pernah memanggil kamu dengan sebutan itu?"
Allianz hanya bisa menggeleng dengan penuh kekecewaan, menjelaskan segalanya meski hanya melalui gerakan kepalanya yang singkat saja.
Visha sekilas membersitkan senyuman kemenangannya dengan tipis, merasa senang saat melihat sang suami yang benar-benar kekurangan kasih sayang dari istrinya.
"Dia bahkan selalu dingin padaku, yang dia pedulikan hanya uang, dan kehidupan, dia tidak punya kasih sayang, dan kelembutan seperti yang kamu lakukan setiap hari padaku.."
"Apa dia benar-benar tidak pernah melakukannya padamu?"
"Sama sekali tidak pernah, kau tahu? dia itu hanya peduli dengan karirnya di masa lalu, dia memang pernah bekerja di perusahaan, dan pernah juga menjadi CEO di perusahaan tersebut, hanya saja, karena jabatan dia itulah, membuat dia tidak pernah bisa menghargai aku, meskipun hanya sekedar menjadi suaminya saja.."
"Tapi bagiku pemikiran Hana salah, dia mungkin tidak bisa hidup tanpa uang banyak, tapi bagiku, keluarga yang hangat jauh lebih penting dari segalanya, kau tahu? aku ini terpisah dari ibu dan ayahku sejak aku remaja, aku kabur dari rumah, dan jadi anak jalanan sejak aku berumur lima belas tahun, itu karena sikap ibuku yang selalu dingin, dan tidak mementingkan keluarganya, yang dia lakukan setiap hari hanya bekerja dan bekerja, sampai dia lupa kalau dia juga punya seorang putri, dan juga seorang suami," ucap Visha mulai mencurahkan isi hatinya.
Allianz terlihat terus memperhatikan ucapan demi ucapan yang di lontarkan dari mulut Visha di sampingnya, ingin tahu lebih jelas saja bagaimana perjalanan hidup wanita ini, maklum saja, dia mengenal wanita hanya selang beberapa Minggu saja sebelum akhirnya mereka menikah, dan hidup bersama dalam satu atap, dan satu kamar.
"Dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu? ayahku ketahuan selingkuh, dia punya wanita lain, yang sudah hamil dan akan segera melahirkan anak untuk ayahku, aku memilih untuk pergi, meninggalkan keluarga aku yang telah hancur, dan akhirnya aku memilih menjadi anak jalanan, yang hidup secara mandiri, dan tidak bergantung pada siapapun.."
Jika Sam dan Syiana meninggalkan Hana karena memang sudah tidak peduli lagi, berbeda dengan Visha yang harus mengalah demi ketenangan jiwanya.
Pria itu mengusap dengan lembut punggung sang istri, lalu mengecup kening Visha dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang kau tak perlu merasa sedih, ada aku yang selalu ada di sini untuk kamu, kau sudah aman bersamaku.."
Pria itu terus mengelus rambut sang istri, hingga akhirnya, terlihat dengan jelas dua pasang mata itu saling menatap, dan melepas kecanggungan yang selama ini mereka rasakan antara mereka.
"All?"
"Ya?"
"Apa itu artinya kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Visha tanpa keraguan sedikitpun.
__ADS_1
Allianz terdiam membisu, tubuhnya mematung, namun tangannya bergerak menjauh dari tubuh Visha, dan di alihkan saja tangan itu ke wajahnya, untuk menutup separuh mukanya yang sudah terlihat mulai memerah.
Visha terlihat diam, dia pun tak mampu memaksa Allianz untuk menjawab pertanyaan darinya. Dia tahu masih terlalu sulit untuk pria ini mengakui segalanya, apa lagi mengatakan kalau dia mencintainya..
Karena memang masih belum ada cinta di hati Allianz untuk Visha, yang ada di hatinya hanya secarik kalimat istriku yang sah. Dia tak bisa memaksa hatinya untuk jatuh cinta pada wanita ini.
Tidak tahu nantinya bagaimana..
"Baiklah, kau tak perlu menjawab pertanyaan dariku, kau hanya harus membahagiakan diri kamu sendiri, lebih baik bagi kamu untuk memikirkan diri kamu juga, Hana mungkin telah berhasil membuat hati kamu tak bisa beralih tempat lagi, tapi setidaknya, dia juga punya kekurangan, dan aku juga punya keduanya, kekurangan dan kelebihan, kau bisa memilih untuk bersama siapa, dan karena kami berdua sama-sama istri kamu, jadi lebih baik bagimu untuk memilih kedua-duanya..." Ucap Visha terdengar bijaknya, padahal mulutnya tidak lebih dari pembohong besar.
"Ya, terima kasih kau telah mengerti akan keadaanku, aku perlu waktu untuk mencintai kamu, tapi yakinlah, aku akan tetap mencintai kamu, kapanpun akan terjadi, tetaplah terjadi.."
Cup!
Bibir Allianz dengan lembut mengecup kening Visha, lagi, dan untuk keduanya lagi..
Kini tatapan mereka beradu lagi, menjadi semakin dekat, bahkan keduanya sama-sama saling merasakan saat nafas mereka saling beradu, terasa hangat, dan menusuk saja menjadi birahi dan penuh nafsu.
Pria itu tak terlalu pandai menahan gejolak asmara dan nafsu di dalam dirinya. Di sambar saja bibir indah Visha dengan ganasnya, dan di habiskan saja lipstik merah merona di bibir Visha hingga terlihat bersih tiada tersisa.
"Umh..."
Allianz melenguh, untuk pertama kalinya pria itu melenguh, dan terdengar mengeluarkan suara manja dan penuh gelora dari sana.
Di campur dengan des*han nafsu yang keluar dari mulut Visha, dua orang itu pada akhirnya di buat lupa tempat yang kini tengah mereka tempati.
Mereka tidak sadar mereka masih berada di ruang tengah, dengan pemandangan terbuka sana sini, dan pastinya akan lebih mudah orang melihat mereka berdua dari sisi manapun.
Namun keduanya terlihat melucuti pakaian masing-masing, membuka dan membuat tubuh mereka polos, sepolos mungkin, hingga terlihat dengan jelas setiap lekuk tubuh mereka yang tidak akan tertinggal meski hanya satu inci saja.
"Ugh...."
Keduanya mengambil posisi di atas sofa, menempatkan Visha di atas tubuh Allianz yang kekar dan putih bersih.
__ADS_1
Mereka kemudian memulai kerja sama di sana, membuat gerakan gemulai, menari dengan indah membuat gerakan seolah tengah menari berpasangan, dan indahnya lagi, mereka melakukannya dengan penuh perasaan...
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️