
Dan di pagi itu, Hana berniat untuk mengajak Alvis keluar rumah, menengok sang ayah yang sekarang entah bagaimana kondisinya.
Sudah setengah tahun berlalu, semenjak Allianz di penjara karena pembunuhan yang dilakukan terhadap istrinya, Visha, terhitung baru keempat kali ini Hana datang mengunjungi mantan suaminya itu, beserta anak hasil hubungan Allianz dan Visha.
Meskipun dia anak dari mantan suami dan sahabatnya yang telah tewas, tapi dia sangat menyayangi Alvis, seakan kasih sayang yang dulu dia tumpahkan untuk Zhoulin, kini entah mengapa dia tumpahkan juga untuk anak hasil pengkhianatan suaminya dan sahabat baiknya.
Dia sangat memperhatikan Alvis, meskipun dia sibuk bekerja sebagai CEO sekaligus owner dalam perusahaannya, namun dia selalu menyempatkan waktu untuk bermain dengan putra angkatnya. Di akhir Minggu, seolah sudah jadwal rutin Hana, wanita itu akan membawa Alvis jalan-jalan keluar dari rumahnya, entah bermain di taman kota, atau kebun binatang, atau mungkin hanya sekedar makan es krim di pinggir jalan, yang pasti dia selalu membuat Alvis bahagia.
Sama seperti pagi itu, saat Hana menyiapkan sarapan roti untuk putra angkatnya itu. Dia mengoleskan selai di atas roti tawar milik Alvis, lalu menyiapkan susunya juga di atas meja.
Ia juga terlihat dibuat sibuk dengan urusan memasaknya. Entah apa yang dia masak, tapi baunya memang sangat harum, seolah makanan ini sangat spesial dan ditujukan untuk orang yang istimewa pula.
Na.. na... na.. na..
Hana bersenandung ria, nampak di wajahnya sangat berbinar, berwarna seolah telah dilukiskan warna pelangi di sana, berbinar bak bintang yang mengelilingi bulan, menghiasi angkasa, menerangi gelapnya malam.
Ia memang lebih terlihat bahagia setelah mendapat tugas baru dari sahabatnya, untuk menjaga Alvis dengan baik. Meski dihatinya ada sedikit perasaan sesak, entah sesak karena pengkhianatan di masa lalu, atau sesak karena kematian Visha, yang jelas, hatinya tak lagi seperti dulu, saat dengan mudahnya ia menangis kala dibodohi, ditipu, dan dijatuhkan, dikhianati, dimaki, dan juga dibanting dengan sangat keras.
Namun sekarang dia terlihat berbeda. Ia tak menatap Alvis dengan tatapan seperti itu, ia tak melihat Alvis sebagai anak dari pengkhianat yang menghancurkan hidupnya. Kini dia terlihat lebih tegar, seolah semua yang dilaluinya sejak dahulu kala, telah menjadi pelajaran berarti bagi hidupnya.
Dan sekarang, ia akhirnya tahu, betapa menyenangkannya menjadi seorang pemaaf yang selalu dianggap lemah dan tak pernah melawan. Ia akhirnya bisa merasa bangga dengan julukan itu.
"Hum, baunya harum sekali, Alvis pasti akan menyukai kejutan dariku.." gumamnya sambil terus mengaduk masakan di dalam pancinya.
Ia bahkan melakukan semuanya dengan senang hati, seolah tak ada beban di dalam pikirannya, seolah semua yang telah terjadi bagaikan angin yang berlalu meninggalkan dirinya begitu saja.
Hidup dengan santai memang sangat nikmat..
"Ibu.. apa ibu bangun sangat pagi?"
Mendadak suara pria kecil yang baru saja turun dari arah tangga itu terdengar di kedua telinga Hana, membuat wanita yang baru saja mematikan api kompornya, akhirnya tersenyum lebar sambil menggapai tubuh putra angkatnya dengan penuh kehangatan.
"Sayangku, kau sudah bangun?" memeluk dan mendekatkan kepalanya di dada Alvis.
"Ibu, apa yang akan kita lakukan hari ini? sampai ibu masak sepagi ini? apa kita akan pergi ke taman kota lagi?" tanya pria kecil itu dengan sangat lesu.
Ia bahkan sudah bisa berbicara dengan sangat lancar di usianya yang akan menginjak angka lima tahun.
Tiga bulan yang lalu dia sudah mulai masuk Taman Kanak-kanak, dan dalam waktu yang cukup singkat, pria kecil itu seakan sudah berubah jadi lebih dewasa, ya, Hana sangat senang melihat pertumbuhan Alvis yang sedemikian membahagiakan hatinya.
"Ayo tebak, kemana ibu akan membawamu pergi!" ucap Hana masih pagi sudah mau main tebak kata.
"Memangnya kita mau kemana? apa kita akan berkunjung ke pusara ibu?" tanya Alvis seakan menunjukkan kerinduannya pada sosok ibunya juga.
Mendengar tebakan Alvis yang meleset, Hana akhirnya sedikit tersenyum kecut. Ia bahkan tak memasukkan riwayat kunjungan ke pusara Visha di agendanya, tapi anak ini malah memintanya.
"Hem, baiklah, apa kau mau kesana?" tanya wanita itu setelah lama berpikir.
"Iya, ibu, aku mau datang menemui ibuku, kasihan ibu, katamu ibu tidur sendirian di dalam tanah, apa aku bisa melihat ibu yang tidur di dalam tanah?!" tanya Alvis mungkin masih ingat ucapan Hana saat ditanya kemana Visha pergi, dan dia hanya menjawab kalau ibu Alvis itu sudah tertidur di bawah tanah.
Ia terpaksa mengatakan hal itu, karena dia tak tahu bagaimana menjelaskan soal kematian pada anak sekecil itu.
Alvis yang cerdas memang selalu banyak tanya soal ibunya. Anak itu bahkan selalu ingin tahu apakah ibunya akan segera kembali atau tidak, yah, untuk soal itu, Hana masih selalu menghindarinya meskipun Alvis selalu ingin tahu jawabannya.
"Baiklah, kalau kamu mau temui ibu, kita harus datang kesana, kita harus menemui ibu kamu, tapi setelah kita menemui ibu kamu, kita pergi ke tempat ayah kamu, dia juga pasti kangen sama kamu, kamu juga kangen kan sama ayah.." ucap Hana dengan senyum hangatnya.
"Asik! kita ke tempat ayah, ya, Bu, kalau begitu, Alvis akan mandi dan ganti baju yang tampan, biar ayah makin rindu sama Alvis nanti.." jawab pria kecil itu dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"Anak pintar!" menyentuh hidung Alvis dengan lembut, "baiklah, mari kita lihat, seperti apa kamu setelah bersiap-siap!" ucap Hana sedikit memberi dorongan pada Alvis untuk segera mengguyur tubuhnya.
"Baik, Bu, Alvis akan mandi yang bersih dan wangi, ibu tunggu, ya.." ucap anak itu dengan polosnya.
"Baiklah, ibu akan menunggu kamu di sini.." jawab Hana sambil mengulas senyuman di bibirnya lagi.
Anak itu dengan cepat pergi ke lantai atas, dan bersiap mandi dengan bantuan suster pribadinya. Dia sangat senang saat Hana mengatakan padanya akan menjumpai kedua orang tuanya. Maklum saja, Alvis tak akan pernah mengerti seperti apa takdir yang membuat ia harus terpisah dari kedua orang tuanya.
Anak itu masih sangat polos, bahkan jika Allianz juga merenggut nyawanya di malam itu, Alvis tentu saja tak akan menghindar ataupun menyelamatkan diri.
Hana terlihat bangkit dari posisinya, dan membuang nafasnya yang berat, seolah sejak tadi ditimpa dengan beban ratusan kilogram di dadanya.
Ia tak pernah bisa mengatakan semuanya pada Alvis, ia selalu menyembunyikan kenyataan yang terjadi pada kedua orang tuanya. Namun yang menjadi alasan untuknya adalah, ia tak mau Alvis membenci ayahnya karena kejadian naas yang menimpa mereka.
Ia tak akan pernah bisa melihat kebencian di mata Alvis untuk ayahnya, sama seperti kebenciannya pada Sam dan Syiana di masa lalu. Ia tak ingin Alvis tumbuh menjadi manusia seperti dirinya.
Ya Tuhan, tolong jaga dia dari rasa benci dan dendam, biarkan rahasia ini tak akan pernah dia ketahui, aku tak akan sanggup melihat kebencian itu di matanya, tak akan pernah..
...----------------...
"Aku tak habis pikir, kenapa Hana sampai mengadopsi anak Visha dan kakak hanya karena tidak tega, kalau bicara tidak tega, aku juga tidak akan pernah tega melihatnya, tapi aku sangat membenci kedua orang tuanya, bagaimana bisa Hana malah dengan mudahnya memaafkan mereka berdua?" wanita itu nampak mengomel tidak jelas pada suaminya yang sebenarnya tak bersalah sedikitpun.
"Sudahlah, Nai, itu bukan urusan kita, mau Hana angkat dia sebagai anak, atau tidak, itu urusan Hana, lagipula dia juga keponakan kamu, masa kamu tega, si, lihat dia terlantar di jalanan?!" tanya sang suami membuat istrinya tak bisa berkata-kata, "seharusnya malah kamu yang peduli sama Alvis, bukan Hana, secara hubungan darah kalian jauh lebih kental daripada antara Alvis dan Hana.." ucap Ardian sekali lagi membuat Naira memilih untuk diam.
"Apa aku yang kurang ajar?" tanya Naira setelah menghabiskan sekitar lima detik untuk berpikir.
"Kurang ajar bagaimana?" tanya Ardian pada istrinya.
"Sayang, semenjak anak itu hidup sendirian di rumah Hana, aku jarang menemuinya, aku masih kesal sama orang tuanya, jadi aku tidak pernah menjenguk dia.."
"Itu yang salah, kamu, kan, sudah dewasa, kamu sudah tahu mana yang pantas kamu benci, mana anak kecil polos yang tidak pantas kamu benci," ucap Ardian sangat bijaksana, "Alvis itu hanya anak kecil yang tidak tahu apapun soal masalah kedua orang tuanya dan kita semua, apa iya kamu memusuhi anak itu hanya karena dia anak kandung Allianz dan Visha? bodoh sekali kalau memang iya," ucap Ardian kali ini memang agak membuat hati Naira tersadar.
"Hem, betul itu!" jawab Ardian dengan singkat.
Wanita itu terlihat menggigit bibir bawahnya, sembari berpikir keras untuk hal yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Baiklah, sayang, terima kasih kau sudah membuka pintu hatiku," ucap Naira sambil meraih tas selempang miliknya di atas sofa.
Sang suami hanya bisa menatap tingkah konyol dari istrinya tanpa berkedip, hanya bisa kebingungan saja melihatnya.
Wanita itu pun mulai terlihat bangkit dari duduknya, dan kemudian mengecup pipi suaminya dengan mesra.
Cup!
"Aku pergi dulu, ya.. bye..." pamit Naira dengan kaki yang melaju berlari meninggalkan Ardian.
"Hei! kau mau kemana!? jangan mentang-mentang hari libur mau pergi keluar seharian, ya?!" pria itu berteriak, namun agaknya usahanya mengingatkan sang istri hanya sia-sia.
Wanita itu tak lagi mendengar ucapan suaminya. Wanita itu sudah terlanjur berlalu memasuki mobilnya, dan setelah itu segera saja mobilnya melesat pergi.
Slurp!
Ardian kemudian terlihat mulai menyeruput kopi miliknya di atas meja, sambil bersantai menikmati pagi yang indah di rumahnya.
"Hahh! ada-ada saja wanita itu, aku harus bersiap mendengar ocehannya nanti saat dia pulang, Tuhan, tolong bantu aku nanti..."
...----------------...
__ADS_1
"Baiklah, kamu sudah siap?" tanya Hana sambil merapikan baju putra angkatnya di teras rumah.
Sementara di halaman rumahnya, Zarren tengah berdiri dengan tegak menunggu kedatangan nyonya besar dan anak angkatnya itu untuk menuju ke mobilnya, bersiap mengantarkan mereka berdua kemana saja mereka pergi.
"He'em, aku sudah siap!" jawab Alvis nampak sangat bersemangat.
Hana yang menangkap jiwa bergairah dari putranya itu langsung tersenyum dengan sangat lebar, lalu mengelus pipi Alvis dengan sangat lembut.
"Anak ibu memang sangat hebat! kau rindu pada ayah dan ibu, ya, sampai rasanya bersemangat sekali.."
"Ibu, aku hanya ingin berkumpul dengan Ibu Visha dan Ayah Allianz seperti dulu, tapi sekarang, saat Alvis sudah bertemu dengan Ibu Hana, Alvis tidak lagi berpikir seperti itu, kata Ibu Hana, ayah tidak akan bebas dengan cepat, jadi aku pikir, akan sangat lama jika terus menunggu ayah keluar dari penjara! iya, kan, Bu?" mendadak raut wajahnya berubah sendu.
Dengan cepat Hana langsung mengelus pipi chubby milik Alvis, dan tersenyum lagi untuk yang ke sekian kalinya.
"Kau benar, akan sangat lama jika terus menunggu ayah kamu pulang, tapi selama dalam penantian itu, Alvis harus jadi anak yang baik, membanggakan kedua orang tua, supaya suatu hari nanti, saat Ayah Allianz sudah keluar dari penjara, Ayah Allianz akan sangat bangga pada Alvis, kau paham apa maksud ibu?" tanya Hana mencoba membuat hati Alvis kembali membaik.
Dan anak kecil itu menganggukkan kepalanya dengan cepat, kemudian mengulas senyuman di bibirnya yang manis.
"Iya, ibu, aku tahu, mulai sekarang, Alvis harus berlatih jadi anak yang baik, seperti kata ibu, supaya kelak, saat ayah sudah pulang, ayah jadi semakin bangga pada Alvis.."
"Anak pintar.."
Din... Din..
Suara klakson mobil.
Suara nyaring yang terdengar dari arah luar gerbang rumah Hana membuat dua orang di teras itu akhirnya terpaksa harus menoleh dan melihat siapa pula yang datang di saat akan melakukan pemberangkatan.
"Naira!!?" namun wajah Hana seolah dihiasi perak yang bertaburan kebahagiaan di sana, tatkala menatap sosok Naira di depan matanya, setelah sangat lama tak pernah lagi berkunjung ke rumahnya. Seperti dugaan Hana, Naira memang membenci Alvis, dan mungkin Naira juga akan membencinya.
Namun pemandangan aneh mulai terjadi. Wanita itu dengan cepat mencoba menuruni mobilnya di pinggir jalan, dan kemudian dua satpam rumah Hana membukakan pintu untuknya.
Wanita itu masuk ke dalam area rumah Hana yang sangat besar itu, lalu tanpa basa-basi langsung memeluk Hana dengan penuh rasa rindu.
Hap!
"Hana, aku rindu padamu, apa kau tidak merindukan aku?" tanya Naira pada Hana dengan tangan yang terus mendekap tubuh Hana.
Namun Hana makin lama makin merasa sesak. Wanita itu pun pada akhirnya, tegak mendorong tubuh Naira menjauh darinya.
"Aish, kau ini!? aku juga rindu, tapi jangan sampai kau membunuh aku dengan rasa rindu itu, kau mengerti?" Tanya Hana dengan mimik wajah kesal.
"Baiklah, baiklah," ucap Naira pasrah melepas pelukan pada tubuh Hana.
"Kenapa mendadak datang? pasti ada maunya, ini.." ucap Hana merasa curiga pada Naira.
"Aku hanya minta maaf, apa itu lucu?" tanya Naira dengan tingkah konyolnya.
"Eh? kalian ini mau kemana? kok, pergi tidak ajak-ajak? bagaimana kalau, Bibi juga ikut sama kalian?" tanya Naira memohon pada sepupunya.
"Sayang, apa kau mengizinkan bayi lain untuk satu mobil dengan kita?!"
"Hem, biar aku pikir-pikir dulu, ya, Bu.."
Aish!
Anak ini!
__ADS_1
...****************...