
Wanita itu terlihat keluar dari ruangan rapat sore harinya, pertemuan dengan beberapa dewan untuk acara perkenalannya, dan juga beberapa sambutan luar biasa untuk menyambutnya di dalam perusahaannya kembali.
Ia terlihat senang sekali, kebebasan yang terkekang selama lebih dari tiga tahun lamanya, dan kini dia akhirnya kembali bebas, kembali menghirup udara segar dengan penuh kedamaian.
Tak ada sedikit saja celah untuk orang-orang menggunjingkan kebenaran soal dirinya yang pernah membunuh orang dan juga mendekam dua setengah tahun di dalam penjara. Bukan tidak mustahil karena memang Ardian dan Naira yang membantunya menutup hal itu rapat-rapat dari pandangan publik, tidak boleh ada yang tahu sedikitpun tentang masalah ini, sekalipun mengetahuinya, tak ada yang boleh mempermasalahkan status mantan narapidana yang di genggam Hana selama ini, tidak boleh.
Wanita itu terlihat tersenyum di hadapan semua orang, menampilkan keramahan dan sikap hangatnya pada mereka semua.
Seorang direktur utama perusahaan memang sudah sepatutnya melakukan hal itu pada para bawahannya bukan? semua itu demi untuk menjaga reputasi dan nama baiknya di hadapan mereka semua, jangan sampai mereka bersikap rendah hanya karena takut pada jabatan yang tinggi, tapi Hana ingin melihat mereka bersikap rendah karena dirinya yang patut untuk di pandang.
"Sore, Bu.." Dan mereka pun tak lagi merasa canggung untuk menyapanya.
"Sore.."
Semua orang kini mulai memandangi dirinya penuh kekaguman, dan menghormati dirinya sebagai seorang atasan yang ramah, bukan atasan yang arogan atau pun sok ngatur.
Sepanjang perjalanan menuju ke mobilnya, setiap orang yang berpapasan dengannya semuanya terlihat menunduk dan memberi hormat padanya, entah kenapa dunia seolah sedang berbalik padanya, bukankah ini suatu kabar baik?
Blam!
Pintu mobil di tutup kembali usai Hana berhasil masuk ke dalamnya, dan kemudian bergegas saja dia pergi dari perusahaannya tersebut.
Ayah, ibu, kalian tak akan pernah mengira kalau perusahaan aku sudah sampai seperti ini, bahkan aku pun tak pernah tahu..
Terima kasih, Ardian, Naira kau telah memberikan segalanya untukku..
Ucapan terima kasih tak henti-hentinya Hana tujukan pada Ardian dan Naira yang telah membantu dia sebisa mungkin selama ini.
Ia tak tahu apa jadinya masa depannya kalau tiada mereka berdua di sampingnya untuk membantunya.
Sepanjang perjalanan, senyuman bahagia selalu merekah di bibir Hana yang sangat manis di imbangi lipstik merah merona yang melekat dengan khas.
Ia terus memandangi dunia luar, membayangkan betapa sialnya nasib dia selama tiga tahun terakhir, ouh, mungkin sudah lebih dari itu, mungkin sekitar hampir genap empat tahun dia mengalami semua ini.
Huhh!
Entah semua itu memang cobaan, atau mungkin karena hukuman, ia tak pernah tahu, yang pasti, sekarang Hana hanya bisa berucap syukur atas segalanya yang Tuhan kembalikan padanya.
Anugerah ini sungguh istimewa, dan dia tak akan mampu memungkiri Tuhan beserta takdirnya begitu adil di dalam kehidupannya. Di balik tangis penuh luka, pasti akan ada keajaiban di masa yang akan datang.
"Nyonya, saya lupa memberitahu, tadi Nyonya Naira menghubungi ponsel Nyonya, dan mengatakan sore ini ingin bertemu untuk kerja sama di butiknya, beliau meminta untuk bertemu sore ini." Ucap sang sopir di depan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kita temui dia dulu, ayo kita beli hadiah, aku punya hutang besar padanya, jadi mari buat hati Naira senang."
"Baik, Nyonya.."
Mobil di lakukan sedikit lebih cepat dari biasanya, sampai akhirnya tibalah mereka di sebuah toko perhiasan. Hana memilih untuk menyimpan tas dan ponsel miliknya di dalam mobil, ia hanya membawa dompet kecilnya saja dengan tangan.
Ia melangkah keluar dari mobil dan perlahan berjalan menuju ke arah toko perhiasan tersebut.
Lama sekali dia memilih, sampai akhirnya dia menemukan sebuah anting yang tepat sekali seperti keinginannya. Anak itu juga pasti akan suka.
"Mbak, yang ini saja," ucap Hana dengan ramah.
Pelayan toko terlihat mengambil anting dari genggaman Hana dan membuat kwitansi tanda bukti pembelian anting berlian tersebut.
Tak terlalu lama wanita itu menyelesaikan pembayaran, hanya sekitar sepuluh menitan, dan setelah itu, terlihat dengan jelas tubuh Hana yang berlalu dari tempat tersebut menuju kembali ke mobilnya.
Mobil pun kembali melaju meninggalkan tempat tersebut, menuju tempat pertemuan yang telah di janjikan.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Blam!!
Visha yang sejak tadi tengah di sibukkan dengan buku majalah di tangannya pun akhirnya memilih untuk bergeming dan melihat siapa yang datang.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Visha saat mendapati sang suami yang telah pulang dari kantornya.
"Arkh! ya, aku sudah pulang.." ucap Allianz sedikit lembut, tak seperti pagi tadi saat dia berpamitan pergi bekerja.
Visha tersenyum dengan manisnya di depan suaminya, berpikir kalau suaminya ini sudah baik-baik saja, ya, asalkan dia tak menambah masalah, seharusnya sikap suaminya akan jauh lebih baik dari sebelumnya, bukan?
"Kau mau aku pijit?" tawar Visha dengan ramah.
"Tepat sekali, aku memang ingin di pijit, bisakah kau memijit bagian bahuku? pegal sekali harus seharian menatap komputer." Ucap Allianz sambil memutar badannya membelakangi Visha.
Tanpa berbasa-basi, Visha dengan cekatan langsung memijit area yang di minta oleh sang suami padanya barusan.
"Memangnya ada apa? apa ada urusan yang sangat penting?" tanya Visha pada suaminya.
"Hahh! ada pesaing baru, menjual kosmetik yang harganya si lumayan mahal, tapi entah mengapa bisa bertumbuh pesat dan banyak peminatnya sejak dua bulan terakhir, dan kabarnya, mereka mengangkat CEO baru yang jauh lebih berprestasi di bidang kosmetik, kabarnya dia juga berkembang di dunia olah pangan, entah siapa musuhku selanjutnya!" jelas Allianz dengan kesal.
"Umm, baiklah, tidak apa-apa, bukankah slalu mendapat kemajuan setiap tahunnya? jadi masalah seperti ini, rasanya tidak terlalu sulit di dengar," ucap Visha mencoba menyemangati suaminya.
__ADS_1
Allianz menghadap ke arah istrinya yang tengah tersenyum dengan manisnya, dan di tataplah wajah Visha penuh kehangatan.
Entah apa yang telah terjadi pada pria ini, tapi rasanya sikap dia jauh lebih berbeda di banding pagi tadi saat dia memiliki sikap sedingin es, dan semenyeramkan monster.
"Terima kasih kau selalu mendukung aku, tidak bisa aku bayangkan kalau aku melalui semua ini seorang diri, apa kau tidak marah padaku saat aku memarahi kamu pagi ini?"
Wow! rupanya Allianz sadar akan sikap buruknya pada Visha pagi ini.
Visha terlihat menggeleng, tak lupa juga senyum manisnya yang indah bak buaya darat, semua itu adalah senjata yang ia miliki untuk meluluhkan hati Allianz.
"Aku tidak marah, aku justru merasa bersalah," ucap Visha dengan sedih.
"Kenapa kau merasa bersalah?" tanya Allianz sambil mengusap punggung tangan istrinya.
"Kau bercerai dengan Hana karena aku, jadi salahkan saja aku ini, telah memaksa kamu untuk menceraikan Hana, padahal aku tahu dia sangat mencintai kamu, dan kau pun juga masih mencintai dia.." ucap Visha memasang wajah penipu, berpura-pura sedih dan merasa menyesal, padahal sejujurnya, dia hanya sedang mencari muka saja.
"Tidak! ini semua bukan karena kamu, aku memang harus memilih kamu di banding dia, dengan dia aku tak punya tanggung jawab seorang anak, tapi denganmu, aku tak akan tega meninggalkan kamu dengan anakku," ucap Allianz penuh rayuan maut.
"Jadi, maksud kamu, jika tidak ada anak...." Visha tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Allianz menggeleng dengan cepat, karena bukan itu yang di maksudnya, Visha salah menangkap maksud hatinya.
"Bukan begitu, ada atau tidaknya anak, kau tetap yang terbaik untukku, maafkan aku yang masih merasa sedih atas perceraian aku dengan Hana, aku janji tidak akan pernah merasa sedih lagi, karena yang terpenting bagiku, kau masih ada di sini untukku.." ucap Allianz sambil menatap Visha dengan sangat lekat.
Senyuman terlukis di bibirnya Visha, menandakan wanita itu telah memaafkan Allianz, dan melupakan semua yang terjadi sejak kemarin.
Keduanya saling memeluk, di atas sofa, mereka saling mengulum senyuman, sampai akhirnya senyuman mereka beralih menjadi adu cium yang makin terlihat panas saja.
Keduanya tak bisa menahan hasrat yang telah lama tak terpenuhi, sejak liburan berakhir beberapa hari yang lalu, tak ada kehangatan atau keromantisan yang terjadi di antara mereka.
Seolah terdapat dinding penghalang yang membuat keduanya tak bisa menyatu, menjadi dingin dan tidak saling mengenal.
Tapi sekarang, tidak lagi, keduanya tengah asik menikmati indahnya memadu kasih di atas sofa ruang tengah.
Tak ada satu orang pun di dalam rumah, putra kecil mereka, Alvis, tengah di ajak jalan-jalan sore dengan beberapa susternya, di giring para pengawal.
Jadi mereka bisa melakukan semua yang mereka mau, termasuk meluapkan kerinduan mereka dengan tenang, tanpa gangguan dari siapapun.
"Uhm..."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1