
Terlihat dari jauh Ardian yang keluar dari mobilnya, dan mencoba menghalangi jalan Allianz keluar dari kantor polisi.
Dengan buru-buru, Allianz terlihat terus melangkah, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ardian, dia tak mau saja di sidang oleh pria ini.
Sebenarnya dia menang sedang sangat pusing untuk saat ini. Mengingat pernikahan yang baru saja dia lakukan dengan Visha siang tadi, lalu kemudian di timpa lagi dengan masalah Hana yang masuk penjara.
Semua itu membuat otaknya membeku, seolah terasa padat dan tak lagi bisa berpikir dengan jernih.
Ia ingin menjauhi semua orang yang mengganggunya, termasuk juga Ardian, justru anak itulah yang harus dia jauhi untuk sementara waktu ini, tapi entahlah, Ardian selalu saja punya celah untuk membuat dirinya berada dalam keadaan terpojok.
"Kau berusaha untuk lari dariku, All!?"
Benar saja, Ardian telah terlihat berada di depan wajahnya, tanpa menunggu waktu yang cukup lama.
Allianz terdiam membisu, dengan sesekali mencoba menyembunyikan wajah gugupnya yang teramat sangat.
Memangnya bagaimana dia akan menjelaskan soal video itu pada Ardian, atau mungkin dia akan membuka semuanya dengan terpaksa?
Arkh!
Entahlah!
Belum juga di sidang, hati Allianz sudah sangat was-was pada Ardian.
"Kenapa kau mencoba lari? bukankah kau tidak bersalah di sini?" tanya Ardian pada Allianz.
Allianz masih diam membisu, belum mampu menjawab satu demi satu pertanyaan dari Ardian untuknya.
"Jawab pertanyaan dariku, Allianz!" ucap Ardian terlihat memaksa.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Tak!
Ardian terlihat meletakkan gelas di atas meja restoran dua puluh empat jam dengan keras, begitu terkejut mendengar pernyataan dari Allianz barusan.
"Jadi kau sudah menikahi dia?" tanya Ardian dengan kesal.
__ADS_1
Dan dengan penuh penyesalan, Allianz menganggukkan kepalanya dengan lirih, "ya, aku sudah menikah dengannya siang tadi!"
Lagi-lagi ucapan dari Allianz itu mengejutkan Ardian. Bukan hanya soal pengkhianatan yang membuat dirinya murka, namun kali ini, Allianz bahkan telah mengatakan perihal pernikahan dia dengan Visha.
"Kau gila!" umpat Ardian dengan lirih.
Jika saja mereka tidak sedang berada di hadapan umum, mungkin Ardian akan menonjok muka pria ini, dan membanting tubuhnya sampai mati, hanya saja, dia tak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.
"Bagaimana kau akan menyelesaikan semuanya?"
"Aku hanya akan diam, karena Hana memang bersalah dalam kasus ini!!"
"Brengsek kau!" ucap Ardian kali ini terlihat begitu marah.
"Apa masalahnya? dia kan memang sudah jadi pembunuh, mana bisa aku menyelematkan dia dari tuduhan? kalau bukti dan saksi mata saja sudah lengkap!" ucap Allianz dengan amat bodohnya.
"Kau bahkan mengatakan kata jijik saat di depan wajahnya, tak ku sangka, ternyata kau jauh lebih menjijikan di banding Hana," ucap Ardian dengan kesal, "seharusnya kau melihat dirimu sendiri, lihatlah! kau bahkan meniduri wanita itu sebelum dia di lecehkan oleh Morgan! bisa-bisanya kau menganggap Hana amat menjijikkan!" sekarang amarah di wajahnya terlihat semakin memuncak.
Pria itu bahkan ingin sekali menampar wajah kakak ipar sekaligus sahabat karibnya yang telah di buat gila itu.
Huhh!
"Kau jauh lebih menjijikkan darinya, Allianz! kau jauh lebih hina di banding Hana, ingatlah, kata-kata dari mulutku, ingatlah! kau tidak sebaik Hana, dan kau tidak sebersih mutiara seperti Hana! kau hanya noda di kemeja putihnya, yang tidak mampu ia hapus meski kau telah mengotori hidupnya! sebelum semuanya terlambat, baiknya kau mengakhiri segalanya, kau tidak bisa terjerumus terlalu jauh di sini!"
"Aku tidak bisa, Visha juga belum memberikan aku keuntungan apapun, kau harus tahu, aku meniduri dia karena kesepian selama satu tahun, dan kami bertemu hingga saling menyalurkan kehangatan, dan sekarang, dia kembali datang saat Hana mengkhianati aku, jadi aku putuskan untuk menikah dengan Visha untuk membalas dendam." Ucap Allianz sungguh keji.
"Ck! ck! ck! aku bahkan tidak menyangka kau akan berpikir sedangkal ini! kau sungguh brengsek!"
Pak!!
Ardian meletakkan satu lembar uang seratus ribu rupiah di atas meja restoran, dan kemudian pergi saja meninggalkan Allianz yang masih duduk di meja restoran itu seorang diri.
Jari-jari Allianz terlihat mulai bergerak, mengetuk permukaan meja, kemudian terlihat melipir ke arah gelas berisi kopi dan menyambarnya.
Aku juga tidak tahu mengapa aku sampai seperti ini..
Benaknya berbicara, seolah baru sadar kalau dia tidak punya alasan lain untuk melakukan semua ini.
__ADS_1
Gluk!
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Esok harinya, tepat pada pukul sembilan pagi, sidang akhirnya di buka, sekitar satu jam persidangan yang mulanya akan langsung menjatuhkan vonis hukuman pada Hana.
Namun selang satu jam berlalu, semua orang di sana terlihat terkejut dengan perkataan Lu Lau'er di depan media, termasuk istrinya sendiri, Nyonya Mollie.
Wanita yang masih belum berhenti dari dukanya atas meninggalnya sang anak dengan cara tragis itu, harus kembali menelan pil pahit, setelah keputusan tak terduga menutup sidang vonis untuk Hana itu.
Wanita itu keluar sambil terus menutup mulutnya yang tengah bergetar, tak mampu memendam kekecewaan dan kesedihan atas keputusan yang telah di ambil.
Lu Lau'er dengan mengejutkan membuat sebuah keputusan sepihak, yang tanpa di ketahui lebih dulu oleh Mollie..
Terlihat kaki Mollie yang berjalan menuju mobil hitam miliknya, dan beberapa saat kemudian, di susul juga oleh suaminya.
Blam!
Pintu mobil di tutup, dan kini keduanya saling diam, tak bergeming sedikitpun. Tidak ada suara apapun yang keluar sepanjang perjalanan, suasana benar-benar amat hening.
Hingga akhirnya Mollie memulai untuk membuka perbincangan, ingin menanyakan satu hal yang sejak tadi menyesakkan bagian dadanya.
"Kenapa kau meringankan hukuman wanita itu?" tanya Mollie, tanpa menoleh sedikitpun.
Sejenak Lau'er terdiam, masih belum berniat untuk menjawab pertanyaan dari istrinya.
Hingga pada akhirnya, dia mencoba membuka mulut..
"Yang sudah mati biarlah mati, sekarang bukan saat yang tepat untuk mencari musuh!" jawab Lu Lau'er yang semakin membuat Mollie geram setengah mati.
"Apa? kau sungguh berkata demikian? kita kehilangan Morgan, aku yang menyaksikan sendiri bagaimana luka yang menghias tubuhnya, sakit sekali saat melihat wajahnya yang pucat karena enam peluru yang bersarang di dadanya! dan kau, kau bahkan memberi keringanan untuk wanita itu?"
"Anak kita juga bersalah, melecehkan wanita yang sudah bersuami! jadi begitulah nasib yang harus di terima!"
Mollie terus menggelengkan kepalanya, menolak dengan keras perkataan suaminya. Baginya, Hana tetaplah pelaku yang harus di hukum seberat-beratnya, dan tak bisa di ampuni. Hanya saja, sang suami malah memberi desakan untuk keringanan hukuman Hana.
Aku tidak menuntut dia untuk di hukum mati! karena anakku juga sudah melecehkan dia di rumah suaminya! jadi biarkan dia membayar denda dan beberapa tahun penjara saja, sudah cukup bagiku!!
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹