Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Surprise


__ADS_3

"Hai, sayang, kau sedang apa?" tanya sang suami yang kemudian langsung mengelus perut istrinya.


"Hai, aku sedang berbicara pada bayi kita, katanya kalau bayi di dalam kandungan itu harus sering di ajak bicara, jadi setelah lahir, dia akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan orang lain." Ucap Visha dengan lembut.


"Baguslah, itu memang benar, kau melakukannya dengan sangat baik.."


"Memang iya, kau pun harusnya tahu, kau kan mantan dokter ahli dulunya," ucap Visha pada sang suami.


"Aish! itu kan dulu, kalau sekarang, meskipun aku dulunya ahli, sekarang sudah beda cerita lagi.."


Allianz menyusul duduk di sofa, dan merangkul istrinya dengan mesra. Kedekatan mereka semakin memperlihatkan kasih sayang dan kehangatan dalam hubungan mereka.


Kedekatan dan kehangatan yang tidak pernah di rasakan oleh Hana sama sekali semenjak mereka tahu kalau Hana tidak lagi bisa hamil, dan kini, entah perasaan apa yang membuat Allianz begitu menyayangi Visha.


Mungkin memang karena dia yang teramat senang mengetahui istrinya hamil, dan tengah berjuang melahirkan anak kandung dari hasil tanam benihnya.


Berbeda dengan Hana yang hamil, tapi harus keguguran di usia muda, dan pada saat itu pun, ia tak pernah tahu istrinya tengah mengandung, karena dia harus di kirim ke luar kota untuk bertugas di sana.


Namun kali ini, bak surga yang selalu ia nantikan, kehadiran Visha, dan di tambah lagi calon bayi dalam perut istri keduanya, sungguh menumbuhkan benih-benih kebahagiaan seiring berjalannya waktu.


Ia tak lagi menampik, Visha memberi dia banyak kebahagiaan yang tidak bisa di berikan oleh Hana untuknya.


Maaf Hana, suami kamu ini mungkin telah membagi kasih dan cintanya untuk sahabat baikmu, ya, wanita yang kau anggap sebagai sahabat baikmu itu, nyatanya sekarang menjadi duri dalam rumah tangga kamu sendiri, dan sedihnya lagi, kau masih belum tahu akan semua itu.


"Mas?"


"Ya?"


Wajah Visha mendadak berubah sendu, ingin sekali dia meluapkan segala kegundahan di dalam hatinya pada pria ini, namun, waktu yang terus berjalan nyatanya malah membuat dia terus terdiam, hingga akhirnya kata-kata itu, kini ia coba untuk keluarkan, mencoba mencari kejelasan akan dirinya dan pria ini.


"Aku mau tanya sama kamu.."


"Memangnya kau mau tanya apa?" tanya Allianz sambil terus mengelus perut Visha yang sudah terlihat sedikit menonjol.


"Apa kau masih belum bisa mencintai aku?" tanya Visha pada mulanya ragu, namun ia terus mencoba untuk mengatakannya.


Mendengar pertanyaan dari Visha, pria itu sontak melepas sentuhan tangannya dari perut wanita itu.


Tubuhnya dia jauhkan dari Visha, dan ia condongkan ke depan, membentuk posisi yang sempurna di atas sofa.


Dalam diam dia berpikir, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk dirinya, dan juga untuk wanita ini. Berpikir apakah mungkin dia benar-benar sudah mencintai Visha, atau mungkin dia hanya menyayangi Visha karena anak yang ada di dalam kandungannya saja.


Arkh!


Ia sungguh tidak tahu, hanya bisa menerka perasaan dia yang aneh, dan hanya menangkap satu kata yang berhasil dia dapat, setelah pertarungan rumit di dalam otak dan perasaannya.


"Mas Allianz.. apa kau masih tidak ingin menjawab pertanyaan dariku?" tanya Visha sambil meraba pundak Allianz dengan lembut.


Allianz bergeming, menatap kedua mata Visha dengan tatapan yang dalam, dan kali ini, rasanya benar-benar terjebak antara dua wanita yang sulit.

__ADS_1


Dia barulah merasakan sosok Hana yang telah lama hilang, dan bodohnya lagi, dia sama sekali tidak peduli. Dia ingat ada Hana yang masih mendekam di dalam penjara, tapi dia masih bisa mengatakan kalau dia dendam pada istri pertamanya.


Senyum tersimpul dengan jelas di bibir Allianz, dengan tangan yang kembali mengelus perut Visha dengan lembut.


"Tentu saja aku mencintai kamu, kau pikir, kenapa aku bertahan sampai bisa sejauh ini? karena aku telah mencintaimu, mencintai kamu lebih dari apapun.."


"Benarkah? apa bisa lebih dari Hana?"


Jlger!


Dan pertanyaan kedua yang di lontarkan dari mulut Visha untuknya, sungguh membuat dia mematung tak bisa bergerak.


Dadanya bergemuruh hebat, apa lagi nafasnya, yang sudah semakin terasa panas, membakar jiwa dan perasaannya.


Pertanyaan jebakan, yang seharusnya dia tak jawab, namun sang istri terus menatapnya, seolah mendesak dirinya untuk berbicara, memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.


Apa yang harus aku katakan? apa mungkin dia akan kesal, saat aku bilang, aku juga masih mencintai Hana?


"Mas? kau tidak mau menjawab pertanyaan dariku lagi?"


"Visha, kau memberiku segalanya, juga memberi aku kebahagiaan, yang tidak mampu Hana berikan padaku dahulu, dan kekecewaan yang dia lakukan padaku, entah mengapa, aku tak bisa memaafkannya.."


"Tak bisa memaafkan dia, tidak berarti kau sudah tidak mencintai dia lagi, aku tahu kau masih mencintai Hana, tapi yang aku tanyakan bukan itu, apa kau mencintaiku lebih besar dari pada saat kau mencintai Hana?"


"Ya! tentu saja aku jauh lebih mencintai kamu, aku mencintai kamu karena kamu memberi aku kehangatan, memberi aku kenyamanan, dan kau selalu mengisi rumah ini dengan keceriaan, tidak seperti Hana, yang di setiap harinya, hanya memikirkan karir, dan juga uang, dingin sekali, kau berbeda darinya, kau wanita yang hangat, yang memeluk dan memberi aku sentuhan saat aku merasa kedinginan, karena itulah, aku mencintai kamu lebih dari aku mencintai dia..."


Kata-kata buaya saat tidak ada pilihan lain selain membuat istrinya merasa tersanjung.


"Asal kau tahu, aku lebih mencintai kamu di banding Hana, karena itulah, kau juga harus melakukan hal yang sama seperti aku..."


Keduanya berpelukan, saling tersenyum, meski senyuman yang terbersit di bibir mereka berbeda jauh.


Visha yang tersenyum puas karena berpikir telah memenangkan pertandingan ini, dan Allianz yang hanya bisa tersenyum kecut, mendapati dia yang terjebak antara dua keadaan yang sulit.


Mana bisa dia berkata tidak lagi mencintai Hana, sedangkan wanita itu adalah wanita pertama yang meluluhkan hatinya, berbeda dengan Visha, yang ia nikahi hanya karena paksaan, dan juga ancaman.


Entahlah, mungkin memang benar, dia mencintai wanita ini, karena wanita ini telah memberi dia kehangatan dan kenyamanan, juga membuat dia menjadi laki-laki sempurna, yang sedang mengharapkan kehadiran buah hatinya.


Ya!


Hanya bisa sebatas itu..


Tapi kalau untuk soal hati, percayalah, sejauh ini tidak ada wanita lain yang berhasil memikat hatinya kecuali Hana, hanya Hana, dan mungkin, selamanya hanya Hana.


Meski dia ingin sekali memberi hukuman, dan juga melampiaskan dendam amarah dan kecemburuan serta kekecewaannya pada Hana, namun dalam hati kecilnya, ia masih menyimpan perasaan cinta yang amat dalam untuk wanita itu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Blam!

__ADS_1


Pintu mobil Naira di tutup, usai wanita itu tiba di restoran miliknya, setelah sekitar dua jam lebih mereka melakukan perjalanan yang panjang.


"Leon, apa kau yakin tadi di kabari soal masalah di restoran? aku pikir semuanya normal-normal saja, tidak ada yang aneh.." Ucap Naira pada Leon setelah mendapati tidak ada keanehan di restoran miliknya.


"Sebaiknya anda periksa saja sendiri, Nyonya! saya tidak tahu apa yang terjadi, hanya mendapat kabar saja kalau Nyonya harus datang karena ada masalah di restoran anda.." Jawab Leon dengan sopan santunnya.


"Tapi aku tidak melihat ada yang aneh di restoran, atau kamu hanya sedang membohongi aku?" tanya Naira langsung menoleh pada Leon.


"Ah? ti-tidak, ti-tidak, Nyonya! mak-maksud aku..." Jawab Leon gelapagan.


"Aish! kau ini! aku hanya bercanda, lagi pula aku juga telah lama tidak main ke sini, aku hanya menyerahkan semua tugasnya pada asisten saja, jadi kalau pun tidak ada masalah, aku juga ingin menengok keadaan restoran ku!" ucap Naira sambil tersenyum.


"Huhh! selamat..." gumam Leon dengan lirih.


"Ya sudah, kau mau antar aku masuk atau tidak? aku mau masuk, kalau kau tidak lapar, ya tunggu saja di dalam mobil, kalau kau lapar, makan saja di dalam," ucap Naira sambil melangkahkan kakinya.


"Baik, Nyonya.." Ucap Leon sambil merunduk.


Langkah kaki Naira terlihat mantap masuk ke dalam restoran. Matanya di buat terkagum-kagum oleh perubahan yang terjadi di dalam restorannya yang entah mengapa terlihat lebih segar dan nyaman.


"Wah, apa memang begini kondisinya? terakhir kali aku datang ke sini, rasanya tidak seperti ini, apa memang tempat ini memang seperti ini?"


Huhh!


Beginilah kalau sultan, punya dia sendiri pun sudah lupa bagaimana kondisinya.


"Aish! apa aku yang terlalu lama tidak kemari, ya? setiap hari aku hanya menerima laporan saja, tanpa memastikan bagaimana tempatnya, mulai hari ini, sepertinya aku harus lebih sering datang ke tempat ini.."


Wanita itu masih saja terus bergumam sambil terus berjalan menuju ke dalam restoran.


Tapi wajah dia mulai terlihat curiga, semua yang dia lihat di depan matanya, entah mengapa seolah semua hiasan itu seperti mendadak di buat, atau mungkin ada seseorang yang sengaja menyewa restoran miliknya untuk memberi kejutan pada seseorang, atau mungkin, akan di gunakan untuk melamar seorang gadis?


Yah, karena dekorasinya mirip dengan suasana hangat dan romantis dalam sebuah pertunangan, jadi dia berpikir begitu..


Tapi, bukankah seharusnya kalau ada orang yang menyewa restoran, dia juga harus tahu, dan juga harus mendapat laporan? kenapa kali ini rasanya ada yang tidak beres?


Naira menjadi semakin bingung, sampai pada akhirnya, sebuah kejutan mendadak membuat dia terpaku, dan terdiam di tempat..


Dor!


Dor!


"Surprise!!!!"


Sebuket bunga besar mendadak muncul di hadapannya, membuat dia terkejut, sekaligus begitu senang mendapatkannya.


"Wahhh, ada apa ini?" tanya Naira semakin kebingungan.


Naira menerima satu buket bunga besar itu dengan kedua tangannya, lalu dari balik bunga tersebut, menyembul lah wajah seorang pria dengan senyuman tulusnya yang manis..

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku...."


,♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2