
Wanita itu akhirnya bangun setelah menangis sampai dua jam lebih di dalam ruangannya sendiri.
Ia memilih untuk menggapai ponselnya di atas meja dan menghubungi seseorang.
Bagaimanapun juga, masalah seperti ini harus segera dia selesaikan dengan cepat, atau semuanya akan jauh lebih menyulitkan hidupnya.
"Hallo?!"
"*Kenapa? sudah melihat pesan itu, ya? maaf, ya, Vish, tidak ada laki-laki yang setia di dunia ini, termasuk juga suami kamu*.."
Suara itu langsung terdengar dari seberang tatkala Visha menghubungi nomor tidak di kenal yang mengirim foto tersebut padanya.
Hatinya benar-benar marah, air matanya terbendung dengan sangat di kelopak matanya, menyebabkan sembab kembali terlihat dengan jelas di kedua kantungnya.
"Jika kau berani, mengapa tidak menemui aku saja?" ucap Visha dengan sangat berani, ya, meskipun mungkin hanya sekedar di bibirnya saja.
"*Ck! apa aku perlu mengirimkan sesuatu padamu? aku sedang sibuk, Vish! sibuk mengurus suami kamu yang sangat ahli bermain ini*.."
Brak!
Mendengar ucapan Sheila dari seberang, Visha jadi murka. Ia menggebrak meja kerjanya, hingga suaranya terdengar sampai ke telinga para karyawan di butiknya.
Amarah yang berkecamuk seolah telah menguasai hatinya dan juga pikirannya sekarang. Ucapan Sheila barusan memang membuat jantung di dalam dadanya bergemuruh dengan sangat hebat.
"Kau jangan macam-macam denganku! kau mau apa sebenarnya?"
"*Mau apa katamu? aku hanya mau suami kamu, kalau Erik memintaku untuk menjebak suami kamu, maka aku melakukan tugasku dengan penuh perasaan, membuat Allianz jatuh dalam pelukanku, kau tahu?! aku mendengar semua cerita tentang kamu dan Allianz yang sangat-sangat menyedihkan! baru aku tahu, kalau dia benar-benar menyesal telah menikahi kamu*.."
Dan lagi, wanita di seberang sana kembali membuat Visha geram setengah mati.
"Jangan buat aku marah, Sheila! kau jangan membuat rumah tanggaku jadi hancur gara-gara kemauan suami kamu!" sekarang air mata Visha telah berubah menjadi kemarahan yang luar biasa.
"*Kau masih tidak percaya? baiklah! aku beritahu kau, kami sedang asik berbulan madu di hotel, dia baru saja mendapat pekerjaan, dia ingin mengajakmu minum, tapi kau tidak bisa di hubungi, kami berjumpa di kafe saat jam makan siang, dan kau tahu apa yang sudah pasti aku lakukan saat melihat suami kamu kesepian? maka aku akan datang untuk menghangatkannya*.."
Deg!
Bip!
Visha tertegun, bahkan panggilan di matikan dari seberang pun tidak dia pedulikan. Sekarang hatinya sudah gelap gulita. Ia tak lagi mampu menahan semuanya dalam hatinya.
Dengan sangat nekad dia bergegas menyambar tas kecil mewah miliknya, dan kemudian berlari saja dia meninggalkan butiknya tanpa berpikir panjang.
Ia terlihat mulai keluar dari butiknya, dan menaiki mobilnya di area parkiran.
Tanpa berbasa-basi lagi, segera saja ia lajukan kendaraannya dengan sangat cepat, menuju ke sebuah tempat di mana ia mencurigai suaminya ada di sana.
Vroooooommmmmm
Di sepanjang perjalanan, dia selalu saja menangis, mengamuk pada kemudi mobil, memukulnya, meremasnya dengan sangat marah dan juga menjatuhkan air matanya di atas sana, menjadi saksi betapa hatinya yang hancur lebur bak gunung meletus menciptakan lahar panas dan abu vulkanik yang bisa menghancurkan siapa saja yang di laluinya.
*Apa kau sungguh setega itu padaku, All!? apa kau sungguh ingin menduakan aku dengan wanita lain? apa kau sampai setega itu menarik wanita ke dalam hotel, sedangkan aku bisa memuaskan kamu setiap hari dan setiap waktu kamu menginginkannya*?
Hiks hiks hiks..
Tangisnya semakin mendera saja, menciptakan suasana yang sangatlah menyedihkan pun juga menyakitkan.
Ia tak habis pikir bagaimana suaminya bisa setega itu mengkhianati dirinya, bagaimana suaminya bisa menghancurkan hatinya sampai remuk dan tak tertolong seperti ini.
Kini dia telah berada di depan hotel, dengan bangunan yang tinggi dan memiliki rating terbaik di kota.
Hotel yang sangat mahal, yang bisa saja menghabiskan uang dua puluh juta untuk satu malam. Ia biasa menempati hotel ini dengan suaminya dulu saat sebelum suaminya mengalami kehancuran.
Baginya dan Allianz biaya menginap di hotel ini amatlah murah pada saat itu, ia bahkan bisa menghabiskan waktu sampai satu Minggu hanya untuk menikmati pelayanan hotel terbaik di kota ini.
Saat dia memutuskan untuk turun dari mobilnya, dan kemudian di lanjutkan menutup pintu, awalnya dia tak yakin dengan semua ini. Suaminya sudah lama di PHK bukankah akan sangat sulit bagi Allianz untuk membayar hotel ini untuk semalam?
__ADS_1
Namun dengan keteguhan hatinya, Visha akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam sana dan mencoba untuk bertanya.
"Permisi, nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang pegawai menyadari Hana yang datang.
"Aku ingin tahu apa suamiku menyewa kamar di sini atau tidak!?" tanya Visha dengan sangat singkat.
Pria di meja resepsionis terlihat mengutak-atik sesuatu, sebelum akhirnya menemukan sebuah jawaban.
"Tidak, nyonya.." jawab pria itu.
"Tidak mungkin, dia baru saja mendaftar siang ini, coba kau lihat lagi daftar hadirnya.." ucap Hana masih tak yakin.
Si pria kembali memeriksa semuanya, namun hasilnya tetap saja nihil. Nama Allianz tidak tertera di sana.
"Tidak ada," jawab pria itu sambil menggelengkan kepalanya dengan kecewa.
Mendengar jawaban yang sama dari pria tersebut, Visha jadi sangat kecewa dan juga marah. Entah mengapa dia bahkan tidak mempercayai setiap ucapan yang terlontar dari mulut si pria itu.
"Tidak mungkin! kau pasti sedang berbohong, bukan?" tanya Visha menarik kerah kemeja pria itu dengan marah.
"Ti-tidak, Nyonya, di sini benar-benar tidak ada catatannya.." jawab si pria gelagapan.
"Aku tahu dia ada di sini! dia datang dengan seorang wanita bernama Sheila! jangan membohongi aku!" ucap Visha terus mengancam si pria itu.
"Tidak, aku tidak mungkin berbohong, penjaga!!!?" teriak laki-laki itu.
"Jangan mencoba mengelabui aku! kau akan menyesalinya nanti!" tegas Visha mengancam.
Sementara dua orang bertubuh kekar datang dari arah luar, mencoba menarik dan melerai tangan Visha yang terus saja mencengkeram kerah kemeja laki-laki di meja resepsionis itu.
"Lepaskan saya! saya tidak bersalah! saya sedang mencari suami saya yang selingkuh di hotel ini! dia datang dengan wanita bernama Sheila! kalian pasti sengaja menyembunyikannya dariku! kalian jangan paksa aku keluar!!!" wanita itu terus saja mengomel dengan lantang membuat semua mata tertuju ke arahnya, menjadi bahan tontonan menarik di hotel itu.
"Allianz!!! Sheila!!! kalian pasti akan aku tangkap!!!!! aku akan menemukan kalian!!!" teriak Visha lagi dengan sangat lantang, mungkin sampai terdengar di lantai paling ujung dari hotel ini.
"Keluar kalian!!!" ancam wanita itu lagi, seolah tak malu sudah jadi bahan tontonan semua orang.
Tak tak tak tak tak tak tak
Namun di tengah-tengah drama antara Visha yang di seret keluar oleh dua satpam penjaga di hotel tersebut, datanglah seorang laki-laki dengan langkah kaki tergesa-gesa dan juga sangat terburu-buru, mencoba mendekati Visha.
"Maaf, Pak! dia istri saya, tolong lepaskan dia pak!" pinta Allianz pada dua satpam yang tengah menahan Visha.
Semua orang menoleh, termasuk juga Visha yang di buat terkejut oleh wajah suaminya di sana.
Semuanya hanya bisa tertegun saja menyaksikan kedatangan Allianz di sana. Dua penjaga itu terlihat melepaskan cengkeraman tangan mereka di lengan Visha, dan kemudian meninggalkan Visha bersama suaminya.
Sama seperti yang di lakukan dua penjaga tersebut, orang lain yang pada mulanya berniat menonton acara pengusiran Visha dari hotel tersebut pun akhirnya memilih kembali berlalu lalang dan mengacuhkan kedatangan Allianz di sana.
..............
Plak!!
"Arkh!" pekik Visha.
Tamparan keras melayang di pipi Visha saat mereka berdua telah tiba di rumah mereka pada saat itu.
Sekarang tangis Visha kembali meronta, melihat wajah merah padam milik suaminya kembali terpampang dengan jelas dan sangat nyata di depannya.
Ia tahu ia pasti akan langsung di lahap mentah-mentah oleh suaminya sendiri. Tapi mengapa dia masih saja tidak bisa melawan saat tahu dia pasti akan segera di habisi?
"Buat malu!" umpat Allianz dengan sangat murka, "kenapa kau bisa berpikir aku ada di hotel itu? dengan Sheila pula? dasar tidak punya otak!!"
Deg!
Mendengar satu bait kalimat terkahir di antara beberapa kata yang di ucapkan oleh Allianz membuat Visha memerah. Matanya membulat dengan sangat sempurna merasa terkejut dengan ucapan yang baru saja terlibat dari mulut Allianz.
__ADS_1
"Apa katamu? aku tidak punya otak? bukannya kamu yang tidak punya otak? kamu sendiri yang ajak wanita lain menginap di hotel, jujur saja, tak perlu menyembunyikan apapun dariku lagi! kau berhubungan dengan Sheila, bukan?" cecar Visha pada suaminya.
"Omong kosong!" jawab Allianz dengan singkat.
Ya, sejujurnya dia tak pernah tahu bagaimana Visha bisa mengatakan semua itu. Padahal sebelumnya dia memang bertemu dengan orang penting di hotel itu. Ia bahkan tak pernah menduga Visha akan berpikir kalau dia menduakan dan mengkhianati Visha sampai seperti itu.
"Aku ke sana karena mau wawancara kerja! dan untungnya saat kejadian kamu teriak-teriak seperti itu aku masih ada di sana, coba kalau tidak, bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya padamu?! kalau hanya seperti ini saja kau sudah marah!"
"Tapi kenapa kamu bisa sama Sheila? kenapa dia bisa tahu kamu ada di hotel? kamu pasti hanya menggunakan berbagai macam alasan untuk bisa berdua dengan Sheila di sana, iya, kan?"
Aish! wanita itu benar-benar sudah tidak bisa di kontrol lagi emosinya, semuanya meledak-ledak bagaikan bom yang bisa menghancurkan apa saja kalau sampai meledak.
"Ck! rupanya kau berpikir seperti itu, ya? aku ini datang ke sana hanya wawancara kerja saja, selebihnya, apa lagi tentang Sheila itu, aku sama sekali tidak tahu apapun!"
Mendengar perkataan dari Allianz barusan, bukannya membuat dia percaya, malah semakin membuat dia merasa di bohongi.
Ia pun memilih untuk menggapai ponsel di dalam tas kecil miliknya, lalu menunjukkan potret mesra yang di kirim Sheila padanya beberapa saat yang lalu.
"Lalu apa ini? kamu bisa jelaskan maksud foto ini apa?" tanya Visha masih mencecar suaminya saja.
Allianz melihat dengan seksama foto di depan matanya, tepatnya terpasang dengan jelas di layar ponsel Visha yang mahal.
"Ck! sial!" umpat laki-laki itu saat melihat apa yang di tunjukkan Visha padanya.
"Kau masih mau mengelak? aku sudah punya buktinya, kau ternyata sudah bermain api di belakang aku!" ucap Visha penuh dengan kekecewaan di dalam hatinya.
"Vish, aku di jebak! dia sudah jebak aku!"
"Entah kau yang di jebak, atau aku yang sedang di bodohi, aku tidak tahu! tapi kau! kau sudah melakukan semua ini di belakang aku? apa kau sungguh manusia yang tidak bisa hidup dengan satu wanita saja?"
"Vish, aku ini di jebak, ini semua pasti karena si Erik! dia pasti yang sudah melakukan semua ini padaku! dia pasti yang merencanakan hal ini dengan istrinya untuk menghancurkan rumah tangga kita berdua!!"
"Tapi aku tak yakin! mungkin saja memang kau yang menyembunyikan sesuatu dariku selama ini!" jawab Visha sambil menggelengkan kepalanya, merasa tak yakin dengan penjelasan dari suaminya itu, "rahasia apa lagi yang kau sembunyikan dariku selama ini? atau mungkin, kau menyembunyikan banyak rahasia di belakang aku? termasuk...." berhenti berbicara, "masih menyimpan perasaan cinta untuk Hana?"
Mata Allianz langsung menatap dengan sangat dalam dua netra Visha dengan penuh kekesalan yang luar biasa.
"Atau jangan-jangan, kau menikahi aku juga karena pelarian, dan sekarang kau malah melampiaskan semua kekesalan kamu pada istri Erik itu? sudah pernahkah kau berpikir betapa kau telah menghancurkan hati berapa wanita?"
"Asal kau tahu saja, Vish! aku tidak pernah melakukan semua yang kau tuduhkan padaku!" ucap Allianz dengan sangat tegar.
"Lalu apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku? apa kau tidak mempercayai aku sebagai istri kamu sampai rahasia sebesar apapun kau sembunyikan dariku?" sekarang wanita itu terlihat sedikit putus asa.
Sejenak Allianz terdiam dan menenangkan hatinya yang kesal di penuhi oleh marah.
Ia menatap dengan lekat dua mata Visha yang masih saja tajam menatap ke arahnya.
"Satu-satunya rahasia yang aku miliki adalah, aku tak punya rahasia!!!"
Dan hanya jawaban itulah yang mampu mengantarkan Visha pada posisi diam dan tidak sanggup lagi untuk menjawab.
Suaminya bahkan kini terlihat kembali keluar dari rumah mereka berdua, membawa mobil Visha, dan pergi entah kemana, mungkin malam ini pria itu tidak lagi pulang.
Kini terduduk lah Visha di lantai rumahnya yang sudah sedingin es. Ia bahkan ambruk dan menangis lagi di sana, seluruh ruangan di dalam rumahnya seakan penuh di banjiri air matanya yang sudah keluar saja sejak pagi tadi.
Sekarang semuanya terasa sangat dingin. Dia yang hanya bisa menangis dan meratapi keadaan, dan suaminya yang terus saja pergi dari rumah, lalu pulang dalam keadaan tidak sadar.
Semua yang dia alami sungguh membuat hatinya menangis, seakan menyesali semua yang telah berlalu. Sejenak dia berpikir apa mungkin Hana dahulu kala juga merasa sesakit ini saat harus berhadapan dengan Allianz?
Ya, rasanya memang sangat sakit, mungkin Tuhan tengah mengirimkan balasan baginya atas semua yang telah dia lakukan pada sahabatnya di masa lalu.
Maka selamat menikmati cerita hidupmu yang menyedihkan kelak di masa depan, Vish!
Semoga kau beruntung dalam permainan ini!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1