Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Cara Hana


__ADS_3

"Sudah cukup kau menyalahkan aku atas kesalahan kamu sendiri?!" teriak Visha penuh amarah.


"Lalu apa kau sudah puas menumpahkan kesalahan kamu padaku?! dasar hina! kau yang datang merebut suamiku dan menyingkirkan aku dengan menyebut aku hina, wanita cacat, dan juga jelek! kau mengatai aku buluk! punya tampang miskin, dan tidak oantas berdiri di samping Allianz!!" ucap Hana membalas dengan brutal, "tapi lihat dirimu sekarang! kau merasa ketakutan dan cemas aku akan merebut suami kamu dengan tampangku yang jelek! dengan penampilanku yang buluk serta miskin! apa kau masih menakutkan wanita hina seperti aku?!" dia benar-benar emosi.


Dadanya bergemuruh dengan cepat, melantunkan irama yang di penuhi amarah memuncak, sekujur tubuhnya panas meleleh bak lava pijar yang di sebabkan oleh letusan gunung berapi.


Ucapan Visha barusan sungguh menyakiti hati dan perasaannya, tapi sekarang, wanita itu bahkan tak merasakan betapa hinanya dia selama ini. Visha masih saja berdiri dengan kokoh di depan Hana, mencaci maki Hana, dan menjatuhkan Hana di depan umum.


Sementara itu, Allianz malah terdiam. Ia berdiri tegak menjadi patung dengan tubuh gemetar luar biasa, seakan bisa saja roboh tak kuat menanggung sebuah beban yang kini membuat tubuh dan pikirannya terasa begitu berat.


"Kenapa kau diam?" tanya Hana dengan tegas, "kenapa kau tidak menjawab apapun dariku?" tanya Hana sekali lagi.


"Kau merasa aku hina!? tapi saat kau permalukan aku di depan umum, aku tidak gentar sekalipun, tapi kamu!? lihatlah dirimu! kau bahkan hampir tumbang hanya dengan kata-kata pengkhianatan yang aku ucapkan di depan wajahmu, kalau sudah begitu, maka bisa kau lihat sendiri, pantaskah kau mengatakan aku hina dan juga menjijikan jika dirimu saja masih pantas aku sebut pengkhianat yang memalukan?!" sekarang emosi Hana tak dapat di redam lagi.


Amarah yang telah terlanjur memuncak membuat dia tak bisa mengendalikan dirinya. Ia menatapi wajah Visha yang masih saja belum merasa malu dengan beberapa bait kalimat yang Hana lontarkan.


Sekarang Hana jadi tahu, betapa tebalnya muka Visha ini. Wanita itu bahkan tak berkutik sedikitpun saat Hana menjatuhkan Visha bertubi-tubi.


Bak harimau yang garang, salah atau tidak salah, tetap harus dia yang menang. Visha bahkan tak segan kembali mendekat ke arah Hana, dan kemudian menciptakan kegaduhan yang lebih parah lagi.


"Dengar, ya, Hana... jangan karena dirimu sekarang jauh lebih tinggi dari pada kami, lalu kau dengan kesombongan kamu berusaha menjatuhkan kami berdua, membuat kami malu dengan memasukkan Allianz dalam perusahaan kamu, sebagai karyawan yang harus panas terik di lapangan!!" ucap Visha dengan geram, "kamu tidak akan pernah bisa meruntuhkan rumah tangga kami!!"


"Memangnya siapa yang akan menjatuhkan rumah tangga kalian? siapa juga yang dendam dan ingin menjatuhkan kalian berdua!? bagiku balas dendam pada kalian, hanya membuang waktuku yang berharga saja! tidak ada waktu buatku untuk mengurus orang-orang yang tidak berguna semacam kalian!"


Begitulah ucapan Hana sebelum akhirnya dia memilih untuk beranjak pergi, dan berusaha meninggalkan mereka semua di sana.


Zarren terlihat menunduk kepadanya, memberi salam hormat pada sang nyonya, namun pada detik berikutnya, semuanya menjadi sangat kacau.


Visha yang semula diam tak bisa menjawab apapun, kini mulai terlihat geram. Ia mengepalkan kedua tangannya, dan dengan cepat bergerak mendekati Hana, lalu menarik rambut Hana ke belakang, menjambak dengan sekuat tenaga, hingga terlihat kepala Hana yang juga ikut tertarik ke belakang.


"Kau mau pergi kemana?!!"


"Arkh!?" pekik Hana membuat semua orang kembali mendekat, tak tertinggal pula Allianz dan Zarren yang mencoba melerai pertengkaran keduanya.


"Lepaskan aku!!"


"Tidak akan! tidak akan aku lepaskan kecoa seperti kamu!!"


"Visha jangan gila kamu!! lepaskan dia!! Vish!!" ucap Allianz mencoba melerai keduanya.


Tak berbeda jauh dari Allianz yang mencoba melerai keduanya, Zarren pun ikut menimbrung ke dalamnya, mencoba melepaskan jeratan tangan Visha di rambut Hana yang sebatas baju itu.


"Kau mau aku lepaskan? mimpi saja kau! akan aku botakin kepala kamu itu!!!" ucap Visha semakin terlihat emosi.


"Visha stop!!?" Allianz terus mencoba mencegah istrinya untuk berbuat lebih jauh lagi.


Dan akhirnya setelah perjuangan keras Zarren dan Allianz mencoba melepaskan tangan Visha dari rambut Hana, pertengkaran mereka pun akhirnya bisa di lerai.


"Kau membela dia?!" tanya Visha dengan wajah kesalnya pada sang suami.


"Dasar gila! kau mau membunuh dia?!" tanya Allianz membentak istrinya sendiri.


Di sisi lain, Zarren tengah membantu Hana merapikan rambutnya dan mencoba melindungi Hana dari serangan yang bisa saja terjadi kapanpun itu.


"Apa yang kau lakukan? aku harus membuat perhitungan sama dia!!!" ucap Visha masih mencoba menyerang Hana.


"Visha cukup!!" cegat suaminya dengan sangat tegas.


Visha terkejut. Dia mendengar bentakan dari suaminya untuk pertama kalinya seumur empat tahun mereka menjalani hidup sebagai pasangan suami istri.

__ADS_1


Dan itu semua masih karena Hana.


Wanita itu menatap dengan nanar wajah suaminya yang terlihat sangat bengis pun kejam. Ia tatapi wajah Allianz yang seolah ingin sekali membunuhnya, dan memasukkannya ke dalam jurang kematian.


"Apa?" tanya Visha dengan lirih, "kau membentak aku hanya karena dia?" dia masih bertanya dengan nada lirih.


Allianz masih terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan dari istrinya meski hanya untuk satu patah kata saja.


Dia memaku di lantai restoran yang sekarang terasa begitu panas. Mungkin energi kemarahannya tersalur di lantai ini juga, jingga terasa semuanya begitu memanas.


"Kau membentak aku hanya untuk dia? apa kau masih mencintainya? apa kau membela dia hanya karena dia kaya? hanya karena dia yang telah berubah menjadi cantik?!" tanya Visha sambil terus memukul dada bidang milik suaminya.


Namun suaminya masih saja membeku di sana, mematung layaknya manekin yang tidak bisa bergerak kemanapun dia mau.


Buk!


Buk!


Buk!!


Tangan Visha berulang kali memukul suaminya, sampai mengapa rasanya tak tahan juga mencoba berdiri tegak seperti ini, sementara di depan matanya, ada sosok wanita yang tengah membuat dirinya malu sampai ujung kuku.


"Jelaskan padaku kenapa kau melakukan semua ini? kenapa kau malah membela dia dan malah membentak aku? istrimu sendiri? apa benar dugaan aku, kau masih mencintai dia? apa benar begitu?!" tanya Visha menjatuhkan pertanyaan bertubi-tubi pada suaminya, "hah?!"


Sudah mulai merasa geram dengan tingkah istrinya yang sangat memalukan, Allianz akhirnya mulai bergerak melawan. Ia tak mau harga dirinya malah di jatuhkan oleh istrinya sendiri.


Tangannya melepaskan diri dari kepalan eratnya, lalu beralih menahan tangan Visha yang sejak tadi terus saja memukulnya tanpa ampun.


"Dengarkan aku!!" ucap Allianz mengalahkan tindakan istrinya.


"Aku benar-benar membenci wanita yang membuat onar! lebih baik kita pulang sekarang juga!!" ucap Allianz dengan lirih sambil mencoba untuk melarak istrinya keluar dari kerumunan.


"Tidak mau! aku tidak mau pergi! aku akan menghabisi dia! aku akan mempermalukan dia!!" ucap Visha menolak ajakan suaminya untuk segera pergi.


Namun sang suami tak menggubris ucapan penolakan dia sama sekali. Allianz tetap saja melarak paksa tangan istrinya mencoba untuk segera keluar dari tempat pertunjukkan drama itu.


Dengan paksaan yang terus saja di lakukan oleh Allianz, sepasang suami istri itu akhirnya pergi meninggalkan restoran dan juga Hana di sana menggunakan mobil Visha.


Mereka pergi dengan raut wajah yang merah padam, sudah bisa di pastikan keduanya akan mengalami pertengkaran hebat sepanjang sejarah pertengkaran mereka.


Sementara itu, Hana terlihat mencoba menegarkan dirinya. Ia terus mengusap dadanya yang terasa amat sesak. Rupanya kejadian barusan sudah sampai di ponselnya, dan menjadi bahan perbincangan netizen, dan berhasil menjadi berita viral nomor satu di jagat Maya.


Ia semakin tertegun saja. Ia terdiam sambil terus mengusap dadanya mencoba untuk tetap tenang.


"Nyonya, kita pulang sekarang.." ucap Zarren sambil terus melindungi nyonya besarnya.


"Tidak, masih ada meeting perusahaan.."


"Nyonya, pikirkan juga perasaan Nyonya! kita pulang! soal pekerjaan di kantor, akan aku minta Tuan Axel untuk mengurusnya!" ucap Zarren untuk pertama kalinya menolak ajakan sang Nyonya besar.


Mendengar saran terbaik dari Zarren, Hana akhirnya mengalah pasrah. Dia anggukkan saja kepalanya mengiyakan perkataan Zarren. Pulanglah dia dengan di papah oleh Zarren menuju ke dalam mobil, dan bergegas saja mereka pergi dari sana.


Alhasil, acara sarapan pagi pun akhirnya gagal total!


...----------------...


Brakk!!


"Arkh!!" pekik Visha sesaat setelah tubuhnya di banting jatuh mengenai meja tamunya.

__ADS_1


"Kau sukanya membuat malu!!" ucap Allianz dengan wajah kesalnya.


Di depan sana, para pelayan hanya bisa terdiam sambil menatapi tubuh Nyonya mereka yang di hempaskan dan di benturkan saja di meja, seolah tak peduli tubuh Hana bisa saja terluka parah karenanya.


"Asal kau tahu saja! inilah yang membuat aku tidak menyukaimu! kau selalu bertindak bodoh dan memalukan! kau menjelekkan Hana di depan semua orang berpikir bahwa aku telah mencintaimu dan aku kembali tergiur dengan wanita lain selain kamu!! cih!!"


Jeder!!!


Mendengar perkataan Allianz barusan, Visha jadi tertegun. Ia terdiam dengan durasi waktu yang cukup lama.


*Kau menjelekkan Hana di depan semua orang berpikir bahwa aku telah mencintaimu*...


Apa maksud perkataan Allianz barusan? *berpikir bahwa aku telah mencintaimu*..


Bukankah selama ini dia memang mencintai Visha?


"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Visha dengan tubuh yang sangat gemetar tak bisa di kendalikan, "apa maksud kamu mengatakan hal seperti itu?" Visha semakin mencecar Allianz dengan pertanyaan yang sangat menyudutkan.


"Sial!"


Umpat Allianz sesaat setelah menyadari mulutnya keceplosan di hadapan istrinya.


"Jelaskan padaku, Mas!!! apa kau benar masih mencintai mantan istri kamu itu? apa kau memang masih belum mencintai aku sebagai istrimu???" dia sangat tegas dalam mempertanyakan perasaan Allianz yang sebenarnya.


Visha bangkit dari jatuhnya, mencoba menjadi wanita tegar dan mencoba menjelaskan semua yang masih serba buram di dalam rumah tangganya.


"Apa kau masih mencintai mantan istri kamu? mantan istri kamu itu?" tanya Visha lagi, namun kali ini agak lirih.


Allianz tak mengatakan apapun. Dia hanya terdiam menampilkan ekspresi yang telah mewakilkan dan menjelaskan semua pertanyaan dari istrinya, membuat istrinya mengangguk penuh arti.


"Bodohnya aku.." gumam Visha dengan lirih, menyadari semua warna abu-abu yang telah berubah menjadi lebih terang dan perlahan mulai menampilkan cahaya terang bak matahari terbit di ufuk timur.


"Manusia memang bisa mengalami jatuh cinta sampai berulang kali," ucap Visha dengan nada standar, "tapi benar kata pepatah, cinta pertama jauh lebih berkesan meskipun setelah menikah," dia kemudian menoleh ke arah suaminya, menatap Allianz dengan terus mencoba memendam amarahnya, "dan aku melihatnya ada pada dirimu dan juga aku.."


Mata Allianz di penuhi sorot penyesalan. Menyesal telah menggantung perasaan antara dirinya dengan dua orang wanita yang pada akhirnya, kedua-duanya sama-sama harus dia kecewakan.


"Aku minta maaf..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hana apa kau sedang bercanda? rambut kamu rontok banyak sekali karena di jambak wanita gila itu!" ucap Naira sambil mencoba membereskan Hana dari kekacauan.


Wanita itu kini telah tiba di rumah Hana, menemani Hana yang sedang tidak karuan, dan mencoba membantu Hana membereskan dirinya.


"Lain kali akan aku buat dia malu! kenapa kau diam saja, si? kenapa kamu tidak melawan saat dia menjambak rambut kamu!? sekali-kali kamu coba lawan dia! kamu tarik kembali rambutnya! jangan kamu terus yang di sakiti! dia juga harus terima ganjaran yang setimpal atas perbuatannya! kamu sudah cukup mengalah selama ini, tapi lihat saja dia! dia bahkan jauh lebih berani saat kamu memilih diam dan tidak peduli!!"


Naira langsung bergerak menuju ke rumah Hana saat dia melihat berita viral tentang pertengkaran Hana dan Visha di restoran.


Ia memang menjadi sahabat paling peduli sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ia bahkan jauh lebih baik bila di bandingkan dengan Visha, yang menusuk Hana dari belakang.


"Sudahlah, Nai, aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir, kau pun tahu aku bisa melalui semua ini, aku selalu berhasil bangkit dari kesusahanku.." jawab Hana sedikit menenangkan Naira, "lagi pula mengurus orang seperti mereka tidak ada gunanya untukku, aku tidak suka membuang waktuku hanya untuk mereka berdua.."


"Terserah kau saja! hatimu memang terlalu baik, aku tidak bisa mempengaruhi kamu sama sekali!" ucap Naira dengan kesal, berujung menghentikan aktivitasnya mengambil beberapa rambut Hana yang berhasil tercabut dari kulit kepalanya.


"Nai, kau tahu? terkadang manusia yang memulai sebuah permainan, maka dia sendiri yang akan mengakhirinya, aku pun sama, aku yang sedang di permainkan di sini, maka pilihanku hanya diam dan mengikuti permainan mereka, setelah bosan, mereka pasti akan mengakhiri permainan mereka sendiri dengan cara yang sudah Tuhan tuliskan dalam takdirnya.." ucap Hana kali ini memang sangat bijak, "bukannya aku wanita yang lemah, tapi bagiku mengalah adalah cara terbaik untukku menghadapi masalah.."


Ia memang punya cara sendiri untuk berjalan dengan caranya. Ia tak mau mengotori kedua tangannya dengan melumpuhkan lawan yang baginya sama sekali tidak penting.


Kini Naira pun hanya diam membisu. Kata-kata yang keluar dari mulut Hana memang selalu terdengar dewasa dan bijak, jadi apa lagi yang harus di katakan sekarang? jika Hana sudah punya keputusan sendiri, maka tidak ada lagi yang bisa merubah keputusannya.

__ADS_1


Ya, begitulah sosok Hana..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2