Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Hana Yang Sedikit Kacau


__ADS_3

Wanita itu tengah berusaha menghabiskan satu gelas minuman di atas meja, yang tidak sengaja dia temukan di dalam almari milik Allianz.


Gluk!


Gluk!


Gluk!


Dan dalam beberapa tegukan saja, minuman dalam gelasnya habis tak lagi tersisa.


Tak!


Dia meletakkan gelas kosong itu di permukaan meja yang mengkilat, lalu akhirnya mulai di buat runyam oleh pemikirannya.


"Di mana aku bisa menemukan kamu, Vish?! ada hal yang aneh dari dirimu, pasti kau yang telah menulis surat itu untuk Morgan, tapi apa gunanya kamu melakukan semua itu? apa maksud kamu menulis surat itu untuk Morgan, dan meminta pria itu untuk datang menjemput!?"


Dia berbicara seorang diri, dan kemudian terlihat terduduk di atas kursi meja makannya.


"Hahh! bagaimana aku akan mengatasi Morgan? pria itu sudah datang kemari, bagaimana kalau tiba-tiba dia datang, dan membuat masalah dengan Allianz?"


Mendadak ponselnya berdering dengan nyaring. Ada seseorang yang mencoba menghubunginya di sana.


Dia melihat ke layar, dan mendapati nama Naira di bagian atas ponselnya.


"Anak ini.."


Bip!


Dia menekan tombolnya, dan kemudian terjadilah perbincangan dengan Naira di sana.


"Hallo," sapa Hana untuk memulai.


"Hallo, Hana, kau sedang di rumah sekarang?"


Tanya Naira pada wanita itu.


"Ya, aku sedang berada di rumah, ada apa memangnya?!"


"Kau masih butuh bantuan dariku tidak? aku sudah menghubungi temanku, dia punya deretan toko yang sudah habis masa sewanya, katanya si daerahnya cukup ramai, kau mau pergi untuk memastikannya?"


Wanita di seberang terdengar sangat ramah.


"Oh, benarkah? baiklah, aku akan memastikannya, di mana kita akan bertemu?" tanya Hana pada adik iparnya.


"Aku yang akan datang ke rumah kamu, kau tunggu saja di rumah."


"Baiklah, aku akan menunggu kamu," jawab Hana dengan senang.

__ADS_1


"Oke, bye!"


"Bye!"


Bip!


Dia terlihat lebih senang dari sebelumnya. Pemikiran rumit tentang Visha yang terus berada di otaknya memang membuat dia beku.


Namun kabar gembira ini bisa membuat runyam dalam otaknya sedikit berkurang. Iya, setidaknya dia tidak tegang melulu memikirkan masalah.


"Zhoulin!?" dia memanggil pitra kecilnya yang sedang berada dalam kamar bersama suster.


Hana terlihat mulai berjalan menuju kamar Zhoulin, dan melihat pria kecil itu sedang asik dengan mainannya.


"Ya, Nyonya? anda memanggil Tuan Muda?!" tanya sang suster dengan hormat.


"Tidak apa-apa, aku hanya memastikan putraku baik-baik saja, aku akan pergi, mencari toko untuk aku sewa, tolong jaga Zhoulin untukku." Ucap Hana pada suster itu.


"Baik, Nyonya!" sang suster terlihat membungkuk memberi hormat.


Iya, dua pelayan dan dua pemuda yang bekerja pada Allianz memang masih mendapat gaji dari Ardian.


Anak itu, saking terlalu kaya nya, dia bahkan tidak segan-segan memberikan tips yang lumayan pada ke empat orang itu, asalkan masih mau bekerja di rumah Allianz.


Tapi tenang saja, mungkin itu akan terjadi sebentar saja, selama Allianz dan Hana masih dalam masa krisis, Allianz dan Hana pasti akan berjuang untuk membayar mereka berempat secara pribadi, tidak menggunakan jasa adik iparnya itu.


Dan kini Hana terlihat kembali di sibukkan dengan ponselnya, sambil terus menunggu Naira datang, dia mencoba beberapa kali menghubungi Visha, sahabat yang sejak satu tahun lalu berusaha menemani dia, tapi sekarang..


Tut.... Tut.... Tut....


Bahkan panggilan darinya pun tidak pernah di jawab oleh Visha, ada sedikit kecemasan di hati wanita itu untuk Visha, beragam pertanyaan, yang ingin dia tanyakan pada orangnya langsung, tapi apalah daya, bahkan mengangkat panggilan darinya saja tidak pernah.


🌺🌺🌺🌺🌺


Wanita itu tengah berada di sebuah kafe. Sejak tadi, dia pun memandangi layar ponselnya yang tertera panggilan dari Hana untuknya.


Tapi hanya sebatas itu saja, dia bahkan tidak berniat untuk mengangkat, atau pun sekedar menyentuh layar itu.


"Kau masih setia menghubungi aku rupanya, sayang sekali, Hana, kau tidak terlalu beruntung.."


Wanita itu terlihat mengambil kopi di atas meja, lalu menyeruputnya dengan perlahan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Cittttt


Di luar sana, mobil Naira terlihat telah tiba, dan berhenti di pelataran rumahnya. Wanita itu terlihat tersenyum saat turun dari mobilnya, dan kemudian mulai masuk ke dalam rumah Allianz dengan santai.

__ADS_1


"Hana!!" panggil Naira di depan pintu.


Cklek!


"Nai!!" Hana terlihat keluar dari rumahnya, dan langsung memeluk adik iparnya itu.


"Bagaimana keadaan kamu, Hana?" tanya Naira dengan sejuta senyuman manisnya.


"Aku baik-baik saja, lihatlah, aku bahkan terlihat lebih santai sekarang.." Jawab Hana, sambil melepas pelukan Naira.


"Iya, kau benar! oh iya, di mana Zhoulin? aku bawakan hadiah istimewa untuknya."


"Dia sedang di kamarnya, masuklah, dia pasti akan sangat senang!" ucap Hana pada saat itu.


"Baiklah, aku akan masuk," tersenyum dengan bahagia sambil menenteng kado untuk Zhoulin.


Skip!


Di dalam kamar Zhoulin!


"Zhoulin!!!" panggil Naira sambil meraih si kecil itu dari atas kasurnya.


"Ouh, bibi rindu padamu, apa kau juga merindukan bibi?!" tanya Naira pada si kecil, seolah sengaja mencoba berbincang dengan anak itu.


"Lihatlah! bibi bawakan mainan untukmu! kau harus mencobanya, piano ini akan menemani Zhoulin saat Zhoulin kesepian!" Naira terlihat memberikan mainan yang sengaja dia hadiahkan untuk Zhoulin.


Pria kecil itu sungguh sangat senang dengan mainan itu, terlihat dari wajahnya yang menyambut dengan bahagia saat Naira memberikan piano mainan itu untuknya.


"Terimalah, bibi sangat menyayangi kamu, emmuach!!"


Mengecup dengan sepuasnya.


"Baiklah, bibi harus keluar, dadah Zhoulin!" Naira terlihat beranjak dari sana, dan bergerak menuju arah Hana, yang sudah berada di dapur kecilnya.


"Hana, kau harus melihat beberapa contoh model gaun keluaran terbaru tahun ini, semuanya sangat cantik dan bagus, bisa kau pakai saat menemani Kak Allianz saat ada acara di perusahaan.." ucap Naira sambil terduduk.


"Cih! buat apa? lagi pula aku tidak terlalu tertarik dengan belanja, kecuali kalau untuk keperluan, ya.." menyilir minuman untuk Naira, "minumlah!"


Naira mengambil gelas berisi minuman itu, dan kemudian meminumnya satu tegukan, "aku bahkan tidak ingat dengan dirimu sama sekali, aku pikir kau begitu muda." Ucap Naira agak polos.


"Haha.." terkekeh, "apa Allianz tidak pernah menunjukkan foto wajahku?" tanya Hana pada Naira.


"Dia hanya menunjukkan beberapa foto kamu saja, tapi di foto kamu kelihatan lebih muda, tak ku sangka, kau ternyata sudah lebih tua sekarang.." Dia bahkan tidak tahu perkataannya itu bisa saja menyakiti hati Hana.


"Cih! aku kelihatan tua karena selama satu tahun berjuang tanpa seorang suami, kau tahu betapa susahnya hidup seorang diri, dengan putra yang harus kau biayai hidupnya," ucap Hana pada Naira.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu.."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2