Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Tidak Senang


__ADS_3

"Aku sama sekali tidak tersinggung, lagi pula kau benar, penuaan di wajahku memang sangat terlihat sekarang, aku jadi ingin melakukan perawatan!" ucap Hana pada sang adik.


"Kau mau pergi perawatan? aku akan mengajak kamu akhir pekan, kau mau?" tanya Naira terlihat amat antusias.


"Tidak, aku tidak mau merepotkan kamu lagi, kamu dan Ardian sudah terlalu banyak membantu kami, jadi jangan buat kami merasa membebani kalian lagi.." Ucap Hana.


"Membebani kami? hahahaha... kau ini lucu sekali, Hana, aku tidak merasa terbebani olehmu, lagi pula aku memang selalu di beri uang lebih dari Ardian untuk perawatan, jadi bisa aku gunakan juga untukmu, bagaimana? akhir pekan ini kau harus mau pergi denganku, ya!?" bujuk Naira dengan sangat memohon.


"Nai, aku tidak mau merepotkan kamu, biarlah aku jadi tua, lagi pula Allianz bukan tipe pria yang suka mementingkan wajah cantik dan muda, jadi aku tidak merasa sesak dengan itu!" ucap Hana sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Ya, baiklah, kalau kau tidak mau, aku juga tidak memaksanya, oh iya, apa kita bisa pergi sekarang? kita masih harus mencari toko sewa untukmu, kan?"


"Iya, kau benar, baiklah, ayo kita berangkat!" Hana terlihat bangkit dari Sofanya.


Dan pada beberapa saat kemudian, Naira pun terlihat menyusul, bangkit dan akhirnya mereka berdua terlihat pergi dari sana.


Vrooooooommmmmmm


"Hallo, ya, Ardian? apa pekerjaan kamu sudah beres?!" tanya Naira terlihat bicara dengan suaminya lewat sambungan.


"Aku mau pulang, kau ada di mana sekarang?"


"Aku sedang tidak ada di rumah, aku masih punya urusan dengan Hana, maaf, ya," ucap Naira terlihat merasa bersalah.


"Apa yang kau katakan? pergilah bersenang-senang juga dengan kakak ipar kamu, tapi ingat, ini sudah jam tiga sore, jadi jangan sampai lupa waktu, dan kembalilah sebelum gelap! kau mengerti??"


"Hu'um," menganggukkan kepala, "aku mengerti," dia tersenyum sumringah, "baiklah, kalau begitu, aku tutup dulu, ya.."


Bip!


"Aku sudah merepotkan kamu.." Ucap Hana sambil tersenyum.


"Aku bahkan tidak pernah pergi berbelanja selain bersama Shi Yuan dan Ardian, apa kau mau menemani aku belanja nanti?"


"Kau lupa perkataan suami kamu? jangan pulang sampai malam, dan sekarang, kau mau ajak aku belanja? dasar kau!"


"Kenapa memangnya? tidak lama kok, paling juga satu atau dua jam lebih, kau mau kan?!"


"Satu atau dua jam lebih, kau ini! lebih baik tabung saja uang kamu untuk masa depan, jangan hambur-hamburkan untuk kemauan yang tidak terlalu penting!" bicaranya memang agak keras, dan sedikit membuat hati Naira terasa sakit.

__ADS_1


"Oh, yah, baiklah, terserah kau saja.." Dan karena itulah Naira memilih untuk diam.


Wanita uang cerewet itu memang pada dasarnya hanya ingin lebih dekat saja dengan Hana, mengingat sudah lebih dari satu tahun mereka berpisah, lalu kemudian dia mengalami amnesia, seharusnya wajar saja kalau Naira ingin kembali dekat dengan Hana.


Tapi sikap Hana benar-benar berubah total. Pribadinya sekarang jauh lebih keras, dan agaknya dia memiliki prinsip yang tidak bisa di jatuhkan.


Iya, itu mungkin karena kebiasaan dia yang selalu sendiri, dan tidak membutuhkan bantuan orang lain selama satu tahun terakhir, jadi sangat sulit baginya untuk kembali hidup seperti dulu, saat semuanya dia lakukan bersama-sama dengan Naira.


Entah aku yang memang terlalu berlebihan, atau memang Hana yang sangat kasar dalam bicara, padahal aku hanya berusaha untuk lebih dekat lagi dengannya..


Vrooooooommmmmmm


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Malam harinya, usai Naira tiba di rumah, dua pria tampan di rumahnya tengah asik membuang-buang mainan, membuat seisi rumah berantakan, dan parahnya lagi, mereka bahkan memporak-porandakan segala hal yang ada di sana.


"Ayo tangkap aku!!"


Hahahaha...


Gelak tawa riang di kecil dan ayahnya yang tidak ada bedanya itu terdengar sampai di pelataran rumah.


Naira terlihat membuka pintu depan, dan kemudian, mendapati sebuah keterkejutan di dalam rumahnya.


"Astaga, kalian ini sedang apa?!" wajah marah bercampur stres, depresi, dan kelelahan akibat setengah hari menghabiskan waktu dengan seorang wanita yang begitu dingin.


"Ah?!"


Dua pria itu terlihat menoleh, dan saat mereka mendapati sosok Naira yang tengah berkacak pinggang di depan pintu, mereka langsung berdiri dengan tegak, dan menunduk.


"Apa yang kalian lakukan!? apa kalian sudah membuat rumah ini seperti tempat pembuangan sampah?!" dia terlihat sangat marah.


Dua pria itupun hanya bisa menunduk, tanpa berani mendongak, apa lagi sampai menatap dua mata merah milik Naira yang tengah marah.


"Ibu, maafkan kami, kami hanya bermain saja," ucap Shi Yuan dengan wajah imutnya.


"Huhh!" membuang nafas dengan kasar, "sebelum aku menjadi sangat marah, cepat kemas semua sampah ini!!!!" dia berteriak cukup keras, hingga rasanya gendang telinga Ardian dan Shi Yuan bergetar hebat.


"Ba-baik!!" kedua pria itu terlihat membungkuk, dan sesegera mungkin membereskan semua kekacauan ini.

__ADS_1


"Hohh! hohh! hohh! kalian tidak tahu saja betapa kesalnya hatiku hari ini! apa ada makanan di dapur!?" tanya Naira masih dengan nada kasar pada dua pria itu.


"Siap! ada, Nyonya! kami sudah memasak sejak sore! silahkan di nikmati!" ucap Ardian bak tentara.


"Huhh! baguslah, bereskan dulu semuanya, aku akan makan lebih dulu, bahkan aku sangat kelaparan gara-gara dia tidak mau menghamburkan uang." Gerutu Naira.


Hap!


"Siapa yang tidak mau menghamburkan uang? kau sedang marah pada seseorang hari ini?!" tanya Ardian sambil memeluk Naira dari belakang.


"A!?" terlihat bingung, "kenapa kau bertanya?!"


"Karena aku dengar gerutu kamu, jadi aku bertanya, apa yang terjadi memangnya!?"


"Ayah!!! apa kau mau kabur dari pekerjaan ini!? kau sungguh tidak adil!!"


Bukk!


Melempar kepala Ardian dengan bantal.


"Aduh!" memekik, "Shi Yuan, apa yang sedang kau lakukan?!"


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kau sudah bersikap curang kali ini, kau pasti berniat untuk kabur dari pekerjaan ini, kan?!" anak itu sungguh seperti orang dewasa.


"Anak kamu benar, kau harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini! jadi pikirkan bagaimana mengatasinya lebih dulu, biarkan aku malam sendirian!" ucap Naira dengan kesal.


"Haha, baiklah, baik, aku akan mengatasi kekacauan ini, sayang, makanlah yang banyak, ya," ucap Ardian pada Naira.


Cup!


Lalu mengecup kening Naira dengan romantis.


"Kau berbuat curang lagi!!" namun iblis kecil itu lagi-lagi mengganggu momen mereka berdua, "kemarilah! aku harus memberi anda pelajaran hari ini!" menarik kemeja Ardian dengan tangannya.


"Eh, iya, iya, aku akan menurut, jangan kasih hukuman yang berat, ya, sayang.." Ucap Ardian terlihat memohon.


"Huhh!"


Aku bahkan tidak senang selama perjalanan dengan Hana!

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2