Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Menampakkan Diri


__ADS_3

Dia memainkan jarinya di dua ujung kembar itu, dan kemudian merem*snya dengan penuh nafsu. Membiarkan tangan nakalnya menjelajahi bagian utama kedua dalam permainan ini.


Sesekali dia memainkan lidahnya di sana, lalu dengan lihai memelintir dua ujung kenyal yang menggemaskan di dada Visha.


Tubuh yang sedikit berisi, dengan dua bola kembar yang menggunduk cantik, tak kendur sama sekali, membuat Allianz terbius dengan keindahan tubuh Visha.


Wanita itu melenguh, saat dia merasakan cairan basah mulai kembali keluar dari Miss kebanggannya.


Mahkotanya sudah mulai tak sabar untuk memulai sebuah aktivitas panas di pagi hari. Bak pengantin baru yang tengah di buat mabuk kepayang, kedua orang itu pun sama, saling memberi sentuhan panas nan menggoda.


Tak cukup berada di dua bola kenyal milik Visha, kini mulutnya kembali berselancar, mencoba mencari tempat lain untuk berdiam, hingga bertemu lagi dia dengan si hutan lebat yang masih tertutup segitiga Bermuda.


Tak sabar lagi, Allianz membuka bungkusan merah muda yang melindungi mahkota Visha. Di tarik saja talinya, hingga akhirnya bungkus kado itu terbuka dengan mudahnya, dan terlihat menampilkan si mahkota berwarna terang yang ranum nan indah.


Allianz menatapinya, merasa amat tergoda dengan keindahan bagian itu. Di dekatkan saja tubuhnya kesana, lalu dengan sigap memulai aksinya.


Si Otong miliknya yang sejak tadi memang terus saja berdiri, dan minta di puaskan, ia masukkan ke dalam benda yang sungguh erotis itu.


"Arkh!!"


Keduanya melenguh..


"Uhm..."


Dan mereka saling memejamkan mata, menikmati satu masukan pertama, lalu akhirnya menikmati situasi selanjutnya, saat benda keras itu terasa bermain lincah di sana, membobol rasa nikmat Visha dengan gerakan yang lemah lembut.


Dalam gerakan yang selembut itu, Visha mampu merasakan, betapa indahnya nikmat di atas ranjang. Wanita itu bahkan terus saja menengadahkan kepalanya ke atas, dan memejamkan matanya.


Dua tangannya menarik sprei, dan giginya sesekali menggigit bibir bawahnya sampai berdarah-darah.


Allianz tak hanya tinggal diam. Melihat tetesan darah di bibir Visha, membuat dirinya semakin bergelora..


Di hisaplah darah di bibir Visha, lalu dengan lincahnya kembali bermain dalam mulutnya, sambil terus mengimbangi benda pusakanya yang bergerak semakin liar.


"Umh, umh..."


Dan suara nikmat itu benar-benar membuat telinga siapa saja ingin sekali menjajal masuk, lalu menimbrung permainan ganas itu. Keduanya memang terlihat sangat lihai dalam berselancar merayapi tubuh polos mereka.

__ADS_1


Kini pagi hari itu pun benar-benar terasa panas, membayangkan saja bagaimana rasanya sudah gemetar hebat. Dua insan yang tengah di mabuk asmara itu nyatanya masih saja bermain di atas ranjang, hingga suara getar ponsel Allianz pun mereka tak mampu mendengarnya.


Drrrttt Drrrttt


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Di seberang, Hana terlihat tengah mondar-mandir di kamarnya bersama Naira. Sang adik terduduk di atas ranjang, sementara dirinya sibuk mencoba menghubungi suaminya yang tengah asik bergumul dengan wanita lain.


Beberapa tanda merah bekas kecupan Morgan semalam masih membekas dengan jelas di leher Hana, hanya saja, dia terlihat menutupnya dengan rambut yang sengaja di gerai indah.


Hatinya amat cemas, merasa bersalah pun ingin sekali meminta maaf, hanya saja, suaminya bahkan tidak mengangkat panggilan darinya.


"Bagaimana, Hana?" tanya Naira dengan wajah cemasnya.


"Dia masih tidak mengangkatnya juga," ucap Hana terlihat putus asa.


Hiks hiks..


Dan kemudian ia pun kembali menangis, memaku di tempat, dan merunduk sedih.


Naira bangkit dari kasur, dan menggapai tubuh Hana yang kurus dan kering dan menggopohnya untuk terduduk di atas kasur.


Hiks hiks...


Hana terlihat menenggelamkan wajahnya di bahu Naira, mencoba mencari tempat bersandar di sana dengan nyaman, lalu menceritakan segalanya.


"Katakan padaku, Hana, apa yang terjadi pada kalian semalam?!" tanya Naira sekali lagi, mencoba membuat Hana membuka mulut.


"Dia datang padaku, dia datang!" ucap Hana dengan nada penuh traumatis.


Sementara itu, dari luar terlihat Zarren yang entah punya kepentingan apa, datang ke kamar Hana, sontak saja Naira memberi dia sebuah kode lirih untuk berdiri dengan tenang di sana, menyaksikan ucapan Hana nantinya.


"Siapa yang datang?" tanya Naira pada Hana.


"Morgan, pria itu namanya Morgan, aku sungguh tidak pernah tahu semuanya akan jadi serumit ini, ini semua adalah kesalahpahaman, aku tidak pernah mengizinkan Morgan untuk mengambil tubuhku, hanya saja, tadi malam, dia mendatangi aku, dan kemudian, memaksa aku, dia memaksaku, dia paksa aku untuk... Huhuhu.." Wanita itu tak sanggup mengatakan semuanya.


Naira mengelus rambut Hana yang sedikit basah akibat guyuran air tadi malam saat dia berusaha membersihkan noda di tubuhnya.

__ADS_1


"Tenanglah, jangan menangis, kau bisa melalui ini.." Ucap Naira menenangkan Hana.


"Aku tidak tahu, aku tidak mengerti apa aku salah, atau mungkin sebenarnya aku yang tidak bersalah di sini, dia memaksa aku, dan mengekang tubuhku hingga aku tak mampu untuk bergerak, lalu dia menggunakan kesempatan sempit itu untuk menodai aku.. Huhuhu....." Tangisnya kembali pecah dan bergema di dalam ruangan kamar Allianz dan Hana.


Sementara laki-laki muda di depan hanya bisa terdiam bingung saja. Dia bahkan baru ingin mengatakan kalau dirinya mendapati mobil sang majikan di sebuah rumah, yang katanya warga setempat, ada seorang wanita yang tinggal di dalamnya, hanya seorang diri.


Arkh!


Zarren jadi agak bingung sekarang, apa dia benar harus menceritakan segalanya tentang Allianz, pada Hana, atau lebih baik baginya untuk diam dan tidak mengatakan apapun lebih dulu.


Tak lama setelah itu, ponsel Zarren bergetar, ada seseorang yang mencoba menghubungi dirinya, yang tentu saja si Leon itu. Anak itu memang tengah ia tugaskan untuk mengawasi setiap gerak-gerik yang dia tangkap dari rumah itu, dan jelas saja kalau dia melihat boss nya tengah asik bermain dengan wanita lain di lantai dua, mungkin itu kamar sang wanita.


Jantung Leon bergemuruh hebat melihatnya. Antara dia yang terkesima dan terpesona dengan pemandangan dari tubuh seorang wanita yang gemulai, atau memang dia yang bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Zarren.


Zarren terlihat keluar dari kamar Hana, dan bergegas mengangkat panggilan dari Leon.


Bip!


"Ada apa Leon?" tanya Zarren melalui sambungan.


"Aku tak bisa menjelaskan semuanya, hanya saja, dia terlihat begitu menikmati ritmenya!"


Anak itu memang kadang-kadang membuat bingung saja.


"Apa yang sedang kau katakan? katakanlah lebih jelas, aku tidak tahu apa maksud kamu?"


Ritme?


Ritme apa?!


Pikir Zarren sedikit konyol.


"Zarren, aku melihat Tuan Allianz yang tengah asik bermain ketangguhan dengan wanita itu! mereka bahkan tidak terlihat malu menampakkan diri di depan jendela kamarnya!"


Jlger!


"Apa?! apa katamu? Tuan, Tuan melakukannya lagi?!"

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2