
Pria itu menyodorkan sebuah kertas ke arah Hana. Di ambillah surat dari Allianz, kemudian di baca saja oleh Hana dengan lirih dalam hatinya.
Ya, dia sudah menduganya. Berpikir ingin bertahan pun rasanya sudah tidak lagi. Lihatlah sekarang ini? bukankah saat dia berniat ingin menjumpai laki-laki ini dan kemudian mengajak dia untuk berdamai, dia malah mendatanginya untuk mengantarkan sepucuk surat cerai?
Kurang jelas apa lagi? semuanya sudah terllihat jelas di depan mata. Tak ada lagi yang perlu di pertahankan, semuanya sudah menempuh jalannya sendiri. Lagi pun, ia tak sesempurna Visha yang mampu memberikan dia keturunan, jadi wajar saja kalau Visha di sayang-sayang, sementara dirinya yang usang, di biarkan, bahkan di buang begitu saja.
Biarlah! biarlah semua berlalu seperti ini. Ia tak berani menolak perkataan dan sepucuk surat itu dari Allianz, karena dia tahu diri, sekarang di bandingkan dengan Visha, dia masih bukan siapa-siapa lagi.
"Jika kau masih tidak sanggup menandatangani malam ini, kau bisa berpikir sampai besok! aku akan tetap menunggu.."
Mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut Allianz, sontak saja Hana terkekeh. Tak sanggup? ah, yang benar saja! siapa pula yang tak sanggup dengan semua ini? bukankah hanya satu pria saja yang hilang? tidak semuanya, kan? lalu kenapa harus tak sanggup?
"Berikan bolpoin nya.." ucap Hana pada Allianz.
"Ah?" laki-laki di depannya hanya terlihat bingung.
"Aku akan menandatangani sekarang, berikan bolpoin nya!!" ucap Hana menjelaskan pada pria itu.
"Kau, kau yakin?" entah mengapa wajah Allianz malah terlihat ragu, bukankah semua ini memang keinginannya?
"Ck! apa kau tidak yakin padaku? kau pikir aku sedang main-main? berikan sekarang! aku tidak punya waktu lagi untuk bercanda!!" sekarang wanita itu menunjukkan sifat aslinya di depan pria bernama Allianz, yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
Wajah Allianz terlihat begitu terkejut mendengar dan melihat istri pertamanya yang seolah telah mendapatkan sebuah kekuatan entah dari mana, sampai bisa melawannya sampai sejauh ini.
"Kenapa diam? bukankah kau sendiri yang menginginkan perceraian ini? lalu kenapa sekarang kau terlihat ragu?" tanya Hana pada suaminya.
Mendengar perkataan dari Hana, membuat Allianz semakin di buat geram. Wajahnya berubah menjadi marah yang luar biasa, hingga terlihat urat-urat di dahinya menonjol dengan jelas.
"Oke! memang itu yang harus kita lakukan! kita memang harus bercerai!!" ucap Allianz dengan mantap.
Entah mengapa hatinya berdebar hebat saat wanita itu dengan tangguhnya menerima sepucuk surat cerai yang dia sodorkan padanya. Ada rasa gugup dan gemetar yang hebat di sela-sela perbincangannya dengan Hana, entah kenapa merasa ragu karenanya, ragu untuk berpisah, dan ragu untuk segala-galanya...
Tidak bisa!
Ini memang akhirnya, dan harus menjadi akhirnya. Dari pada dia harus kehilangan Visha dan harta kekayaannya, lebih baik dia kehilangan Hana yang tak punya guna di dalam hidupnya itu.
Ya!
Dia harus yakin akan melangkah pada tujuan itu, karena Visha memang pilihan yang jauh lebih baik di banding Hana.
Hana memiringkan senyuman, melihat sebuah keraguan di wajah Allianz akan surat perceraian yang ia berikan oleh dirinya sendiri.
Allianz segera mengambil bolpoin dari dalam mobilnya, dan kemudian memberikannya pada Hana, untuk mencoretkan tanda tangan di atas sana.
Tanpa ragu, Hana mengambil bolpoin dari Allianz dan mencoretkan tanda tangannya di pojok bagian kiri tanpa keraguan sedikitpun.
Ia memang tak ingin berpisah dengan Allianz, tapi pada mulanya, untuk saat ini, tidak lagi! ia tak ingin menjadi wanita lemah yang selamanya hidup dalam bayang-bayang Allianz yang selalu saja menyakiti perasaannya.
Usai dia mencoretkan tanda tangan di atas kertas, ia langsung memberikan surat itu pada Allianz beserta bolpoinnya.
"Selamat, kau tidak lagi bertanggung jawab atas diriku! ups! aku lupa, bukankah sejak awal kau memang tak pernah tanggung jawab atas diriku?" sindir Hana pada suaminya yang tengah berdiri mematung di sisi mobilnya.
Dengan senyum merekah di bibir Hana, ia mencoba mengubur dalam-dalam perasaan sakit dan kekecewaan di dalam hatinya untuk pria ini.
Ia melangkahkan kakinya berbalik ke arah mobil Ardian dan berniat masuk kembali ke dalamnya. Namun dia memilih untuk berhenti, ada satu kalimat yang harus dia beritahu pada Allianz. Kalimat ini yang akan membuat Allianz menyesal seumur hidupnya.
"Oh iya, aku harus memberitahu kamu, entah itu penting atau tidak, saat kamu menuduh aku membunuh ibumu, tahu tidak, ternyata pelakunya adalah Doni, Ardian dan Naira yang menyelidikinya!"
Deg!
Jantung Allianz berdegup kencang mendengar ucapan dari Hana. Tak pernah menduga kalau satu kalimat itu memang berhasil membuat dirinya di penuhi dengan penyesalan.
Terlihat tubuh Hana yang memasuki mobil Ardian, dan kemudian masuk ke dalam area rumahnya setelah pintu gerbang di buka oleh Zarren.
__ADS_1
Berbeda dengan ekspresi wajah Hana yang biasa saja dan datar tanpa ekspresi, wajah Allianz nampak penuh penyesalan, di penuhi kesedihan dan seolah tak ingin berpisah.
Ya!
Memang benar! dia tak ingin berpisah dari Hana, entahlah, meskipun dia menyayangi Visha dan hartanya, tapi entah mengapa semua itu tak lebih seperti rasa sayang yang ia berikan dan ia tumpahkan pada Hana.
Namun, sekarang, apa sekarang ia harus menyesal? sedangkan surat perceraian telah di layangkan, dan bahkan telah di tanda tangani pula.
Tangannya bergetar hebat. Sepucuk surat di tangan dan bolpoinnya jatuh ke aspal jalanan tanpa dia sadari.
Tubuhnya pun ambruk ke atas aspal jalanan, dan tanpa sadar ia menitihkan air matanya satu kali tetesan.
Meskipun ia satu kali tetesan, namun rasanya begitu sakit, begitu hancur dan begitu menyedihkan. Seolah hidupnya selama tiga puluh enam tahun terakhir di renggut begitu saja. Seolah semua nafasnya di berhentikan secara paksa oleh sebuah tekanan yang kemudian menindih sekujur tubuhnya hingga melemahkan kepribadiannya yang kuat dan tegar.
Tidak!!!
Dia tak boleh terlihat lemah. Apa lagi ini masih di sekitar rumah Hana. Wanita itu pun tak juga keluar dari mobilnya, entah wanita itu melihatnya atau tidak, tapi lebih baik dia berusaha tegar dan bangkit dari keterpurukan.
Bangkitlah dia dari ambruknya dan berjalanlah dengan menyembunyikan kepedihan hatinya menuju ke dalam mobil.
Bam!!
Dengan cepat dia melajukan mobilnya menjauh dari area rumah Hana dengan perasaan campur aduk tak bisa dia jelaskan.
Kini semuanya sudah terlanjur terjadi. Dia tak bisa menarik semua kejadiannya kembali, toh, dia juga harus kembali pada istri keduanya, Visha. Wanita itu sekarang pasti tengah merindukannya, merindukan pelukan hangatnya. Memang wanita itu tak pernah bisa tidur tanpa dekapan tangannya yang hangat.
Ia sengaja memikirkan Visha di tengah-tengah pikirannya yang kacau, berharap sosok istri keduanya bisa mengobati pikirannya yang tak mampu berbohong kalau dia pun juga menyesali semua perbuatannya pada Hana.
Di sisi lain, Hana melihat mantan suaminya yang mulai melajukan mobilnya menjauh dari area pemukiman dari kaca spion.
Ia tak bergeming dari jok depan mobil Ardian, dan malah menjatuhkan kepalanya di kemudi mobil, lalu menangis dengan keras di sana.
Tak bisa di pungkiri memang, ia masih mencintai suaminya, semua yang dia katakan, soal perasaan yang telah mati, dan semua kebahagiaan akan pengkhianatan ini, semuanya jelas saja dia berbohong.
Mustahil jika dia tak merasa sedih. Hanya saja, apakah dia harus selarut ini dalam kesedihan? bukankah tak semua wanita lemah seperti dirinya terus saja di injak-injak? lihatlah sekarang! ia bahkan jauh lebih kuat dari yang dia bayangkan.
Rupanya ia memang tak bisa terus larut dalam rasa sakit yang terus menghujam area jantung dan perasaannya.
Ia memang harus bangkit. Keterpurukan yang di berikan oleh Allianz dan Visha memang harus dia kalahkan! dia tak ingin mendapat cap wanita lemah yang terus di injak-injak.
Ia mengambil ponselnya di jok sebelahnya, dan kemudian terlihat menghubungi Ardian.
"Hallo.."
"Ya! katakan apa yang bisa aku bantu!"
"Apa aku sudah bisa memulai besok?"
"Aku akan dengan senang hati memberikannya.."
"Terima kasih!"
Bip!
Di matikan sambungannya setelah Ardian mengiyakan perkataannya. Lalu turunlah wanita itu dari mobilnya, dengan raut wajah yang berbeda, yang seolah jauh lebih segar dari sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Dia akan membuktikan pada dunia, terutama pada Allianz dan Visha, kalau dia bukanlah wanita lemah yang bisa di injak-injak harga dirinya, dia bukan lagi wanita yang seperti itu.
Mulai hari esok, semuanya akan berubah. Hana yang lemah dan bisa kalian bodohi selama lebih dari dua setengah tahun, kini akan hilang. Dia akan lahir kembali menjadi sosok wanita yang tak pernah bisa kalian bayangkan seperti apa hebatnya. Lihat saja nanti, semua yang kalian katakan pada Hana, semuanya akan berbanding terbalik mulai besok.
Lihat aku mulai besok, dan kalian berdua akan terkejut mendapati siapa aku yang sebenarnya!
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Blam!
Allianz terlihat membanting pintu mobilnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki saat ia telah tiba di area rumahnya.
Ia bahkan tak mampu menyembunyikan kesedihannya akan perceraian yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Hana.
Istri keduanya nampak memperhatikan kepulangan suaminya dari sisi jendela ruang tamu, dan kemudian menutup tirainya setelah mendapati suaminya membuka pintu masuk.
Cklek!
Kreb!
"Kau sudah pulang?" tanya Visha dengan wajah datar.
Allianz tak menjawab pertanyaan lembut dari istrinya. Dia hanya meletakkan tas kerjanya di atas sofa ruang tengah, dan kemudian bergegas menuju ke dalam kamar untuk langsung tidur di sana.
Melihat kondisi suaminya yang dingin sekali membuat Visha merasa kesal. Ia tahu sekarang mereka tengah di timpa masalah berat dengan hadirnya sosok Hana yang mengganggu perkawinannya dengan Allianz.
Selama ini sebelum hadirnya Hana di tengah-tengah keluarga mereka, Visha bahkan tak pernah mendapat perlakuan sedingin ini dari suaminya, tapi sekarang lihatlah apa yang baru saja Allianz lakukan padanya!
Pria itu bahkan tak menoleh sedikitpun ke arahnya, apa lagi sampai menjawab sapaannya dengan hangat.
Namun ia bersikap biasa saja. Ia mencoba untuk melupakan ekspresi menjengkelkan dari sang suami dan beralih mengambil tas milik suaminya yang tergeletak di sofa ruang tengah, berniat untuk meletakkannya di tempat yang biasa dia menyimpannya.
Tapi tatapan matanya mulai tertuju pada secarik kertas yang ada di sana, secarik kertas yang menyembul keluar dari tas milik suaminya. Entah mengapa kertas itu sungguh menarik perhatiannya, hingga tak ingin menunggu waktu lama lagi, dia segera mengambilnya, dan kemudian membacanya.
Melihat sebuah tanda tangan tercoret di bagian pojok bawah kertas, ia kemudian tertegun. Kini barulah dia menyadari kalau sikap menjengkelkan dari suaminya, tentu saja bukan karena masalah kedatangan Hana, namun lebih tepatnya, karena kertas cerai ini.
Ia menyimpan kembali kertas tersebut di dalam tas kerja milik Allianz seperti semula, dan kemudian meletakkan tas tersebut di meja kerja Allianz.
Entah mengapa perasaannya tak begitu senang saat melihat kejadian malam ini. Seharusnya perceraian Allianz dengan istri pertamanya bukankah akan menjadi kabar gembira untuknya.
Tapi lihat saja kenyataan yang terjadi. Laki-laki bersikap dingin padanya, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun mereka berumah tangga. Bukankah semua itu pasti gara-gara surat ini?
Sungguh menyakitkan!
Ini sungguh satu hal yang menyakitkannya!
Saat Allianz terdiam dan memasang wajah jengkel padanya, semua itu mengatakan padanya kalau pria itu di buat kesal karena perceraian ini.
Mungkinkah Allianz masih menyimpan sedikit kesedihan karena harus menghadapi perceraian dengan Hana, yang memang sejak dulu menjadi wanita paling di cintanya?
Ataukah kekesalan Allianz padanya karena mungkin pria itu masih tidak ingin melepas Hana dari hidupnya, sedangkan dia terus mendesak bahkan mengancam Allianz untuk segera menceraikan Hana?
Hahhh!
Semua pertanyaan itu menggundel di otaknya, dan menjadi ruwet seolah tak ada lagi ujungnya.
Ia mencoba acuh saja, tak guna juga terus memikirkan masalah ini. Yang penting sekarang, dia sudah sepenuhnya menjadi Nyonya di rumah Allianz, dan dia juga ratu satu-satunya di sisi Allianz.
Tidak ada lagi saingan cintanya, apa lagi seorang madu, semuanya sudah bersih seperti yang ia harapkan. Dan ia bisa membuktikan sekarang, kalau semua yang Hana miliki, bisa dia rebut dan dia miliki dengan mudah.
Inilah yang dia mau sejak awal. Dendam dan rasa iri terhadap sosok Hana yang selalu di iringi oleh kebahagiaan dan para pria, sekarang ia bisa memiliki semuanya.
Bahkan dengan bonus suami juga hartanya. Sekarang di mata dunia, dia lah yang paling menawan di banding dengan Hana, jadi tak perlu mencemaskan Allianz akan keberatan kehilangan sosok murahan seperti Hana.
Karena seorang pria pasti melihat standar kecantikan, bukankah pria lebih menyukai wanita yang cantik dan menawan di banding wanita yang berpendidikan?
Dan itu artinya, ia menang dari sisi manapun di banding wanita kusam berpenampilan bak pembantu itu.
Lihat Hana! aku benar merebut semuanya darimu, kan?
Semua memang sesuai dengan janjiku, merebut semua yang ada dalam hidupmu, termasuk juga, suami kamu!!!
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️