
Dia mendapati sosok pria yang tengah berdiri dengan tegak di bawah pohon yang rindang.
Laki-laki itu terlihat mengenakan kaus biasa, dengan kacamata hitam yang bisa melindungi dirinya dari sinar matahari.
"Kau?!" dia masih saja di buat terkejut oleh kehadiran pria ini.
Iya, siapa lagi memangnya kalau bukan si Morgan?
Dia bahkan sampai nekad menyusul Hana ke kota ini hanya karena secarik kertas yang dia temukan di pintu kontrakan Hana.
"Morgan? kenapa kau kemari?" tanyanya masih saja di buat tidak percaya.
"Kau tidak merindukan aku?" tanya Morgan pada wanita itu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dan kini keduanya nampak terduduk di sebuah kursi yang letaknya tidak terlihat oleh suster dan Zhoulin sama sekali.
"Iya, bawa Zhoulin pulang sekarang saja, aku masih harus mengurus sesuatu dulu," kata Hana melalui sambungan telepon pada susternya.
"Iya, pulanglah!"
Bip!
Mereka kini akhirnya bisa terduduk bersama di satu kursi yang sama, setelah melalui beberapa hari untuk melakukan perjalanan ini.
"Kenapa kau bisa datang kemari?" tanya Hana untuk yang ke sekian kalinya pada Morgan.
"Kau menyuruh aku untuk datang, kini aku datang untukmu, pulanglah denganku, lalu hidup bersama denganku!" pria itu terlihat begitu bodoh di depan Hana pada saat itu.
"Ah?" dia nampak terkejut, pun terheran-heran dengan perkataan Morgan barusan, "apa maksud kamu? pulang? menikah dengan kamu?" bingung sendiri.
__ADS_1
"Iya, kita pulang, ajak Zhoulin juga, lalu kita akan menikah dan bahagia bersama-sama.." dia masih saja terkesan bodoh dengan ucapannya barusan.
"Ahahaha.. tunggu dulu! apa maksud kamu bicara seperti itu? kau ini sedang kenapa?"
"Kau meminta aku untuk datang, dan sekarang, aku sudah jauh-jauh datang ke sini, demi untuk menyelamatkan kamu dari pria itu, sekarang, kita bisa segera pulang," dia terlihat sangat senang.
Berbeda dengan Morgan yang terlihat senang, Hana justru merasa bingung dengan sikap dan perkataan pria ini.
Apa dia sedang nglindur?
"Kau ini, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan! bukankah kita sudah sepakat, saat aku bertemu dengan suami aku sebelum enam bulan, maka kamu tidak lagi punya kesempatan, tapi kalau lebih dari enam bulan, aku memang berniat akan menerima kamu." Dia terlihat menjelaskan dengan detail.
"Apa maksud kamu? kamu sendiri yang bilang padaku, kalau aku harus menjemput kamu, dan membawa kamu kembali untuk menikah! apa kau sungguh lupa akan hal itu?" tanya Morgan, mengingat dia begitu percaya akan surat itu.
"Morgan, aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, soal permintaan itu, bukan aku yang mengatakannya, aku tidak meminta kamu untuk datang menjemput aku, aku sudah tinggal dengan suami aku, mana mungkin aku meminta kamu untuk datang menjemput aku, dan kemudian menikah?" dia mulai terlihat geram pada laki-laki ini.
"Apa kau sedang berpura-pura bodoh di depanku? kau pikir aku tidak tahu kalau kau hanya terpaksa saja mengikuti kepulangan suami kamu?" laki-laki itu nampak sedikit di buat kesal oleh Hana.
Belum juga dia mendapat kebahagiaan setelah bertemu dengan suaminya, tapi sekarang, laki-laki ini malah mendadak saja datang tanpa permisi, dan langsung saja mengatakan satu poin yang membuat dirinya marah seketika.
"Kau sudah tidak waras! pertama, kau tidak punya tujuan ke sini selain untuk mengacaukan pikiranku! dan kau juga sudah mengatakan satu hal yang sangat tidak relevan di hadapanku, kau pikir aku sebodoh itu menangkap kata-kata dari mulut kamu?" dia masih saja terdengar amat marah.
"Kau yang sok suci! kau yang pura-pura tidak peduli! kau juga yang sudah membohongi diri kamu sendiri! jelas-jelas kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu terpaksa mengikuti suami kamu, dan pulang kesini, kau juga menyuruh aku untuk datang menjemput kamu!" jelas Morgan, sesuai isi dari surat yang dia temukan beberapa hari yang lalu.
"Hahh!!" tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar sama sekali, "dasar kau! kau memang sudah tidak waras!"
Hana terlihat bangun dari duduknya, dan berniat pergi meninggalkan tempat itu. Tapi, sebuah tangan terlihat menggapainya, dan membuat dirinya tidak bisa berkutik dari sana.
"Hana tunggu!" pria itu yang berhasil menangkap tangannya.
"Apa lagi? kamu mau bicara apa lagi memangnya? kau sudah sangat ngawur dalam bicara, lebih baik kau diam dan pulang saja ke kotamu! aku tidak mau kau datang hanya untuk merusuh saja!" dia makin kesal.
__ADS_1
"Membuat rusuh katamu? aku jauh-jauh datang ke sini hanya untuk membuktikan perasaan cintaku saja padamu, aku membuktikan kalau aku benar-benar serius akan ucapan dari mulutku, dan aku juga ingin membuktikan kalau aku bisa memberikan apa yang kamu mau!"
"Tapi kau sungguh bodoh! kau tidak berpikir dulu sebelum bicara padaku, kau pikir aku ini bodoh? yang mudah percaya dengan kata-kata dari mulut kamu itu?"
"Tapi aku sungguh percaya pada surat itu! aku pikir kau memang menyuruhku kemari karena kamu tertekan.."
"Tunggu dulu! apa katamu barusan? surat? surat apa?" dia terlihat semakin bingung saja.
"Kau meninggalkan sebuah surat di sela pintu rumah kontrakan kamu, dan aku mengambilnya, aku membacanya, kau bilang padaku, kalau kau terpaksa pergi mengikuti suami kamu, kau meminta aku untuk datang dan menjemput kamu, itu yang kau tulis di sana!"
"Aku tidak pernah menulis surat untuk kamu! memangnya untuk apa aku menulis surat itu? kenapa aku harus meminta padamu untuk menjemput aku?" tanyanya pada Morgan.
Tapi Morgan hanya bisa mengangkat bahunya saja, pertanda kalau dirinya sendiri bahkan tidak terlalu tahu akan hal itu.
"Itu yang aku baca di sana!"
"Dengar Morgan! aku tidak pernah meninggalkan surat atau apapun untuk kamu, aku hanya....." dia mendadak berhenti bicara, setelah menyadari ada yang tidak beres di sini.
"Ada apa memangnya?" tanya Morgan, usai mendapati keganjalan di wajah Hana.
"Di mana Visha? apa anak itu baik-baik saja?" tanya Hana pada Morgan.
"Kau tahu? saat aku tiba di kontrakan kamu, hanya surat itu yang berhasil aku temukan, aku bertanya pada tetangga dekat kalian, dan berkata kalau kalian berdua sudah pergi, termasuk juga Visha.." Jelas Morgan perihal kepergian Visha hari itu.
"Visha pergi? pergi kemana?" makin banyak teka-teki yang rumit dalam otaknya.
"Tetangga kalian mengatakan, kalau anak itu tidak bisa hidup sendirian tanpa kamu, karena itulah dia memilih pergi, itu saja yang aku dengar.."
"Tapi dia tidak memberi aku kabar apapun!" bingung.
Kemana anak itu pergi?
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺