Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Pertemuan Berujung Perpisahan


__ADS_3

"Mama? apa mama bisa mendengar kata-kata Alvis? Apa mama merindukan Alvis? Alvis mau ketemu sama mama, tapi kata Ibu Hana, Mama akan tidur sangat lama di dalam tanah, apa mama tidak kesulitan tidur di bawah tanah seperti itu? ma, asal mama tahu, Alvis sangat bahagia bersama Ibu Hana, Alvis tahu Ibu Hana sangat baik, dan menyekolahkan Alvis, jadi meskipun mama tidur sangat lama di dalam sana, Mama tidak usah cemas sama Alvis, karena ada Mama Hana yang akan menjaga Alvis di sini, mama baik-baik di sana, ya, ma.." ucap anak polos itu membuat Hana dan Naira seketika menitihkan air mata keduanya.


Kesedihan dan luka di hati Naira dan Hana memang tak akan bisa terbendung. Mereka amat menyayangkan sifat kedua orang tua Alvis yang sangat egois itu. Mereka sangat menyayangkan Visha yang selalu membuat masalah, bahkan sampai akhir hidupnya.


Kini keduanya hanya bisa menutup kedua mata mereka dengan kacamata hitam dan selendang hitam di kepalanya, lalu menaburkan bunga di atas pusara Visha.


Pusara yang kini telah tumbuh rumput hijau, dengan bunga mawar di atasnya, bersandar sebuah foto cantik dari mendiang Visha, mengingatkan sebuah tragedi yang selama ini menimpa kehidupan mereka semua.


*Andai saja kita tak pernah bermusuhan, Vish, aku mungkin akan sangat sedih melihat foto wajahmu di sini*.


Benak Hana, sejujurnya memang menyesalkan apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Visha di masa lalu. Padahal mereka berdua hanyalah korban kelicikan Allianz, namun persahabatan mereka lah yang harus menjadi korban.


Dan kini, ia hanya bisa menatap pusara Visha dengan kesedihan di hatinya, membuat air mata itu pun tak bisa terpendam di dalam kelopak matanya, jatuh saja menggenang di permukaan pipinya.


Apalagi tatkala melihat Alvis masih saja menaruh harapan besar pada sang mama, berharap seakan mama kesayangannya akan segera bangun dari kematian, dan kembali memeluknya dengan sangat erat. Sejujurnya luka itu jauh lebih mendalam terasa dibanding dengan luka akibat permusuhan di masa lalu.


Namun dengan segera dia menghapus jejak kesedihan di pipinya, lalu mencoba memeluk Alvis dengan penuh kasih sayang.


"Alvis, kemarilah sayang," ucap Hana sambil meraih tubuh Alvis, dan memangkunya dia atas pangkuannya.


"Kau tahu? terkadang kita harus merelakan sesuatu yang kita kasihi untuk pergi, sama seperti ibumu, dia sudah pergi, maka tak perlu menaruh harapan pada ibumu untuk kembali kesini," ucap Hana mencoba untuk sangat lembut.


"Kenapa ibu berkata seperti itu? apa maksud ibu mama Alvis tidak akan kembali lagi?" tanya Alvis mulai meneteskan air matanya.


Bagaimanapun juga, dia pun anak manusia biasa, dia tahu soal kepergian yang tak akan pernah kembali, dan dia tahu akan sangat menyedihkannya jika sang ibu memang benar begitu.


Hana langsung menggelengkan kepalanya, mencoba mengusap pipi Alvis dengan sangat lembut, dan mencoba menguatkan hati Alvis yang tengah terluka.


"Sayang, mama kamu sudah bahagia di sana, dia sudah cukup untuk mencintai kamu, sekarang tinggal Tuhan yang memberi mama kebahagiaan, kau mengerti apa maksud ibu?" tanya Hana pada putra angkatnya.


"Apa maksud ibu Hana, mama sudah dibahagiakan oleh Tuhan? apa sekarang Tuhan tengah membalas semua kebaikan dan kasih sayang mama?" tanya Alvis dengan polosnya. Ia bahkan tak pernah tahu apa itu kematian, apa itu bahagia yang sesungguhnya.


"Ya, kau benar, sayang, mama kamu sudah bahagia di sana, kau juga harus bahagia untuk mama, mama kamu akan sangat bahagia kalau kamu juga bahagia dan melupakan Mama Visha," ucap Hana memberi petuah pada Alvis dalam bahasa yang dikemas ringan, dan bisa dicerna semudah mungkin untuk anak seusia Alvis.


"Jadi, dengan melupakan Mama Visha, mama akan lebih bahagia di sana? apa suatu hari nanti, Mama Visha tidak akan marah saat tahu Alvis melupakannya?" tanya anak itu.


"Sayang, seperti ibu yang harus lupa pada anak ibu yang telah tiada, kau pun sama, harus melupakan Mama Visha yang telah tiada, dengan begitu, kau akan semakin bahagia, dan Mama Visha pun akan tenang di sana.."


"Baiklah, kalau begitu, Alvis akan berusaha melupakan Mama Visha, supaya Mama Visha bisa tenang di sana, dan Alvis pun akan bahagia di sini sama Mama Hana." Pria kecil itu bahkan mengatakannya dengan senyum polosnya.


Mendengar panggilan *Mama* yang barusan keluar dari mulut Alvis, sontak Hana dan Naira tertegun. Mereka sangat terkejut saat mendengarnya, bahkan keduanya sempat memaku untuk beberapa saat.


"Sayangku, Alvis, apa kau baru saja memanggilku Mama?" tanya Hana pada putra kecilnya.


"Iya, karena Mama Hana sama seperti Mama Visha, mama kandungku, boleh, kan, Alvis panggil Mama Hana?" tanya Alvis lagi kali ini lebih tampak ceria.


Dan lagi-lagi air mata Hana menitih di pipinya, merasa haru pilu tatkala menatap mata Alvis yang masih menatapnya senang di depannya.


Dengan cepat Hana memeluk putra kecil itu dengan sangat erat, meluapkan kebahagian yang seolah tak akan pernah ada gantinya di dunia ini.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang, mama akan selalu menyayangi kamu, terima kasih kau sudah menyayangi mama." Ucap Hana sambil memeluk putranya, dan mengusap punggung putra Visha itu dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah, sudah cukup untuk sedihnya, kita harus segera pergi, masih ada jadwal untuk bertemu ayah Alvis," ucap Naira bangkit dari duduknya.


Mendengar ucapan Naira yang sudah bangkit lebih dahulu dari duduknya, Hana akhirnya mulai bergeming, melepas pelukannya pada tubuh Alvis, dan kemudian mengusap air matanya, sekedar membersihkan kesedihannya di sana.


"Ya, Bibi Naira benar, kita harus segera berjumpa ayahmu.." ucap Hana sambil bangkit juga menyusul sang sahabat.


Naira terlihat memalingkan mukanya, diam-diam mengusap air mata yang juga menetes di pipinya. Diam-diam dia juga merasa terharu dengan panggilan Alvis untuk Hana. Ia bahkan tak bisa menahan kesedihannya saat harus melihat betapa teganya Alvis menghadapi semua ini.


Dengan langkah kaki perlahan, ketiga orang itu pun mulai terlihat meninggalkan pusara Visha, dan mulai memasuki mobil mereka.


Satu per satu di antara mereka mulai terlihat memasuki mobil Hana, hingga pada beberapa saat kemudian, mobil pun mulai terlihat bergerak meninggalkan area pemakaman.


Satu jam menghabiskan waktu di jalan raya, sekarang mereka telah terlihat di duduk di ruang tunggu.


Menunggu Allianz keluar dari sel tahanan memang agak membuat mereka merasa jenuh, namun keinginan Hana dan Naira untuk mempertemukan Alvis dengan Allianz membuat mereka mengesampingkan rasa jenuh dan bosannya.


Hingga lima belas menit berlalu, akhirnya keluarlah sosok Allianz dari balik jeruji besi, menampilkan wajah kurus dan keringnya seolah tengah mengidap rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Naira segera bangkit dari duduknya, dan menyambut sang kakak dengan penuh perhatian. Namun matanya menangkap hal ganjil dari kakak kandungnya itu, wajah yang pucat, ditambah badan yang entah mengapa mendadak sekurus ini, dan bahkan Allianz agaknya telah berhasil menurunkan berat badannya sangat drastis.


"Kakak, kau kenapa? apa kau sedang sakit?" tanya Naira dengan cemas.


"Aku baik, kamu tidak perlu cemas," jawab Allianz sudah membuktikan kalau pria itu telah berbohong.


"Kau bohong, jelas-jelas kamu jadi kurus dan pucat begini, mana bisa kami percaya kalau kau tidak sakit?" tanya Naira sambil mendudukkan Allianz di kursi yang berhadapan dengan Alvis.


"Ayah?!" panggil Alvis menatap sang ayah dengan penuh kerinduan.


"Sayang, kau juga datang?" dan pada akhirnya, Naira pula yang harus diabaikan dan juga diacuhkan oleh Allianz.


"Sini, Nak, peluk ayah," ucap Allianz membuka kedua tangannya, ingin sekali dipeluk oleh putra kesayangannya.


Si penurut itu hanya merosot dari kursinya, dan mengejar sang ayah yang terpisah darinya oleh sebuah meja di depannya.


Berputarlah anak itu memutari meja, lalu memeluk dan mendekap sang ayah dengan sangat senang.


Kali ini tinggal Allianz yang tak kuat menahan air matanya. Jatuhlah sudah bersamaan dengan kerinduan yang juga dia tumpahkan untuk sang putra kesayangannya.


"Sayang, ayah sangat merindukan kamu, apa kau juga merindukan ayah? sampai mau datang kesini untuk bertemu dengan ayah?" tanya Allianz membiarkan anaknya berada dalam pelukannya.


Namun sang putra lebih dulu melepas pelukan sang ayah, lalu memegang kedua tangan ayahnya dengan ekspresi menyedihkan.


"Ayah, Alvis kangen bisa sama-sama lagi seperti dulu, tadi Alvis sudah datang ke pusara mama, tapi Alvis tidak bertemu Mama, kata Mama Hana, sebaiknya Alvis berusaha melupakan Mama Visha, supaya Mama Visha bisa tenang dan bahagia di sana, iya, kan, Mama Hana?" tanya Alvis sambil menoleh ke arah wajah Hana, membuat Hana dibuat salah tingkah dengan hal itu.


Mendengar perkataan dari putranya, entah mengapa rasa sesak di dada Allianz semakin bertambah. Ia bahkan telah membuat Alvis, putranya, harus melupakan sosok sang ibunda yang teramat dicintainya.


Mendadak kekesalan dan kemarahan pada dirinya perlahan tumbuh, dan menguasai jiwanya. Ia sangat murka pada dirinya sendiri, karena harus menjadi biang permasalahan dari semua ini, dan menjadi penghancur kehidupan orang-orang di sekelilingnya, termasuk untuk putranya, Alvis.

__ADS_1


Ia bahkan telah membuat Alvis menjadi anak tanpa seorang ibu, menjadi anak yang harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya sejak kecil. Sudah seperti itu, masih pantaskah dia memasang wajahnya di depan Alvis?


"Allianz, kenapa kau diam?" tanya Hana pada Allianz yang setia berdiam diri melamun meratapi perbuatannya.


"Tidak apa-apa, untuk ke depannya, tolong jangan bawa Alvis lagi kemari, aku mohon, buat dia lupa padaku juga, jangan sampai dia menyebut aku ayah di masa depan kelak.." ucap Allianz memohon pada Hana, seolah ia tak ingin lagi suatu hari nanti hadir dan kembali membuat rasa kecewa pada putranya.


"Tapi, Kak.."


Dengan cepat Allianz mengangkat satu tangannya, memberi kode pada Naira untuk diam mendengarkan kata-kata dari mulutnya.


"Aku tak tahu apa yang aku putuskan ini memang benar, tapi aku tak mau suatu hari nanti dia merasa kecewa padaku, lebih baik kiranya aku mati, daripada aku harus melihat kekecewaan yang terlintas di kedua mata Alvis.."


Putra kecilnya hanya terdiam dalam pelukan Allianz, tak tahu apa yang sedang dikatakan oleh para orang dewasa di sekelilingnya.


Yang ia tahu hanyalah, ia akan menjadi seorang pria yang tumbuh dewasa tanpa adanya orang tua kandung di sampingnya sampai waktu yang tak bisa ditentukan.


Melihat kesedihan dan penyesalan di kedua mata Allianz, diiringi tangis luka yang amat menyesakkan. Hana pun tak kuasa menahan rasa sedihnya. Ia tak tahu mengapa sang mantan suami bahkan tak ingin melihat putranya untuk selamanya, entah karena apa, sampai-sampai Allianz lebih memilih memendam kerinduan pada putranya, dibanding berjumpa dengan Alvis.


"Apa yang tengah kau pikirkan, Kak? apa kau tidak ingin berjumpa dengannya lagi?" tanya Naira dengan tegas, namun air matanya pun tak kalah deras dari Hana dan Allianz.


"Naira, Kakak minta maaf padamu, telah membuat kekacauan dalam keluarga besar kita, aku hanya minta padamu, tolong jaga anakku, Alvis, aku tak akan pernah sanggup menatap kedua matanya, setiap kali aku menatap matanya, semua kesalahan di masa lalu yang pernah aku lakukan seolah terbayang dengan jelas di sana, seolah bayangan Visha juga bersemayam di kedua matanya, karena itulah, aku tak mau melihatnya, aku tak mau jatuh terlalu dalam pada lubang penyesalan ini sampai terlalu jauh, mohon kau jaga putraku, sayangi dia sama seperti kau menyayangi Yuan dan Anya," ucap Allianz seketika membuat derai air mata mereka bertiga mengalir semakin deras.


"Apa kau sudah tidak waras? bagaimana kau bisa melarangnya untuk menemui kamu? jika kau sibuk membayangkan masa lalu yang pernah terjadi, lalu bagaimana caramu untuk menebus semua dosa-dosamu pada Alvis? dia butuh pertemuan denganmu, untuk sekedar membuat dirinya merasa masih memiliki orang tua," ucap Naira masih mencoba mempertahankan kata hatinya.


"Tidak! dia hanya akan menaruh kekecewaan dan kebencian pada ayahnya, lebih baik, segera bawa dia pergi, aku tak mau dia semakin dalam membuat hatiku merasa sakit, dan aku pun tak mau menaruh kekecewaan di hatinya semakin dalam, Nak, pulanglah dengan Mama Hana, pulanglah dan bahagia bersama Mama Hana.."


Hiks hiks...


Terdengar suara Isak tangis Hana mendengar keputusan mantan suaminya.


"Tapi ayah, Alvis masih merindukan ayah, apa ayah tidak mau bertemu Alvis?" tanya Alvis menatap kedua mata sang ayah dengan kesedihan.


Tak pernah terbayangkan betapa parah luka yang tersayat di hati Alvis saat sang ayah memintanya untuk segera pergi. Bahkan anak kecil pun tahu rasanya disakiti.


"Sayang, akan ada waktunya kita bertemu lagi, lihat, Pak Polisi sudah lelah menunggu ayah, ayah harus segera kembali."


Kini Hana dan Naira sama-sama mencoba diam, menatapi drama antara ayah dan anak yang sangat memilukan ini. Keduanya bahkan hanya bisa memalingkan wajah mereka, karena luka di hati mereka, harus bisa mereka sembunyikan dengan sangat rapat.


"Kemari, sayang, kita pulang.." ucap Naira meraih tubuh Alvis dari pangkuan Allianz.


"Allianz, aku tak pernah menduga kau akan membuat keputusan semacam ini," ucap Hana sambil berusaha menahan rasa sesak di dadanya.


Pria di depannya hanya diam seribu bahasa, seolah ia tak ingin mengatakan apapun yang dia rasakan terhadap situasi ini.


"Tapi, jangan pernah lupa, jika suatu hari nanti kau sudah bebas, orang pertama yang harus kau lihat adalah, Alvis!" sambung Hana dengan menahan tangisnya.


Mendengar kata-kata dari Hana, Allianz hanya bisa mengangguk dengan sedih, "ya, aku janji!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2