Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Dingin


__ADS_3

"Kau tahu, dia tidak pernah menjenguk aku selama aku berada di dalam tahanan, bukannya aku menuntut dia untuk peduli, hanya saja, apa dia masih belum bisa memaafkan aku?" tanya Hana pada Naira.


"Aku tidak tahu, dia sudah lama di pecat dari perusahaan Ardian, apa suamiku tidak pernah membicarakan soal itu?"


"Di pecat? tidak! Ardian tidak pernah membicarakannya, kenapa Allianz sampai di pecat? apa dia membuat kesalahan?" tanya Hana dengan cemas..


"Aku tidak tahu soal itu, Hana, tapi aku yakin Ardian punya alasan kuat untuk memecatnya," sejenak Naira terdiam, memasang wajah lesunya.


Dia merasa bersalah, karena terus menyembunyikan soal pernikahan Allianz dan Visha dari Hana. Namun ia tak sanggup membicarakan semuanya pada Hana, bahkan membayangkan saja bagaimana reaksi Hana saat ia memberitahu semuanya nanti, ia pun masih saja tak mampu.


"Naira, apa pun yang terjadi pada Allianz, meskipun dia masih juga belum memaafkan aku, tapi aku mohon, kamu jangan pernah membencinya, dia masih tidak tahu kalau aku terdesak saat itu, dia hanya tahu aku bersalah, dan juga berdosa, jadi mungkin di matanya, aku orang yang bersalah," ucap Hana sedikit memberi saran pada adik iparnya itu.


"Tapi Hana, dia benar-benar kelewat batas, entahlah, seharusnya dia cemas dan menjenguk kamu meski satu kali setiap tahun, tapi lihatlah apa yang terjadi, dia bahkan seolah tidak lagi menganggap dirimu ada.."


Karena mungkin baginya, kau telah mati, Visha lebih menarik baginya dibanding kamu, karena itulah dia lupa padamu, dia lupa semuanya tentang kamu, aku jadi sedih saat harus menyembunyikan semua kebenaran ini darimu, Hana..


"Tak apa, dia kejam padaku, asalkan aku tidak membencinya, dia boleh menjatuhkan dan meludahi wajahku, tapi janjiku, aku tidak akan berbuat sehina itu selama kami berada dalam ikatan pernikahan.." Ucap Hana terlihat begitu tulus.


Namun dia telah mengkhianati kamu, Hana, andai kau meludahi dia saat ini pun, rasanya kau tidak lagi berdosa..


"Jam berkunjung sudah selesai!!"


Satu pernah penjaga berbicara, dan dua orang lainnya menarik paksa Hana dari kursinya, bahkan tanpa lebih dulu mengucapkan salam perpisahan atau semacamnya.


"Jaga Zhoulin untukku, Naira..."


Hanya itu suara yang samar-samar terdengar lirih dari mulut Hana, bersamaan dengan wanita itu yang pergi meninggalkan ruang pertemuan.


Naira masih saja termenung, sambil terus menatapi kepergian Hana dengan sendu. Tak mampu terbayang di pikirannya saat suatu hari nanti, Hana tahu semua yang telah terjadi di luar sana.


Dengan wajah sedihnya, Naira beranjak dari kursinya, dan segera keluar dari tempat itu menuju mobilnya.


Kreb!


"Apa kita sudah bisa pulang?" tanya Leon pada Naira tanpa menunggu wanita itu tenang.


"Apa ada masalah penting?"


"Ya! restoran mengalami masalah, mungkin anda harus melihatnya sendiri untuk memastikan keadaannya.."


"Apa? apa harus aku sendiri yang melihat keadaannya?" tanya Naira agak kesal.


"Sayangnya memang harus anda yang datang.."


"Hahh! baiklah, kita segera kesana, lalu setelah itu kita langsung pulang!"


"Baik, Nyonya!"


Vroooooommmmmm

__ADS_1


Mobil melaju dengan kencang, meninggalkan tempat penahanan para tahanan itu, dan bergegas menuju ke restoran yang berada agak lumayan jauh dari sana.


Perlu waktu sekitar satu jam, atau bahkan mungkin hampir dua jam untuk bisa tiba di sana.


Dan waktu yang sangat lama itu, di gunakan oleh Naira untuk merenung, memikirkan bagaimana nasib Hana akibat ulah yang di lakukan oleh kakak kandungnya, Allianz.


Apa lagi yang dia dengar, Visha tengah mengandung, buah hati hasil cinta mereka berdua. Tak terasa air matanya menitih, jatuh di pipinya.


Namun buru-buru saja dia seka, tak mau memberi bekas kesedihan di sana, selain dia, tak ada lagi yang mampu membuat dirinya dan Hana tegar.


Wanita itu terus menatap ke arah jendela, melihat suasana panas di luar sana, menatap pada pepohonan yang mereka lewati, dan juga beberpaa bangunan yang tinggi menjulang ke atas, berharap dengan melihat semua itu, pikirannya menjadi lebih tenang.


Huhh!


Namun apalah daya, dia yang memang lemah untuk segala hal, apa lagi menyembunyikan kesedihan dalam hatinya, perlahan mulai menangis, dan merasa hancur sehancur-hancurnya, meratapi nasib Hana yang amat memilukan.


Hana, betapa berdosanya aku dan kakakku yang telah melakukan semua ini, maafkan aku, aku yang ikut berdosa karena terus menyembunyikan semua yang aku ketahui darimu, jika kau ingin meludahi kami berdua, maka seharusnya kau lakukan saja, kami tidak pantas mendapat ampunan darimu, Hana..


Kakakku yang terlalu lemah, lemah pada hawa nafsunya, dan lemah terhadap emosi dan amarahnya, hingga membuat dirimu jatuh dalam lubang kesengsaraan, dan naasnya lagi, aku dan kakakku bersenang-senang di atas penderitaan kamu...


Tanpa pernah berpikir, bagaimana kamu harus menjalani hari-hari kamu di dalam penjara, maafkan aku, maafkan apa yang telah aku lakukan dengan kakakku, kami berdosa, kami bersalah, kau patut menghukum kami...


Masakan kami Hana...


Hiks hiks..


'Tuan, Nyonya terlihat sangat sedih..'


Sent!


Pesan terkirim, kini hanya tinggal satu langkah lagi untuk menunggu respon dari Ardian.


Wajah Naira pada saat itu memang terlihat pilu, meskipun dia pilu karena melihat nasib yang amat menyedihkan dari sosok Hana, namun tak bisa di pungkiri juga, kalau Leon pun merasa cemas akan hal itu.


Anak muda itu menawarkan air minum untuk Naira dari jok depan.


"Nyonya, minumlah! jangan menangis terus menerus, kau bisa sakit karena itu.." Ucap Leon sambil menyodorkan satu botol air mineral, tanpa menoleh ke arah Naira sedikitpun.


Naira mengambilnya, dan meminumnya, lalu terlihat tangannya meletakkan botol tersebut, dan beralih lah dia menyambar tissue di kotaknya, kemudian mengelap matanya yang sudah sembab.


"Apa anda sedih karena keadaan Nyonya Hana?" tanya Leon dengan sopan.


"Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Hana saat harus berada di dalam tahanan tanpa berteman siapapun, rasanya pasti dingin sekali.." Ucap Naira pada Leon.


Leon terlihat membuang nafasnya dengan lirih, tak ingin mengganggu harimau yang sedang menangis ini, karena kalau dia berani macam-macam, maka ia harus terima resiko akan di habisi.


"Dan lebih parahnya lagi, Kak Allianz akan punya anak dengan Visha, sementara Hana masih belum tahu semuanya, bagaimana kalau kelak Hana keluar dari tahanan, dan melihat semuanya? aku tidak yakin bisa melihatnya.."


"Cepat atau lambat, semuanya pasti akan di ketahui oleh Nyonya Hana, hanya saja, kapan itu terjadi, tidak ada yang tahu," ucap Leon pada Nyonya besarnya.

__ADS_1


"Kau benar, meskipun aku tidak yakin apakah suatu hari nanti, saat hal itu terjadi, kita semua sudah siap melihatnya atau belum, tapi masa itu sudah pasti akan datang, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk terjadi," ucap Naira lagi.


Naira terlihat membersihkan area matanya, dan mulai mencoba untuk lebih tegar lagi.


"Memangnya di restoran ada masalah apa?" tanya Naira sesaat setelah dia berhasil menyelesaikan kerunyaman di dalam otaknya.


"Nanti anda bisa melihatnya sendiri.."


Laju mobil semakin di percepat, ingin sekali segera tiba di restoran dan memberitahu semuanya pada Naira, tapi tentu saja tidak semudah itu, sebelum mereka tiba, tentu saja perjalanan yang sangat panjang harus dia lalui.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sepeninggal Naira, Hana terlihat kembali meringkuk, menyembunyikan wajahnya dalam rengkuhan dua lututnya, dan mencoba untuk menghentikan semua kecemasan yang ada di hatinya.


Kecemasan untuk suaminya, apa yang terjadi pada Allianz, dan juga apa yang di lakukan Allianz selama satu tahun tanpa dirinya.


Soal pemecatan itu, bukankah seharusnya ada alasan logis untuk itu? apa mungkin kinerja Allianz yang tidak terlalu bagus, atau mungkin, ada hal lain yang membuat Allianz harus di pecat dari perusahaan?


Semua pertanyaan itu menjadi ruwet dalam otaknya, berusaha untuk menjatuhkan dirinya, dan mendorongnya ke lubang kecemasan yang dalam.


Rasa curiga, cemas, sedih, dan juga kecewa bercampur menjadi satu, dan menjadi lebih gila lagi, saat entah mengapa dia merasa ada keanehan dari nada bicara Naira yang seolah menyembunyikan sesuatu darinya.


Namun dia mencoba untuk berpikir positif, mencoba untuk menghilangkan semua pemikiran buruknya pada suaminya, meski ada rasa kesal di hatinya, namun kepercayaan dia pada sang suami jauh lebih besar dari apapun..


Sampai saat Allianz tak lagi menjenguk dirinya, dan juga mungkin tak lagi peduli pada dirinya, dia masih juga berpikir positif tentang sang suami, tak ingin mencela suaminya, yang mungkin sedang berjuang keras di luar sana, hanya untuk sekedar menyambung hidup.


Tanpa pernah dia berpikir, seorang pria yang sedang kesal pada istrinya, mungkin akan dengan mudah mendapat sandaran lain sebagai tempat dia berteduh, sebagai tempat berlabuh sementara waktu, untuk menenangkan dirinya selama tidak adanya seorang istri.


Arkh!


Sayang sekali Hana selalu menyembunyikan dan mengubur dalam-dalam perasaan itu. Dia tak ingin berpikir terlalu jauh tentang suatu hal yang baginya tidak akan mungkin terjadi.


Mungkin Allianz memang amat sulit dalam memaafkan dirinya, namun dia juga percaya, kalau pria itu, tidak akan mungkin sampai hati mengecewakan apa lagi sampai mengkhianati dirinya.


Dan saat pikiran-pikiran itu mulai muncul, Hana memilih untuk berbaring di atas lantai yang dingin menusuk, dan mencoba meluapkan semuanya dalam diam.


Ingin bermimpi, dan dalam mimpinya, bersatulah keluarga kecilnya, kemudian hidup dalam penuh kebahagiaan, begitulah selalu yang dia lakukan saat dia mulai mencurigai sang suami.


Ya! tidak mungkin kau akan mengkhianati aku, meski hanya sekedar mencari sandaran lain, karena sebegitu bencinya kamu padaku, aku tetap satu-satunya bagimu, aku percaya padamu, All..


Dengan perlahan, kedua matanya tertutup, dan larutlah dia dalam mimpi buruk, yang hampir setiap hari dia alami..


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aku bersyukur kau hadir dalam perutku, karena kau, adalah satu-satunya yang bisa membuat ayah kamu, mencintai ibu sepenuhnya, maka bertahanlah, Nak! kita akan segera merebut posisi bibi kamu dari ayahmu...


( Mengelus )


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2