Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Kesal


__ADS_3

Hahh!


Brak!!


Wanita itu membanting tas mahalnya di atas sofa, lalu dengan kesalnya membuka sepatu hak tinggi yang ia kenakan sejak tadi.


Pertemuan dengan sosok Hana yang selalu saja membuat dirinya merasa kesal dan seolah tidak waras benar-benar menguras emosinya.


Ia ingin sekali menjatuhkan wanita itu di depan umum, tapi nyatanya selalu saja dia yang kalah telah dari wanita itu.


Ia bahkan seolah bak tamu eksekusi mati yang menawarkan dirinya secara langsung pada hakimnya.


Sungguh mengesalkan setiap kali harus berurusan dengan wanita itu, hahh! dia memang selalu kalah setiap kali berurusan dengan Hana bukan?


Ya tentu saja dia selalu kalah, di mana-mana, seorang pelakor tetap akan kalah di mata masyarakat, terutama di mata istri sah. Mau sebaik apapun dan secantik apapun Visha, kalau sudah di cap sebagai perebut suami orang, tentu saja dia akan tampak buruk di hadapan orang lain.


Tapi dia tetap saja masih belum menyadarinya. Berpikir seolah-olah hanya dia yang paling benar di muka bumi ini, dan Hana adalah wanita yang paling bersalah dalam situasi ini.


Duduklah dia di sofa, dan di manyunkan saja bibirnya sepanjang dua Senti ke depan, sambil memutar ulang kejadian tadi di dalam otaknya.


Kesal sekali, apa lagi saat Hana mengatakan kalau dia telah memungut sampah menjijikan darinya, dan itu artinya dia adalah manusia yang paling buruk..


Hahh!


Kesal sekali setiap kali harus mengingat hal itu lagi dan lagi. Tapi entah mengapa otaknya tetap saja memutar cerita itu tanpa lelah.


Ia menggaruk kepalanya dan mengacak-acak rambutnya yang semua masih tergerai dengan indah.


Wanita itu sungguh membuat dirinya pusing tujuh keliling. Ia bahkan merasa hampir gila di buat Hana. Tak tahu apakah Hana juga merasakan hal yang sama seperti dirinya atau tidak!


Atau mungkin hanya dia saja yang merasa di pusingkan dengan kejadian di restoran tadi. Dia yang di permalukan di hadapan umum oleh Hana, tapi bodohnya, mengapa dia hanya diam saja? mengapa dia tidak melawan Hana?

__ADS_1


Apa memang dia tak punya keberanian untuk melawan wanita itu, atau memang dia tak tahu kelemahan apa yang di miliki oleh sosok Hana?


Sekarang dengan wajah kesal dan geramnya dia mulai terlihat menuju ke lantai dua untuk beristirahat di kamarnya, namun saat dia bangun, dia mendapati cincin yang ia temukan di jas milik suaminya terjatuh darinya.


Ia memang menyimpannya, padahal sebenarnya ia berniat untuk membuangnya, mengapa sampai lupa?


Dengan kesal Visha memungut kembali cincin itu dari atas lantai, dan kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku bajunya.


Tak ingin melakukan acara pembuangan sampah itu malam ini, Visha memilih untuk membawanya kembali ke dalam kamar, dan menyimpannya di rak pribadi miliknya, bahkan Allianz pun tak akan bisa menemukannya kalau dia menaruh cincin itu di sini.


Dengan langkah gontai, Visha masuk ke dalam kamar mandi, dan bergerak menuju bathtub.


Ia menceburkan diri ke dalam air yang hangat, sejenak ingin menyegarkan diri dan menenangkan pikiran kacaunya akibat kejadian tadi.


Kedua matanya dia pejamkan, dan dia nikmati acara perendaman tubuhnya yang amat hangat.


Ia bahkan lupa kalau suaminya belum juga pulang. Entah kemana suaminya kini, sejak sore laki-laki itu tidak menghubungi dia, atau pun sekedar mengirim pesan padanya.


Atau mungkin pria itu tengah di sibukkan oleh pekerjaan, sampai-sampai lupa untuk mengabari istrinya?


Mulanya Hana yang membuat dia stres, dan sekarang, suaminya juga ingin membuat dia menua lebih cepat? tidak, tidak! itu tidak boleh terjadi, lebih baik dia menenangkan pikiran dan jangan ambil pusing pada dua orang itu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sementara itu, Hana kini telah berada di dalam butik Naira yang megah dan mewah. Ia tengah mengunjungi usaha milik sahabat baiknya itu, dan berniat untuk membicarakan persoalan kemarin yang belum sempat mereka selesaikan.


Ia melihat berbagai model baju, mulai dari yang paling murah namun terlihat mewah, sampai yang polos tapi memiliki harga yang cukup fantastis.


Dia dan Naira berniat untuk melakukan kerja sama, membuat bisnis keduanya jauh lebih maju dan berkembang di lain kota.


Mereka ingin mengembangkan produk-produk mereka sampai ke luar kota dengan bantuan Ardian, suami Naira.

__ADS_1


Tapi tentu saja semua itu masih belum cukup pembahasannya, mereka tetap harus membicarakan semuanya matang-matang nanti.


"Hai.."


Kala dia di sibukkan dengan pemikiran jenuhnya mengenai rencana kerja sama itu, datanglah seseorang dari arah dalam menyapa dia dengan sangat hangat.


Hana tak begitu terkejut. Dia berbalik dan melihat sosok wanita yang sudah dia duga akan menyambutnya dengan hangat.


"Hana, kau sudah tiba?" ya, siapa lagi kalau bukan Naira? bukankah selama ini hanya mereka yang mampu mengerti dan mendukung Hana dalam setiap posisi?


Keduanya saling memeluk dan tersenyum dengan ramah, seolah di antara mereka lebih dari seorang sahabat.


"Kamu dari mana saja? aku tunggu kamu dari jam lima tahu," ucap Naira pada Hana.


"Kebetulan aku bertemu kecoa saat makan di restoran, jadi aku harus lebih dulu mengurusnya, kan?" nada dan ucapan Hana sungguh membuat Naira terkekeh mendengarnya.


"Hahaha.. apa dia yang menemui kamu? aku kira dia masih tidak punya muka.."


"Kau memang selalu pandai menebak," jawab Hana pada Naira.


"Tentu saja dia mudah di baca, bukankah sejak awal dia selalu saja tak punya muka? aish! kalau aku jadi dia, aku pasti akan sangat malu melihat kamu, jangankan menemui kamu, rasanya menatap mata kamu saja aku sudah tidak punya nyali.." ucap Naira sambil menggandeng sahabatnya masuk ke ruangannya.


"Kamu kan masih punya malu, tidak seperti dia yang sudah tidak punya malu lagi, hahh! tidak penting membicarakan dia yang tidak punya malu, lebih baik kita bicarakan saja kerja sama kita di kota M." Ucap Hana sambil terduduk di kursi.


. "Kau tahu? aku sudah lama sekali tidak pernah kesana, sejak perceraian aku dengan mendiang Doni, rasanya agak gimana juga kalau aku turun langsung ke sana, bagaimana kalau kamu dan Ardian saja yang ke sana? aku yakin Ardian juga tidak akan setuju kalau aku yang ke sana!"


"Aaahhh, mengapa harus dengan dia? aku justru tidak nyaman kalau harus satu perjalanan dengan orang bisu seperti suami kamu, hanya kau yang pandai mengajak aku bicara," keluh Hana dengan wajah putus adanya, "ayolah, Nai, kau juga harus ikut, masa kau masih saja trauma gara-gara masa lalu kamu sama Doni?" tanya Hana lagi.


"Ya, kalau aku si terserah suami saja, kalau dia mengizinkan aku, aku pasti ikut, tapi kalau dia tidak mengizinkan aku, apalah dayaku," jawab Naira dengan wajah datarnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengatakan padanya, aku yang memaksa kamu untuk ikut, lagi pula ini kan kerja sama kita berdua, kenapa harus aku saja yang ke sana? ajak juga dua anak kamu itu sekalian kita liburan juga, nanti aku juga ajak Zhoulin sama Miranda buat ikutan, ya?"

__ADS_1


"Nanti aku pikir-pikir lagi, ya.."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2