
Hari itu, Naira memilih untuk mengunjungi Hana ke lapas, sekalian ingin memberitahu pada wanita itu soal wanita asing bernama Miranda yang mengaku sebagai ibu kandung Zhoulin.
Ia membawa bungkusan makanan di tangannya, berharap Hana akan memakannya dengan lahap di sana.
Sudah sekitar lima menit dia menunggu di kursi tunggu, menunggu kedatangan Hana dari balik jeruji besi.
Ia tak datang seorang diri, ada sang suami yang selalu setia menemani dia apapun yang terjadi, sampai terlihat dengan jelas wanita itu keluar dan mulai memunculkan wajahnya yang masih pucat juga ke arah mereka.
"Hana.."
Bergegas Naira memeluk Hana, dan ingin sekali menumpahkan kesedihan juga kecemasan yang ia rasakan atas kejadian Zhoulin tempo hari.
"Naira, bukankah baru beberapa hari yang lalu kamu datang menjenguk aku? kenapa sekarang mendadak datang lagi?" tanya Hana dengan penuh teka-teki.
Naira menuntun Hana untuk duduk berhadapan dengan dirinya dan juga suaminya, dan mulai berbicara dengan perlahan, tidak ingin membuat kakak iparnya itu tersentak dan kemudian merasa sedih.
"Hana, aku bawakan makanan untuk kamu, nanti di makan, ya, jangan sampai kamu telat makan.."
Naira menyodorkan satu wadah berisi makanan yang sengaja dia buat khusus untuk Hana sebelum mereka beranjak ke sini.
"Baik banget, kayanya masakan kamu enak, jadi penasaran.."
Dengan senyum songar, Naira terus menatapi kakak iparnya, dan masih saja merasa tidak tega untuk memberitahu semua berita yang ia dapat beberapa hari yang lalu.
"Kalian ini kenapa si?"
Melihat dua sahabatnya yang datang dengan muka yang masam, tak ceria, atau bahkan bahagia sedikitpun, Hana menjadi was-was, seolah ada sebuah peluru yang tengah bersiap dan membidiknya dari jarak dekat.
Ia tahu ada yang tidak beres di sini, hanya saja, apa yang memang dia rasa aneh, ia masih belum tahu.
"Nai, Ardian? kalian ini kenapa? kok dari tadi cuma diam? apa ada masalah?" tanya Hana mencoba lebih jelas lagi.
"Hana.."
Sejenak Naira terdiam, tak sanggup melanjutkan kata-katanya yang sudah terlanjur di tengah jalan.
"Ya? kenapa?"
Namun lagi dan lagi, dua manusia itu kembali diam, tak bergeming sedikit saja dari tempatnya, hanya raut muka bimbang yang terlukis dengan jelas di wajah keduanya.
"Kalian ini kenapa si? kalau ada masalah, coba cerita, jangan kalian pendam sendirian begitu!" kali ini Hana terlihat memaksa Naira dan Ardian untuk segera bicara.
Naira menarik nafasnya dengan panjang, dan berusaha untuk mulai bicara lebih tenang. Bagaimanapun dia merasa gugup sekarang, tapi tetap saja, dia harus menjelaskan semuanya pada Hana.
Ya!
__ADS_1
Sekarang, atau tidak sama sekali..
"Hana, ada seorang wanita yang datang," ucap Naira untuk memulai percakapan.
"Wanita yang datang? siapa? kalian ini ngomongin apa si? aku masih tetap tidak mengerti.."
"Hana, dengarkan aku dulu!" Naira terlihat meremas tangan Hana, dan mencoba menyalurkan kekuatannya dari sana, "wanita itu mengaku sebagai ibu kandung Zhoulin!"
Deg!
Baru mendengar kata-kata itu saja, Hana langsung tersentak. Seluruh tubuhnya terdiam mematung bak patung yang tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kamu tenang dulu, Zhoulin masih aman bersama kami, tapi kami sedang melakukan tes DNA, untuk kecocokan mereka berdua.." Jelas Naira pada Hana dengan gamblang.
"Lalu bagaimana lagi? apa kalian berusaha keras untuk mempertahankan putraku?" tanya Hana, kali ini dia sudah semakin lemah.
"Hana, tenanglah, sebisa mungkin aku akan berusaha mempertahankan anakmu, tapi, aku tidak bisa menjamin kalau wanita itu benar ibunya, maka kita sendiri yang harus mengalah," ucap Naira lagi, dan kali ini dia terlihat mengambil sikap yang sangat benar.
"Tapi, Nai, bagaimana kalau dia benar ibu kandungnya? apa itu artinya aku juga harus kehilangan Zhoulin!?" tanya Hana dengan wajah yang sudah bercampur aduk ekspresinya, antara sedih, kesal, takut, cemas, dan berbagai rasa bersatu di sana, menjadi lukisan abstrak yang tak mampu di lihat dengan mata kosong.
"Aku minta maaf, Hana, karena kalau dia benar ibu kandungnya, kita tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan Zhoulin di bawa pergi," jelas Naira lagi.
Wanita itu kali ini benar-benar memberi jawaban yang sangat tepat. Dia memang tidak mau memberi sebuah harapan pada Hana, karena ia sendiri lebih takut tak mampu mewujudkan harapan Hana itu.
Di sisi lain, dia pun berharap Zhoulin tetap bersama dengannya dan juga Hana, namun keadaan akan berbalik pedih, kalau dalam tes DNA itu membuktikan dengan akurat, kalau wanita itu benar ibu kandung Zhoulin.
Tangis Hana mendadak pecah. Tangis yang selama lebih dari satu tahun ia tahan dan ia pendam seorang diri, tidak bisa dia tumpahkan meski hanya pada dinginnya angin malam, dan kesunyian yang melanda kesendiriannya, pada hari ini, akhirnya pecah sudah.
Tangis yang ia keluarkan kali ini benar-benar tidak akan mudah di obati, andaikata sang petugas memberi sedikit pengertian pada mereka pun, Hana ingin sekali menumpahkan kesedihan yang sudah lama dia tahan seorang diri pada Naira dan juga Ardian.
Namun apalah daya, seolah tak punya hati, atau karena memang tugas yang memaksa mereka untuk memisahkan Hana dengan Naira dan Ardian, karena jam berkunjung yang memang sudah habis.
Naira dan Ardian terdiam di kursi, masih belum dapat juga jawaban dari Hana untuk persoalan tadi, namun wanita itu sudah di bawa masuk kembali ke dalam tahanan, dengan ribuan air matanya yang terus menetes membasahi pipinya yang terlihat semakin tua.
Dalam diam Ardian dan Naira pun menangis, ingin sekali mengeluh pada takdir, namun apalah daya, kita bukan Tuhan yang mengatur jalan hidup manusia, kita hanya harus menerima semua yang terjadi pada hidup kita.
Dengan langkah yang penuh keterpaksaan, Ardian dan Naira pun pergi meninggalkan tempat itu dengan penuh kesedihan. Tak bisa membayangkan bagaimana akhirnya kalau benar wanita bernama Miranda itu ibunda dari Zhoulin.
Hancur sekali hati mereka!
Dengan langkah gontai, masuklah Ardian dan juga Naira ke dalam mobil, dan sejenak menenangkan diri mereka di dalam sana..
"Kau sudah baik-baik saja?" tanya Ardian pada suaminya setelah sekian lama dia terdiam.
"Ya! aku sudah jauh lebih baik, kita pulang saja sekarang!"
__ADS_1
"Baiklah, mari kita pulang!"
Ardian mengendalikan mobilnya, untuk segera keluar dari tempat itu, dan bergegas menuju ke arah jalan raya, lalu dengan perlahan, mobilnya pun tenggelam, dan tidak lagi terlihat oleh pelupuk mata.
Sementara di dalam sel tahanan, Hana merenung, makanan yang di bawa Naira untuknya di letakkan saja oleh petugas jaga wanita di sana, dan di biarkan saja tergeletak di atas lantai yang dingin.
Dia merenung, membayangkan betapa hancur dan sakitnya takdir yang harus ia jalani. Belum juga habis masa tahanan, apa lagi kabar soal suaminya yang sampai saat ini masih tidak dia dengar, apa lagi dia lihat, dan sekarang, secara mendadak muncul lagi masalah baru, yang kali ini benar-benar merenggut kebahagiaan dan kehidupannya.
Zhoulin kecil yang amat dia sayangi, haruskah dia juga kehilangan putra angkatnya itu? haruskah dia kehilangan segala hal tentang dia, dan menjalani kehidupan di dunia ini bak orang cacat yang tidak bisa bergerak dengan bahagia?
Dalam diamnya dia menangis, makanan yang lezat di depannya pun tak di lirik meski hanya sebentar saja. Mendadak selera makannya menghilang, yang ada di dalam mulutnya hanya rasa pahit, dan juga getir.
Ia merasa hidupnya benar-benar tidak adil, semua yang ia miliki seperti di ambil dan di renggut saja dengan paksa oleh takdir, membuat dia harus kehilangan segalanya, dan hidup seorang diri dalam kesepian.
Apakah Tuhan benar-benar tidak mendengar kata-kata yang di ucapkan dalam hatinya? bukankah semua orang berhak meminta dan memohon pada-Nya meski dia juga pernah melakukan dosa besar di masa lalu?
Arkh!
Pedihnya hati, siapa yang tahu, semoga ke depannya, takdirmu jauh lebih baik lagi, Hana..
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Satu Minggu telah berlalu, hari ini, adalah hari di mana Naira dan Ardian mengambil hasil yang akan keluar dari rumah sakit mengenai tes DNA antara Zhoulin dan wanita yang di ketahui bernama asli Miranda itu.
Mereka berbondong-bondong menuju ke rumah sakit, dengan persiapan mental yang sudah mereka siapkan sejak jauh-jauh hari.
Tidak tahu hasil apa yang akan mereka dapat hari ini, yang jelas, Naira dan Ardian, serta wanita itu pun sudah siap mendapat jawaban apapun yang akan keluar nantinya.
Kertas hasil tes DNA itu sudah benar-benar di jaga keasliannya, dan tidak akan mungkin bisa tertukar oleh apapun, karena penjagaan yang ketat, di tambah lagi Andrew yang sudah memastikan kalau surat itu benar-benar hasil dari tes yang dia lakukan satu Minggu yang lalu.
Kini tiga orang itu sudah terduduk di kursi tepatnya di dalam ruangan Dokter Andrew, sambil terus menata irama jantung mereka yang berdegup cukup kencang, merasa gugup dengan hasil yang akan keluar nantinya.
Dokter Andrew datang dari ruangan rahasia, dan kemudian masuklah dia ke dalam ruangannya sendiri, dengan menenteng satu amplop yang di pastikan berisi hasil tes DNA tersebut.
Tak sabar sekali mereka bertiga mendengarkan jawabannya, hingga belum sempat Dokter Andrew duduk di kursinya, Naira langsung saja bertanya bagaimana hasil yang keluar di sana.
"Dokter Andrew? bagaimana hasilnya? apa sudah bisa di lihat?" tanya Naira sambil beranjak dari kursi nya.
Dokter Andrew masih belum juga membuka amplop di tangannya, dan terlihat mengabaikan ucapan Naira yang tidak sabaran itu.
Dokter tampan berusia muda itu terlihat duduk saja di kursinya, lalu dengan langkah hati-hati, mencoba membuka amplop di tangannya.
Wanita asing itu pun terlihat sangat gugup, meski begitu, dia tak seperti Naira yang terus saja memunculkan ketidak sabarannya terhadap hasil dalam kertas tersebut.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya wanita itu..
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️