Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Mengantarkan William


__ADS_3

Keduanya kini harus berhenti di bandara, mengucapkan salam perpisahan dan melepas kepergian William dengan sangat terpaksa.


"Maaf selama kamu di sini aku tidak pernah bersikap baik kepadamu," ucap Hana dengan sendunya, merasa sedih dengan kepergian William untuk pulang ke negara asalnya nan jauh di sana.


Mendengar penuturan Hana barusan, William jadi menyunggingkan senyuman bahagianya, ya, dia pun merasa selama ini tak pernah di hargai sedikit saja oleh Hana, tapi mendengar perkataan maaf dari Hana di sisa akhir dia di kota ini, membuat dia merasa bahagia dan senang.


"Aku sangat senang kau mau mengatakan satu kata yang sangat hangat bagiku di sisa akhir waktu aku di sini.."


"Apa kau tidak akan kembali?" tanya Hana dengan wajah sendunya, "padahal seru sekali saat kau di sini, ada yang menjahili aku di setiap hari, ya, kau tidak mengganggu waktuku sama sekali, malah aku merasa sedih saat tahu kau harus segera pergi dari sini.."


"Do'akan saja supaya aku bisa segera kembali ke sini, mungkin kaulah orang yang paling merindukan aku," senyum di bibirnya mengembang setengah, mengatakan betapa dia sedih harus berpisah, namun harus bisa tersenyum di depan Hana untuk memberikan sedikit kebahagiaan di sisa waktunya.


"Baiklah, segeralah pergi, kalau tidak kau akan ketinggalan pesawat," ucap Hana pada William sambil terus memegang sekuntum mawar merah pemberian dari William.


"Ada yang ingin aku katakan padamu sebelum aku pergi," ucap William dengan sangat serius.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Hana.


"Hana, masih bisakah kau menerima pria lain sebagai pengganti suamimu?" tanya William dengan nada memohon serta mengharap cinta dari Hana.


Ya, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya mengatakan semua yang dia rasakan selama ini dengan Hana. Sebelum ia memilih untuk terbang kembali ke kotanya, ia harus segera mendapat jawaban atas semua perasaannya pada Hana, atau semuanya tidak akan pernah memiliki jawaban.


Hana menunduk sedih, pun bingung. Jujur saja, ia tak pernah lagi menaruh cintanya pada pria manapun selepas kepergian Allianz dari hidupnya. Bukan karena ia masih mencintai Allianz, hanya saja, ia tak menampik dia bukanlah wanita sempurna yang bisa memberikan keturunan untuk seorang pria.


"Aku takut kau tidak menyukai wanita cacat, aku juga tidak mau mengecewakan seorang pria, lalu pria itu memilih meninggalkan aku dengan wanita lain yang lebih sempurna," ucap Hana dengan wajah sedih, namun terlihat amat yakin dengan keputusan yang ia ambil, "kau hanya akan menyesal jika memilih hidup bersamaku, jadi lebih baik carilah orang lain yang bisa menerima kamu sepenuh hatinya.."


"Aku tidak membenci wanita cacat atau tidak bisa memberi aku keturunan, aku hanya memilih wanita yang bagiku tepat untuk mendampingi hidup aku, dan bagiku, wanita itu adalah kamu," ucap William sambil terus memegang tangan Hana dengan penuh pengharapan.


"Tidak!" jawab Hana dengan sangat mantap, "aku sudah memutuskan untuk hidup seorang diri di sisa akhir hayatku, jika aku menyayangi kamu, maka itu hanya sebatas teman, tidak bisa lebih, dan jika kamu masih terus mencintai aku, maka lebih baik bagimu untuk tidak kembali lagi ke sini, karena seberapa besar pun usaha kamu untuk mendapatkan aku, aku tetap tidak akan mengiyakannya, asal kau tahu itu.." jelas Hana dengan gamblang, tak ingin memberi harapan palsu pada pria ini.


Ya, namun usaha Hana berhasil. Pria itu akhirnya bisa mengangguk menyetujui perkataan darinya barusan, lalu dengan perlahan melepas genggaman tangannya pada kedua tangan Hana dengan sekuntum mawar yang masih ada di sana.


"Aku mengerti, aku akan segera melupakan kamu, terima kasih atas waktunya selama dua bulan terakhir ini, kau begitu berharga di mataku, dan juga di hatiku, jadi jangan pernah lupakan itu, biar aku saja yang berusaha melupakan kamu, karena jika aku tidak bisa melupakan kamu, aku akan segera mati," ucap William agak terdengar berlebihan memang.


"Kau sangat berlebihan, sudahlah, pergi sana! kita akan jadi sahabat selamanya!" ucap Hana memberi keringanan untuk William, pria asal benua Eropa yang entah mengapa mendadak menjadi pengisi hidupnya yang kelam.


"Baiklah, jaga diri kamu baik-baik, jangan sampai sakit," pesan William.


"Aku akan sakit!"


"Ck! kau ini! baiklah, terserah kau saja! aku akan pergi!" menggeret koper miliknya, "bye!" melambaikan tangan.


"Yeah, bye!"

__ADS_1


Dengan langkah kaki perlahan, William mulai meninggalkan Hana yang masih berdiri di sana memakai jaket tebal, dan memasukkan kedua tangannya di dalam saku jaket tebal miliknya itu.


Sekali lagi William berbalik, lalu tersenyum ke arah Hana, dan setelah itu, pergilah laki-laki itu dengan langkah kaki yang sangat perlahan, seolah begitu tidak ingin meninggalkan tempat ini, tempat yang telah mempertemukan dirinya dengan Hana, dan entah mengapa bisa membuat perasaan cinta itu tumbuh dengan suburnya di hati kecilnya.


Namun sayang seribu sayang, Hana hanya seorang wanita yang tak ingin sisa hidupnya di akhiri dengan drama. Ia tak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan seorang pria.


Sejujurnya kedatangan William dalam hidupnya baginya tak ada yang istimewa, pun tak ada yang bisa membuat dia merasa berbeda, hanya biasa saja dan hanya sebagai teman biasa.


Ia tak pernah lagi ingin menaruh perasaan cintanya pada seorang pria manapun. Ia telah memilih jalannya sendiri, menjadi diri sendiri, dan mengambil keputusan untuk hidup seorang diri, tanpa siapapun yang dia anggap istimewa, seperti kekasih atau pun suami. Tidak lagi!


Cukup baginya pernah menelan pil pahit yang sangat getir selama bertahun-tahun berumah tangga dengan Allianz, menumpahkan seluruh rasa cintanya pada sosok Allianz, yang pada akhirnya memang harus mengkhianati dia.


Sudah cukup baginya untuk berkorban hanya demi sebuah hubungan dengan seorang pria. Ia tak ingin lagi jatuh terhempas kan oleh ombak di lautan, ia ingin bisa menjadi matahari yang bisa menyinari seluruh dunia meski ia hanya berdiri seorang diri di atas langit.


Sekali lagi Hana melambaikan tangannya pada William yang menoleh ke arahnya untuk terkahir kalinya sebelum ia pergi.


Wanita itu tersenyum, mengantarkan William sampai masuk ke dalam kabin pesawat. Dan akhirnya bayangan William makin lama makin tenggelam bersamaan dengan tubuh Hana yang juga berbalik hendak meninggalkan tempat tersebut.


Ia pun melangkah dengan perlahan, mengulas senyuman di bibirnya dengan manis, menikmati kebebasan yang telah dia nikmati selama setengah tahun terakhir setelah perpisahannya dengan Allianz.


Ini sungguh sangat memuaskan. Hidup seorang diri dengan kebebasan, dan tak lagi mengandalkan orang lain, tak lagi merasa terbebani dengan sebuah hubungan, sekarang dia benar-benar senang menjalani hidupnya menjadi seorang jomblo.


( Mengandung pesan bagi para jomblo ).


*Ya, aku memang senang sekarang, meskipun kini aku hanya di takdirkan berdiri di atas kakiku seorang diri, tapi aku merasa puas atas semua yang telah aku capai seorang diri, aku tak lagi membutuhkan kasih sayang dari seorang pria kepada pasangannya, aku tak butuh uang dari seorang suami untuk biaya hidup aku lagi, dan aku juga tidak punya beban dalam sebuah hubungan*..


*Aku pikir Tuhan juga kasihan padaku, aku tahu Tuhan kasihan padaku karena selama ini aku telah melalui banyak hal yang pahit dan menguras air mataku, mungkin ini memang kemenangan yang di maksud Tuhan untukku, terbebas dari seorang pria, dan hidup seorang diri tanpa mengkhawatirkan suatu hubungan, aku tahu Tuhan memang selalu berpihak padaku*..


*Aku tahu Tuhan memberi aku jalan terbaik dengan hidup seorang diri untuk membuat aku lebih bahagia dan lebih merasakan terbangnya burung di angkasa dengan kedua sayap yang ia miliki, aku pun merasakannya, aku bebas sekarang! aku tak lagi terbebani oleh apapun! aku hanya hidup untuk diriku sendiri, dan aku hanya mengabdikan cintaku pada hidupku*!


*Terima kasih Tuhan, jalan yang kau pilihkan untukku benar-benar selalu memihak padaku, benar-benar selalu menyelamatkan aku dari rasa sakit yang tak pernah aku bayangkan apakah aku bisa melaluinya atau tidak*!


*Kau memberi aku perpisahan selama satu tahun dengan Allianz, dan kemudian secara tidak sengaja kau mempertemukan aku dengan Visha, supaya aku lebih mengenal Visha wanita seperti apa*..


*Lalu kau memberi aku pertemuan dengan suamiku, tapi itu hanya sebentar, kau memisahkan kami lagi dengan menurunkan tragedi satu malam dengan Lu Zamorgan, untuk memberitahu aku siapa sebenarnya Lu Zamorgan, dan setipis apa kepercayaan Allianz padaku*..


*Lalu setelah itu kau memenjarakan aku, memilih kan aku tempat yang tak bisa aku lukisan betapa buruknya, mendiamkan aku bertahan di sana selama dua setengah tahun, hanya ingin menyelamatkan aku dari rasa sakit, karena aku tak tahu bagaimana aku akan bisa menahan perasaan sakitku jika selama dua setengah tahun itu aku melihat kemesraan yang di tampilkan oleh Allianz dan Visha saat berkhianat di belakangku*...


*Dan sekarang aku telah bangkit, kau membangkitkan aku dari penjara, dan kau pun juga membebaskan aku dari ikatan pernikahan, membiarkan aku terbebas dari belenggu asmara yang hanya bisa menyulitkan aku saja tanpa ampun*....


*Sekarang aku sadar, betapa berharganya hidupku sendiri, aku yang salah karena selalu mementingkan perasaan orang lain, aku yang lebih memilih untuk bersedih dan menerima kenyataan di kalahkan oleh sahabat baikku, dan di khianati oleh pria yang aku cintai, bahkan sangat aku cintai*..


*Tapi kini tidak lagi! aku sudah lelah selalu mengorbankan kebahagiaanku untuk orang lain, aku ingin menjadi diriku sendiri, aku ingin membahagiakan diriku sendiri, dan aku tidak akan menyia-nyiakan sisa hidupku hanya untuk memikirkan orang lain lagi, tidak lagi*!!

__ADS_1


...----------------...


Plak!!


Sekarang wanita itu telah berdiri di hadapan Sheila dengan amarah yang terus saja bergejolak di matanya.


Satu tamparan itu telah berhasil mengenai wajah Sheila di samping Erik, suaminya.


"Kamu!!" dan terlihat dengan jelas Erik yang langsung marah-marah tidak jelas pada Visha karena telah sembarangan menyentuh wajah istrinya sampai memerah, "sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Erik sambil terus mengusap pipi Sheila dengan lembut.


Namun istrinya hanya menggeleng dengan tangisnya. Wanita itu kini menatap wajah Visha dengan tajam.


"Tak perlu berpura-pura menjadi orang paling tersakiti di sini! aku tahu kau sudah berkhianat dengan suami aku di belakang aku dan Erik! jangan berpura-pura lagi! tunjukkan wajah aslimu! tunjukkan bagaimana wajah asli kamu saat selalu meneror aku lewat panggilan dan pesan!!" desak Visha dengan keras, berharap Sheila dengan cepat mengakui semua perbuatan yang di lakukan beberapa bulan terakhir.


"Berpura-pura apa?! aku tidak melakukan apapun padamu, atau pun pada suami kamu!! aku tidak mengancam atau pun sampai mengatakan aku tidur dengan suami kamu di hotel! kau saja yang salah berpikir tentang aku!!" tolak Sheila atas semua tuduhan dari Visha.


"Aku salah mengenai kamu?! aku bawa buktinya, kau harus menjelaskan semuanya padaku, aku akan menunjukkan pada Erik siapa kamu sebenarnya!!" mengambil ponsel dari dalam sakunya.


"Tidak, Visha!!" cegat Erik dengan sangat cepat, sambil terus menenangkan istrinya.


Tolakan dari Erik barusan akhirnya memaksa Visha untuk berhenti mencoba meraih ponselnya di dalam saku.


"Aku tahu kau hanya sedang kesal karena aku berhasil membuka semua kecurangan Allianz, bukan? kau hanya kesal padaku dan juga Sheila karena sekarang kalian jadi bangkrut akibat Allianz yang di PHK itu, iya, kan?" sekarang Erik mati-matian membela istrinya.


Mendengar perkataan dari Erik barusan, Visha langsung menitihkan air matanya, menjatuhkan tangannya dan kemudian menggelengkan kepalanya dengan sangat lemah, "apa aku yang gila? apa menurut kamu selama ini aku yang gila?!" tanya Visha dengan keras, berharap Erik akan sadar, "aku memergoki suamiku sendiri di dalam hotel, dan aku juga mendapat pesan juga panggilan setiap hari dari dia!!" menunjuk ke arah wajah Sheila yang masih saja menangis.


"Tapi apa kau juga menemukan aku di hotel pada saat itu? tidak, kan?!" tanya Sheila berusaha melindungi dirinya sendiri.


"Hahh!" dan sekarang Visha hanya bisa mengeluh kesal.


Tak salah memang, ia memang tak menemukan Sheila di hotel bersama dengan suaminya pada saat itu, dan suaminya juga mengatakan dia sedang wawancara kerja dengan seseorang.


Tapi mengapa suara dari seberang itu sungguh mirip dengan suara Sheila. Ada apa sebenarnya di balik semua ini? mengapa sekarang semuanya malah berubah menjadi sangat tabu dan serba buram?


*Allianz, apa yang kau lakukan di belakang aku selama ini? siapa wanita yang selalu mengatakan tengah bersama denganmu dan menghangatkan kamu itu? kenapa kau merahasiakan semuanya dariku? apa yang kau lakukan di belakang aku, All*!?


"Pergi kau dari sini!!" usir Erik dengan kesal yang di tujukan untuk Visha di hadapannya.


Visha mendongak dengan perasaan kalah, perasaan kalah telak yang luar biasa.


"Jangan pernah berpikir untuk bertamu lagi di rumah kami! kau datang hanya untuk meruntuhkan keluarga kecil kami! jadi sekarang, pergilah dari sini!!!"


Sepasang suami istri itu terlihat mulai bergerak menuju ke dalam rumah, lalu akhirnya menutup pintu dengan keras.

__ADS_1


Blam!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2