Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Grup H.A.


__ADS_3

Sebuah mobil terlihat berhenti di depan perusahaan besar. Seluruh karyawan terlihat berdiri menatapi mobil asing yang sudah jelas bukan owner perusahaan ini yang memiliki mobil tersebut.


Tapi mobil ini benar-benar high class, bahkan hanya ada beberapa orang di dunia saja yang bisa memilikinya, apakah orang di dalam mobil tersebut memiliki kekayaan yang jauh lebih besar di banding CEO perusahaan mereka?


Semua orang terlihat berbisik-bisik satu sama lain, menggunjingkan betapa mahalnya mobil tersebut, dan siapa kira-kira orang kaya yang ada di dalamnya. Mungkinkah dia orang kelas atas yang akan bergabung dengan Grup H.A. itu?


Tak berapa lama setelah itu, terlihat seorang wanita keluar dari dalam mobil, dengan penampilan kelas atas, dan punya nilai mahal yang luar biasa.


Semua orang terkesima, apa lagi saat wanita itu melepas kacamata hitamnya di sisi mobilnya, huhh! setiap pria past akan di buat terpesona oleh penampilannya itu.


Jauh dari kata ketidak sempurnaan, iya, itulah yang terlihat dari sisi seorang Hana sekarang, dia terlihat menawan, punya kekayaan yang berada di atas rata-rata, bahkan seimbang dengan kekayaan yang di miliki oleh Ardian.


Untung saja dia punya sahabat yang sangat baik. Dulu Hana sudah menjual semua saham yang dia miliki, dan juga beberapa asetnya di kota ini, hanya tinggal rumah kusam dan satu mobil yang dia diamkan di dalam garasi rumahnya saja.


Dan sekarang, entah ini sebuah anugerah atau semacamnya, Hana benar-benar tak tahu kalau dirinya ternyata sungguh seberuntung itu.


Dia bahkan mendapatkan kembali apa yang dulu dia miliki, semua ini memang berkat bantuan Ardian dan juga Naira.


Ia menjadi seorang wanita yang lebih baik dari sebelumnya, meski mungkin ada takdir yang tak bisa di rubah, takdir kelam yang membuat dirinya harus menjadi seorang janda, dan mirisnya lagi, dia pun harus menelan pil pahit karena tak bisa lagi memiliki keturunan.


Aish!


Apa saat ini waktu yang tepat untuk Hana memikirkan hal seperti itu? mungkin tidak! hari ini adalah bagian dirinya untuk memulai kembali sesuatu yang pernah dia tinggalkan.


Bahkan para pegawai di kantornya pun agaknya tidak memahami dirinya, karena memang dia yang sudah meninggalkan perusahaan ini lebih dari tiga tahun lamanya.


Biarlah! mereka akan mengenali dirinya perlahan-lahan, dan pastinya, mereka akan mengerti seberapa hebat Direktur Utama perusahaan ini di masa lalu.


Hana akan melakukannya kembali, memegang jabatan sebagai CEO dalam perusahaannya sendiri.


Terima kasih, Ardian, kau telah mengembalikannya lagi padaku, aku tahu keputusan untuk meninggalkan perusahaan milikku di masa lalu adalah hal yang sangat bodoh!


Langkah kakinya terlihat mantap mulai meninggalkan mobilnya, dan mulai bergerak menuju ke dalam perusahaan. Dengan senyum tipisnya dia berjalan menuju ke sebuah lift yang akan mengantarkan dirinya menuju ke dalam ruangannya.


Seorang pria tengah di buat sibuk di bagian informasi. Ia baru saja mendapati kabar kalau Direktur Utama perusahaan sudah tiba, tapi dia bahkan belum melakukan persiapan apapun untuk penyambutannya.


"Ish, Axel, apa kau sungguh sebodoh itu? lihatlah! kau bahkan belum memastikan apa ruangannya sudah selesai di bersihkan atau belum? apa kerjamu selama dua jam terakhir ini?" gumamnya dengan kesal sambil terus menuju ke ruangan yang telah lama usang.


Sejauh ini Ardian memang lebih memilih untuk menempati ruangan lain, tidak di ruangan Hana yang lama, karena baginya, posisi Hana dalam perusahaan ini tak akan pernah tergantikan.


"Apa kalian sudah selesai? Bos besar hampir tiba, cepatlah kerjanya! jangan terlalu lama!" ucap Axel dengan kesal pada seluruh cleaning servis di dalam ruangan tersebut.


Pria berusia tiga puluh lima tahun itu memang menjadi pria yang sangat sibuk setelah Ardian memberi dia sebuah tugas untuk menyambut CEO baru di dalam perusahaannya.


Ia jadi punya tanggung jawab besar di sini, ya, sejujurnya dia pun merasa senang karena Ardian telah mempercayakan semuanya pada dirinya.


Semua orang yang membersihkan ruangan tersebut terlihat keluar beriringan saat semuanya sudah selesai di bersihkan.


Mereka terlihat berpapasan dengan seorang wanita yang berjalan menenteng tas hitam di tangan, mengenakan high heels yang tinggi, dan lumayan mahal harganya.


Mereka pun tak lupa menunduk dan memberi hormat pada wanita itu, lalu pergi meninggalkan wanita itu yang sedang berjalan menuju ke dalam ruangannya.


Sementara itu Axel masih di buat sibuk memeriksa kebersihan di dalam ruangan yang usang itu. Ia tak ingin ada celah yang kotor sedikitpun, karena Ardian bilang, seseorang yang akan menempati ruangan itu, adalah sosok yang sangat istimewa, menyukai kebersihan, dan dia punya komitmen tinggi di masa lalu, jadi dia tak bisa mengecewakan orang tersebut, atau ia terancam di lengserkan dari jabatannya sebagai Direktur Marketing di dalam perusahaan tersebut.


"Baiklah, ini sudah tidak berdebu," sambil mengusap meja yang terbuat dari kayu jati pilihan dengan tekstur yang keras dan kokoh, mampu bertahan puluhan tahun lamanya, dan tak akan pernah kusam atau pun lapuk di makan rayap, "di sini juga tertata rapi," melihat tumpukan buku di atas mejanya.


"Semuanya sudah sempurna!" ucap Axel dengan senyum puasnya.


Laki-laki itu bahkan tak sadar ada seorang wanita yang sudah berdiri sejak tadi di pintu masuk, dan kini wanita itu tengah di buat bingung dengan tingkah laku Axel yang terkesan aneh.

__ADS_1


"Maaf, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Hana mengejutkan Axel.


Axel terkejut. Bergeraklah dia dengan spontan berbalik menatap ke arah Hana, lalu salah tingkah sendiri dengan keterkejutan yang dia alami akibat pertanyaan dari Hana.


"Ah? aku, aku, apa kau tidak tahu? hari ini Direktur Utama perusahaan akan datang, katanya dia kembali setelah sekian lama, jadi kita harus memastikan ruangan miliknya sangat bersih dan tidak mengecewakan bukan?" ucap pria itu tak sadar kalau wanita di depan matanya, adalah orang yang dia maksud, "ngomong-ngomong, anda ini siapa? kenapa aku tidak pernah melihat anda di perusahaan ini?" tanya Axel pada Hana, membuat Hana sedikit kesal.


Hana terlihat tak menjawab pertanyaan dari Axel. Hanya terlihat langkah kakinya yang mulai memasuki ruangan tersebut, dan kemudian meletakkan tas hitam miliknya di atas meja.


"Hahh! aku adalah orang yang akan menempati ruangan ini kembali.." ucap Hana dengan tatapan maut yang tertuju pada Axel.


Mendadak Axel menjadi sangat merinding di buat oleh tatapan mata Hana. Ia bergidik ketakutan saat mendapati orang ini adalah orang yang di maksud oleh Ardian.


Tapi bukankah Bos Ardian tidak mengatakan kalau yang datang adalah sosok wanita? apa benar kalau wanita ini yang di maksud Bos Ardian?


Mendadak seseorang datang dan masuk ke dalam ruangan tersebut, mengucapkan permisi pada Hana, dan kemudian mendekatkan dirinya ke arah Axel.


Tok! tok! tok!


"Permisi," ucap pria yang baru saja datang.


Hana mengacuhkan mereka, dan memilih untuk duduk di kursinya yang ternyata sudah di ganti yang baru.


Laki-laki itu berbisik di telinga Axel, mengatakan kalau itu adalah CEO di dalam perusahaan ini, Bos Ardian baru mengatakan kalau ternyata CEO itu adalah seorang wanita.


"Hei, aku tidak yakin dia CEO nya!?" tanya Axel dengan lirih.


Plak!


Laki-laki di sebelahnya terlihat memukul lengan Axel dengan keras, hingga membuat Hana bergeming, dan melirik ke arah mereka berdua.


Sadar kalau mereka kini sedang di perhatikan oleh bos besar, Axel dan laki-laki itu pun tersenyum ke arah Hana, dan menunduk memohon maaf.


Setelah si bos besar tak lagi menatap mereka, Revan kemudian terlihat kembali mengalihkan perhatiannya pada Axel di sebelahnya, dan menatap pria itu dengan tatapan sinis.


"Cepat beri dia hormat!" desak lirih dari Revan pada sahabat baiknya itu, "Bos besar baru saja memberitahu kalau CEO yang baru itu adalah seorang wanita, namanya Hana, ya, itu orangnya!" ucap Revan kembali dengan lirih.


"A? jadi maksud kamu, dia benar CEO nya?" tanya Axel dengan wajah yang sedikit terkejut, "aaaaa, kenapa aku sebodoh itu?" dia terlihat menyesali perbuatan konyolnya sendiri.


"Cepat minta maaf dan beri salam!" desak Revan satu kali lagi.


"Baiklah, baiklah," jawab Axel dengan lirih.


Revan mendorong tubuh Axel untuk lebih dekat lagi dengan sisi meja Hana, dan memaksa laki-laki itu untuk menunduk dan memberi hormat pada Hana.


. "Ma-maafkan saya, Bu, saya tidak tahu anda CEO yang baru.." ucap Axel penuh dengan penyesalan.


Hana tak bergeming, dia hanya sibuk dengan beberapa berkas di atas mejanya yang sudah menumpuk saja bahkan sebelum dia datang, semua berkas itu sudah ada di sana.


Tak ingin mendapat masalah yang jauh lebih serius lagi, Axel akhirnya memutuskan untuk menunduk berkali-kali, memberi hormat dan juga meminta maaf pada Hana.


"Maafkan saya, Bu, saya tidak bermaksud..."


Tangan Hana di angkat ke atas, tak ingin mendengar ucapan apapun dari Axel lagi. Baginya tak penting mendengar ucapan dari para lelaki. Apakah mungkin dia mengalami trauma?


Axel berhenti dari ucapannya, dan terlihat dengan jelas tangan Hana yang memberi isyarat untuknya, isyarat yang memerintahkan dirinya untuk segera keluar meninggalkan ruangan itu.


Axel yang sadar akan perintah itu pun akhirnya memilih untuk bergeming, memberi hormat satu kali lagi, dan meminta maaf sebelum akhirnya dia pun mengalah pergi.


"Sekali lagi, mohon maafkan, saya," ucap Axel sambil menunduk, dan setelah itu ia terlihat pergi meninggalkan ruangan Hana, dengan kawan baiknya Revan.

__ADS_1


Axel keluar dengan wajah cemas yang bercampur dengan rasa takut luar biasa. Baru saja Hana masuk ke dalam perusahaan, tapi dia sudah membuat pimpinan itu tidak menyukainya, apakah yang akan terjadi dengan jabatannya di masa depan?


Dia pasti akan terancam setelah ini, huhh! jabatannya berada di antara hidup dan mati, kalau tidak bisa bertahan, maka sudah pasti dia akan di lengserkan.


Betapa bodohnya kau, Axel, mengapa sampai tidak tahu hal sekecil itu? padahal seharusnya kau juga menyadari tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke dalam ruangan itu kecuali seseorang yang sudah bisa di percaya, pun atas perintahmu dan tuan Ardian, mengapa kau sampai seceroboh itu tidak menyadari hal itu?


"Dasar kau! apa kau sudah berbuat yang tidak-tidak dengan wanita itu?" tanya Revan dengan cemas.


"Apa yang kau maksud yang tidak-tidak? mengapa kau sampai menduga aku melakukannya? aku ini bukan seorang penjahat, mana mungkin aku akan melakukan hal itu padanya, aku tahu dia memang sangat cantik," ucap Axel sungguh tidak masuk dalam topik pembicaraan.


Pak!


Memukul jidat Axel dengan keras.


"Aduh!!" pekik Axel dengan keras, merasa sakit atas pukulan yang di layangkan oleh tangan Revan padanya.


"Dasar bodoh! bukan itu yang aku maksud!" ucap Revan dengan sangat kesal.


"Tapi kau baru saja bertanya apa aku sudah berbuat yang tidak-tidak, bukankah maksud kamu yang itu!?"


"Dasar polos! makanya menikah! jadi bisa membedakan mana yang tidak-tidak maksud aku, dan mana yang tidak-tidak yang kau maksud!"


"Revan, aku tidak paham apa yang sedang kau katakan.."


"Kau memang tak pernah paham dengan ucapanku, haish! mimpi apa aku semalam, sampai punya sahabat seburuk dia." Gumam Revan dengan kesal sambil berlalu meninggalkan Axel dengan pikiran bingungnya.


"Apa maksud yang tidak-tidak antara aku dan dia berbeda? Revan, aku sungguh tidak tahu lagi bagaimana harus bicara denganmu.." ucap Axel sambil berlalu menyusul sang sahabat.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Prak!


Seseorang terlihat meletakkan sebuah berkas di atas meja kerja Allianz.


Allianz hanya bisa menatapi berkas itu penuh kebingungan. Entah mengapa mendadak direktur utama perusahaan yang dia tempati mendatangi dirinya, pasti ada satu hal penting yang harus segera dia urus.


"Ada apa ini, Pak?" tanya Allianz pada pria berusia sekitar empat puluh tujuh tahunan itu.


"Aku dengar perusahaan ini sangat maju, bahkan ada gosip yang mengatakan kalau pemilik perusahaan ini baru saja kembali, tapi sudah bisa di prediksi kalau penjualannya akan menguasai setengah pasar di kota," ucap pria tua itu, Allianz masih saja diam di tempat duduknya.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Allianz pada pria itu.


"Aku ingin lihat seberapa besar pengaruh perusahaan itu dalam pasar di dalam kota, tapi rasanya pasti perusahaan kita akan mengalami penurunan penjualan di pasaran, jadi lebih baik, sebelum terjadi penurunan, ada baiknya membuat perusahaan itu lebih dulu jatuh, jadi posisi kita akan jauh lebih aman."


"Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin!" jawab Allianz dengan mantap.


"Lakukan tanpa ketahuan oleh siapapun, termasuk juga Tuan Lu Zafier, tidak ada yang boleh tahu selain kita berdua."


"Baik, aku mengerti!"


Pria tua itu mulai terlihat keluar dari ruangan Allianz, dan kemudian menutup pintunya.


Allianz menatapi beberapa berkas yang di sinyalir adalah milik perusahaan yang di maksud oleh Direktur utamanya.


Ia membaca satu per satu kertas dalam genggaman tangannya, namun ia tak pernah tahu perusahaan siapa yang akan menjadi saingannya nanti.


H.A?


Siapa pula yang berani bersaing dengan perusahaan mereka? lihat saja! apa grup ini bisa mendapat posisi kedua dalam barisan perusahaan paling berpengaruh di kota, dan mampu menggeser nama perusahaannya kelak!

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2