
Langkah kaki Visha mulai agak limbung, tatkala kedua telinganya telah menangkap penjelasan dari Allianz.
Memang semuanya terdengar agak mengecewakan, namun apalah daya, uang telah membutakan segalanya.
Kini terduduk lah wanita itu di jok mobilnya, telah meninggalkan suaminya di pelataran kantor H.A. Group yang megah dan begitu tinggi.
Ia terduduk sambil merenungi keadaan hatinya yang tidak baik-baik saja, namun selalu dia paksa untuk harus lebih baik.
"*Dengarkan aku, Vish, aku memang salah melamar pekerjaan di sini, tapi gaji di sini lumayan besar, apa kamu mau aku menolak tawaran kerja yang gajinya lumayan besar hanya karena perusahaan ini milik mantan istriku*?"
Pertanyaan itu membayang di otaknya, membuat sebuah gumpalan kekelabuan dan kekecewaan di hatinya, menciptakan keburukan dalam perasaannya yang serba salah.
Allianz bahkan tak sadar dirinya tengah di injak-injak harga dirinya oleh Hana. Pria itu hanya bisa mementingkan uang, melupakan harga diri, dan melupakan segalanya.
Sekarang Visha hanya bisa melongo, sambil terus mengingat dan memutar kilas balik percakapan dengan Allianz beberapa menit yang lalu sebelum akhirnya dia memilih untuk pergi meninggalkan suaminya dengan penuh kepasrahan.
"*Ayolah, jangan egois begitu! kita hanya butuh uang untuk biaya hidup kita! apa kau membenci aku hanya karena aku bekerja di tempat Hana*?!"
"*Kau bahkan lupa Hana bisa saja tertawa di atas penderitaan kita, Mas, bukankah kau seharusnya tahu, tidak ada perceraian yang tidak menyisakan luka? aku tahu kau butuh pekerjaan, tapi kenapa harus masuk ke dalam perusahaan Hana? kau menjatuhkan harga diri kamu hanya untuk uang yang di ulurkan melalui tangan mantan istrimu, betapa memalukannya kamu Mas*?!"
"*Hallah! tahu apa kamu? bukankah kamu hanya memikirkan supaya ada uang setiap hari untuk kebutuhan hidup? soal dari mana asal uang itu, apa kamu sungguh masih mempedulikannya*?!"
Semua kata-kata yang dia ucapkan pada suaminya sama sekali tidak merubah apapun. Suaminya masih saja bersikukuh untuk bekerja di perusahaan mantan istrinya, tak peduli betapa sakit hatinya Visha saat mengetahui hal tersebut.
Dan kini, dia hanya bisa pasrah, meninggalkan suaminya dengan keegoisan dalam kepala pria itu, dan mencoba mencari tempat pelampiasan untuk meredamkan emosinya.
Ya!
Mendadak dia ingat akan suatu hal. Ia langsung menghapus air matanya, menyalakan mesin mobil, dan mencoba melakukannya dengan lebih cepat.
Ia menggerakkan mobilnya menjauh dari perusahaan Hana, dan berusaha untuk mencapai suatu tempat. Tempat yang akan menjadi tujuan amukannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana dia bisa ada di sini? apa dia sengaja mengikuti aku?" gumam Allianz dengan lirih sambil menata berkas-berkas di atas mejanya.
Perasaannya salah mengenai Visha yang tidak bisa apa-apa. Ia bahkan tak pernah menduga kalau Visha akan menyusul dia sampai di sini, hingga akhirnya dia terpaksa harus membongkar semuanya sebelum waktunya tiba.
Di dalam perasaan gundah yang bercampur dengan amarah, terlintas dalam otaknya sesuatu yang sangat menakutkan, yang mungkin saja akan menjadi tragedi buatnya dan Visha di masa depan.
Ia tak dapat memastikan, hanya saja, ia merasa begitu yakin akan firasat buruknya.
"Sial!!"
Umpat Allianz setelah sibuk bergelut dengan pemikirannya, lalu akhirnya menemukan sebuah jawaban atas semua perasaannya.
*Anak itu pasti sedang mengejar Hana*..
Dia letakkan saja setumpukan berkas di atas meja, lalu dia tinggal dengan cepat, bergerak dan berlari keluar dari gedung, dan kemudian mencari taksi, tak peduli lagi jam kerja yang baru saja di mulai, mungkin saja saat Axel melihatnya dia akan segera di hukum dan mendapat pemotongan gaji, tapi dia sungguh tak peduli, yang dia pikirkan pada saat itu adalah, ia takut Visha akan menyusul Hana dan mengamuk di depan umum.
...----------------...
Cittttt
__ADS_1
Mobil Visha terhenti di depan sebuah restoran. Ia mendapati mobil Hana berada di parkiran restoran tersebut, membuat dia akhirnya dengan sangat nekad mencoba berlari dan menemukan Hana di dalam sana.
Kebetulan sekali, terlihat sosok Hana yang baru saja masuk dan hendak memesan makanan untuk sarapan paginya.
Visha yang melihat sosok Hana di dalam sana langsung saja bergegas turun dari mobilnya, dan mencoba untuk berjalan lebih cepat.
Hingga akhirnya pintu restoran berhasil dia buka, menampilkan wajah semua orang yang langsung menatap ke arahnya dengan tatapan terkejut.
Bagaimana tidak, dia membuka pintu dengan sangat keras, sampai-sampai terasa akan rusak di makan oleh kekuatan tangannya.
Semua orang kini terlihat menatap ke arahnya, tak terkecuali Hana.
"Kau?!" gumam Hana dengan lirih, merasa sedikit tak biasa melihat adanya Visha di sana.
Visha menatap kedua mata sahabatnya dengan penuh ambisi, penuh amarah yang bergejolak.
Tanpa bisa menahan emosinya lagi, segera saja dia layangkan tangan kanannya dengan sangat cepat, menuju ke arah pipi Hana yang merah ranum dan terlihat begitu muda di banding dengan dirinya.
Plak!
Sentuhan yang sangat keras dari telapak tangan Visha membuat Hana mengaduh, membuat wanita itu memekik kesakitan.
Tanpa aba-aba, Visha bahkan tak segan menampar pipi sang sahabat dengan telapak tangan kanannya, hingga membuat semua pandangan mata tertuju pada mereka berdua, menjadi bahan pertontonan dan bahan pertunjukkan yang sangat bagus.
Terlihat beberapa dari mereka mengeluarkan ponsel dari saku mereka dan mulai mencoba mengambil gambar pertengkaran keduanya yang bagi mereka sangatlah mengasikkan.
"Apa yang kau lakukan?! apa yang sudah kau katakan pada suamiku sampai-sampai dia mau bertekuk lutut kepadamu, dan malah meninggalkan aku, istrinya?! hah?!" murka Visha membuat Hana terbengong dengan sekujur tubuh yang gemetar tak bisa membendung perasaan hati yang tak karuan.
Padahal, yang pasti Visha hanya ingin meluapkan emosinya pada wanita itu saja. Ia bahkan tak bisa menampik, dia begitu ingin membunuh dan melenyapkan wanita itu dari muka bumi ini.
"Diam kau!" ucap Hana pada mulanya agak lirih.
"Kenapa aku harus diam? kau malu? kau malu karena kini semua orang sudah tahu kau telah mencoba merebut suamiku dan menghancurkan hidup aku?!"
"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? aku bahkan tak pernah tahu suami kamu bekerja di tempatku.."
"Alasan!" namun jawaban dari Visha sungguh membuat hati Hana dongkol, "kau hanya ingin membalas dendam padaku, dan kau ingin menjatuhkan aku sebagai seseorang yang menang, kau ingin menghabisi aku dan membuat aku terasa mati meskipun ragaku masih bernyawa, iya, kan!?" wanita itu terus saja mengoceh mengungkapkan segala hal yang dia rasakan dalam hatinya.
"Visha, kau.."
"Kau mau bicara apa lagi? apa masih belum cukup semua bukti yang aku dapat selama ini? kau telah membohongi aku, kau berkata padaku kau tidak tahu apapun tentang Allianz, kau tak tahu kemana suamiku pergi, dan apa yang aku lihat tadi, kau bersama dengan suamiku, dia bahkan bekerja dalam kendalimu, dia membutuhkan uang dari perusahaan kamu, apa kau sedang menghina aku dan Allianz di sini?!" wanita itu semakin terlihat gila setengah mati.
"Kau sedang mencoba mempermalukan aku?" sekarang Hana mulai terlihat kesal pada wanita itu.
Dia mencoba melawan karena dia tak pernah tahu apa yang di maksud oleh Visha. Ia tak bisa menangkap apapun yang di bicarakan Visha selain percobaan mempermalukan dirinya di hadapan umum.
Jadi sekarang, mari lihat siapa yang akan kalah dan merasa malu di muka umum seperti ini. Bagaimanapun, dia yang lebih dulu merasakan di sakiti dan di khianati, oleh suami dan juga sahabat karibnya, sejujurnya dia punya sebuah senjata yang sangat ampuh untuk menjatuhkan Visha sekarang juga.
"Apa kau takut aku akan memungut kembali sampah yang pernah aku buang pada tempat yang sangat tepat? Vish, aku bukan wanita seperti kamu, yang menjatuhkan harga dirinya hanya demi laki-laki seperti dia, jika kau berkata aku melakukannya untuk merebut kembali Allianz dari wanita yang telah merebutnya dariku, maka kau sungguh wanita yang sangat gila!" ucap Hana membalas dengan santainya, "aku bukan wanita bodoh seperti kamu, aku tidak akan memungut kembali sampah yang telah aku buang, aku juga tidak akan membalas dendamku dengan cara menjatuhkan harga diri kalian berdua, bagiku cara itu tidak cukup efisien untuk memuaskan luka hatiku.."
"Tidak usah banyak bicara kau! kau jangan wanita yang sedang berusaha menutupi kebusukan hatimu di depan semua orang, kau pikir aku tidak tahu itu?" sekarang keduanya sama-sama memiliki posisi yang sangat kuat dan juga bisa berpeluang untuk menang di tempat perdebatan itu, "kau mengatakan padaku kau tidak tahu apa-apa tentang Allianz yang tidak pulang ke rumah, tapi yang aku lihat hari ini, dia berada di kantormu, mana mungkin satu orang yang bekerja di tempat yang sama tidak pernah bertemu selama lebih dari satu bulan?!"
"Kecuali kalau suami kamu memang menghindar dari aku.." jawab Hana dengan yakin.
__ADS_1
Ucapan dari mulut Hana itu berhasil membungkam mulut Visha sampai diam saja wanita itu tak mampu mengatakan satu patah kata pun untuk membalas perkataan Hana.
"Vish, asal kau tahu saja, aku tak tahu dia juga bekerja di kantorku, aku baru tahu kemarin sore, itu pun saat aku tak sengaja melihat wajahnya di kantorku, jika aku tidak memperhatikan dia, mana mungkin aku tahu dia juga bekerja di kantorku, dia yang telah mencoba mengelabui kita, dia tak ingin kau dan aku tahu dia bekerja di kantorku.." jelas Hana pada Visha.
"Apa gunanya meski kita sudah tahu, kau pun memaafkan dia, aku jadi berpikir kau juga mencoba mengambil kesempatan ini untuk menjatuhkan kami berdua, mempermalukan kami dengan status sosial kamu yang sekarang jauh lebih tinggi dariku dan Allianz.." ucap Visha penuh keyakinan.
Wajah wanita itu kini terlihat memucat, merasa kesal menghadapi mantan sahabat yang satu ini, begitu geramnya Hana, sampai-sampai dia mengusap dahinya dengan kesal, dan mencoba menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.
"Astaga, Vish, kau ini apa gila atau bagaimana? bagaimana bisa kau terus saja berpikir buruk tentang aku?"
"Aku berpikir seperti itu karena memang aku melihat watak kamu yang semacam itu! aku bisa tidak akan menuduh kamu, tapi jika kamu bisa aku percaya, tapi lihat sekarang! kau juga sudah membohongi aku dengan mengatakan kau tidak melihat Allianz di manapun, tapi kau ternyata malah memperkerjakan dia di kantormu, apa kau pikir aku sebodoh itu sampai bisa kamu bodohi dengan mudahnya seperti ini?!" wanita ini memang sangatlah cerewet.
"Baiklah, terserah kamu, aku tidak akan mengiyakan semua ucapan bodoh kamu itu, tapi aku akan mengalah untuk menjauh darimu, katakan apa yang harus aku lakukan sekarang.." ucap Hana berbaik hati mencoba meredamkan emosi di sana.
"Pecat suamiku dari kantormu, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan Allianz.."
Pada saat itu, Allianz pun tiba di tempat kejadian, saat ucapan dari istrinya menguak begitu saja, membuat dia tak bisa melakukan apa-apa lagi, selain mencelos di hadapan semua orang.
"Apa yang sedang kau katakan, Vish?" ucap Allianz dengan lirih, namun sampai pada telinga Visha.
Dua wanita yang masih menjadi pemilik hatinya itu pun menoleh, dan menatap ke arahnya dengan tatapan aneh, tak mampu di mengerti olehnya.
"Mas? Mas Allianz?"
Kini terlihat dengan sangat jelas Allianz yang berjalan ke arah Visha dengan mantap dengan pandangan mata yang menyorotkan kemarahan pun kekecewaan pada istrinya itu.
"Apa maksud ucapan kamu itu? Kau meminta Hana untuk memecat aku? kau pikir begitu mudahnya aku mendapat pekerjaan? demi untuk mencukup hidupmu yang serba mewah itu?"
Tangan Allianz dengan kasar melarak lengan kiri Visha, hingga terlihat di sana memar-memar dan berwarna merah legam.
"Aduh, Mas, Mas, ini sakit..." pekik Visha meluapkan sakitnya.
Hana memalingkan mukanya, rasanya tak tega juga melihat Allianz melukai sahabat baiknya itu.
"Pulang sekarang!"
"Tidak! tidak sebelum Hana setuju untuk memecat kamu dari kantornya!!"
"Yang aku butuhkan hanya uang, selain itu aku tak peduli!!"
"Mas!! sadarlah! kau ini sedang di injak-injak harga dirinya oleh Hana, mana bisa kau terus bekerja di sana sedang kau terus kehilangan harga dirimu!!" ucap Visha dengan sorot mata penuh kepedulian, namun juga di penuhi kekecewaan.
"Sudah aku katakan padamu berulang kali! aku tak butuh harga diri! asal ada uang yang mengalir ke kantongku, kenapa aku masih memikirkan harga diriku?!"
"Dasar gila!!" umpat Hana dengan lirih, "Vish, aku tak bermaksud menjatuhkan harga diri suami kamu, tapi lihatlah dia, dia bahkan lebih memilih uang di banding harga dirinya sendiri, apa menurut kamu semua ini masih salahku?" tanya Hana menjelaskan pada Visha.
"Jika kau tak hadir di sini, jika kau tak memimpin perusahaan itu, dan jika kau tak sukses seperti sekarang seharusnya kehidupan kami akan baik-baik saja, kau sudah membuat rumah tangga kami hancur sehancur-hancurnya!!" teriak Visha penuh amarah.
"Apa kau sudah berpikir dengan jernih? siapa yang menyakiti siapa di sini? kau yang merebut suami aku dariku, tapi masih menuduh aku menghancurkan rumah tangga kalian? rupanya kau lebih hina dan bodoh di banding aku!!!"
Ck!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1