
Malam ini sudah begitu larut, namun Allianz masih belum juga menampakkan batang hidungnya yang manis di rumah. Hana masih setia menunggu sang suami, sambil membuat adonan kue di dapurnya.
Seperti biasa, Hana memang selalu membuat kue saat malam hari, supaya hari esok dia bisa langsung menjualnya di toko.
Namun malam ini Allianz tak kunjung pulang juga. Biasanya jam sembilan malam Allianz sudah berada di rumah, dan duduk dengan Zhoulin di depan tv, tapi malam ini, dia agaknya akan pulang terlambat.
"Dia ini kemana, ya? kok sampai malam masih belum juga pulang!?" Hana terlihat cemas, meskipun tangannya masih saja terus mengaduk adonan kue.
"Apa dia lembur? biasanya dia selalu mengatakan padaku kalau akan lembur, ini orang kemana, ya?" tanya Hana pada diri sendiri.
Sekarang Hana tidak lagi mampu menunggu kabar dari Allianz. Wanita itu akhirnya memilih mencuci tangannya, dan melihat ponselnya.
Di sana pun Hana tidak mendapati apapun, selain notifikasi pertemanan Facebook di atas. Suaminya bahkan tidak meninggalkan pesan untuknya. Apa dia sangat sibuk?
Hana mengambil inisiatif untuk menghubungi Allianz lebih dulu, lalu menunggu panggilan darinya di respon.
Tut... Tut... Tut...
Namun tiga kali dia mencoba menghubungi, tiga kali juga Hana mengalami kegagalan. Pria itu tidak mengangkat panggilan darinya, apa dia sungguh sesibuk itu?
Ding Dong....
Suara bel pintu rumahnya berbunyi tepat saat jarum jam mengarah ke angka sepuluh lebih tiga belas menit.
Hana bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa kiranya tamu yang datang di malam-malam begini, apa mungkin suaminya yang pulang? seharusnya Allianz tidak pernah mengetuk pintu rumahnya bukan?
Atau Zarren? setahunya Zarren tidak akan pulang sebelum Allianz pulang, lagi pula anak itu tidak akan mungkin mengetuk pintu rumahnya.
Atau mungkin Leon?
Drrrttt Drrrttt
Mendadak ponsel Hana berbunyi, dan menampilkan nama Leon di layar ponselnya.
"Leon? kenapa dengan dia!?" tanyanya lirih.
Bip!
"Hallo!?"
"Hallo, Nyonya, maaf Nyonya, malam ini, saya tidak bisa pulang, ada kawan lama yang meninggal, dan saya harus berkunjung ke kediamannya, maafkan saya nyonya!"
"Hah! baiklah, gunakan waktu kamu sebaik mungkin, aku baik-baik saja di rumah." Jawab Hana dengan terpaksa, karena memang dia tidak mau menganggu orang yang sedang berkabung.
"Baiklah, terima kasih atas pengertian Nyonya."
"Iya, jangan sungkan, baiklah, aku tutup dulu!"
"Iya, Nyonya!"
Bip!
Sambungan di matikan oleh Hana, lalu meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Dia terlihat berpegangan pada meja, dan mulai kembali memikirkan siapa yang datang sebenarnya.
__ADS_1
"Siapa yang datang, ya!?"
Hana jadi makin penasaran. Hingga akhirnya, wanita itu memilih untuk melepas celemek di badannya, dan datang ke arah pintu utama.
Klik!
Pintu terbuka dengan lebar, dan menampilkan sosok seorang pria yang berhasil membuat dirinya terkejut.
"Ah!?" wanita itu mundur, dan bersandar di sofa ruang tamunya, saat kedua matanya berhasil menangkap sosok Morgan yang berdiri tegak, dan tersenyum dengan sekuntum bunga di tangannya.
"Halo, Hana.. kau terkejut melihat kedatanganku?" tanya Morgan dengan senyuman yang amat mengerikan.
"Ka-kau! kenapa kau, kenapa kau bisa tahu alamat rumahku?!" tanya Hana pada pria itu.
"Kenapa aku bisa tahu? aku jelas tahu segalanya, bukan Morgan namanya, kalau tidak pernah tahu apa yang seharusnya aku tahu!" laki-laki itu terlihat berjalan semakin dekat.
"Cepat pergi dari sini! aku tidak mau kehadiran kamu membawa petaka di sini!" Hana mencoba mengusir Morgan dengan sekuat yang dia bisa.
"Kau mau mengusir aku? lelakimu belum pulang, mungkin kau bisa menggunakan kesempatan ini, untuk menemani aku sebentar!" dia sudah terlihat mengunci tubuh Hana dalam pelukannya.
"Kau sudah gila!" umpat Hana dengan lirih.
Dia tidak mau membangunkan semua pelayan wanita yang tertidur di sebelah kamar putranya. Dia tidak mau ada yang tahu tentang kedatangan pria tidak tahu diri ini.
"Aku memang gila!" menggapai tangan Hana, lalu menciumnya dengan penuh nafsu.
"Morgan! kau jangan macam-macam! aku ini sudah punya suami!" ucap Hana dengan gemetar.
Cup!
"Kau sungguh pria yang sangat menjijikkan!" umpat Hana lagi dengan lirih.
"Apa kau sama sekali tidak merindukan aku? padahal aku ingin sekali membawa kamu ke depan orang tuaku, ibuku sungguh merindukan kamu, dan putri kita, Lu Aruaya, dia juga ingin melihat kamu lagi," ucap Morgan, seperti orang yang sudah gila saja.
"Morgan, mungkin kau perlu minum obat! aku bukan ibu kandung Lu Aruaya, aku bahkan tidak pernah bisa punya anak!" ucap Hana dengan Isak tangis ketakutannya.
"Oh ya? benarkah? jadi kau tidak akan pernah bisa punya anak? apa suami kamu tahu tentang itu?" tanya Morgan di telinga Hana.
"Di-dia tahu semuanya," ucap Hana sambil berusaha menjauh dari bibir Morgan yang hendak menggigit telinga kirinya, "Morgan menjauh lah, jangan macam-macam di sini!"
"Jangan macam-macam di sini!? jadi kalau di tempat lain, aku bisa bermesraan dengan kamu, begitu maksud kamu?" dia terlihat sangat percaya diri.
"Ti-tidak! bu-bukan begitu, maksud aku, maksud aku..." Dia terlihat terbata-bata.
"Shutttt! diam saja, tak perlu banyak bicara! aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan! tapi Hana, aku... Arkh...." Dia terlihat sangat gila, bahkan tangannya mulai menelisik rok mini Hana, dan meraba paha mulus Hana sambil memejamkan kedua matanya.
"Morgan! aku mohon, jangan lakukan!" dia pun tak bisa lagi bergerak, karena tubuh Morgan benar-benar menguncinya dengan sekuat tenaga.
Plak!!
Mendadak tangan Hana memiliki kekuatan untuk menolak, dan menangkis perbuatan tercela Morgan padanya, hingga pria itu sedikit mundur darinya.
"Hahh! hahh! hahh!!" dia terlihat terengah-engah setelah berhasil menjauhkan dirinya dari Morgan.
__ADS_1
Pria di depannya menjatuhkan satu buket bunga di atas lantai, dia mengusap bibir bawahnya, hingga menimbulkan rasa takut tersendiri di hati Hana.
"Apa yang akan kau lakukan? jangan macam-macam padaku, Morgan!" ucap Hana, mencoba membela diri!
Hana terlihat mulai bergeser menuju ke sisi lain dari Sofanya, namun pria di depannya terus saja mengikuti kemana arah Hana pergi, hingga pada akhirnya.
"Kau harus jadi milikku, Hana!"
Morgan terlihat dengan cepat menarik tangan Hana, dan mendekap wanita itu dengan erat.
"Arkh!" kini pekik Hana semakin terdengar keras, menimbulkan suara yang mampu di dengar oleh para pelayan. Hanya saja, naasnya mereka semua sudah tertidur dengan lelap.
"Morgan, lepaskan aku! jangan buat masalah lagi Morgan! aku sudah punya suami, jangan buat aku kehilangan dia lagi! hiks hiks.." tangis Hana terlihat mengalir dengan deras mencoba untuk lari dari dekapan Morgan.
Dan sialnya lagi, Morgan terlihat mendorong tubuh Hana, hingga wanita itu terjatuh dia atas sofa, lalu akhirnya..
Morgan dengan gilanya merangkak di atas tubuh Hana, melepas resleting celananya, dan mengeluarkan benda tajam miliknya di depan Hana.
"Morgan, kau sudah gila! Morgan! kau jangan lakukan itu padaku! Morgan! aku mohon.." Hana memejamkan kedua matanya, mencoba untuk tidak melihat pemandangan besar nan tegak berdiri di depan matanya.
"Ugh, Hana, betapa aku sabar menanti kamu, menanti jawaban darimu, namun sayangnya, kau malah memilih untuk pergi dengan suami kamu, akh betapa sedihnya hatiku, kau bahkan tidak pernah tahu betapa aku ingin segera memperistri kamu!" ucap Morgan benar-benar sudah kehilangan tingkat kewarasannya.
"Morgan! jangan lakukan...." Sekarang suara Hana terdengar sangat lemah, dan tidak lagi mampu melakukan perlawanan, saat pria itu memingkis rok mini miliknya, lalu dengan beringas mencoba memasukkan senjata tegaknya di dalam lubang penuh kehangatan dan kenikmatan milik Hana.
Hana menggeleng, dan terus saja menangis, menolak dengan keras dalam hatinya untuk perlakuan menjijikkan dari Morgan, namun benda tajam itu telah menyentuh bibir mis V miliknya, dan dari situlah, dosa mereka telah berhasil di cap.
"Arkh! aku telah merasakannya, kau masih terasa sedap dan hangat meskipun kau sudah punya suami!"
"Morgan.. hiks hiks..."
Morgan tidak peduli rintihan Hana yang terus saja keluar dari mulutnya. Dia hanya terus menyodok, memaju mundurkan batang kekar nan kokoh miliknya, hingga terasa bagian istimewa Hana mulai basah dan hangat, menandakan Hana juga merasakan kenikmatan dalam permainan ini.
Kau tega Morgan! kau sungguh tega padaku, bisa-bisanya kau memberi aku cap sebagai pengkhianat! kau sungguh membuat aku berdosa!
Tangisan wanita itu terurai deras di pipinya, dan membasahi dadanya yang kini sudah keluar dan menyembul dengan indah di luar dua kacamata yang menutupinya.
Tak ada lagi yang bisa di katakan atau pun di lakukan oleh Hana demi menolak perlakuan Morgan. Dia hanya bisa terus terisak sambil menikmati permainan yang sejujurnya, memang terasa jauh lebih nikmat di banding dengan suaminya.
Namun, mendadak dia seolah memiliki kekuatan besar. Dia mengumpulkan seluruh tenaganya, dan berkumpul lah di kedua tangannya.
"Brengsek, kau!!" ucap Hana sambil terus memukul bahu Morgan dengan kedua tangannya.
Pria itu masih tidak peduli, dia terus saja melakukan aksi bejatnya, menyodokkan pusaka tegak miliknya, dan mencoba sampai puas melakukannya.
"Ugh, aku memang sudah sangat gila! dan kau harusnya sadar, aku tidak akan bisa menahan hasratku padamu! terima kasih, Hana, kau sudah memberiku kehangatan, pada adikku yang memberi kamu kenikmatan ini, aku senang harus bergumul bersama denganmu, meski kita melakukannya di rumah suami kamu!!" bisik Morgan tepat di telinga Hana dengan manja.
Bukkkk!
"Arkh!" pekik Morgan, dan seketika saja pria itu tumbang, tersungkur di lantai.
"Brengsek kau!!"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹