Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Berdebat di Restoran


__ADS_3

"Baiklah, Nak, ibu pulang dulu, ya," pamit Hana setelah sekian lama dia berada di rumah Miranda, ibu kandung dari Zhoulin.


Mereka telah berbincang mengenai banyak hal tentang kejadian Zhoulin pada hari itu.


Sekarang yang ada di raut wajah Hana hanyalah bahagia yang mendalam, karena ternyata Zhoulin memiliki ibu kandung yang tak kalah sayangnya dari dia.


Ya, meskipun rasa sedih itu jujur saja masih ada, bagaimanapun juga, Zhoulin telah menemani dia sejak kecil dan ia pun menyayangi Zhoulin sepenuh hatinya.


Namun sekarang bukankah hidup dengan rukun lebih baik dari pada harus bersikap egois? bukankah Miranda juga terus memberi dia waktu untuk berjumpa bahkan bermalam bersama dengan Zhoulin?


Seperti itu saja bagi Hana sudah cukup, ia tak mau minta yang berlebihan, karena bisa melihat Zhoulin bahagia saja rasanya sudah cukup baginya.


Apa lagi sekarang anak itu juga terlihat lebih baik, dia terlihat lebih terurus dan lebih menyukai Miranda, bukankah itu artinya Zhoulin juga merasa nyaman tinggal bersama ibu kandungnya?


"Dah, Zhoulin...." ucap Hana sambil melambaikan tangannya ke arah Zhoulin dan Miranda.


Posisinya pada saat itu sudah berada di dalam mobil, tepatnya di jok belakang, dengan kaca mobil yang terbuka.


Di teras rumah, Zhoulin nampak melambaikan tangannya pula ke arah Hana dan memberi senyuman lebarnya selebar samudera biru yang tak terbatas.


Dengan perasaan lega dan penuh kebahagiaan, Hana meninggalkan tempat Zhoulin dan Miranda, lalu bergegas untuk menuju ke arah jalan pulang.


Ia sudah begitu penat seharian terus bekerja, rapat sampai beberapa kali dalam sehari, dan akhirnya bisa pulang sekitar jam empat lebih sore tadi.


Bahkan saat dia pulang dari menjenguk putra kecilnya itu pun kondisi sudah petang dan hari sudah mulai gelap. Ia bahkan belum sempat makan apapun sejak tadi. Rasanya perutnya sedikit lapar juga.


"Zarren? bisakah kita mampir ke restoran dulu sebentar?"


"Baik, nyonya.."


Si sopir pribadi Hana pun menurut saja. Di belokkan lah arah mobilnya menuju ke arah kanan, mencoba menemukan restoran sebagai tempat pelabuhan mereka selanjutnya.


Hana terlihat turun dari mobilnya setelah mereka berhenti dan memarkirkan mobil mereka di area parkir restoran. Dengan langkah yang jauh lebih baik dan lebih tegar, ia terlihat memasuki restoran itu dengan senyum percaya diri.


Duduklah dia di sebuah kursi, dan tak lama setelah itu, seorang pelayan membawakan daftar menu padanya.


"Yang ini saja, mbak!" ucap Hana dengan senyuman manisnya.


"Baik, Bu, silahkan tunggu sebentar.."


Hana mengangguk singkat, sementara pelayan wanita itu terlihat melipir ke arah dalam. Merasa kini hanya tinggal dia seorang diri, Hana akhirnya memutuskan untuk menghubungi Zarren yang masih setia terduduk di mobil.


"Hallo, Zarren, kamu tidak lapar? aku sudah pesan untuk kamu juga.."


Setelah mendapat jawaban dari seberang, ia pun segera mematikan sambungan, dan kembali duduk dengan tenang.


Tak tak tak tak tak!

__ADS_1


Suara bunyi sepatu seseorang yang kemudian terlihat mengundang perhatian semua orang mendadak terdengar datang.


Bunyi sepatu yang agak lumayan keras itu kemudian berhenti tepat di pintu masuk restoran, mungkin orang itu hanya ingin sekedar melihat bangku yang kosong saja.


Wanita itu terlihat sangat kelelahan, sehabis bekerja selama seharian dia memang merasakan penat yang luar biasa di tubuhnya. Dan kini dia pun juga merasa lapar, sampai akhirnya ia memilih tempat ini untuk makan malamnya.


Hana mendongak, melihat sepatu siapa yang sebenarnya bisa membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Dia melihat wajah menjijikan dari sosok pelakor yang tengah berdiri dengan seimbang di pintu masuk.


Hana tak berekspresi sama sekali, memasang wajah datar dan tidak begitu menghiraukan Visha. Namun agaknya Visha melihat wajahnya meski dia memalingkan muka.


Mendadak senyuman Visha merekah, senyuman yang di penuhi dengan teka-teki dan juga kepuasan.


Wanita itu dengan percaya dirinya berjalan mendekati sosok Hana di meja bagian paling belakang.


Berdirilah Visha di hadapan Hana, tak lupa juga dengan senyuman manisnya di bibirnya yang ranum dan merah itu.


"Hai, Hana..." dan tanpa rasa malu atau pun sekedar canggung, Visha menyapanya, memberi sapaan terhalus dan teramah yang pernah dia berikan pada Hana.


Tapi apa yang di balas oleh Hana? wanita itu tak bergeming sedikitpun dari tempatnya, bahkan sekedar menoleh pun tidak, baginya seorang pengkhianat mau di buat halus sehalus tepung di ayak pun tetap saja namanya pengkhianat. Tak ada ampun bagi Visha baginya, tidak lagi.


"Kau tidak mau melihat ke arahku, Hana? tapi bolehkah aku duduk denganmu di sini?" tanya Visha dengan percaya dirinya.


Seakan dia tak pernah memiliki dosa pada Hana, jangankan sebesar dosa, kesalahan kecil pun agaknya dia tak pernah merasakannya. Dengan begitu percaya dirinya dia meminta untuk duduk berdekatan dengan Hana, tanpa berpikir apa yang sudah dia perbuat pada Hana selama ini.


Apa wanita seperti itu masih bisa kita katakan punya malu? aish! wanita seperti ini bahkan tidak layak mendapat sapaan dari siapapun, terutama dari Hana.


"Maaf, aku sudah minta sopirku untuk mendudukinya.." ucap Hana dengan datar, tanpa menatap muka sang pelakor.


"Cih! apa sopirmu jauh lebih berharga di banding madumu? aish! aku lupa, bukankah sekarang ini aku bukan lagi madu kamu, ya? bukankah kamu sudah resmi bercerai, ya, beberapa hari yang lalu? ouh, kasihan sekali, aku jadi senang karena tidak punya saingan lagi sekarang.." ucap Visha benar-benar meledek Hana.


"Ya, kau senang aku pergi, dan aku juga senang akhirnya aku bisa membuang sampah di tempat yang sangat tepat! karena sampah yang di buang di sembarang tempat, hanya akan mengotori saja, jika ada seseorang yang mau memungutnya, atau bahkan menimbunnya di dalam rumahnya sendiri, kau tahu apa yang akan di kata orang nanti? kau sungguh menjijikan!" ucap Hana dengan tegas di depan muka Visha secara langsung, "siapa saja orang yang menimbun sampah di dalam rumahnya sendiri, adalah orang yang paling jorok di dunia, dan mungkin, seharusnya kamu sadar apa yang sedang kamu timbun di rumahmu, dan paling utamanya, kamu juga harus tahu apa artinya dirimu di mata orang lain saat ini.." jawab Hana dengan sangat percaya diri.


"Aish! panjang sekali ucapan kamu ini, ungkapan hati yang panjang, tapi yang sangat di sayangkan adalah, kau tak memberiku perasaan apapun dalam ucapan kamu itu, bagimu, apa aku akan goyah dengan ucapan kamu yang menyudutkan kami? tidak, Hana! aku tidak akan mundur, sejak awal, aku sudah jatuh cinta pada suami kamu, mana bisa setelah aku mendapatkannya, lalu dengan mudahnya aku mengembalikannya padamu.."


"Tapi aku sungguh tidak pernah berpikir ingin memungut sampah yang telah aku buang, karena bagiku, mencari barang yang baru jauh lebih berarti di banding merawat barang yang telah usang," mata Hana terlihat tegar menatap Visha, "itu artinya, kita tak perlu bangga saat kita masih jadi orang baru di hidupnya, karena seperti kataku barusan, aku lebih memilih mencari yang baru di banding merawat yang telah usang!"


"Tapi itu tidak akan berarti di dalam rumah tangga kami, itu hanya berlaku padamu, kau hanya iri pada kebahagiaan kami berdua, iya, kan? kau hanya iri karena kami bahagia sedangkan dulu saat dia bersamamu, dia tak pernah merasa bahagia," ucap Visha mulai sedikit kalah dari Hana.


"Siapa bilang kami tak pernah bahagia? menikah dengan sederhana, mendapat restu dari kedua mempelai masing-masing, sahabat dan juga rekan kerja, semua kami undang, kami bahagia di dalam pesta pernikahan kami yang tak berkelas sedikitpun, tapi kau tahu apa yang membuat kami bahagia dan merasa sempurna?" tanya Hana pada Visha, "karena kami menikah dengan cinta, kami melakukannya dengan kehangatan dan nyaman, tidak ada paksaan dalam diri kami, jadi kami melaluinya dengan baik-baik saja.."


"Tapi setelah itu kalian mendapat masalah besar karena kau meracuni ibunya, sungguh besar nyali kamu, Hana, andai saja Allianz tidak menikahi kamu, dia mungkin masih memiliki ibu sampai sekarang.." ucap Visha dengan bodohnya.


Padahal dia tak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Masa lalu Hana pada saat itu, bukankah Visha masih belum hadir di sisinya?


Hana terkekeh, mendengar ucapan yang di keluarkan dari mulut Visha beberapa saat yang lalu membuat dia ingin tertawa terbahak-bahak, namun sayangnya ini di depan umum, mana bisa dia melakukannya. Dia hanya bisa terkekeh sambil menahan perutnya untuk tidak tertawa.


"Apa Allianz tidak bicara soal itu padamu? bodoh sekali kamu sampai hal yang tidak pantas kamu campuri urusannya pun bisa kamu ambil pengertian, lihatlah dirimu! bodoh sekali!!" ucap Hana dengan kekeh lucunya.

__ADS_1


Visha terlihat mulai tersudut di sini. Dia pandangi sikap Hana yang ingin sekali menjatuhkan dirinya di muka umum. Ia tahu wanita ini hanya sedang menyembunyikan kelemahan di hatinya.


Hatinya yang amat rapuh selalu bisa di sembunyikan oleh wanita ini, tapi coba lihat saja bagaimana Visha akan mengatasi situasi ini.


"Heng! kau bilang aku bodoh? justru kau yang lebih bodoh dariku! lihatlah kau yang selalu kalah dalam pertandingan melawanku, kau bahkan hanya bisa meringkuk saat kau tahu aku adalah madumu, dan sekarang, kau menertawai aku dengan kata bodoh? jika kau pandai, bukankah seharusnya kau sadar mengapa Allianz tidak pernah mengunjungi kamu di dalam penjara? tapi nyatanya kau bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa, di sini kita bisa melihat siapa sebenarnya yang bodoh!"


"Aku tidak bodoh, aku hanya terlalu percaya pada orang lain, karena aku menganggap semua orang sama seperti aku, yang tidak sanggup berkhianat, atau pun membodohi aku, aku terlalu baik, Vish, padamu dan juga pada Allianz, tanpa aku sadari, kalian tidak pantas aku akui sebagai orang yang paling pernah sangat dekat denganku.." ucap Hana pada Visha.


Visha hanya bisa terdiam seribu bahasa. Ia tak tahu lagi apa yang sekarang harus dia bicarakan. Bukankah semua yang di katakan Hana memanglah benar? bukankah sekarang dia ada di sisi Allianz juga karena pengkhianatan yang dia lakukan pada sahabatnya itu?


Lalu apa pedulinya? kenapa dia harus cemas dengan semua ucapan yang keluar dari mulut seorang Hana? yang penting, kan, sekarang dia bisa mendapatkan apa yang dia mau, dan yang terpenting lagi, Allianz sudah mencintai dia sepenuh hatinya, tidak ada lagi wanita lain yang akan menyaingi dia kelak.


"Heng! aku tidak peduli dengan semua ucapan kamu! jika kau menganggap suamiku adalah sampah, dan aku adalah orang menjijikan yang mau memungutnya, maka kau akan terkejut suatu hari, saat melihat sampah yang kau buang jauh lebih berharga di banding saat menjadi barang koleksimu!" ucap Visha seolah tengah mencoba menantang Hana.


"Baiklah! mari kita buktikan saja, aku tidak mau ada dendam di antara kita, aku tidak akan memaksa diri, dan aku juga tidak akan memaksa kamu untuk bersaing, lihat saja roda berputar, kadang di atas dan kadang juga harus berada di bawah, jadi biar takdir yang akan menentukan bagaimana nasib kita di masa depan." Jawab Hana dengan tegas.


"Tidak usah sok menasehati, karena kamu di mataku hanyalah orang tak penting yang terus saja mengusik hidupku, jadi seberapa banyak pun kamu bicara, aku tidak akan pernah peduli!"


Zarren terlihat mendekat ke arah Hana, sejak tadi laki-laki muda itu memang terus berdiri di muka pintu, melihat dan berjaga-jaga situasi siapa tahu terjadi keributan antara Hana dan Visha.


Hana pun memang melihatnya, namun dia memberi kode untuk berhenti di muka pintu, dan ada baiknya menunggu perdebatan antara dirinya dan Visha berakhir hari ini.


Dan setelah perdebatan panjang pun panas, akhirnya tangan Hana pun terlihat memberi arahan pada Zarren untuk segera hadir di meja mereka, dan mengusir kecoa pengganggu di sini.


"Aku sudah bilang, kursi ini sudah aku pesan untuk sopir pribadiku yang setia, jadi bisakah kau minggir dan memberinya tempat untuk duduk?" tanya Hana dengan datar pada Visha.


Visha terlihat menatap wajah Hana dengan kesal. Niat datang ke restoran untuk makan malam, tapi dia justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Hana.


Akhirnya bangkitlah wanita itu dari kursinya, dan memilih untuk pergi dengan raut wajah penuh kekalahan meninggalkan Hana dengan tenang di sana.


Seorang pelayan terlihat mengantarkan makanan pesanan Hana dan meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih," ucap Hana dengan ramah.


"Maaf, Nyonya, tadi kenapa, ya? apa dia mengganggu Nyonya lagi?" tanya Zarren dengan sopan.


"Kau sudah tahu tabiat dia, dia memang suka mengganggu hidup orang lain, bukankah membicarakan dia artinya sama saja seperti kita membicarakan seekor kecoa yang menjijikan? dan itu sungguh membuat rusak selera makanku, jadi jangan katakan apapun lagi tentang dia, aku ingin makan dengan lahap!" ucap Hana pada Zarren.


"Maaf, Bu.."


"Ya, makanlah...."


Mau seberapa kuat kamu menghancurkan aku, tetap saja aku bukan wanita yang mudah untuk kau kalahkan!


Hap!


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2