Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Allianz Sungguh Menjengkelkan


__ADS_3

Ia masuk kembali ke dalam kamarnya, dan menyibakkan gorden yang menghalangi masuknya sinar matahari pagi.


Di atas kasur suaminya masih terlelap tidur, seolah tak peduli hari ini masih hari biasa, dan itu artinya dia seharusnya sudah berangkat ke kantor bukan?


Melihat suaminya yang belum mau beranjak dari tidurnya, membuat Visha kesal. Ia yang sudah selesai dengan beberapa aktivitas rumah, seperti memasak, menyetrika baju dan juga menyiapkan perlengkapan sang suami pagi ini, harus mendapati sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.


Dia mendekati tubuh suaminya dan mengusap bahunya dengan lembut.


"Mas, kau mau bangun?" tanya Visha dengan lembut.


Suaminya terlihat bergeming dari posisinya, dan berbalik menghadap ke arahnya dengan wajah yang luar biasa malas.


"Ada apa kau membangunkan aku?" tanya Allianz masih setengah tak sadar.


"Ini hari Selasa, bukankah kau harus berangkat kerja?" tanya Visha masih berusaha untuk lembut pada suaminya.


Namun terlihat dengan jelas wajah suaminya yang malas. Allianz masih saja di buat hangat oleh sentuhan kasur dan selimut putih yang membalut sekujur tubuhnya.


"Ayo, bangun..."


Allianz kembali memejamkan matanya, mulai kembali larut dalam mimpi buruk bekas kejadian semalam.


"Bangunlah, kau bisa terlambat karena nanti.." Visha susah payah membangunkan suaminya, sampai terlihat dengan jelas dia mulai mencoba membangkitkan tubuh Allianz secara paksa.


Namun rupanya perlakuan Visha membuat rasa tidak nyaman untuk Allianz. Entah mengapa bisa seperti itu, padahal pada hari-hari biasanya, ia bahkan tak pernah mendapat perlakuan dingin semacam itu dari suaminya.


"Ayo bangun..."


Merasa kesal dengan cara jitu Visha dalam membangunkannya, ia kemudian menepis tangan Visha, dan menatap wanita itu dengan tajam.


"Apa kau tidak ingin melihat aku tenang? aku ini hanya ingin tidur saja? aish! baiklah, aku akan bangun sekarang!!" ucap Allianz dengan penuh kekesalan, namun mencoba untuk mengalah.


Bangunlah tubuhnya dari atas ranjang, dan terlihat pula wajahnya masih di tekuk malas. Ia berjalan sempoyongan menuju ke arah kamar mandi, dan setelah itu terdengar shower di nyalakan, ya, pria itu pasti sedang mandi sekarang.

__ADS_1


Istrinya masih terdiam di atas kasur. Pagi selama dua tahun terakhir dia bahkan tak pernah merasakan sesakit ini, membangunkan suaminya dan berakhir dengan perasaan canggung yang berujung kesal.


Respon dingin dan marah dari suaminya membuat dia merasa kesal. Namun hanya di dalam hati. Tak bisa dia ungkapkan dalam bentuk kata-kata, menurutnya apa penting mengatakan kekesalan di hatinya di saat-saat seperti ini?


Dia menyibakkan selimut, menata ranjang kamarnya, dan kemudian menyemprotkan parfum mahal di atasnya, begitulah yang setiap hari dia lakukan terhadap kamarnya dengan Allianz, mencoba membuat mereka berdua selalu nyaman di kamar tersebut, tak bosan, dan tak pula merasa stres.


Ia terlihat telah menyelesaikan semua tugas wanitanya di sana. Terlihat ia melipir menuju ke arah lemari, dan mengambil kemeja berwarna biru laut milik suaminya, berniat untuk menyiapkan segala keperluan Allianz supaya setelah laki-laki itu telah selesai mandi, tak perlu merasa bingung memilih pakaian.


Selain kemeja berwarna biru, ia juga mengambil setelan jas milik suaminya yang selalu dia gantung dan dia jaga kebersihannya di dalam lemari.


Ia membawa semua perlengkapan berpakaian suaminya menuju ke arah kasur, lalu berniat untuk meletakkannya.


Namun rasanya telapak tangannya meraba sesuatu di dalam saku jas milik suaminya itu. Dia jadi penasaran dan bertanya-tanya benda apa yang ada di dalam saku jas milik suaminya yang terasa sangat mengganjal itu.


Dia tak terlalu cemas memikirkannya, hanya biasa saja dan berpikir suaminya menyimpan sampah bungkusan makanan ringan di sakunya.


Dengan sikap yang biasa-biasa saja, Visha mencoba meraba isi di dalam saku tersebut, dan mencoba meraihnya.


Tidak mungkin cincin ini di berikan padanya, sedangkan baru beberapa hari yang lalu Allianz memberi dia sebuah cincin, mana mungkin pria itu akan memberi dia cincin untuk kedua kalinya?


Lantas cincin ini akan dia berikan pada siapa?


Visha melihat dan meneliti cincin itu dengan seksama, sampai terlihat dengan jelas sebuah nama yang terukir di permukaan benda kecil tersebut.


Ia kembali di buat terkejut saat mendapati nama Hana terukir di sana dengan jelas. Hatinya mendadak terasa remuk, pedih yang tak bisa di ungkapkan, dan sakitnya yang terasa luar biasa.


Cincin ini pasti cincin pertunangan Allianz dengan Hana di masa lalu, bukankah seharusnya cincin yang di ukir nama seseorang itu tandanya pengikat sebuah hubungan?


Visha bergetar, seluruh tubuhnya tak mampu dia kendalikan, air mata mendadak menetes, dan jatuhlah di pipinya yang cantik.


Ia merasa sakit luar biasa mendapati bukti bahwa suaminya masih menyimpan cincin pertunangannya dengan wanita lain, yang sudah jelas mulai tadi malam telah berubah status menjadi mantan istrinya.


Cklek!

__ADS_1


Belum juga dia mengobati rasa sakitnya, suara Allianz membuka pintu kamar mandi terdengar di telinganya, membuat dia bergegas menghapus jejak air mata di pipinya, dan dengan cepat meletakkan jas milik suaminya di atas kasur.


Suaminya segera keluar dari kamar mandi sambil mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Namun dia mendapati istrinya yang tengah berdiri mematung dengan ekspresi yang aneh di matanya.


"Kau ini kenapa?" tanya Allianz pada istri cantiknya.


Wanita itu menyimpulkan senyum songarnya, "aku tidak apa-apa.."


Visha kembali tersenyum singkat, sambil berlalu meninggalkan Allianz, dan kemudian berhenti di depan pintu.


"Aku tunggu di ruang makan!" begitulah ucap Visha dengan singkat yang pada beberapa saat setelah itu terlihat mulai berlalu meninggalkan kamar.


Allianz yang acuh tak mendapati keanehan apapun dengan jawaban singkat yang di berikan oleh istrinya barusan.


Ia hanya melanjutkan acara selanjutnya pagi hari ini saja dengan mengganti pakaian. Dengan langkah sedikit lambat, ia mencoba mengenakan pakaiannya satu per satu, hingga terhitung dia menghabiskan waktu lima belas menit untuk bersiap-siap.


Dia ambil ponsel di atas nakas, dan entah mengapa, dia malah tertuju pada nama kontak Hana di ponselnya yang masih bertuliskan wanitaku.


Ia buka isi chat di dalam sana, namun dia tak mendapati apapun, semuanya seolah sudah tertutup dengan selembar tirai gelap yang membuat matanya buta.


"Kemana semua pesan kami? apa aku tidak sengaja menghapusnya?"


Pesan yang dua tahun setengah dia diamkan di ponselnya, mendadak hilang, ia mencoba menghubungi Hana sebisa dia, namun suara kekesalan menyeruak dari ponselnya, memberitahu dia kalau Hana sudah memblokir nomor ponselnya.


"Arkh! sial!!" umpat Allianz dengan kesal, sambil menatapi ponselnya dengan geram.


Sementara di sisi tembok penghalang, Visha menutup mulutnya, mendengar berbagai umpatan yang keluar begitu saja dadi mulut suaminya, hanya karena satu hal sepele, isi pesan yang telah terhapus.


Apa amarah hanya karena kejadian itu, harus sampai sebesar itu? ataukah memang Allianz benar-benar kesal, karena ingin menyimpan kenangan manis bersama mantan istrinya untuk selama-lamanya?


*Allianz, apa kau sedang menyembunyikan perasaan cintamu pada Hana? haruskah aku mencemaskan hal itu?


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺*

__ADS_1


__ADS_2