Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Merubah Hana


__ADS_3

"Baiklah, selamat, ya, Hana, kau sudah bebas sekarang, maafkan kakak aku juga telah membuat kamu berada dalam kesedihan, yang pasti, aku berbeda darinya, aku akan tetap mendukung kamu bagaimanapun yang terjadi..." Ucap Naira dalam sambungan di ponselnya.


"Ya! terima kasih!"


Bip!


Naira mematikan sambungannya dan memandangi dirinya di cermin. Tak bisa dia bendung air matanya, jatuhlah menimpa pipi manisnya tanpa ampun.


Ia bahkan sama sekali tak senang saat mendengar ucapan Hana barusan yang terdengar begitu sesak di dada. Ia berharap akan ada keajaiban yang menuntun wanita itu untuk mendapat laki-laki yang jauh lebih baik dari pada kakak kandungnya, Allianz.


Ingin sekali ia mengatakan beribu-ribu kata maaf yang mungkin akan sedikit mewakili keresahan dan rasa bersalah di hatinya untuk Hana, hanya saja, baginya kesalahan dari seluruh keluarganya di masa lalu tak patut di maafkan.


Kesalahan yang amat besar, bahkan tak terbanding dengan apapun, semua itu harus menonjok pada diri Hana yang selalu tertindas dan lemah.


"Maaf, Hana, keluargaku memang sepatutnya kau benci, kami semua sudah mengecewakan kamu, jadi jika kau juga ingin membenciku, aku tidak akan melarangmu melakukannya..." Gumam Naira dengan lirih.


Suaminya masuk ke dalam rumah, baru pulang dan lelah sehabis bekerja, namun dia malah mendapati istrinya yang tengah menangis di depan cermin.


Sontak saja pria yang penyayang itu langsung merengkuh tubuh istri mungilnya, dan di dekap saja dengan penuh kasih sayang pun juga kecemasan.


"Sayang, ada apa dengan dirimu? kenapa kau menangis begini?" tanya Ardian pada istrinya, merasa khawatir pada kondisi Naira yang tidak stabil.


"Ardian, Hana dan Kak Allianz sudah bercerai, begitu buruknya sikap Kak Allianz yang lebih mementingkan wanita itu di banding Hana, apa menurut kamu aku tidak kecewa dengan semua yang dia lakukan pada Hana?"


Mendengar inti permasalahan yang sedang di ceritakan oleh Naira, membuat Ardian mengembuskan nafasnya dengan perlahan, merasa sesak pula di dadanya.


"Jangan terlalu di pikirkan, bukankah itu urusan mereka!? jadi kau tak punya hak untuk mengatur kakak kandung kamu, lebih baik pikirkan bagaimana kita bisa membantu Hana di masa depan," ucap Ardian sedikit memberi saran.


Tak di sangka Naira mengangguk, dengan cepat berubah suasana hatinya menjadi lebih lega. Ya, karena pada akhirnya dia menemukan seseorang yang masih bisa tulus menerima dia sepenuh hatinya.


"Terima kasih, sayang, kau sudah membantu Hana semampu kamu, dia juga pasti sangat berterima kasih padamu.." ucap Naira dengan pelukan eratnya.


"Apa kau lupa kalau dia juga sahabat aku? aku memang harus membantu sahabat yang tengah mengalami kesulitan.."


"Kau benar, dia kan juga sahabat kamu, jadi bantulah dia sebisa kamu, selain itu, aku juga harus membantunya.." ucap Naira dengan mantap, "aku akan buat kak Allianz menyesal telah mengkhianati Hana, dia harus jadi wanita yang hebat seperti dulu saat dia masih muda, dan aku akan membuat dia kembali muda!"


"Baiklah, terserah kau saja, sekarang tidurlah, kau jangan banyak pikiran, pikirkan saja semuanya besok.."


"Apa Hana akan mulai besok?"


"Ya, kenapa memangnya?"

__ADS_1


Naira terlihat memiringkan senyuman manisnya, sambil memikirkan sebuah ide yang sangat cemerlang baginya, ya, tentu saja dia juga harus memberi perhitungan untuk kakak kandung yang brengsek itu.


Bukankah semua perbuatan harus di balas dengan balasan yang setimpal? dan bukankah penyesalan selalu harus datang terlambat?


Baiklah, kali ini, mari kita lihat apa yang akan terjadi di masa depan!


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Esok harinya...


Bangun pagi bukanlah sebuah pantangan bagi Hana yang memang selalu bisa melakukannya meski dia tidur begitu larut. Namun pada pagi itu, semuanya tidak terasa normal.


Entah mengapa suasana di luar kamarnya mendadak terdengar riuh sekali. Dia yang baru saja terlelap dari tidurnya, sekitar jam tiga pagi, dan sekarang baru jam setengah empat akhirnya memaksakan diri untuk membuka matanya dan mendengar kericuhan di luar sana.


"Ini kenapa di luar ribut-ribut si? apa mereka masih belum selesai bersih-bersih rumahnya?" gumamnya masih setengah sadar.


Ia memilih untuk menuju ke arah kamar mandi dan mencuci mukanya. Tak terlalu terkejut memang kalau harus tertidur sebentar saja, lagi pula, mungkin kalau dia tidak tidur semalaman pun tak ada bedanya.


Syuuuuurrrr!!!


Ia menyetel air di kamar mandi, lalu berusaha mencuci wajahnya yang kusam, untuk sekedar membuka matanya.


Usai mencoba membuka kedua matanya, dia bergegas menuju ke arah luar, dan terkejut melihat apa yang terjadi di luar kamarnya.


"Nai, apa yang sedang kau lakukan di sini? dan orang-orang ini, siapa mereka!?" tanya Hana pada Naira masih dengan wajah bingungnya.


"Kau akan mulai kembali ke perusahaan kamu hari ini, bukan? jadi kau harus tampil cantik untuk hari pertama kerjamu.." Ucap Naira sambil terduduk di sofa yang letaknya berada di ruang bagian tengah.


"Ah? kau menyewa jasa make up ini hanya untukku?" tanya Hana masih di buat bingung.


"Mereka akan melayani kamu, jadi gunakan waktu kamu sebaik mungkin, lagi pula kau juga harus kembali muda seperti dulu, hidup kamu kan sebenarnya tidak punya beban," jawab Naira dengan senyum manisnya.


"Astaga! kau sungguh gila, sampai segitunya kau membantu aku? terima kasih, Nai, tapi bagiku ini agak berlebihan.." tolak Hana sedikit lembut.


"Berlebihan bagaimana? lihatlah di sekeliling kamu, mereka semua sudah datang, kau tak boleh menolak mereka semua dengan satu kata itu, jadi menurutlah, dan buat dirimu kembali muda!"


"Baiklah, terserah saja apa katamu," jawab Hana terlihat pasrah dengan keadaan.


Naira menyunggingkan senyuman di bibirnya setelah menyadari dirinya yang sudah menang dalam perdebatan dengan Hana pagi ini.


Ia kemudian memilih untuk bermain ponsel di sofa tempat dia duduk, sambil menunggu segala proses Hana lalui.

__ADS_1


Sementara itu, terlihat Hana yang mulai memasuki kembali kamar tidurnya, dan terdengar gemericik air dari arah sana, menandakan Hana mungkin tengah melakukan aktivitas mandi paginya.


Naira hanya bisa terus menunggu, sampai akhirnya, kini waktunya memoles wajah Hana dengan beberapa sentuhan tangan para make up artist terkenal yang sudah dia sewa jasanya pagi ini.


Dengan mengenakan pakaian sederhana, memingkis rambutnya yang masih basah, wanita itu terlihat berjalan menuju ke arah semua orang, dan kemudian duduklah dia di kursi atas paksaan dari Naira.


Rentetan kegiatan dia lakukan, mulai dari memoles pipinya, lalu beralih ke bagian mata, hingga di sentuhan terakhir, bagian bibirnya.


Rambutnya di potong sebatas bahu, kemudian di buang saja hasil potongan rambutnya yang hampir dua puluh sentimeter panjangnya.


Sekarang dia tak lagi memiliki pesona dari rambut panjangnya itu, hanya terlihat rambut yang pendek sebatas bawah telinga, makin membuat pesona dan kecantikannya memancar dengan sempurna.


Selesai dengan riasan wajahnya, kini wanita itu di haruskan mengenakan pakaian yang telah di pilihkan oleh Naira, meski sejujurnya Hana masih belum terlalu nyaman kembali mengenakan pakaian rapi dan formal seperti itu setelah sekian lama ia tak pernah mengenakannya, namun ia tetap harus memaksa diri.


Benar kata pepatah, tidak ada kata cantik tanpa pengorbanan. Bahkan kulit berjerawat pun harus mengalami pengorbanan sebelum beralih mulus.


Sepatu hak tinggi di kenakan. Dengan ribbon blouse bermotif striped yang dipadukan dengan straight leg trousers berwarna hitam, membuat penampilannya menjadi lebih profesional, terlihat tinggi dan nampak lebih percaya diri di banding sebelumnya.


Tak bisa di pungkiri, Hana memang pada dasarnya memiliki postur tubuh yang ideal untuk ukuran seorang wanita cantik.


Apa lagi setelah di oles dengan sempurna oleh para ahli make up, wajahnya seakan kembali awet muda, seolah kembali pada usia dua puluh lima tahun.


Naira tersenyum saat melihat wajah baru dari wanita itu. Ia membangunkan tubuhnya dari sofa, dan menatapi penampilan Hana dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya memang terlihat lebih sempurna.


"Kau memang tipe ideal para pria, Hana..."


"Aish! kau ini, jangan terlalu Panjang memuji aku, nanti malah buat aku jadi tidak percaya diri, apa benar aku semenarik itu?"


"Ayolah, Hana, apa kau belum bercermin setelah melalui proses panjang ini? lihatlah dirimu! kau seakan kembali sepuluh tahun jauh lebih muda!"


"Baiklah, aku terima pujian darimu.." Jawab Hana sambil menyunggingkan senyumannya.


"Oke, jadi kita bisa berangkat sekarang, ya?"


"Baiklah, aku sudah siap!"


Wanita itu tersenyum, membuka pintu dan menyambut matahari terbit di ufuk timur dengan senang hati.


Tak seperti tadi malam saat dia hanya melalui semuanya dengan kesedihan, kini dia mencoba bangkit dari keterpurukan, dan mencoba menjadikan hidupnya jauh lebih berharga di banding sebelumnya..


Mentari, aku datang padamu!!

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2