
"Semuanya sudah beres," ucap Allianz melalui sambungan ponselnya pada seseorang di seberang sana.
Wajahnya nampak begitu berkeringat, entah apa yang telah dia lakukan, tapi dia terlihat tengah bersembunyi setelah berhasil memasuki satu toko di seberang jalan.
"Kau tak begitu pintar, namun setidaknya kau masih bisa di andalkan." Ucapnya sambil berlalu menuju ke arah mobil dengan bergegas lalu akhirnya meninggalkan lokasi tersebut.
Vroooooommmmmm...
Di dalam toko tersebut, puluhan orang nampak terlihat mengunjungi toko kosmetik meski hari sudah mulai gelap. Akhir-akhir ini toko kosmetik tersebut memang makin banyak pengunjungnya, selain karena harganya yang lumayan ramah di kantong, toko ini juga menjual produk yang lumayan cocok untuk mereka.
Semua orang tengah di sibukkan dengan acara pilih memilih kosmetik, sampai akhirnya salah seorang wanita menemukan sebuah kecoa yang masih hidup di dalam rak.
"Aaaaaaaa!!" ia berteriak ketakutan dan lari pontang-panting tak tentu arah demi menghindari tempat kecoa itu.
Semua orang langsung tertuju pandangannya ke arah wanita yang tengah berlari ketakutan itu, dan kemudian melihat sang wanita yang keluar saja dari toko kosmetik tersebut.
"Ada apa memangnya?" tanya salah seorang pengunjung.
Tak lama setelah itu, satu orang penjaga toko nampak berjalan mendekati tempat yang di tinggalkan wanita itu barusan, dan menemukan seekor kecoa berukuran lumayan besar tengah berdiam di dalam rak, tepatnya di tumpukkan beberapa barang.
"Aaaaaaa!!!" semua pengunjung yang rata-rata adalah seorang wanita nampak berhamburan keluar, hanya ada beberapa saja yang berhasil keluar sambil membawa barang belanjaan mereka karena sudah menyelesaikan pembayaran di kasir.
Mereka semua terlihat takut dan bergidik saat sang penjaga toko mengambil kecoa tersebut lalu membuangnya.
Dan akhirnya, toko pun entah mengapa menjadi sangat sepi. Para pengunjung yang biasanya datang silih berganti, pada malam itu rasanya sangat tenang sekali.
Pada mulanya tiga penjaga di sana tidak begitu cemas. Mereka berpikir mungkin mereka hanya masih terlalu ngeri soal kejadian kecoa itu, jadi mereka memutuskan untuk menutup toko lebih awal.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Di rumah Naira, Hana nampak telah berlalu dan melambaikan tangannya pada Naira. Setelah mereka berbincang di butik, Hana memutuskan untuk berkunjung menemui Shi Yuan dan Anya di rumah itu, jadi perjalanan pun berlanjut ke rumah Naira.
Tak di sangka kalau dia akan larut dalam perbincangan hangat dengan dua orang beserta dua anaknya itu.
Ya, memangnya siapa pula yang tak ingin punya keluarga? sejauh ini, dia memang hanya terus menerus sendiri, ia tak punya teman apalagi keluarga yang dekat dengannya melebihi Naira dan Ardian.
Mereka berdua memang selalu menerima dia di dalam keluarga mereka, hanya saja, rasanya memang tak sehangat saat berpelukan dengan keluarga.
Entah mengapa dia mendadak merasa sedih. Di dalam mobil yang tengah berlalu meninggalkan Naira, ia juga merasa sedikit kelelahan karena hidup seorang diri, lebih banyak diam dan tidak memiliki pelukan hangat di sampingnya.
Namun pantaskah dia merindukan sosok Allianz? sosok pria yang begitu dia cintai, meski pada akhirnya harus terenggut kasih sayangnya karena wanita lain?
Tidak, dia adalah wanita yang sangat tegar, dia tak boleh merasa sedih apalagi sampai merindukan Allianz yang buruk itu.
Cukup satu kali baginya merasa bodoh dengan mempertahankan Allianz di dalam hidupnya selama beberapa tahun. Ia tak ingin lagi merasa bodoh karena laki-laki itu.
Ia akhirnya memilih untuk menyibukkan diri, membuka satu per satu berkas kerja sama antar perusahaannya dengan perusahaan Naira. Hasilnya semuanya memang memuaskan, hasil kerja sama ini nantinya pasti akan sangat menguntungkan baginya.
Ya, semoga saja semuanya berjalan sesuai dengan rencananya.
Ia menyunggingkan senyum. Selepas merasa kesunyian, bukankah harus tersenyum dan berterima kasih pada takdir yang telah membuatnya lebih memilih sunyi?
Ia tak mau menjadi seorang wanita yang lemah yang mencintai satu orang pria sampai jatuh tersungkur begitu dalam, dan akhirnya harus pula menelan kekecewaan setelah mengetahui pria itu berkhianat padanya.
Untuk sekarang yang terpenting hanyalah mencoba bangkit dan membangun kembali apa yang telah hilang dari hidupnya, ia tak boleh kehilangan semua yang seharusnya menjadi miliknya hanya karena pria brengsek itu.
Tidak lagi!
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Ciiitttt!!
Mobil Allianz telah terlihat terparkir di garasi rumahnya, membuat Visha yang telah membersihkan diri itu nampak bergegas mengenakan pakaian, dan bersiap menyambut kepulangan sang suami.
Ia masih menggunakan handuk di kepalanya dan berjalan menuju ke arah luar kamarnya yang berada di lantai dua.
Saat dia menuruni tangga, terlihat sang suami yang mulai memasuki rumah dan kemudian menutup pintu rumahnya.
"Hahh!"
Pria itu nampak membuang nafas beratnya dengan kasar, hingga terlihat sampai ke mata istrinya.
Sang istri yang selalu menyuguhkan kehangatan itu akhirnya mencoba untuk mendekati suaminya dan bertanya apa yang telah terjadi padanya.
Dengan senyuman hangatnya dan tak lupa juga bumbu manis di bibirnya, ia menyambut sang suami dengan penuh kelembutan, seperti biasa yang dia lakukan selama hampir tiga tahun terakhir.
Dan memang sudah terbukti, kalau suaminya itu akan selalu bertekuk lutut lalu mengalah padanya, benar-benar ramuan sederhana yang sangat mujarab bukan?
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Visha penuh senyuman.
"Ya, lelah sekali aku hari ini," jawab sang suami sambil melepas sepatunya, dan kemudian berjalan ke arah istrinya.
Sang istri menyambutnya penuh kemesraan, memeluk dan mendaratkan bibirnya pada suaminya, lalu mendiamkan sebentar ciuman itu di bibir suaminya.
Keduanya terpejam, menikmati setiap desiran darah yang mengalir tatkala keduanya berada dalam posisi paling nyaman tersebut.
Perlahan-lahan, rasa penat yang ada di tubuh Allianz terasa sedikit berkurang, sepertinya Visha telah menyalurkan kekuatannya dan kenyamanan tubuhnya kepada suaminya, hingga rasanya sedikit demi sedikit, lelah di tubuhnya menjadi lebih berkurang.
Namun akhirnya mereka melepas ciuman mereka, dan kembali berbicara dengan hangat pun romantis. Allianz yang tersenyum lebar ke arah Visha, dan Visha dengan wajah cantiknya menatap suaminya penuh kehangatan.
"Aku tidak sempat masak, jadi aku beli makanan dari luar, kau mau makan?" tanya Visha pada suaminya, sambil meraih tas kerja milik suaminya dengan perlahan.
"Baiklah, aku akan makan apapun, apa kau juga baru pulang?" tanya Allianz sambil menggandeng istrinya menuju ke lantai atas.
"Ya, kau benar, kenapa memangnya?" Allianz berbalik tanya pada sang suami.
"Aku rasa kita memang punya saingan yang sama," ucap Visha sambil terus berjalan bergandengan tangan dengan suaminya menuju ke lantai dua.
"Benarkah? tidak usah cemas, aku tidak yakin mereka sebaik kita.."
"Aku dengar ada butik terbesar di kota ini yang akan bekerja sama memasukkan produk H.A. ke dalamnya, aku tidak yakin apa butik milikku akan jauh lebih laris setelahnya."
"Tenang saja, jika suami kamu ini sudah bilang semuanya akan baik-baik saja, maka pasti ke depannya juga akan tetap begitu." Ucap Allianz sambil tersenyum ke arah Visha.
Kini mereka telah terlihat berada di depan kamar. Visha yang lupa meletakkan tas kerja milik suaminya akhirnya membawanya pula masuk ke dalam.
Keduanya masuk ke dalam kamar dan menghentikan pembicaraan serius mereka. Allianz tak ingin di suguhi cerita dan persoalan bisnis. Bukankah artinya pulang setelah bekerja seharian adalah kita harus berhenti memikirkan pekerjaan?
Allianz tak meminta izin lebih dulu pada istrinya. Ia langsung membuka handuk yang menutupi rambut istrinya, dan membuangnya ke lantai setelah mereka tiba di dalam kamar.
"Mas?"
"Shutttt!! diamlah, suami kamu ini sedang minta jatahnya, apa kamu tega melihat aku kehausan?" tanya Allianz dengan lirih.
Dengan kedua tangan yang terus saja menggoda istrinya. Menyingkap piyama yang di kenakan istrinya, dan langsung menemukan gundukan besar di dalamnya. Visha memang tidak mengenakan kacamata di sana, jadi sangat memudahkan Allianz untuk menelisik tubuhnya semakin jauh.
Lenguhan nafas Allianz semakin dekat dan semakin terasa panas di tubuh Visha. Nafas pria itu semakin mendekat ke arahnya, menuju ke ceruk lehernya, hingga seluruh tubuhnya terasa gemetar hebat akibat sentuhan yang menjalar seolah menyetrum tubuh anggunnya.
Allianz tak ingin kepenatan ini berlalu begitu saja, tidak tanpa permainan yang memuaskan, yang bisa membuat dia tertidur dengan lelap.
__ADS_1
Ia bermain di ceruk leher istrinya, menjilat, lalu dengan keahliannya, ia mengigit dan memberi cap tanda merah atas kepemilikannya di sana, membuktikan pada semua orang dia lah pemilik tubuh atas wanita ini.
"Arkh..."
Visha melenguh penuh nikmat, seolah semua sentuhan suaminya menyetrum seluruh tubuhnya tanpa ampun.
Tangan Allianz terus saja bergerak nakal memainkan dua buah besar milik istrinya dengan penuh gairah. Ia berlalu dari ceruk leher Visha dan bergerak menuju bibir istrinya kembali.
Di sanalah dia kembali bermain, menghabisi istrinya dengan ganas dan juga tanpa ampun.
Istrinya yang sedikit kewalahan terkadang mendorong tubuh sang suami, namun agaknya kekuatan dia tak sebesar suaminya yang meski terus dia dorong, tapi tetap saja mampu menahannya untuk melepaskan diri.
"Jangan coba menghalangi aku, Vish, kau tak tahu seberapa besar rasa hausku ini.."
"Ya, aku tidak akan menghalangi kamu, lakukan saja apa yang kamu mau, bukankah sekarang aku sepenuhnya milikmu? dan kau juga sepenuhnya milikku.."
Cup!
Keduanya kembali saling menyatukan bibir dan mendiamkan kehangatan di sana. Dengan tangan nakal yang di miliki oleh Allianz, piyama di tubuh Visha dengan mudahnya terlepas, memperlihatkan betapa molek tubuh istrinya yang tak terhalang satu helai pun.
Tak ingin kalah dari istrinya, ia pun melakukan hal yang sama, membuka jas hitam miliknya dan membuang semua yang ia kenakan di sembarang tempat, dan akhirnya kembali memfokuskan dirinya untuk sang istri.
Di baringkan lah tubuh istrinya di atas ranjang, lalu dengan keahliannya dalam bercinta, ia mulai menghujamkan senjata ampuhnya di sana, permainan pun akan segera di mulai..
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Berbeda dari Allianz dan Visha yang tengah di buat mabuk asmara oleh hangatnya sentuhan di atas ranjang, bercampur peluh dan kenikmatan, Hana hanyalah seorang diri di dalam kamarnya.
Hanya berteman satu gelas minuman di tangan, lalu pemandangan indah di luar sana yang sangat menawan, tak lupa juga lampu-lampu jalanan yang masih saja ramai meski malam sudah larut menemani dia dalam kesendirian di dalam kamarnya.
Kamar yang dingin sekali, tiada sentuhan atau bahkan pelukan dari seseorang yang menemaninya setiap malam. Hanya ada lampu redup di sana, dengan tirai yang terus menutup kamarnya sepanjang hari, hanya ada beberapa kali kesempatan dia membukanya.
Entah mengapa ia lebih menyukai gelap, sunyi dan juga kesendirian. Meskipun rasanya sepi, tapi setidaknya dia tak lagi memikirkan bagaimana keadaan dia di sana, sedang apakah kini, dan sudah makan kah atau belum, semua kecemasan itu tidak ada, ia merasa lebih tenang menjadi seseorang yang hidup seorang diri tanpa orang lain di dalam rumahnya yang akan slalu membuat dia harus menunggu setiap malam.
Dia tersenyum menatap ke arah luar jendela. Rasanya pemandangan seperti ini pun cukup untuk menemani dia di sisa akhir hidupnya yang membosankan. Bukankah lebih baik memang hidup seorang diri dan tanpa memikirkan beban pernikahan?
Ia bisa terbang bebas layaknya burung yang telah lama terkurung di dalam sangkar, lalu akhirnya kebebasan mulai mengarah padanya, terbang lah dia di langit yang biru, dan akhirnya bisa tersenyum menikmati udara segar di luar sangkar.
Ia tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk seorang pria lagi, tidak ingin, ia ingin mengabdikan seluruh hidupnya untuk dirinya sendiri, karena tidak ada yang jauh lebih berharga di banding dirinya sendiri.
*Love your self*, mungkin kata-kata itu jauh lebih menggambarkan apa yang ada di dalam hati Hana saat ini. Tak ingin terus mengorbankan diri untuk orang lain, biarlah hidupnya dia lalui untuk dirinya sendiri, bukan berjuang demi orang lain yang belum tentu juga mengkhawatirkan dirinya.
Gluk!
Ia meneguk satu tegukan minuman di dalam gelas, dengan tangan yang bergerak menutup sebagian kaca dengan tirai.
Srekkk!!
Di tariknya tirai jumbo dengan sebisanya, lalu ia letakkan gelas yang masih berisi sedikit minuman di dalamnya di permukaan meja.
Ia beralih menutup tirai di sebelah kirinya, dan kemudian kaca besar di dalam kamarnya pun akhirnya bisa tertutup dengan sempurna.
Malam semakin terasa larut. Wanita itu berlalu menuju ke arah kamar mandi, dan melakukan ritual rutinnya setiap malam. Sebenarnya dulu sebelum dia menjadi seperti ini, mandi, ya mandi saja, tak perlu pakai inilah itulah, tapi sekarang, Naira lah orang pertama yang akan cerewet padanya untuk pakai ini dan itu sebelum maupun setelah mandi.
Ia hanya bisa menurut saja, mengiyakan apa yang di katakan oleh sahabatnya itu, dan sekarang akhirnya terbukti, wajahnya seolah kembali muda, keriput dan kantung matanya sedikit demi sedikit mulai menghilang.
Kusam dan gelap di wajahnya pun mulai terlihat lebih berkurang. Dia menjadi wanita yang berkulit putih mulus dengan perawatan yang selama ini dia lakukan secara rutin.
Kulitnya yang semula terasa tua pun bahkan sekarang agaknya tidak lagi. Kulitnya semakin terasa kencang, dan juga segar. Dia memang terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Ya, dengan status jandanya yang sekarang, dia malah terlihat jauh lebih cantik dan terawat. Bukankah itu sudah membuktikan kalau hidup dengan Allianz hanya membuat dirinya merasa tersiksa?
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹