Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Menghubungi Di Tengah Malam


__ADS_3

Wanita itu mengambil ponsel di atas kasur yang ia tiduri di rumah Naira, dan melihat siapa pula yang menghubungi dia selarut ini.


Allianz...


Bip!


Selepas dia menekan tombol hijau di layar ponsel, ia tak langsung berbicara, ia mendiamkan dulu suasana di antara mereka, dan membiarkan Allianz yang mengatakan maksud meneleponnya malam ini.


"Hana..."


Dan setelah beberapa detik lamanya mereka terdiam, akhirnya panggilan itu keluar dari mulut Allianz di seberang sana. Namun suara itu mengapa terdengar begitu serak? dan juga begitu sesak?


Apa yang sebenarnya terjadi di seberang sana antara Allianz dan juga Visha?


"Hana, apa kamu di sana?" Tanya Allianz setelah sekian lama ia tidak mendengar jawaban atau sahutan dari seberang sana.


"Ya! Aku ada di sini.."


Mendadak sekujur tubuh Allianz bergetar hebat tatkala mendengar jawaban Hana dari seberang, ya, untuk pertama kalinya ia merasa gugup karena bicara dengan istri pertamanya setelah dua tahun setengah berlalu.


"Untuk apa menghubungi aku di larut malam begini?" Tanya Hana dengan suara yang amat dingin, lebih dingin menandingi dinginnya es di kutub Utara, "jika kau tak punya urusan penting, maka aku tutup saja panggilan darimu, kalau ada yang mau kamu bicarakan, maka cepatlah bicara, aku tidak punya waktu untuk hal yang bertele-tele, hanya membuang waktuku yang berharga saja!"


"Jadi maksud kamu aku mengganggu waktumu? Aku membuang waktu kamu yang berharga itu? Cih!"


Jawaban yang keluar dari mulut Hana membuat rasa kesal di hati Allianz, terlebih lagi wanita itu bahkan tidak ingin di ganggu olehnya, apa dia benar-benar seburuk itu pada Hana?


"Terserah apa katamu, All, aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun.." jawab Hana dengan lirih, seolah pasrah jika Allianz ingin menutup panggilan saat itu juga.


Lagipula, pria itu pasti hanya akan mengatakan satu hal yang tak penting, begitulah yang ia pikirkan.

__ADS_1


"Dasar wanita pemarah! Sombong! Murahan!"


Berbagai macam umpatan pun mulai terdengar dari mulut Allianz di seberang sana, membuat Hana yang mulanya diam tak peduli, kini akhirnya perlahan-lahan mulai terlihat terpancing emosi.


"Aku hanya menghubungi kamu, berniat untuk menanyakan kabar kamu saja, tapi kamu sungguh dengan tidak tahu malunya mengabaikan aku! Kamu pikir sehebat apa kamu sampai-sampai aku harus mengalah dan memohon maaf padamu? Lihat saja nanti! Aku akan buat kamu menyesal mengacuhkan aku!"


Bip!


Nada panggilan di matikan dari pihak Allianz sungguh membuat air matanya meluruh dengan deras di kedua pipinya. Tak terbayang betapa kejam yang di lakukan oleh suaminya hanya karena dia berusaha untuk diam dan menyembunyikan amarahnya.


Namun lihat saja apa yang di lakukan Allianz untuknya, jangankan menghargai, mencoba untuk mengerti perasaan Hana pun tidak, apa pria seperti itu pantas di beri ampunan?


Di tengah-tengah heningnya malam yang dingin, Hana menangis, di letakkan lagi ponselnya di atas kasur, lalu meringkuklah dia di sisi ranjang, berteman rasa sakit dan kekecewaan yang luar biasa mendalam.


Betapa teganya suaminya yang seolah tak pernah merasa bersalah, atau mungkin sekedar menyadari apa yang ia lakukan juga tak beda dengan Hana di masa lalu.


Ingin sekali Hana mundur dari perjalanan cintanya yang menyakitkan, namun bukankah perasaan cintanya memang seolah telah mati semenjak ia melihat kebahagiaan kecil keluarga Allianz dan sahabat baiknya, Visha?


Sejak dulu aku berpikir Allianz tak mau menemui aku di dalam penjara karena dia masih menyimpan amarah dan kekecewaannya padaku, tapi rupanya, inilah yang jadi jawaban setelah dua tahun berlalu...


Bukankah ini sungguh tidak adil bagiku? Aku harus bertahan di dalam hubungan yang rumit, yang sudah jelas dan pasti aku akan kalah dalam persaingan ketat antara aku dan Visha, namun bukankah aku juga tidak salah jika ingin mempertahankan rumah tangga kami berdua?


Arkh!


Apa yang harus aku pilih untuk sekarang? Bukankah aku juga berhak bahagia? Apa bahagia yang aku rasakan memang bukan harus soal Allianz dan hidup berumah tangga dengan pria itu?


Di seberang sana, laki-laki itu pun nampak jenuh dengan keadaan yang harus ia alami.


Ia terlihat termenung, sambil mencoba berpikir lebih tenang menghadapi situasi rumit yang lagi-lagi membuat dirinya bertarung dalam otaknya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah mengatakan padanya?" Tanya sang istri sambil terbaring di sampingnya.


Pria yang di tanya hanya bisa diam saja, tak ingin berkomentar apapun, biarlah istrinya menilainya sendiri, karena sebaik apapun dia bicara, tetap saja akan kalah.


"Heng! Aku sudah bisa menebak! Bukankah sejak awal aku tahu kau masih mencintainya? Kenapa aku jadi bertanya padamu? Bodohnya aku.." jawab wanita itu sambil meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu mencoba memejamkan mata, "aku beri kau waktu selama tiga hari, jika kau bisa menceraikan dia..."


"Baiklah, beri aku waktu tiga hari.."


Jawab Allianz dengan cepat. Pria itu tak mau kehilangan separuh hartanya yang sekarang berada di tangan Visha, bukan tanpa alasan memang Allianz segera memilih Visha untuk di pertahankan, semua harta milik berdua yang tidak bisa ia relakan untuk berbagi, jadi mau tidak mau, Allianz tetap harus mengalah, dan menceraikan istri pertamanya..


'Daripada aku harus kehilangan separuh hartaku demi wanita itu, lebih baik aku bertahan dengan Visha dan seluruh harta kami akan tetap aman.'


Benak laki-laki itu berkata, tersenyum dengan lega dalam mengambil keputusan kali ini.


Dia bergerak menuju ke arah istrinya, dan mencoba memeluk wanita itu dari belakang, lalu membujuk Visha untuk tidak perlu cemas dengan keadaan menyulitkan ini.


"Aku akan tetap memilih kamu, sampai kapanpun, kau yang memberi aku kebahagiaan, bukan dia, kau juga yang melahirkan aku seorang anak yang di masa depan akan menjadi generasi penerus keturunanku, jadi aku memang harus memilih kamu di banding dia," ucap Allianz lalu beralih mengecup punggung Visha.


Wanita itu tak bergeming, meski sekilas senyumnya terlihat, tapi ia tak terlalu lama berada dalam posisi senyuman yang seperti itu.


Ia senang mendengar suaminya tak akan pergi darinya, namun yang ia cemaskan adalah, mungkinkah suaminya bertahan hanya karena harta yang ia pegang saat ini. "Sayang, terima kasih kau sudah memberi aku segalanya, kau memang yang terbaik untukku.."


Cup!


Visha menepis sentuhan tangan Allianz yang mencoba untuk menggoda dan merayunya, dia menolak mentah-mentah perlakuan Allianz itu.


"Maafkan aku, Mas, malam ini, aku mau tidur saja.." jawab singkat Visha, mencoba membuat permainan antara mereka bertiga menjadi semakin menarik.


Dan menang benar saja, laki-laki itu menjadi sangat cemas, sama persis dengan yang di pikirkan oleh Visha, mengacuhkan pria ini, sampai pria ini merasa takut akan kehilangan dirinya.

__ADS_1


Dan sekuat tenaga Allianz mencoba untuk memberi yang terbaik untuknya, dari pada harus kehilangan istri keduanya yang memberi dia bertumpuk-tumpuk kebahagiaan, bukankah lebih baik melepaskan istri pertamanya yang tiada lagi berguna?


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2