
"Hahh! aku tidak habis pikir kau sungguh berani menuduh toko kami dengan hal memalukan seperti ini.." ucap Axel pada wanita itu.
"Ini hanya make up saja, kau juga di buat tertipu dengan bodohnya oleh make up ini, baiklah, aku harus segera kembali, semua masalah di sini sudah beres, jadi urusan selanjutnya, itu bukan urusan aku lagi.." ucap Dokter Alta pada semua orang.
"Baiklah, pulang saja ke asalmu, aku akan mengurus orang ini lebih dulu, dasar wanita kurang pengalaman!" umpat Axel dengan berani pada wanita di depannya yang tengah menghapus make up di wajahnya dengan di bantu oleh beberapa orang pula di sana.
"Maafkan aku, Tuan.." mendadak bersimpuh di kaki Axel, "aku salah, seharusnya aku tidak melakukannya, ini semua karena laki-laki itu, dia yang mengiming-imingi aku dengan uang dua milyar untuk memfitnah toko kalian, aku terpaksa menerima uangnya karena....."
"Karena jumlahnya yang begitu besar, kan? aish, aku sungguh tidak menyangka rupanya seorang wanita jauh lebih pandai mencari uang, kau tetap bersalah, sekarang kau harus ikut kami ke pengadilan, dan mulai menjelaskan pria siapa yang kamu maksud itu.." ucap Axel sambil berlalu meninggalkan wanita itu.
"Tidak, Tuan... kumohon jangan bawa aku ke pengadilan, akan aku katakan siapa orangnya dan bagaimana ciri-cirinya padamu kalau anda tidak membawa saya ke pengadilan," ucap wanita itu pada Axel.
"Ck! aku dan grup ku tidak sebodoh dirimu, aku pasti akan dengan segera menemukan siapa pria yang kau maksud itu, jadi tak perlu pusing mengiming-imingi aku akan hal itu, sebelum kau tahu siapa nama dari pria itu, aku pasti akan lebih dulu mengetahuinya," bergerak meninggalkan wanita aneh di luar toko, "sebaiknya kau pikirkan dirimu sendiri bagaimana akan keluar dari sini selanjutnya," ucap Axel membuat wanita di belakangnya terlihat cemas.
Tubuh wanita itu kembali gemetar hebat, membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Apa lagi pria itu sudah bilang tidak akan menerima alasan apapun lagi darinya, jangankan bantuan, ucapan pembelaan saja sudah tidak bisa.
Bagaimana dia akan menyelesaikan urusan ini selanjutnya?
Hahh! kenapa pula dia mendadak terseret dalam masalah seperti ini di saat dia sungguh belum terampil memainkan sebuah peran, uang dua milyar bukanlah uang yang sedikit, kenapa dia tak menggunakan uang itu untuk sesuatu yang lebih besar dalam acara penjebakan perusahaan ini?
Hahh! Apalah daya, semuanya pun sudah terlambat, dia memang bodoh, mau menantang perusahaan terbesar ketiga di kota hanya dengan bermodal make up yang dia bisa, kalau sudah begini, rencana gagal, dia pun di buat malu oleh semua orang.
Axel terlihat mengusap dahinya dengan sedikit bertenaga berharap bisa menyengatkan aliran listrik yang membuat kepalanya sedikit membaik dari sakitnya.
Ia pun terlihat kesal menghadapi wanita aneh dan juga bodoh itu. Tapi sejujurnya dia pun tak terlalu pandai pula. Jika dia pandai, mengapa dia tidak bisa menyadari merah-merah dan bentolan di wajah wanita itu hanya sebuah make up?
Ya, dia akui dia memang sangatlah bodoh, ya, baiklah, tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan betapa bodohnya dia sejak pagi tadi, hahh! ya sudah, sekarang yang penting semuanya sudah beres.
Kini tinggal memberitahu Nyonya besarnya tentang masalah ini, dia harus segera mengakhiri sikap cemas dari bos di seberang saat ini juga.
Axel terlihat mengambil ponsel dari saku celananya dan kemudian berniat menghubungi Hana.
Namun belum juga dia memencet tombol nyala di ponselnya, seseorang datang padanya sambil membawa alat-alat yang sebelumnya dia minta untuk dipasangkan di dekat wanita itu.
"Tuan?"
"Ya?" Axel terlihat berbalik ke arah sang bodyguard.
"Bagaimana dengan rekamannya?" tanya pria bawahan itu.
"Sebar dan jadikan trending topik nomor satu di kota kita, atau bahkan kalau perlu sampai ke luar daerah, semua orang harus tahu kalau berita ini hanya tuduhan tidak penting dari seseorang," jawab Axel sambil berlalu meninggalkan pemuda itu.
"Baik, Tuan, sesuai perintah.."
Axel kembali berjalan dan juga kembali mencoba untuk menghubungi Hana di seberang.
Bip!
Panggilan di angkat oleh Hana.....
"Hallo, Bu.."
"Ya, apa Dokter Alta baru saja menyelesaikan tugasnya di sana? bagaimana perkembangannya?"
Tanya Hana di seberang dengan santai sambil bermain kursi goyang di dalam ruangannya.
"Semuanya sudah saya bereskan, wanita itu hanya menggunakan make up biasa untuk menuduh perusahaan kita, dan sekarang kami akan mengantar wanita itu menuju ke pengadilan, bagaimana menurut anda?" tanya Axel dengan sangat sopan.
"Apa dia suruhan pesaing?"
"Dia mengatakan hal itu pada kami," ucap Axel lagi.
__ADS_1
Di seberang sana, Hana terlihat mengangguk mendengarkan jawaban dari Axel barusan.
"Baiklah, selidiki apa yang sebenarnya terjadi antara wanita itu dengan orang yang menyuruhnya, aku ingin tahu seperti apa pesaing yang melawan kita dengan cara curang itu!"
"Baik, Bu, akan kami lakukan.." jawab Axel pada wanita di seberang sana.
Bip!
Panggilan pun segera di matikan kembali oleh Axel. Laki-laki itu akan mulai bertindak mengatasi semua ini, jadi hari ini dan juga hari-hari besok dia akan jauh lebih sibuk dengan urusan ini, mungkin dia tidak akan kembali ke perusahaan sebelum masalah ini clear.
Di seberang sana, terlihat Hana yang masih bersantai menikmati perkembangan berita yang baru saja dia tangkap di telinganya.
Di sisi lain dia agak puas dengan hasil investigasi Tim nya atas wanita itu, tapi di sisi lain, dia juga ingin tahu seperti apa kekuatan yang di miliki pesaingnya, hingga mereka bahkan berani melakukan hal semacam ini padanya.
Entahlah! siapapun yang menyaingi dirinya dengan mengirim wanita bodoh seperti itu, bukankah artinya mereka juga tergolong para manusia bodoh?
Hana akhirnya memilih untuk beranjak dari lamunannya, dan mencoba meraih ponselnya kembali yang tadi sempat dia letakkan di permukaan meja.
Ia melihat beberapa notifikasi yang masuk di ponsel miliknya, memberitahu ada berita viral kedua untuk hari ini.
Sebuah artikel yang menjelaskan tentang kecurangan wanita itu memberi tuduhan pada produk Grup H.A. hanya dengan bermodal make up. Hana tersenyum melihatnya, terkekeh melihat wanita bodoh itu menjelaskan semuanya dengan gamblang sambil sibuk membersihkan sisa make up di wajahnya.
Hahh! Axel benar, rupanya mereka hanya mengirim orang bodoh seperti ini, atau mungkin dia wanita biasa yang membutuhkan uang, dan seseorang memberi dia tawaran yang senilai dua milyar hingga membuat wanita bodoh ini tergiur.
Tindakan bodoh macam apa ini? cih! buat orang ingin tertawa saja..
Drrrttt Drrrttt
Ponsel yang ada di tangannya mendadak bergetar, ada seseorang yang mencoba menghubungi dia, hahh! tidak usah di tanyakan lagi, sudah pasti si Naira itu.
Wanita itu akan menjadi si paling cemas saat mendengar kabar burung semacam ini, jadi sudah pasti dia yang paling bisa mencecar Hana dengan beragam pertanyaan dari mulutnya.
Bip!
"Hallo?"
"Hana, aku melihat berita soal wanita yang protes di tokomu pagi ini, tapi aku baru sempat menghubungi kamu untuk menanyakannya, memangnya kenapa wanita itu sampai menuduh kamu? oh iya, ada satu berita lagi yang baru saja masuk, di sini tertulis kalau wanita yang menuduh dan melakukan protes di depan tokomu, adalah orang suruhan dari perusahaan, kau tahu apa yang aku pikirkan? kamu menjadi pesaing terberat bagi mereka sekarang."
Ya, benar saja, wanita itu akan langsung mencerca dia dengan beragam pertanyaan untuknya. Tapi Hana lebih senang saat seperti ini, bukankah itu artinya masih ada orang lain yang peduli pada dirinya dan juga hidupnya?
"Ya, kau benar, agaknya mereka mengirim wanita bodoh untuk membuat berita palsu mengenai produk aku, jadi kau tak perlu cemas, tenang saja, aku bisa menyelesaikan persoalan ini dengan mudah.." jawab Hana sambil tersenyum.
"Aku tahu kau memang terbaik, oh iya, bagaimana dengan kelanjutan kerja sama kita? aku berniat membawa Shi Yuan dan Anya juga untuk berlibur, kau sudah ajak Zhoulin dan juga Miranda apa belum?"
Wanita itu dengan cepat berganti topik.
"Belum, nanti akan aku beritahu, apa kita akan menghabiskan liburan Minggu depan?" tanya Hana sambil bangun dari duduknya.
"Ya, aku rasa menghabiskan waktu satu Minggu di sana adalah ide yang bagus.."
"Lalu perusahaan ini siapa yang akan bertanggung jawab?" tanya Hana pada sahabatnya.
"Kau kan punya anak buah yang banyak, kenapa masih di buat bingung? biarkan seseorang memimpin untuk sementara, dan kau akan asik berlibur dengan kami.."
"Baiklah, aku turuti keinginan kamu ini, tapi kau yang mengurus perjalanannya, aku harus sibuk dulu sebelum pergi ke luar kota denganmu nanti.."
"Iya, aku tahu, jangan lupa untuk ajak Zhoulin dan Miranda juga, ya, bye.."
"Ya," jawab Hana dengan singkat.
Bip!
__ADS_1
Sambungan di matikan segera oleh Naira di seberang, membuat Hana harus kembali larut dalam kesepian yang mendalam.
Ya, sejauh ini jika tidak ada Naira dan juga Ardian di sekelilingnya, dia bahkan tak memiliki seorang teman. Untunglah akhir-akhir ini dia selalu di sibukkan dengan beragam pekerjaan di kantor, jadi sedikit bisa mengobati rasa kesepian di dalam hatinya.
Ia pun tak bisa menampik, ada sedikit rasa ingin kembali berumah tangga dengan seorang pria di sisa akhir hidupnya. Hanya saja, siapa juga yang mau dengan janda berusia tiga puluh lima tahun seperti dirinya?
Ia juga tak ingin berharap terlalu jauh untuk soal itu, semuanya sudah di atur oleh yang maha kuasa, dia tak ingin memaksa berumah tangga kalau memang takdirnya tidak akan seperti itu.
Lalu dengan sifat Hana sekarang yang seolah tidak lagi memikirkan Allianz di otaknya, benarkah Hana sudah perlahan-lahan mulai melupakan sosok pria yang di cintainya itu?
Mungkin untuk sekarang, jawabannya lebih kepada hati yang kecewa akibat semua perlakuan Allianz dan juga sahabat karibnya padanya..
Ia tak lagi berpikir soal cinta, mungkin urusan cinta akan jadi urusan nomor dua atau bahkan ketiga, karena yang ada di hatinya sekarang hanyalah sebuah kekecewaan mendalam pada mereka berdua.
Namun Hana tak ingin berbicara soal perasaan pada mereka, Allianz maupun Visha. Keduanya baginya hanya seekor ular yang menggigit pawangnya sendiri, jadi mempedulikan mereka untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Hana akhirnya beranjak dari ruangannya, mencoba menghilangkan rasa kesepian di hatinya dengan berbaur dengan karyawan-karyawan dalam perusahaannya.
Ia pun memang butuh seorang teman hidup, yang bisa menemani dia tidur setiap malam di atas kasur yang hangat dan penuh dengan kasih sayang, namun dia juga berpikir mungkinkah masih ada laki-laki tulus di dunia ini selain sahabatnya Ardian..
Sungguh beruntung Naira dalam otaknya, di cintai oleh seorang laki-laki tulus seperti Ardian, dan dengan kehangatan juga perhatian yang selalu di berikan Ardian padanya.
Jujur saja, mungkin Hana sedikit merasa iri pada kebahagiaan keluarga Naira dan juga Ardian, keluarga kecil yang harmonis dan hidupnya di penuhi dengan cinta dan kepercayaan.
Tidak seperti rumah tangganya dahulu kala dengan Allianz, yang selalu saja berakhir ricuh dan saling tuduh menuduh.
Namun apalah daya, ia tak punya cinta seperti Naira dan juga Ardian dalam rumah tangga mereka berdua. Ia hanya selalu berharap ingin memiliki laki-laki yang bisa melengkapi hidupnya, dan juga mengisi hari-harinya dengan penuh kebahagiaan.
Kini langkah kakinya terdengar mantap mulai keluar dari ruangan kerjanya, namun baru beberapa langkah saja dia keluar, dia malah mendapat laporan dari salah satu pegawai di kantornya.
"Bu.." panggil wanita itu menghentikan langkah kaki Hana.
"Ya?" jawab Hana.
"Semua perusahaan yang tadi menarik kerja sama dengan perusahaan kita mendadak ingin kembali mengadakan rapat untuk kerja sama selanjutnya, mereka juga sudah menampilkan produk kita di banner depan sebagai ajang promosi untuk meminta maaf pada perusahaan kita.."
"Benarkah?" Hana seolah tidak mempercayainya.
Sebelumnya semua perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya sudah serempak menarik mundur produknya dari pemasaran mereka, tapi sekarang, mereka semua kembali, mereka semua juga meminta maaf dan mengadakan promosi atas produknya secara besar-besaran, apa ini sebuah keajaiban?
Hana sangat senang mendengar kabar ini, dia tak pernah menduga kalau ia memiliki rekan kerja sama yang sangat bertanggung jawab.
"Mereka juga ingin mengadakan rapat yang pagi ini tertunda karena pemberitaan miring soal produk kita," ucap wanita itu lagi.
"Baiklah, agendakan jam dua siang ini, aku punya waktu kosong."
"Baik, Nyonya.."
Wanita itu pergi meninggalkan Hana seorang diri di depan ruangan khusus miliknya.
Senyum Hana melebar, begitu senang dan lega mendengar kabar tersebut. Ya, secercah cahaya dengan perlahan menghampiri hidupnya setelah redup untuk sebentar.
Kali ini dia memang menjadi manusia paling beruntung, dan sudah sepatutnya dia berterima kasih pada takdir yang telah membawa dia menuju kehidupan beruntung semacam ini.
'Grup H.A. telah mengkonfirmasi soal berita simpang siur dan juga wanita yang menobatkan diri sebagai korban atas produknya, seorang laki-laki dari Grup H.A. mengatakan kalau wanita itu adalah suruhan dari pesaingnya yang sengaja melakukan hal tersebut untuk menghancurkan Grup H.A. mereka akan menindak lanjuti segera perkara ini ke ranah hukum...'
Bip!
"Sial!!"
...****************...
__ADS_1