
Allianz terdiam bingung, apa lagi saat dia mendapati sang istri yang tengah di buat duduk termenung di meja makan mereka, meja makan yang tidak memiliki ruang lingkup yang cukup luas.
Allianz mendatangi, dan duduklah dia di samping istri keduanya, dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Vish, apa yang terjadi?" tanya Allianz pada istrinya.
Visha memingkis rambutnya, dan dari arah samping, bisa di lihat dengan jelas masih meninggalkan bekas air mata di sana.
"Kau menangis?" tanya Allianz masih sedikit acuh, "di mana Zhoulin? kenapa rumah ini sepi sekali?" tanya pria itu usai mendapati keganjilan di rumahnya sendiri.
"Adik kandung kamu!" ucapnya sambil terisak.
"Adik kandung aku? maksud kamu Naira?"
Visha hanya mengangguk saja, yang memberi tanda artinya pertanyaan Allianz benar.
"Kenapa dengan dia? dia datang kemari?" tanya Allianz lagi pada Visha.
"Ya! dia membawa Zhoulin pergi dari rumah ini!"
"Apa?" wajah Allianz di penuhi oleh kejutan besar, "dia membawa Zhoulin pergi dari sini? kenapa dia membawa Zhoulin pergi?"
"Dia mendapat surat dari Hana, untuk membawa dan mendapat hak asuh anak itu untuk sementara waktu selama Hana di penjara!"
"Apa?" lagi dan lagi Allianz di buat terkejut setengah mati oleh perkataan Visha barusan.
"Aku sudah berushaa untuk mencegah dia pergi, namun tetap saja, dia begitu kuat, aku tidak bisa melakukan apapun, karena dia juga membawa pergi semua pelayan di rumah ini, aku baru tahu kalau kita hanya sepucuk kuku bagi anak itu!" ucap Visha dengan perasaan sedih yang bercampur dengan kekesalan yang luar biasa.
"Tidak bisa! dia tidak bisa melakukannya! aku tidak akan membiarkan dia membawa Zhoulin pergi dari sini!"
Tanpa berpikir panjang, Allianz langsung berinisiatif untuk pergi menuju ke rumah Ardian dan Naira.
Laki-laki itu berjalan dengan cepat menuju ke luar rumahnya, dan langsung masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesinnya.
Cesss!
Dengan cepat dia melajukan kendaraannya untuk bisa sampai ke kediaman Ardian yang posisinya tidak terlalu jauh juga dari rumahnya, mungkin hanya sekitar dua belas kilometer lebih.
Dan dengan laju kendaraan yang lebih cepat, akan semakin mudah baginya untuk bisa sampai jauh lebih cepat dari bisanya.
Kini dia pun telah terlihat di depan gerbang rumah Ardian yang besar gak istana megah nan mewah.
Di depan rumah adik iparnya itu sudah banyak penjaga yang berjaga di sana, mungkin mereka sudah bisa memprediksi kedatangan Allianz sebelumnya, jadi memasang barisan seketat itu demi menghalangi perebutan Zhoulin selanjutnya.
Prak! prak! prak!
Dia menggedor pintu gerbang rumah Ardian, namun para penjaga tidak ada yang bergeming satu pun.
__ADS_1
"Ardian! keluar kamu!!" teriak Allianz dengan lantangnya di depan pintu gerbang tersebut.
"Ardian! Naira!! jangan sembunyi kalian! bawa anakku kemari!!! kalian tidak punya hak untuk membawa dia pergi!!!"
Tak lama setelah itu, datanglah Ardian, yang masih menggunakan pakaian kerjanya, dan terlihat berjalan ke arahnya, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Brengsek kau!! beraninya cuma main belakang! kau membawa putraku ke sini! kau pikir kau bisa mengambilnya semudah itu? tidak Ardian! kemarilah! bawa putraku ke sini! dia harus ikut aku pulang!"
"Kau tidak bisa tenang meski untuk urusan seserius ini sekalipun!" ucap Ardian membalas Allianz.
"Kau tidak punya bukti dan surat yang bisa kau tunjukkan sebagai tanda kau ayah asuh sementara untuk Zhoulin!"
"Siapa bilang? apa Visha tidak mengatakan apapun padamu!? bukankah sebelum Naira pergi, dia sudah membaca surat yang di berikan Hana untuk Naira dan juga aku?"
"Aku sungguh tidak percaya kata-katamu! cepat buka gerbangnya! aku harus membawa anakku pulang ke rumah! aku yang akan merawatnya!"
"Bukankah dia hanya akan menjadi beban rumah tangga kalian saja? bukankah bagimu dia hanya sebatas anak angkat? kenapa kau begitu menyayangi dia? apa dia memiliki harga yang lebih fantastis di banding hidup berdua dan menikmati malam pengantin baru dengan istri keduamu!"
"Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan? hah? kau sungguh tidak tahu malu! mengatakan semua ini padaku, kau pikir kau ini siapa?"
"Jika kau pikir aku ini siapa? lalu apa kabar dengan dirimu? yang sudah aku bantu melalui semuanya, tapi nyatanya kau malah mengkhianati kami semua, tidak bisa aku bayangkan jika Hana tahu semua tentang dirimu, dia pasti akan membenci kamu untuk seumur hidupnya!"
"Silahkan kau beri tahu saja semuanya! aku dan Visha adalah pasangan serasi, yang bisa aku pamerkan kecantikan dia di depan umum, jadi apa kabar dengan istriku yang buluk itu? jika di bandingkan dengan Visha, tentunya lebih berkelas anak itu! dia punya paras yang cantik, dan pebisnis yang handal, dengan nilai terkahir pendidikannya yang amat memuaskan tidak terlalu sulit bagiku untuk mencari pekerjaan baru dengannya di perusahaan lain! jadi silahkan saja kau lakukan semua yang kau mau! aku tidak mau lagi bergantung lagi padamu! kau sudah menginjak harga diriku, kau juga sudah membaut hidupku hancur! tidak hanya dengan Hana, tapi juga dengan Visha! akan aku buktikan! tanpa bekerja di kantor kamu pun, aku masih bisa mencari pekerjaan lain yang lebih baik lagi!"
"Oh ya? baiklah, mari kita buktikan semua perkataan kamu! mungkin kamu memang butuh udara segar, supaya bisa berpikir lebih jernih! pada mulanya aku memang tidak ingin memecat kamu dari kantor, aku tidak ingin mengotori tanganku dan lidahku untuk mengusir kamu, tapi lihat saja sekarang! kau dengan sombongnya malah mengundurkan diri! lihat saja! apa yang bisa kau lakukan setelah ini!"
Kreb!
"Arkh! sial!"
Aku keceplosan lagi!
Ucap hati Allianz menyesal mengatakannya. Padahal sejujurnya dia tidak ingin mundur dari grup A, sejauh ini lima ratus kantor yang menempati posisi teratas adalah milik Grup A, dan jika dia pergi dan keluar dari grup A, itu artinya peluang untuk bekerja akan jauh semakin sulit.
Bagaimana dia bisa tidak memikirkan hal itu sebelum berbicara? dasar mulut yang tidak bisa di ajak berkompromi!
Laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu, dan menyusun rencana lain dengan istri keduanya. Istri yang hadir hanya untuk melampiaskan dendam pada Hana, pada mulanya, tapi untuk saat ini, ada baiknya dia juga memanfaatkan kesempatan emas ini untuk hidup lebih enak.
Dia yang melihat nilai Visha yang lulus dengan poin yang cukup memuaskan, berpikir bisa memanfaatkan Visha untuk mendapat posisi atau jabatan yang jauh lebih tinggi darinya, dan itu artinya, dia tak perlu bekerja keras, dan hanya harus menerima semua uang dari Visha saja untuk ke depannya.
Sementara dirinya, dia pun juga harus bekerja, demi untuk tidak di liat buruk oleh orang lain, semakin dia jauh lebih giat, dia pasti bisa mengalahkan Visha. Ya, begitulah cara pikir Allianz yang selalu dangkal. Dia bahkan tak pernah tahu, kalau Visha menggunakan data palsu untuk semua dokumen yang dia miliki.
Sementara di rumah Ardian, dia tengah menghubungi orang kantor, dan menyuruh orang itu untuk segera melayangkan surat pemecatan pada Allianz dan Visha di malam itu juga.
"Hallo!"
"Hallo, Pak! ada apa?"
__ADS_1
"Buat surat pemecatan, atas nama Allianz dan Visha!"
"Bukannya kemarin katanya tidak bisa memecat orang yang tidak bermasalah dengan perusahaan, ya, pak!?"
Yang di seberang hanya terdengar bingung saja, memang pada mulanya Ardian mengatakan kalau dia tidak akan memecat seseorang hanya karena alasan pribadi, namun kali ini, malah Ardian sendiri yang meminta surat pemecatan untuk Allianz dan Visha..
"Orang seperti itu, jika di biarkan terus menerus di dalam perusahaan kita, maka hanya akan mencemari nama baik kita saja, setelah aku pikir-pikir, lebih baik di Katai tidak profesional, dari pada aku harus menanggung beban hidup orang-orang yang tidak pantas aku bantu!"
"Baik, Pak! akan segera kami proses!"
"Ya! terima kasih!"
Bip!
Ardian memutus sambungannya kembali dan kemudian datanglah dia menghampiri sang istri yang sedang asik terduduk di ruang tengah dengan Zhoulin dan Shi Yuan yang masih bermain dengan riang di sana.
"Hai, sayang! bagaimana dengan perasaan kamu? sudah lebih lega sekarang?" tanya Ardian pada istrinya.
Sang istri terlihat membersitkan senyum manisnya, dan kemudian terdengarlah sebuah jawaban dari mulutnya, "aku baik, aku senang bisa membawa Zhoulin ke sini, meski kita harus di buat repot dulu sebelum membawa anak ini dari Visha dan Allianz!" ucap Naira seolah lelah dengan semua yang telah mereka lalui seharian ini, "tapi untung saja Hana tidak curiga saat kita mengatakan keinginan kita untuk merawat Zhoulin! tentu saja dia pasti tahu mana yang terbaik, meski dia masih belum tahu tentang kebusukan suaminya!"
"Aku turut senang, melihat kau yang puas seperti itu, aku jadi ikut senang!" ucap Ardian sambil mengelus rambut istrinya.
"Kau tahu Ardian, aku rasa kakakku sudah di bodohi oleh wanita itu! hanya saja, aku masih belum yakin dengan perasaanku ini!"
"Sudahlah, mungkin memang kau saja yang terlalu benci dengan wanita itu! lebih baik tidak usah memikirkan mereka, yang penting sekarang Zhoulin sudah bersama kita, itulah yang paling penting!"
Drrrttt Drrrttt
Mendadak ponsel Ardian bergetar dari dalam sakunya. Dia akhirnya memilih untuk segera beralih dari istrinya, menuju sebuah panggilan yang ada di ponselnya.
Bip!
"Hallo! ada apa lagi?"
"Ini aku, Dokter Andrew! seperti biasa hanya ingin mengingatkan kalau besok adalah jadwal rutin Naira!"
"Iya, aku ingat! terima kasih sudah mengingatkan aku!"
"Ya! baiklah, aku tutup dulu!"
"Ya!"
Bip!
"Siapa sayang?" tanya Naira pada sang suami.
"Dokter Andrew! dia menghubungi hanya untuk mengingatkan kita soal rutinan besok, apa kau sudah siap untuk di suntik lagi? oh iya, apa kau sudah mulai ingat sesuatu yang jauh lebih besar?"
__ADS_1
💜💜💜💜💜💜💜💜💜