
Malam semakin gelap dan juga pekat, tak ada bintang yang menghiasi malam ini dengan indah di langit yang gelap, tak ada bulan, atau sekedar kilatan cahaya di langit pada malam itu, semuanya sangat hitam dan juga gelap.
Seseorang berjalan dengan limbung di jalan raya, pada pukul satu dini hari. Tak ada rasa takut atau sekedar was-was pada saat dia bergerak di jalanan sepi, tak ada satu makhluk pun yang berada di sana.
Ia benar-benar remuk, tatkala sang adik mengingatkan dirinya akan semua keindahan di masa lalu, akan semua kebahagiaannya saat masih menjadi kakak kebanggan.
Begitulah kata adik perempuannya yang manis.
Di mana pun, ikatan kakak dan adik seharusnya tidak akan berubah menjadi seburuk ini, bukankah semuanya jauh lebih baik saat mereka akur dan menikmati waktu dewasa mereka seperti dahulu kala saat keduanya kecil?
Ya, dia akhirnya mengingat semuanya, seolah bayangan kebahagiaan dan keceriaan dia dengan sang adik terlintas dengan begitu indah membayangi pelupuk matanya.
*Yeah! kakak sudah jadi dokter! kakak memang pantas jadi kebanggaanku*!!
*Tangkap aku jika kau bisa!! hahahaha*...
Teringat saat itu, saat ia dengan cerianya bermain dengan adiknya, padahal usia mereka yang tak lagi muda, bercanda ria, tertawa bahagia, dan menikmati indahnya waktu tanpa memikirkan uang, meskipun keduanya hidup dalam serba kekurangan.
Duduk di taman, menikmati mekarnya bunga mawar merah nan cantik dan gagah berani.
*Kau akan menjumpai seorang laki-laki yang sangat berani, begitulah yang memang seharusnya kau temukan.. jangan seperti kakak yang pengecut ini, mau bilang cinta pun tidak bisa, kakak adalah seorang pengecut*..
Dia bahkan memasangkan bunga mawar di rambut adik kandungnya, berlarian bersama-sama, menghabiskan sisa waktu mereka sebelum akhirnya Naira di pinang oleh suaminya, Ardian.
*Aku jatuh cinta padamu, Hana*..
Bahkan adiknya mengajari dia tentang banyak hal, termasuk bagaimana cara mendapat hati Hana pada waktu itu, pada saat Hana menjadi kawan terbaik bagi Naira.
*Lakukan dengan benar, jika tidak, dia tidak akan menerima lamaran darimu, ingat, kak, aku sudah menikah, jika sebentar lagi aku hamil, maka kau akan kalah satu langkah di belakangku*..
Dan dia pun hanya bisa menurut, melakukan segala hal yang di sarankan oleh adiknya, bagaimana caranya mengatakan cintanya pada sosok Hana, wanita yang pada saat itu dia cintai setengah mati.
Hingga akhirnya, dia berhasil menaklukkan ketakutan di dalam hatinya..
*Hana, mari kita bicara*..
Mengatakan semua yang dia rasakan pada Hana, seorang wanita yang telah sukses dengan menjadi pimpinan salah satu perusahaan ternama di kota.
Gugup?
Allianz bahkan tak pernah bisa membayangkan betapa gugupnya dia pada saat itu. Ia ingat betul dia mengajak Hana bertemu di pelataran rumah sakit, karena padatnya jadwal dia di sana pada masa kejayaannya.
Ia menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk mengatakan rasa cintanya pada Hana, sampai pada suatu ketika, dia berani mengatakannya pada Hana.
*Hana, aku mencintaimu, tapi aku tidak butuh kamu membalas cintaku, aku hanya seorang penakut yang akan merasa lega setelah mengungkapkan cintaku, soal kamu mau terima aku atau tidak, aku tidak akan mendesaknya*..
Dia yang cupu, dia yang tak pandai memikat gadis, dia yang kaku dan juga terlalu dingin, yang tak pernah jatuh cinta, apa lagi sampai memiliki kekasih, baginya, dekat dengan seorang wanita adalah, kelemahan baginya.
Nyatanya pada hari itu, dengan dukungan dan bantuan dari Naira, ia akhirnya bisa menaklukkan ketakutan dalam hatinya, menjadi berani seperti macan tutul mengejar mangsanya, sebelum di dapat, maka pantang baginya untuk berhenti mengejar.
*Ya, aku menerimamu, mari kita menikah*..
__ADS_1
Dan sederet kata-kata yang terlontar dari Hana, sebagai tanda penerimaan atas cintanya beberapa detik yang lalu, sungguh membuat dirinya berbunga-bunga, seolah berada di taman surgawi, dengan indahnya bunga-bunga cinta yang bermekaran, mewarnai indahnya perjumpaan mereka pada saat itu.
Hingga sekarang, dia tak bisa menghitung berapa juta kenangan yang dia lukiskan dalam hidupnya bersama Hana selama bertahun-tahun itu, mengapa semuanya seolah sangat menyesakkan dadanya?
Bahkan kisah hidupnya dengan Visha tak seindah ini, mengapa sekarang memutar kilas balik kenangan indahnya dengan Hana, sungguh membuat dia sangat bergairah, bahkan, seolah membangkitkan semua rasa penyesalan di hatinya atas semua yang dia lakukan selama ini.
Terlebih saat Naira mengatakan satu kalimat itu..
*Hana di jebak, aku sudah tahu siapa pelakunya*..
Dia tertegun dengan hebatnya. Dia memaku di tempat seketika, tak sanggup lagi untuk melangkahkan kedua kakinya, apalagi sampai berlari secepat yang dia inginkan.
Bruk!
Tubuhnya ambruk di atas jalan aspal yang dingin dan juga basah, membuat dia harus berjuang melawan kedinginan di malam itu, dengan sepi yang menemaninya, seolah ingin menyaksikan betapa kesalnya dia pada dirinya sendiri, betapa besar penyesalan yang dia rasakan dalam hatinya sendiri, betapa bodoh mengingat masa lalu yang dia lakukan pada Hana.
Memilih menikahi Visha hanya untuk membalas dendam pada Hana, namun ia bahkan tak akan pernah menduga, dari pernikahan terpaksa itu, malah lahir sosok Alvis, yang kini membuat dia kesulitan untuk memilih jalannya.
Ia hanya ingin kembali hidup dengan normal, jika tidak Hana yang dia cintai, setidaknya dia tidak akan menyakiti sosok Visha sebagai istrinya.
Namun, Naira mengatakan hal yang lebih mengejutkan dari pada apa yang baru saja dia dengar.
*Dialah pelakunya, dia yang meminta Lu Zamorgan untuk mendatangi rumah ini, dan melecehkan Hana di depanmu, Lu Zamorgan sengaja menunggu kedatangan kakak, supaya kakak melihat semua pertunjukkan mereka, itulah rencana mereka*.
Tok tok tok!
Pintu di buka dengan wajah kusut milik Visha.
Namun wajah kecutnya berhasil di sembunyikan tatkala melihat suaminya berada di ambang pintu, berdiri dengan lemahnya, tak menatap ke arahnya sama sekali, bahkan sekedar tersenyum pun tidak.
*Tak apa jika kau memperlakukan kami dengan perlakuan yang sama, memberikan kami berdua tas yang sama, setidaknya, aku bisa berubah menjadi seperti apa yang kau mau, begitulah caraku membahagiakan kamu*..
Senyum terukir dengan tipis di bibir Visha, sudah mulai terlihat melemas, dan tak lagi berpikir buruk tentang benda-benda yang sama dengan miliknya dalam koleksi Hana.
Pada awalnya ia memang sedikit mempermasalahkan semua yang dia lihat, tapi bukankah tidak apa-apa melakukannya, asal Allianz puas dengan dirinya?
Dia mulai bergerak mendekat ke arah suaminya tengah berdiri, mencoba menggapai tangan suaminya, dan menyambut suaminya dengan sangat hangat.
"Aku sudah masak macam-macam makanan, kita makan sekarang, ya.." ucap Visha sambil meraih tangan suaminya.
Plak!
"Arkh!!"
Namun apa yang terjadi selanjutnya? Pria itu menepis tangan Visha, melemparnya sejauh yang dia bisa, bahkan membuat tubuh Visha tersungkur jauh dari are terdekatnya.
Bruk!
Tubuh cantik dan manis itu terjatuh dan ambruk di lantai, membuat pemandangan menyedihkan.
Sang istri masih bisa menahan tangisnya. Dia hanya terlihat mendongak menatap ke arah suaminya dengan sorot mata tak dapat di mengerti, antara bertanya-tanya mengapa suaminya melakukannya, antara marah, namun juga sedih juga terluka.
__ADS_1
"Aku sudah tahu semua kebusukan yang kamu lakukan padaku, Vish!" ucap Allianz tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya.
Sang istri hanya diam seribu bahasa. Dalam hatinya ia bahkan masih bertanya-tanya, seolah sudah melupakan kejadian bertahun-tahun lalu saat dia mencoba menghancurkan Hana dengan melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan posisi Nyonya Allianz satu-satunya.
"Kau bahkan sangatlah menjijikan! kau sungguh wanita yang tidak pantas aku jadikan istri!"
"Apa maksud kamu mengatakan hal seperti itu padaku, Mas? apa maksud kamu mengatakannya?" tanya wanita itu masih dalam keadaan terpuruk di atas lantai yang dingin.
"Kau hanya pura-pura polos, berlagak sok tidak tahu apa-apa, padahal di belakangku selama ini, kaulah yang telah menusuk aku, kau yang membuat pernikahanku dengan Hana harus berakhir dengan cara kejam dan tidak berperasaan!" ucap pria itu dengan ekspresi wajah penuh dengan amarah, "kau menghina dia, mengatakan padaku dia selingkuh dengan Lu Zamorgan, mengatakan semuanya padaku tentang keburukan dia, padahal, kau sendiri ularnya!"
Mendengar kata-kata dari Allianz barusan, Visha akhirnya sadar juga apa yang tengah menjadi topik perbincangan asik ini.
"Apa kau bilang?" tanya Visha setelah bangkit dari jatuhnya seolah telah menemukan kekuatan besar yang dia rasakan dalam tubuhnya, bergerak melawan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut suaminya, "aku ular katamu? jika aku ular, maka siapa kamu?" tanya Visha berbalik pada suaminya.
Allianz masih terdiam di tempatnya, tak bergeming sama sekali, hanya terlihat mengepalkan genggaman tangannya dengan sangat erat, seolah dia akan segera mengamuk dan setelah itu, maka tak ada satu orang pun yang bisa mengendalikan dia.
"Apa kah pernah berpikir bagaimana aku bisa menjadi ular, yang menggigit dirimu sendiri?" tanya Visha pada pria di depannya, "itu karena kau yang menggigit aku lebih dulu, aku tidak akan menyerang siapapun kecuali dia lebih dulu menyerangku, kau tahu itu?"
"Aku hanya ingin di lindungi oleh seorang pria, aku hanya ingin di cintai oleh laki-laki, aku tidak butuh laki-laki yang datang saat istrinya tidak memuaskan hasratnya, lalu melampiaskan semuanya padaku, dan setelah itu, dia tidak mau bertanggung jawab atas diriku," sambung wanita itu seolah menjatuhkan harga diri Allianz sepenuhnya.
"Kau datang saat aku merasa kesepian, kau menyirami diriku dengan cinta dan kehangatan, dan kau juga yang membuat aku jatuh cinta, hingga akhirnya aku menemukan kartu nama beserta alamat rumah kamu di saku bajumu, aku memungutnya, dan berniat menghubungi kamu lain kali, untuk mempertanggung jawabkan bekas kenikmatan di malam itu bersama denganku," wanita itu masih saja menjelaskan secara rinci runtutan kejadian di masa lalu.
"Tapi apa yang aku lihat? sahabat baikku mengatakan padaku akan segera pulang dengan suaminya, dia ingin aku berkenalan dengan orangnya, dan betapa terkejutnya aku, saat aku melihat dirimu yang tengah berada di ruang tamu rumah kami, duduk menghadap ke arah gelas berisi teh, dan berbincang dengan mesra bersama Hana, tanpa kau sadari, ada aku yang tengah merindukan sentuhan tangan kamu, menginginkan kedatangan kamu untuk jadi sosok yang selalu menghangatkan tubuh aku," jelas wanita itu lagi.
"Dan kau tahu betapa besar sakit yang tergores di hatiku ini akibat pemandangan itu? rasanya tak terhitung, seolah seperti vampir yang selalu minta di puaskan dengan setetes darah, aku tahu itu akan sangat menyakitkan!"
Mendengar ocehan panjang dan ruwet dari istrinya, membuat Allianz merasa bosan. Ia hentikan saja ucapan demi ucapan dari mulut Visha, membungkam mulut istrinya dengan satu kata, yaitu, *cukup*!
"Cukup, Vish! aku sedang mengatakan padamu tentang hal di malam itu, dan kau memberi aku penjelasan selebar ini?!" tanya Allianz merasa jenuh dengan cerita istrinya, "aku sedang mengatakan padamu, bagaimana kau bisa dengan teganya meruntuhkan rumah tangga aku dengan Hana? bagaimana bisa kau menjebak dia dan Lu Zamorgan sampai seperti itu? apa kau memang sudah gila?"
"Kau tahu, Mas!? aku gila karena aku tak mendapat apapun di sisi kamu, sementara aku sudah menyerahkan segala yang aku miliki untuk kamu, menurut kamu, pantaskah hal itu? aku selalu memberi kamu apa saja yang kamu inginkan, aku memberi semua yang kau mau, tapi saat soal cinta, mengapa hanya ada Hana yang ada hatimu?"
Wanita itu semakin keras melawan suaminya, memberontak merasa dirinya paling benar, dan tidak ingin mengalah karena suaminya itu baginya sangatlah lebih salah darinya.
"Pantaskah kau membagi cinta dengan seorang wanita yang telah menjadi masa lalu kamu?" tanya wanita itu lagi, membuat Allianz murka.
"Arkh!!" pekik pria itu merasa kesal, " aku hanya ingin kau mengatakan padaku, mengapa kau melakukannya pada rumah tanggaku dan Hana!?" desak Allianz dengan sangat memaksa, "katakan apa yang kau inginkan selama ini! katakan!!" pria itu semakin keras terdengar berteriak pada istri cantiknya.
"Sudah aku katakan berulang kali, aku hanya ingin menjadi satu-satunya di sisi kamu, tidak ada lemah seperti Hana, juga tidak ada wanita kuat dan konyol seperti adik kamu, Naira! aku hanya ingin hidup seorang diri di sisi kamu, juga di hati kamu.." ucap Visha panjang di kalikan lebar.
"Aku tak peduli lagi!" ucap Allianz menghentikan perdebatan panjang ini, "mari kita jelaskan semuanya di kantor polisi," sambung Allianz dengan sangat yakin.
Tangis di matanya bahkan berderai dengan sangat sempurna membasahi kedua pipinya tatkala tangannya dengan gemetar menarik lengan tangan Visha menuju ke kantor polisi.
"Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah membuat pernikahanku dan Hana kandas, " gumam Allianz dengan wajah dingin dan arogan yang dia miliki.
"Mas, jangan bawa aku ke kantor polisi!" teriak Visha dengan meronta, "aku tidak mau di penjara!"
Namun Allianz seolah tak lagi peduli dengan ucapan istrinya, dia bahkan semakin di buat gelap dan Hitam, tak lagi memiliki rasa iba untuk istrinya itu.
"Tidak ada yang akan menolong kamu dari penjara, kecuali kematian!" gumam pria itu lagi, "aku tidak akan mengampuni siapapun yang telah menghancurkan pernikahan aku dengan Hana!"
__ADS_1
"Apa katamu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...