
Cup!
"Ah? kau? apa yang sedang kau lakukan?" tanya Naira pada suaminya yang kini sudah berada di atas tubuhnya.
Dia baru saja terbangun, namun pemandangan wajah Ardian yang tanpan langsung menjadi jamuan pagi hari yang amat menggiurkan.
"Apa yang sedang aku lakukan? mencium istriku, apa tidak boleh?" tanya Ardian sambil membuka kancing piyama Naira satu demi satu dengan satu tangannya, sementara satu tangan lainnya terlihat menumpu badannya di atas bantal.
"Apa yang kau mau? kau mau menjatuhkan istrimu pagi-pagi begini?" tanya Naira sambil membelai sang suami.
"Ouh, Nairaku sayang, kau memang paling tahu tentang suamimu ini.."
Cup!
Bibir itu pun akhirnya berpadu menjadi satu, menyatu dengan kemesraan dan kehangatan yang akhirnya membuat keduanya semakin merasa panas.
"Umh, kau sungguh ganas pagi ini, padahal semalam kau dua kali telah menjatuhkan aku, apa kau masih belum jatuh juga?" tangan Naira terlihat pula membuka kancing piyama Ardian sama seperti yang Ardian lakukan barusan padanya.
"Meskipun kau sudah jatuh berulang kali, tapi aku akan tetap jadi priamu yang tangguh.."
"Benarkah? apa kau sudah mengetes kemampuanmu?"
"Sayangnya aku harus mengetes nya lagi, aku pikir, gaya baru harus kita pelajari kali ini.."
"Baiklah! aku yang akan mengetesmu, aku harus tahu sampai mana kau bisa bertahan.."
Cup!?
"Umh..."
Kini keduanya sudah terlihat sangat polos. Seluruh tubuh dua orang itu tidak mengenakan apapun, dan kini keduanya terlihat saling menikmati setiap lekuk tubuh yang mereka suguhkan.
"Kau sungguh manis, kau sangat mempesona meskipun sudah berulang kali memuaskan aku.." ucap Ardian sambil terus mer*mas dua bola kenyal milik istrinya secara bergantian.
__ADS_1
Apa lagi ujung yang sangat menonjol itu. Terlihat mungil, namun masih saja terlihat mempesona.
"Kau memang pandai merawat istrimu, jadi aku masih saja terlihat muda dan cantik meskipun usiaku sudah lebih dari tiga puluh tahun.."
"Arkh! kau memang bidadari ku yang paling menawan.."
Puji Ardian, sambil menghujamkan senjata tangguh miliknya, lalu kemudian menggerakkannya maju mundur, demi mendapatkan kenikmatan yang dia inginkan.
"Ugh, kau bahkan tidak pernah tahu betapa kewalahannya aku saat harus menghadapimu tiga kali.."
"Ssshhh!! aku akan membuat kamu tahu, kalau aku juga masih gagah seperti wajahku.."
"Ugh.."
"Umh...."
Keduanya terlihat tak mampu berbohong, saling terbuai dalam kenikmatan, dan tak ingin lepas secara cuma-cuma dari dua anggota tubuh yang bersatu membuat rasa nikmat yang tiada duanya itu.
Sesekali bibir Ardian terlihat mel*mat dan memainkan lidahnya di dalam mulut Naira dengan lihai, lalu tangan kanannya yang terus saja terlihat berada di gundukan besar nan kenyal milik sang istri.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Tak tak tak tak tak tak tak!
Keduanya terlihat mulai turun setelah mereka bermain cukup ganas dan kemudian melanjutkan mandi bersama meskipun Hana baru saja mengguyur tubuhnya.
Dua pasangan yang baru saja bertemu setelah sekian lama itu, terlihat sangat romantis, dan keduanya bahkan tidak segan-segan berciuman di depan para pelayan di rumah itu.
"Jadi Ardian yang sudah sangat keras memasukkan kamu ke dalam perusahaannya? itu artinya kita banyak berhutang budi pada anak itu," ucap Hana sambil terus berjalan di samping suaminya.
"Iya, karena itulah, aku harus bekerja sungguh-sungguh demi perusahaannya, dia sudah membantuku dalam banyak hal, aku sungguh tidak tahu bagaimana caraku membalas budi padanya.." Jawab Allianz pada istrinya.
Kini keduanya terlihat terduduk di meja makan. Sarapan yang pagi tadi telah di siapkan oleh Hana nampaknya sudah agak dingin.
__ADS_1
Ini karena mereka terus asik dan larut dalam permainan, hingga tidak terasa sudah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu di ranjang.
"Seharusnya aku menjadi pengangguran sekarang, mengingat surat pemecatan dari pihak rumah sakit waktu itu, adalah masalah terbesar bagiku, dan kemungkinan untuk mendapat pekerjaan untukku sangatlah sulit, tapi dia sudah sangat sigap dalam membantuku," ucap Allianz sambil memakan sarapan paginya.
"Memangnya kenapa kamu sampai di pecat? kamu buat kesalahan apa di sana?" tanya Hana agak penasaran dengan cerita sang suami semenjak dia tinggal selama satu tahun.
"Aku gagal operasi empat kali dalam kurun waktu satu tahun, yang lebih parah saat dalam masa depresiku, saat itu, pasien anak kecil, operasi cangkok sumsum tulang belakang, dan itu adalah operasi yang menentukan antara hidup dan matinya balita itu, usianya sekitar delapan belas bulanan, aku juga tidak terlalu ingat.."
Sekilas bayangan-bayangan hitam yang menegangkan, yang pernah di alami oleh Allianz di masa lalu berputar kembali, terlihat dengan jelas di depan matanya.
"Operasi itu sudah selesai, seharusnya memang sudah, aku hanya tinggal menyudahinya saja, tapi, entah apa yang aku lakukan saat itu, hingga aku sampai membuat nyawanya meregang, hiks hiks.." dia malah menangis, tak mampu menahan kesedihan dan penyesalan dalam hatinya.
Sang istri mencoba mengusap bahunya, mencoba menguatkan sang suami dengan segala kekuatan yang dia bisa.
"Kedua orang tuanya menyalahkan aku, aku di tuduh pembunuh, padahal aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi, kenapa anak itu sampai meregang nyawa saat operasi sudah hampir selesai, aku tidak tahu apa yang aku lakukan saat itu, hiks hiks..."
"Sudahlah! yang lalu biarlah berlalu saja, kau sudah bukan lagi seorang dokter sekarang, jadi tugas kamu hanya satu, cobalah menjadi pengusaha yang baik, jangan kecewakan orang lain lagi, termasuk istrimu ini.." ucap Hana tersenyum, mencoba untuk menghibur suaminya.
Allianz hanya tersenyum saja, lalu terlihat mengusap punggung tangan Hana yang masih berada di atas bahunya, "kau benar! aku hanya harus berubah sedikit lebih baik lagi.."
"Hem, kalau begitu, habiskan sarapan kamu, aku juga harus bersiap mencari toko untuk jualan kue-kue ku," ucap Hana sambil kembali duduk di depan suaminya.
"Kenapa tidak minta bantuan Naira saja untuk mencarinya? dia punya banyak kenalan teman yang menyediakan jasa sewa toko, mungkin kamu bisa mendapatkan tempat lewat dia.."
"Baiklah, aku akan pergi ke rumahnya, dan meminta bantuannya untuk mencarikan, aku juga punya janji untuk menemui Shi Yuan siang ini, tapi bolehkah aku jalan-jalan pagi ini? aku ingin sekali menikmati suasana baru yang lebih ramai ini, boleh, ya?" bujuk Hana pada suaminya.
"Boleh, tapi tetap harus mendapat pengawasan dari Leon, mulai hari ini, Zarren akan menjadi sopir sekaligus asisten pribadiku, aku mendapat fasilitas dari kantor, mobil yang bagus, jadi aku harus menggunakannya, mobil lama milik kita, masih bagus, kau bisa membawanya untuk jalan-jalan, maaf, ya, belum bisa membelikan kamu mobil baru.."
"Bicara apa kau? mulai bekerja saja belum, kau pikir aku sudah menuntut mobil padamu?"
Hahaha...
Tak ku sangka, rupanya kekacauan Allianz benar-benar sampai sejauh ini, mungkin memilih untuk kembali adalah keputusan yang baik untukku..
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·