
Nyonya!!!!
...----------------...
POV
Allianz..
Sejak saat itu, suara peluru melesat itu masih saja membayang di kepalaku. Aku yang menembaknya, entah terkena bisikan setan dari mana, aku sungguh tidak tahu.
Aku menjatuhkan genggaman tanganku di pistol ku, lalu ku tatapi tubuhnya yang ambruk di rumput hijau halaman rumah kami.
Pada mulanya aku hanya tertegun, menyaksikan limbungnya tubuh Visha di depanku, mungkin jarak sepuluh meter dari tempat berdiriku, juga tempatku melepaskan peluru yang kemudian menjadi tragedi hebat sepanjang sejarah kehidupanku.
Pada saat itu aku tak tahu harus bagaimana, selain menyaksikan beberapa bodyguard kami mengambil tubuhnya, dan membawanya langsung menuju ke rumah sakit, tanpa mereka mempedulikan aku.
Namun pada beberapa saat setelah kejadian itu terjadi, seseorang terlihat menghubungi ponselku, menghubungi aku sampai beberapa kali.
"*Apa yang terjadi? kenapa Visha tidak mengangkat panggilan dariku*!?"
Aku tak menjawabnya. Mulutku mendadak bisu, tak bisa berucap apapun di sana, hanya bisa terdiam tak berdaya melihat semua yang telah terjadi.
Segerombolan polisi kemudian terlihat datang menjemputku, entah mereka tahu dari siapa, tapi melihat aku yang berdiri di samping senjata milikku, tentu saja mereka bisa memastikan aku telah melakukan sesuatu hal yang menentang mereka.
Di borgol kedua tanganku, lalu mereka memaksaku untuk masuk ke dalam mobil mereka yang letaknya di jalanan depan rumahku. Semua tetanggaku berjalan keluar rumah, melihatku dengan penuh ketakutan, dengan penuh kecemasan, dan juga, rasa benci.
Mungkin mereka masih di buat tercengang dengan tragedi yang menimpa keluarga kecilku. Keluarga yang sejak dulu di kenal harmonis, bahagia dan jauh dari cibiran orang, pasangan romantis dan bahkan pernah menjadi best couple di perusahaan Lu Zafier, namun sekarang, kami malah menghancurkan semua itu, tidak, bukan kami, tapi aku..
Ya!
Aku!!
Pria gemuk itu datang ke hadapanku, dan kemudian menanyai aku berbagai macam hal.
"Kau menembakkan satu peluru kamu ke arah istrimu?" tanya pria itu padaku, jujur saja, memang agak sedikit membuat aku muak.
Aku tengah menghadapi masalah pada suasana hatiku yang tak menentu, tapi dia malah mendadak mendatangi aku tanpa kata permisi, lalu menghabisi aku langsung dengan pertanyaan darinya itu.
Aku menaikkan kepalaku, menatap matanya, yang ternyata masih saja menatapku, dan masih setia menunggu jawaban dariku.
"Cepat katakan, Tuan Allianz!" desaknya mungkin merasa jengah denganku.
"Ya! aku yang telah menembaknya! dengan peluru yang tersisa di pistol ku!"
Aku mencoba menjawab dengan sangat singkat, karena aku sedang tidak ingin di interogasi, tapi mengapa, dia tak mengerti?
Aku mencoba untuk memasang badan dan hatiku menghadapi pertanyaan darinya yang sangat bertubi-tubi padaku. Sampai sekitar dua setengah jam, akhirnya aku bisa keluar dari ruangan interogasi itu dengan perasaan lesu, dan tak tahu harus bagaimana.
Menyesal?
Pada saat itu aku masih belum menyesali perbuatanku. Aku tak pernah berpikir aku bersalah, padahal sudah jelas semua itu memang benar salahku.
Dan kini, aku mendekam di penjara, dengan rasa dingin yang terkadang menusukku, seolah menghujamkan pedang es ke dalam tulang di sekujur tubuhku, membuat aku membeku bak tersedot ke dalam pusaran badai yang dingin.
__ADS_1
"Tuan, ada yang ingin datang berkunjung.." ucap salah seorang anggota polisi padaku.
Tanpa rasa senang, aku bangkit dari dudukku di atas lantai yang dingin, lalu ku langkahkan saja kakiku mengikuti pria itu. Dia mengajak aku sebuah ruangan yang sangat ketat.
Aku di tunjukkan pada seorang wanita yang sudah sangat aku kenal.
*Kakak adalah kebanggaanku*..
Bahkan suara manisnya saat dia masih kecil pun seolah terngiang dengan riang mengganggu otakku.
Dia Naira, wanita yang telah beranjak dewasa dengan segala hal yang pernah dia lalui di sepanjang hidupnya. Wanita itu tengah terduduk setia menanti kehadiranku di meja tunggu, dengan sebuah kotak di tangannya.
Aku mendekatinya dengan perasaan gugup, seolah tengah di pertemukan dengan seseorang yang amat berpengaruh pada kehidupanku.
"Nai," panggilku dengan suara lirih dan sendu, namun masih bisa terdengar di kedua telinganya, dia bahkan menoleh dengan sangat cepat ke arahku, dan langsung memeluk tubuhku.
Hap!!
"Kau rela menjatuhkan hidupmu di sini, demi segenggam uang dan wanita!" ucap Naira di telingaku, seolah membuat aku tersadar akan sesuatu yang selama ini mengganggu pikiranku.
Aku tak bisa menunggu untuk memecah air mata kesedihan di mataku. Jatuh dan mengalir saja dengan sangat deras, seakan tak mampu aku bendung di kelopak mataku.
Dan sejak saat itu, aku berubah menjadi pria yang hidup dengan penuh penyesalan. Aku menangisi hidupku yang harus mendekam di penjara, dengan kurungan dua puluh tahun, sampai akhirnya, aku menyadari, diri ini, hanyalah sampah yang merasa lebih unggul dari pada berlian.
Aku menyesal mengapa di saat hidupku bebas, aku malah menjatuhkan harga diriku di depan uang, aku menghilangkan jati diriku hanya karena sebuah pengkhianatan, yang kini, aku telah tahu, Hana tak pernah bersalah seperti dugaanku.
Dia tak meracuni ibuku, kata Naira, Doni lah yang meracuni ibu kandung kami, dan harus meregang nyawa, pada saat dia lumpuh, dan aku sangat bersalah menuduh Hana yang melakukannya.
Dan lagi, aku mendapati satu kenyataan yang sangat pahit, yang mengatakan kalau Hana di jebak oleh Visha dan mendiang Lu Zamorgan untuk memperlihatkan wajah hinanya pada saat aku pulang di malam itu, dan parahnya lagi, aku malah mempercayai Visha, mulut buaya yang sudah berhasil menghasut aku selama beberapa tahun.
"Dia tewas di rumah sakit, nyawanya tak tertolong karena peluru itu menembus jantungnya!"
Kabar yang di bawa oleh Naira padaku, membuat aku tercengang. Sekali lagi, aku menghancurkan hidup seorang wanita. Meski aku benci pada Visha, yang harus mengkhianati aku dengan kebohongan yang dia lakukan, dengan hasutan yang dia bisikkan di telingaku, tapi bukankah, aku bukan seorang pembunuh, yang bisa melenyapkan nyawanya seperti itu?
Vish, andai saja sejak awal kau tak tergoda padaku, dan kita tidak di pertemukan dalam klub malam pada waktu itu, aku mungkin tidak akan meniduri kamu, aku mungkin tidak akan merenggut kesucian kamu, dan kemudian membebaskan luka yang dalam di hatimu, namun juga sekaligus menanamkan benih cinta yang tumbuh dengan subur untukku.
Aku menyesal menghanyutkan kamu dalam balutan cintaku yang semu, cinta yang memang sejak awal tak pernah aku bagikan untuk dirimu, karena aku menikahi kamu, tak lain hanya sebagai pelarian, hanya sebagai pelampiasan atas kekecewaan ini pada sosok Hana.
Namun aku tak pernah menduga, kau akan jatuh cinta sangat dalam padaku, dan bahkan kau memberi aku pelukan kehangatan dan juga kebahagiaan.
Kau membuat aku maju dan bergerak berkembang pesat dalam pekerjaan, hingga akhirnya kau lah yang menjadi saksi atas keberhasilan yang aku gapai.
Dan pada saat itu, aku seharusnya verkata jujur padamu, saat Hana keluar dari penjara, perasaan ini begitu senang, seolah ingin sekali kembali memeluk tubuh Hana, dan mencumbunya dengan penuh kerinduan, namun sayangnya, entah mengapa uang dan kamu membutakan kedua mataku.
Aku mendadak menjadi buta akan segalanya. Berpikir bahwa mempertahankan kamu jauh lebih ada artinya karena kau membuat aku memiliki uang, memiliki seorang putra, dan memberiku kehangatan yang luar biasa.
Aku bahkan tak pernah menduga kalau keputusan yang aku ambil pada hari itu, akan menjadi malapetaka besar dalam hidupmu, dan sekali lagi, aku kembali menghancurkan kehidupan seorang wanita.
"Di mana Alvis sekarang?"
"Tenang saja, dia bersama Hana, Hana sudah berinisiatif untuk merawatnya dan akan sesekali mengunjungi kamu saat hatinya mulai tenang, dia juga butuh ketenangan pada saat ini, bahkan belum juga genap tujuh hari sepeninggal Visha untuk selamanya.."
__ADS_1
Dan penjelasan Naira soal Alvis semakin menyesakkan dadaku. Bak tertindih besi yang sangat berat, dadaku bahkan hampir tak bisa aku gunakan untuk bernafas.
Aku mendengar nama Hana tersebut dalam kalimat Naira barusan, dan hal itu sangat menyesakkan dadaku. Dua wanita yang dulunya bersahabat, namun hangatnya persahabatan mereka harus runtuh karena kedatanganku di antara mereka.
Aku telah berhasil membuat hidup dua wanita itu seakan seperti jurang neraka, dan parahnya lagi, aku baru menyadarinya sekarang, saat aku sudah mendekam di penjara, dan tidak lagi bisa menemui Hana, apalagi Visha yang telah bahagia di dalam kematiannya.
Maafkan aku, Hana, Visha, maafkan pria ini yang hanya bisa menodai hidup kalian dengan apapun yang aku mau, yang aku inginkan. Satu hal yang perlu kalian tahu, aku sangat menyesal telah mempermainkan cinta yang kalian tanam untukku, aku sangat menyesal menjerat kalian dalam kehidupan penuh kehancuran yang pernah aku berikan pada kalian.
Andai aku bisa mengulang waktu yang telah terbuang, aku tak ingin menyakiti siapapun, aku tak ingin mengizinkan dokter itu merenggut rahim Hana yang terkena miomi pada saat itu, dan akan memberi satu kesempatan untuk kamu memiliki putra, meski aku tahu akan sangat membahayakan nyawa kamu jika memang terjadi, karena aku tahu, kebahagiaan kamu bukanlah saat kamu bisa hidup, dengan Zhoulin, atau hidup bahagia dengan umur yang panjang, tapi bahagiamu hanyalah, andaikata kau bisa menjadi wanita sempurna, meski kau tak bisa menikmati hidup yang panjang di dunia ini.
Dan untuk Visha, aku mungkin tak akan pernah membiarkan kamu menjadi istriku jika aku tahu akhirnya akan seperti ini, akhirnya kau hanya akan tewas di tanganku, oleh peluru pistol milikku, dan oleh suami kamu sendiri.
Aku mungkin akan menolak kamu dengan sangat keras meski kau mengancam dengan menyebarkan video yang kita lakukan di malam itu, tapi aku pasti akan tetap menahan kamu untuk melakukannya.
Hanya saja, aku terlalu bodoh dengan dunia, aku terlalu terbuai dalam indahnya dunia, pun terlalu sakit dengan kekejaman dunia, sampai mataku hanya tertutup dengan uang, dan juga kekuasaan.
Aku tak bisa melakukan apapun selain mempertahankan uang yang aku punya, dan menjatuhkan harga diriku yang sangat berharga.
Kini hidupku sangat terlarung di dalam penyesalan, dalam luka yang sangat dalam, luka yang sudah aku pastikan tak akan pernah bisa sembuh meski aku obati seberapa lamanya.
Karena luka di hatiku ini, aku lukiskan untuk orang lain, orang yang tak akan pernah lagi bisa aku genggam hatinya, membuat bayang-bayang seperti hantu yang gentayangan menghantui otak dan pikiranku.
Dan pada hari itu, wajah itu memperlihatkan kecantikannya di depan mataku, menunjukkan betapa kasih dan sayang yang begitu besar dia tumpahkan pada putra semata wayang kami, aku dan Visha.
"Dia sudah mulai masuk TK, bulan depan aku akan mendaftarkan dia di kelas melukis, dia punya bakat istimewa di sana.."
Ucap Hana membuat air mataku berderai membasahi dua permukaan pipiku. Di dalam pangkuanku, Alvis, putraku tengah berbahagia, karena bisa melepas kerinduannya padaku, ayahnya.
Ia tumbuh dengan sehat, bersih dan juga rapi. Ia juga terlihat sangat bahagia bersama dengan ibu barunya, Hana..
Aku yakin Hana pasti merawat Alvis dengan sangat baik, sampai-sampai dia pergi dariku saja sambil tersenyum dan melambaikan tangannya dengan penuh kebahagiaan.
"Ayah, ibu Hana sangat baik, aku senang tinggal sama Ibu Hana, dia juga sering mengajakku pergi ke rumah kakak Zhoulin, kami sering main bersama, dan sekarang aku mau sekolah, aku akan sekolah bersama Anya, dia juga teman yang baik, sama seperti ibu, yang sangat baik, tapi sayangnya ibu meninggal, kata Ibu Hana, ibuku meninggal sambil tersenyum, aku jadi lega mendengarnya, aku senang ibu bisa pergi tanpa mencemaskan aku, mungkin ibu tahu Ibu Hana akan merawat aku dan membesarkan aku dengan baik, jadi dia tidak mencemaskan aku.."
Alvis bahkan mengatakan semua kenyataannya. Namun sayang, dia tidak tahu siapa yang telah merenggut kebahagiaan semua orang di sini, termasuk tentang ibunya.
Aku tak dapat membayangkan bagaimana jika suatu hari Alvis tahu akulah yang merenggut nyawa ibunya, akulah yang merenggut kebahagiaannya, apa dia masih mau menerimaku sebagai ayahnya?
Aku pikir pada saat itu tiba, aku tak akan berani memunculkan wajah pembunuhku di depannya. Aku tak akan pernah berani melakukannya.
Dan kini, akan aku habiskan dua puluh tahun di dalam penjara yang sangat dingin, dengan bayang-bayang masa lalu penuh kesalahan dan penuh penyesalan. Aku berjanji pada diriku sendiri, dua puluh tahun ini, akan aku lalui dengan sangat baik, tak ingin aku lalui dengan sia-sia, aku ingin keluar dari penjara sebagai pria yang bangkit dari kesalahan dan kebodohannya di masa lalu.
Aku tak ingin di pandang dunia sebagai seorang pembunuh yang tega melenyapkan nyawa istrinya, namun aku ingin membuat mereka mengatakan hal yang lebih dari itu.
Aku ingin mereka mengetahui rasa penyesalan di dalam hatiku yang menemani aku selama dua puluh tahun di dalam penjara, dan membuat mereka memaafkan aku atas segala hal yang pernah aku lakukan di masa lalu, membuktikan pada Hana dan juga Visha, aku bukan seorang pembunuh kejam seperti dulu lagi.
Ingin aku rubah segalanya kelak di masa depan, namun satu ketakutan yang selalu menjalar di otakku, mampukah aku membuat Alvis bertahan di sisiku dan mau menganggap aku sebagai ayahnya!?
Kreb!
__ADS_1
Menutup buku catatan..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...