
Blam!
Klik!
Suara Allianz yang mengunci pintu rumah mereka dan kemudian menatap istrinya dengan sangat lekat, mengisyaratkan beribu-ribu kata maaf yang tak bisa dia jelaskan pada istri tercintanya, kata maaf yang mungkin tidak bisa di terima, karena kesalahan dia yang begitu besar hingga membuat mereka harus kehilangan segalanya, kecuali rumah ini.
Tangan Allianz mengusap pipi istrinya yang tidak memancarkan rasa kesedihan sama sekali meskipun suaminya telah di PHK dari perusahaan.
"Sayang," panggil Allianz dengan lirih.
"Um?"
"Jika kau ingin pergi dariku dan terbang mencapai langit biru seorang diri, maka aku persilahkan, aku tidak ingin memaksa kamu untuk menerima aku lagi di rumah ini.." ucap Allianz dengan kesedihan di wajahnya, berhias penyesalan dan noda bersalah di kedua matanya.
"Rumah ini juga rumah kamu, aku tidak bisa mengusir kamu dari sini, jadi lebih baik jangan berpikir bagaimana aku bisa menerima kamu untuk ke depannya, tapi berpikirlah, bagaimana kita bisa melanjutkan kehidupan selanjutnya kelak," jawab Visha nampak bijaksana sekali.
"Terima kasih atas segalanya, terima kasih kau mau mengerti aku dan juga kondisi aku saat ini," ucap Allianz penuh penyesalan, "aku janji, aku akan mengembalikan semuanya seperti semula, aku tidak akan mengecewakan kamu! aku akan mencari pekerjaan dengan cepat supaya kamu tidak harus mencari nafkah untuk keluarga kita!" ucap Allianz kali ini dengan sangat mantap.
Istri muda di depannya menjadi lebih segar. Ia bahkan tersenyum dan mengecup bibir suaminya dengan penuh kehangatan. Ya, karena sejak awal Visha tidak mencintai harta atau pun uang milik suaminya, yang ia mau hanyalah, laki-laki yang mencintai dia seumur hidup, dan menemani dia di sisa akhir hayatnya.
"I love you..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dedaunan di depan rumah terlihat basah. Agaknya hujan semalam membuat mereka merasa terpuaskan setelah tiga Minggu lamanya hujan tak pernah turun.
Padahal sebelumnya hujan selalu turun, awan mendung seolah tidak ada hentinya menghiasi langit biru di kota, menyiarkan pertanda akan ada hujan meski hanya rintik-rintik saja.
Kini semuanya terlihat begitu segar dan menenangkan lagi. Hari Senin pun kembali datang, saat semuanya sudah berlalu, pagi ini akhirnya kembali di sambut dengan cuaca mendung, dengan segelas kopi dan pemandangan alam yang basah.
Ia terduduk di atas kursi yang letaknya tepat di sisi ranjangnya. Meskipun di dalam kamar, tapi ia bisa melihat pemandangan menakjubkan pagi hari kota dari jendela kamar yang luas.
Sekarang ia menjadi sangat muda dan berkelas. Hidupnya yang pada mulanya hanya dia isi dengan berbagai kegiatan rumah tangga, berpakaian kumal dan buluk, sekarang dia menjadi lebih baik, bajunya selalu terlihat baru dan juga rapi, kemana saja dia pergi tak pernah tertinggal parfum mahal mengiringi langkah kakinya, meninggalkan jejak keharuman yang sangat luar biasa memukau.
Ia menyeruput kopi hitamnya, dan kemudian mengecek notifikasi di ponselnya, rupanya ada pesan masuk yang terhitung dua puluh pesan yang tidak sempat dia balas sejak kemarin siang, dan pesan masuk itu selalu berasal dari pria itu lagi.
William!
Entah mengapa laki-laki itu tak pernah pergi semenjak pertemuan di kafe pada hari itu. Terkadang Hana meminta pria itu untuk pergi dan pulang ke kampung halamannya, tapi dengan seribu alasan, William selalu saja berhasil menolak permintaan Hana.
Dan sekarang dia melihat pesan berbaris dari sosok William sejak kemarin siang. Ingin sekali dia mengabaikan orang itu, namun entah mengapa ia selalu gagal mengabaikannya.
Tidak bisa di pungkiri, William memang sangat baik, jauh lebih sopan dan juga berwawasan tinggi, katanya dia masih jomblo saja sampai usia tiga puluh delapan tahun, seumuran dengan Allianz.
Arkh!
Kenapa jadi membandingkan?
Sekarang dia bahkan terlihat menyunggingkan senyumannya setiap kali membaca pesan dari William, juga beberapa emoticon lucu yang di kirim pria itu padanya, membuat dia terkadang merasa geli sendiri.
Namun hanya sebentar saja, sebelum akhirnya Axel mengirim pesan padanya, lalu akhirnya dia dengan wajah datarnya pun beranjak dari kursinya, menggapai tas di atas meja dan kemudian meninggalkan kopinya menjadi dingin di atas meja.
Blam!
Ia menutup pintu kamar setelah berhasil mengeluarkan diri dari jeratan kehangatan ranjang miliknya, apa lagi cuaca yang dingin pagi ini, huhh, rasanya sayang sekali kalau harus cepat berlalu dari kehangatan yang di tawarkan langsung oleh ranjangnya itu.
Namun ia tetap harus bergegas, ia, akan segera menuju ke kantornya untuk mengurus segala hal yang perlu dia urus, menjadi CEO dalam perusahaan sendiri memang membuat dia semakin di buat sibuk.
"Pagi, Nyonya.." sapa Zarren seperti biasa.
"Pagi juga, Zarren?" jawab Hana sambil berlalu masuk ke dalam mobilnya, dan kemudian juga di susul oleh Zarren yang duduk di belakang kemudi, posisi dan tempat biasa yang menjadi santapannya setiap hari selama hampir setengah tahun terakhir bersama Hana.
Mobil Hana melaju dengan perlahan mulai keluar dari pelataran rumah Hana yang besar dan sudah banyak di perbaiki dari keusangan, dan kemudian terlihat mobil Hana mulai melaju di jalan umum.
__ADS_1
...----------------...
"Kamu jangan tekan aku terus!!"
Laki-laki itu terus saja membentak istrinya dengan nada tinggi, seolah tak enggan jika harus membunuh istrinya pada saat itu juga.
Istrinya hanya bisa terdiam di pojok ruangan kamar dengan tangis yang berderai dari matanya, menandakan betapa sakit dan hancurnya hatinya mendengar omelan suaminya padanya di pagi itu.
Padahal ini masih pagi, tapi pertengkaran itu malah terdengar begitu dahsyat sejak suaminya pulang beberapa saat yang lalu.
Sejak semalam suaminya tak pulang, ia cemas menunggu sampai tertidur di atas sofa ruang tengah, tapi apa yang dia dapat!? dia mendapati suaminya yang pulang dalam kondisi mabuk berat tak berdaya dengan tubuh yang sesekali terhuyung kesana dan kemari tidak karuan.
Sebenarnya baginya dia tak bersalah, memarahi suami dan mencecar dengan pertanyaan setelah suaminya tak pulang semalaman penuh seharusnya wajar-wajar saja, bukan?
Bukankah dia juga harus tahu mengapa suaminya akhir-akhir ini jadi jarang pulang? malah lebih sering keluar malam dan pulang esok harinya, menghabiskan uang tabungan dia yang selama ini sengaja dia simpan untuk biaya kehidupan mereka selama suaminya belum bekerja.
Tapi suaminya malah memarahi dia habis-habisan, hanya karena dia menanyakan kemana saja suaminya selama ini, mengapa selalu pulang pagi dan dalam keadaan mabuk berat pula.
Apa dia tidak berhak tahu mengenai hal tersebut?
Ya, wanita yang tengah mengalami semua itu adalah Visha. Wanita yang tengah di buat terluka oleh suaminya sejak beberapa hari terakhir.
Entahlah. Sejak kejadian PHK satu bulan yang lalu, semua kebutuhan rumah tangga di tanggung oleh Visha seorang diri, suaminya mendadak berubah jadi seperti itu.
Allianz bahkan selalu memarahi dia saat setiap kali bertanya kenapa kamu minum dengan sangat banyak setiap malam? apa kamu tidak mencari pekerjaan?
Allianz selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan murka di hatinya, melukiskan gambar iblis di wajahnya yang tengah mengamuk di selimuti amarah.
Sekarang Visha jadi lebih banyak diam, tak ingin lagi berbicara atau pun sekedar bertanya pada suaminya. Ia tak mau jatuh lebih dalam oleh ketakutan.
"Ingat, Vish! aku bisa mendapat pekerjaan, jadi tidak perlu khawatir tentang aku! aku bisa mendapatkan semuanya lagi! kau mengerti?" laki-laki itu selalu mengatakan hal yang sama seperti itu saat Visha bertanya padanya.
Dan setelah itu, pergilah Allianz menuju ke arah ranjang, lalu merebahkan dirinya dengan santai seolah tak pernah terjadi apa-apa dengan istrinya.
Sekarang dia hanya bisa berlalu sambil mengusap air matanya yang terus saja jatuh mengenai pipinya, mencoba meninggalkan kamar dan lebih baik pergi kembali bekerja.
Sekarang jika dia tidak banting tulang mencari uang, ia tak bisa lagi memiliki penghasilan, juga tak bisa lagi menghidupi putra semata wayangnya dengan Allianz.
Namun di tengah-tengah kegiatannya mengemudi mobil menuju ke arah butiknya, ia mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal.
Sebuah pesan yang berhasil membuat jantungnya seolah berhenti berdetak, membuat kakinya dengan reflect menginjak pedal rem, menghentikan mobil yang tengah dia kendarai menuju ke arah tempat dia bekerja.
Matanya yang masih belum kering akibat tangisan tadi sejak dari rumahnya kini harus kembali basah tatkala dia melihat sebuah potret mesra suaminya dengan seorang wanita yang tak lain adalah istri dari sahabat baik suaminya, Sheila.
Ia tertegun. Tak bisa berkata-kata atau pun berkomentar saat melihatnya. Tangannya bergetar dengan hebat, lalu kemudian kehilangan kekuatannya, hingga jatuh saja ponselnya ke bawah tanpa dia sadari.
Sekarang tangisnya jauh lebih pecah, jauh lebih terdengar menyakitkan dan jauh lebih menyayat. Luka hati karena di marahi oleh suaminya belum juga sembuh, tapi sekarang, hatinya harus kembali terluka dan sakit akibat sayatan pengkhianatan yang di lakukan oleh suaminya.
Menangislah ia dengan sangat menyakitkan, menuangkan kekesalan dan amarah serta kekecewaan di hatinya pada jok mobil tempat dia bersandar.
Kini barulah dia merasakan betapa kejamnya sosok Allianz yang sebenarnya. Apa mungkin, dahulu kala saat Hana mengerti tentang pengkhianatan suaminya rasanya bisa sesakit ini? mengapa rasanya sakit sekali.
Ia bahkan tak mampu mengemudikan mobilnya, dan hanya bisa terisak di jok mobil sambil terus mengingat foto menyakitkan di ponselnya.
Entah siapa pula yang mengirimnya, tapi siapapun dia, orang itu berhasil membuat hatinya remuk dan hancur sehancur-hancurnya.
...----------------...
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ponsel Allianz mendadak berdering, menandakan ada seseorang yang tengah menghubungi dia dari seberang.
Ia yang masih dalam keadaan ngantuk dan pusing akibat minuman yang dia tenggak semalam hanya bisa merayap mengambil ponsel sambil meraba layar mengangkat panggilan.
"Hallo?"
__ADS_1
"*Benar dengan saudara Allianz*?"
"Ya, betul, dengan saya sendiri.." jawab Allianz sambil bangkit dari tidurnya dengan penuh pemaksaan.
"*Anda mendapat undangan wawancara kerja di perusahaan kami, bisa datang dan bertemu setengah jam lagi*?"
Mendengar perkataan tersebut, Allianz sontak saja membulatkan matanya dengan lebar, menatap kosong almari di kamarnya.
"Baik, Pak! saya akan segera kesana!"
Bip!
Laki-laki itu dengan cepat mematikan sambungan ponselnya, dan bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dengan kondisi yang masih pusing akibat minuman, di tambah ras kaget akibat panggilan tadi, di bumbui lagi kata setengah jam yang di katakan oleh seseorang di seberang sana membuat Allianz memilih untuk bergegas saja membersihkan badannya, hanya asal mandi saja dia lakukan, demi agar tidak terlambat sampai di perusahaan yang di maksud orang itu.
Terhitung hanya sekitar sepuluh menit saja Allianz menghabiskan waktu di kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian di lanjut mengenakan pakaian yang sopan untuk wawancara kerjanya hari ini.
"Sayang? Vish?" panggil Allianz pada istrinya sambil memakai dasi dengan cepat.
Ia bahkan tak tahu saat ini istrinya sudah pergi dari rumahnya sekitar dua atau bahkan tiga jam yang lalu.
Menyadari istrinya yang tidak menyahut panggilan darinya membuat dia merasa kesal. Ia yang tengah di sibukkan oleh kegiatan mempersiapkan diri untuk wawancara, berharap istrinya bisa membantu dia menyiapkan segala sesuatunya, tapi Visha malah tak bersuara dan tidak menyahut panggilan darinya.
"Vish, kamu ini kemana si?" panggil Allianz dengan lantang satu kali lagi, "tolong siapin tas kerja aku, aku butuh untuk wawancara kerja!!"
Ia telah selesai memakai dasinya dengan rapi. Kini dia akhirnya bisa keluar dari kamar dan turun dari lantai dua.
"Kemana si dia?" kesal Allianz.
Tak tak tak tak tak tak tak tak!
Langkah kakinya terdengar terburu-buru menuruni tangga menuju ke lantai bawah, dan hanya menjumpai Alvis yang tengah di buat asik bermain dengan suster wanitanya.
"Sus, nyonya pergi ke mana? apa dia hari ini kerja?" tanya Allianz sambil mencari sepatunya.
"Iya, Tuan, hari ini Nyonya masuk kerja, apa tuan butuh sesuatu? biar saya yang bantu.."
"Ambilkan tas kerja saya, Sus, di ruang kerja, cepat, ya, aku sedang buru-buru," ucap Allianz sambil mengenakan sepatu di kakinya.
"Iya, Tuan.."
Sementara itu, suster wanita yang sedang bersama Alvis di depan tv itu akhirnya segera bangkit dan mencoba menggapai tas kerja di laci meja kerja Allianz.
Dia mulai bergerak meninggalkan ruang kerja tuan besarnya dan kemudian menyerahkan tas di tangannya pada sang tuan.
"Ini, tuan, tasnya.." mengulurkan tas ke arah Allianz.
"Terima kasih, sus.." ucap Allianz sambil beranjak dari duduknya, "oh iya, nanti kalau nyonya sudah pulang, tolong beritahu kalau aku sedang keluar untuk wawancara kerja, ya, sus.." ucap Allianz memberi sedikit pesan pada susternya.
"Baik, tuan.." wanita itu pun terlihat menganggukkan kepalanya, mengerti dengan pesan dari sang tuan.
Dengan bergegas, Allianz pun mulai melangkah keluar dari rumahnya, dan mendapati tidak ada mobil Visha di luar sana. Itu artinya dia harus naik taksi untuk bisa sampai dalam waktu setengah jam.
Ya, sekarang mereka hanya punya satu mobil, itu pun milik Visha, bukan milik Allianz, jadi mau tidak mau, Allianz harus menghentikan taksi dan menggunakan jasanya untuk sampai ke tempat pertemuan.
"Taksi!!"
Beruntung di depan rumahnya lewat saja satu taksi yang bersiap mengantar dia kemana saja.
Kini laki-laki itu pun terlihat masuk ke dalam taksi, dan dengan bergegas, melaju saja taksi itu mengantarkan Allianz dengan cepat.
*Semoga ini peluangku*!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...